Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 39)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam mengawasi sosok rapuh itu bergerak sepanjang tepi meja, dengan jejak asap di belakangnya. Ia tidak berkaus kaki dan memakai sepatu mandi karet biru tua yang berdecit ketika berjalan. Sekonyong-konyong ia berhenti, menarik sebuah buku dari rak, melemparkannya dengan keras ke meja, dan mulai membalik-balik halaman dengan gerak melambai-lambai. Sesudah beberapa menit mencari-cari dengan tekun, ia dengan tepat menemukan apa yang dicarinya dan menghabiskan lima menit untuk membacanya.

"Ini dia," gumamnya pada diri sendiri. "Aku tahu sudah pernah membaca ini."

"Apa itu?"

"Satu kasus tahun 1984 dari North Carolina. Laki-laki itu bernama Jimmy Old, dan jelas Jimmy tak ingin mati. Mereka harus menyeretnya ke dalam kamar gas. Dia menendang-nendang, menangis, dan berteriak. Butuh beberapa lama untuk mengikatnya. Mereka mengempaskan pintu dan menjatuhkan gas, dan dagunya terbanting ke dada. Kemudian kepalanya berputar ke belakang dan mulai berkedut-kedut. Dia menoleh kepada para saksi yang tak bisa melihat apa pun kecuali bagian putih bola matanya, dan dia mulai mengeluarkan ludah. Kepalanya bergoyang-goyang dan terayun-ayun lama, sementara tubuhnya gemetar dan mulutnya berbusa. Hal itu terus berlanjut. Salah satu saksi—wartawan—muntah. Kepala penjara jadi muak dan menutup tirai hitam di sana, sehingga saksi tak bisa melihatnya lagi. Mereka memperkirakan Jimmy Old butuh empat belas menit untuk mati."

"Kedengarannya kejam."

Sam menutup buku itu dan meletakkannya dengan hati-hati ke rak. Ia menyalakan sebatang rokok dan mengamati langit-langit. "Sebenarnya setiap kamar gas dibangun bertahun-tahun yang lalu oleh Eaton Metal Products di Salt Lake City. Aku membaca entah di mana bahwa kamar gas Missouri dibangun narapidana. Tapi kamar gas kita di sini dibangun Eaton, dan semua pada dasarnya sama terbuat dari baja, berbentuk segi delapan dengan sejumlah jendela di sana-sini, sehingga orang bisa menyaksikan kematian. Tak banyak tempat di dalam kamar itu, cuma kursi kayu dengan berbagai pengikat. Ada mangkuk besi tepat di bawah kursi, dan cuma beberapa senti di atas mangkuk itu ada kantong kecil berisi tablet sianida yang dikendalikan dengan tuas oleh algojo. Dia juga mengendalikan asam sulfat yang dipergunakan dalam urusan ini dengan canister. Canister itu disambungkan ke mangkuk dengan slang, dan sesudah mangkuk terisi asam, dia menarik tuas dan menjatuhkan tablet sianida. Ini akan menimbulkan gas yang mengakibatkan kematian, dan tentu saja dirancang agar berlangsung cepat tanpa rasa sakit."

"Bukankah cara ini dirancang untuk menggantikan kursi listrik?"

"Ya. Dulu, pada dasawarsa dua puluhan dan tiga puluhan, setiap tempat punya kursi listrik, dan benda itu alat paling hebat yang pernah ditemukan. Aku ingat ketika masih kanak-kanak mereka punya kursi listrik portabel yang dibawa dengan trailer ke berbagai county. Mereka berhenti di penjara setempat, membawa terhukum keluar dalam keadaan terborgol, membariskan mereka di luar trailer, kemudian membunuh mereka. Itu cara efisien untuk meringankan beban penjara yang terlampau sesak."

Ia menggelengkan kepala tak percaya. "Tapi mereka tentu saja tak tahu apa yang mereka lakukan, dan ada beberapa cerita mengerikan tentang orang-orang yang menderita. Ini hukuman mati, benar? Bukan penyiksaan. Dan itu bukan cuma Mississippi. Banyak negara bagian memakai kursi listrik tua yang brengsek ini dengan segerombolan orang tolol menarik sakelar, dan ada segala macam masalah. Mereka mengikat orang malang itu, menarik sakelar, memberikan sengatan hebat kepadanya, tapi tak cukup hebat; orang itu terpanggang bagian dalamnya, tapi tidak mati, maka mereka menunggu beberapa menit dan menyetrumnya lagi. Ini mungkin berlangsung selama lima belas menit. Mereka mungkin tidak memasang elektrodanya dengan benar, dan bukan hal aneh kalau ada percikan ludah atau bunga api melompat dari mata dan telinga.

“Aku membaca laporan tentang orang yang dilistrik dengan tegangan yang tidak tepat. Asap mengepul di kepalanya dan bola matanya meletup ke luar. Darah mengucur dari wajahnya. Saat electrocution itu, kulit jadi begitu panas sampai mereka tak bisa menyentuhnya beberapa lama, jadi zaman dulu mereka harus membiarkannya mendingin sebelum bisa tahu apakah dia sudah mati. Ada banyak cerita tentang orang-orang yang duduk diam setelah kejutan pertama, lalu mulai bernapas lagi. Jadi, mereka tentu saja menghantamnya lagi dengan aliran listrik. Ini mungkin bisa terjadi empat atau lima kali. Itu sangat mengerikan, maka dokter tentara ini menciptakan kamar gas sebagai cara yang lebih manusiawi untuk membunuh orang. Cara ini, seperti katamu, sekarang jadi usang karena ada suntikan mematikan."

Sam mendapat pendengar, dan Adam terpesona. "Berapa orang telah mati dalam kamar gas Mississippi?" ia bertanya.

"Kamar gas itu pertama dipakai di sini tahun 1954, atau sekitar itu. Antara saat itu sampai tahun 1970, mereka membunuh 35 laki-laki. Tak ada wanita. Sesudah Furman pada tahun 1972, kamar gas itu menganggur sampai Teddy Doyle Meeks pada tahun 1982. Mereka telah memakainya tiga kali sejak itu, jadi jumlah seluruhnya ada 39. Aku akan jadi nomor empat puluh."

Ia mulai mondar-mandir lagi, sekarang jauh lebih lambat. "Ini cara yang sangat tidak efektif untuk membunuh orang," katanya, mirip sekali seperti dosen di depan kelas. "Dan berbahaya. Berbahaya tentu saja bagi orang malang yang diikat di kursi, tapi juga bagi mereka di luar kamar gas. Alat-alat terkutuk itu sudah tua dan semuanya sudah bocor sampai tingkat tertentu. Segel dan gasketnya sudah membusuk dan aus, dan biaya membangun kamar gas yang tidak bocor tak terjangkau. Satu kebocoran kecil bisa mematikan bagi si algojo atau siapa pun yang berdiri di dekatnya. Di sana selalu ada beberapa orang—Naifeh, Lucas, mungkin seorang pendeta, dokter, seorang penjaga atau dua—berdiri dalam ruangan kecil tepat di luar kamar gas. Ada dua pintu ke ruangan sempit ini, dan keduanya selalu tertutup selama eksekusi. Kalau ada gas bocor dari kamar gas ke ruangan itu, barangkali Naifeh atau Lucas akan terkena dan mereka akan mati di lantai sana. Bukan gagasan jelek, kalau dipikir-pikir.

"Para saksi juga dalam bahaya besar, dan mereka sama sekali tak tahu-menahu. Tak ada apa pun antara mereka dan kamar gas, kecuali sederet jendela yang sudah tua dan sama kemungkinannya mengalami kebocoran. Mereka juga berada dalam ruangan sempit dengan pintu tertutup, dan bila ada kebocoran gas sebesar apa pun, orang-orang goblok yang menonton ini pun akan tergas.

“Tapi bahaya sesungguhnya datang sesudah itu. Ada seutas kabel yang mereka tempelkan ke igamu. Kabel itu dijulurkan melalui sebuah lubang di kamar gas menuju ke luar, tempat seorang dokter memantau detak jantung. Begitu dokter mengatakan orang itu sudah mati, mereka membuka katup di atas kamar gas dan gas itu diharapkan menguap. Sebagian besar memang menguap.

“Mereka menunggu sekitar lima menit, lalu membuka pintu. Udara sejuk dari luar yang dipergunakan untuk membersihkan kamar gas akan menimbulkan masalah, sebab bercampur dengan gas yang tersisa dan berkondensasi pada segala yang ada di dalam, menciptakan perangkap maut bagi siapa pun yang masuk ke dalam. Itu sangat berbahaya, dan kebanyakan badut-badut ini tidak menyadari betapa serius masalah ini. Ada residu asam prusi pada segalanya—dinding, jendela, lantai, langit, pintu, dan tentu saja orang mati itu.

"Mereka menyemprot kamar gas dan mayat itu dengan amonia untuk menetralkan gas yang tersisa, kemudian tim pembersih atau apa pun namanya masuk dengan masker oksigen. Mereka akan mencuci narapidana itu untuk kedua kalinya dengan amonia atau khlor, sebab racun itu merembes melalu pori-pori kulit. Sementara dia masih terikat di kursi, mereka menggunting pakaiannya, memasukkannya ke dalam tas, dan membakarnya. Di zaman dulu mereka membiarkan si terhukum cuma memakai celana pendek, agar pekerjaan mereka lebih mudah. Tapi sekarang mereka begitu baik hati dan membiarkan kita memakai apa yang kita mau. Jadi, kalau aku sampai sejauh itu, aku akan punya banyak waktu untuk memilih koleksi pakaianku."

Ia meludah ke lantai ketika memikirkan hal ini.

Ia mengutuk tertahan dan mengentak-entakkan kaki di ujung meja itu.

"Apa yang terjadi dengan mayatnya?" tanya Adam, merasa agak malu mengorek-ngorek masalah peka macam itu, tapi toh ingin menyelesaikan kisah tersebut.

Sam mendengus sekali-dua, lalu menancapkan rokok ke mulut. "Kau tahu bagaimana koleksi pakaianku?"

"Tidak."

"Terdiri atas dua pakaian monyet merah ini, empat atau lima set pakaian dalam bersih, dan sepasang sepatu mandi karet lucu ini, yang kelihatan seperti sisa obralan untuk membantu korban kebakaran. Aku menolak mati dalam pakaian merah ini. Aku akan memakai hak konstitusionalku dan berjalan ke kamar gas dengan telanjang bulat. Bukankah itu akan jadi pemandangan, hebat? Bisakah kaubayangkan bangsat-bangsat itu mencoba mendorong-dorongku dan mengikatku dan berusaha setengah mati tidak menyentuh alat vitalku? Dan setelah mereka selesai mengikatku, akan kuulurkan tanganku untuk mengambil alat monitor denyut jantung dan menempelkannya ke buah pelirku. Bukankah dokter akan menyukainya? Dan akan kupastikan para saksi melihat pantatku yang telanjang. Kupikir itulah yang akan kulakukan."

"Apa yang terjadi dengan mayatnya?" Adam bertanya lagi.

"Nah, sesudah mayat dicuci dan dibersihkan, mereka meletakkannya di usungan dan mengangkutnya entah di mana. Pada titik ini biasanya diambil alih. Kebanyakan keluarga.”

Sam sekarang berdiri membelakangi Adam, dan bersandar pada rak buku, terdiam lama, diam tak bergerak sementara menerawang ke sudut, memikirkan empat orang pernah dikenalnya dan sudah pergi ke kamar gas itu. Ada peraturan tak tertulis di The Row bahwa bila tiba saatmu, kau tidak pergi ke kamar gas dalam pakaian penjara berwarna merah itu. Kau tidak memberi mereka kepuasan membunuhmu dalam pakaian yang telah mereka paksakan untuk kaupakai.

Mungkin saudaranya, yang tiap bulan mengirim pasokan rokok, akan membantunya dengan satu kemeja dan celana. Kaus kaki baru akan menyenangkan. Dan apa saja kecuali sepatu mandi dari karet. Ia lebih suka pergi bertelanjang kaki daripada memakai benda terkutuk itu.

Ia berbalik dan berjalan perlahan-lahan ke arah Adam di ujung meja dan duduk. "Aku suka gagasan ini," katanya, sangat tenang dan terkendali. "Patut dicoba."

"Bagus. Mari kita mulai bekerja.”

~ 19 ~

Ladang gandum yang bergulung-gulung itu membentang bermil-mil, lalu jadi lebih curam ketika sampai di kaki bukit. Pegunungan yang memesona memagari tanah pertanian di kejauhan. Di bukit luas di atas ladang-ladang itu, dengan pemandangan bermil-mil ke depan dan dengan gunung-gunung sebagai batas belakang, kamp Nazi itu terbentang membujur lebih dari seratus ekar. Pagar kawat durinya disamarkan dengan pagar tanaman dan semak-semak. Lapangan tembak dan latihan tempurnya juga disamarkan untuk mencegah deteksi dari udara.

Cuma ada dua kabin kayu yang tidak mencolok dan bila dilihat dari luar hanya kelihatan seperti kabin untuk persiapan memancing. Tapi di bawahnya, jauh di dalam bukit-bukit, ada dua terowongan dengan lift yang turun ke dalam labirin gua-gua alam dan buatan manusia. Terowongan-terowongan besar, cukup lebar untuk kereta golf, membentang ke segala penjuru dan dihubungkan dengan selusin ruangan yang berlainan.

Satu ruangan berisi mesin cetak. Dua menyimpan senjata dan amunisi. Tiga ruangan besar merupakan tempat untuk tinggal. Satu jadi perpustakaan kecil. Ruangan terbesar, sebuah gua setinggi dua belas meter dari atas ke bawah, merupakan aula tengah tempat para anggota berkumpul untuk mendengarkan pidato, menyaksikan film, serta baris-berbaris.

Tempat itu merupakan kamp modem, dengan antena-antena yang menangkap pancaran satelit untuk memasok televisi dengan berita-berita dari seluruh penjuru dunia, komputer-komputer yang dihubungkan dengan kamp-kamp lain untuk mendapatkan arus informasi dengan cepat, mesin-mesin fax, telepon seluler, dan setiap peralatan elektronik terbaru yang muncul.

Tak kurang dari sepuluh surat kabar diterima di kamp itu setiap hari, dan dibawa ke sebuah meja dalam ruangan di samping perpustakaan, tempat seorang laki-laki bernama Roland membacanya. Sebagian besar ia tinggal di kamp itu, bersama beberapa anggota lain yang merawat tempat tersebut.

Saat koran-koran itu tiba dari kota, biasanya sekitar pukul 09.00, Roland menuangkan secangkir besar kopi dan mulai membaca. Itu bukan tugas rumah sehari-hari. Ia sudah berkali-kali bepergian keliling dunia, bicara empat bahasa, dan haus pengetahuan. Bila sebuah berita menarik perhatiannya, ia akan menandainya, dan sesudahnya membuat copy-nya, lalu memberikannya ke meja komputer.

Minatnya beragam. Ia nyaris tidak membaca berita olahraga dan tak pernah melihat iklan mini. Artikel fashion, mode, kehidupan, tokoh, dan bagian yang berkaitan dilihatnya sekilas dengan sedikit rasa ingin tahu. Ia mengumpulkan cerita-cerita tentang kelompok lain yang mirip dengan kelompoknya—Aryan, Nazi, KKK.

Akhir-akhir ini ia memajang banyak artikel dari Jerman dan Eropa Timur, dan cukup tergetar dengan bangkitnya fasisme di sana. Ia bicara bahasa Jerman dengan lancar dan sedikitnya menghabiskan satu bulan setiap tahun di negara besar itu. Ia mengawasi para politisi dengan keprihatinan mereka yang dalam terhadap kejahatan dan keinginan mereka untuk membatasi hak-hak kelompok seperti kelompoknya. Ia mengawasi Mahkamah Agung. Ia mengikuti sidang pengadilan para skinhead di Amerika Serikat. Ia mengikuti kesengsaraan KKK.

Ia biasanya menghabiskan dua jam tiap pagi untuk menyerap berita terakhir dan memutuskan berita mana yang harus disimpan untuk referensi di masa depan. Itu kegiatan rutin, namun ia sangat menikmatinya.

Pagi ini berbeda. Tanda pertama akan timbulnya masalah adalah foto Sam Cayhall yang terkubur dalam di halaman depan harian San Francisco. Kisah itu tak lebih dari tiga alinea, tapi cukup meliput berita panas bahwa orang tertua di death row Amerika sekarang diwakili cucunya. Roland membacanya tiga kali sebelum bisa mempercayainya, lalu menandai artikel itu untuk disimpan. Setelah satu jam, ia sudah membaca berita yang sama lima atau enam kali. Dua surat kabar mencantumkan foto Adam Hall muda yang muncul di halaman depan koran Memphis sehari sebelumnya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 40)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.