Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 38)

 The Chamber: Kamar Gas

"Bacalah koran itu, Sam. Kalau aku ingin menyangkalnya, apakah hal itu akan muncul di halaman depan?"

Sam puas mendengarnya. Senyumnya sedikit melebar. Ia menggigit bibir dan menatap Adam. Kemudian secara metodis mengeluarkan sebungkus rokok baru. Adam melirik sekeliling, mencari jendela.

Sesudah rokok pertama dinyalakan, Sam berkata. "Menyingkirlah dari pers. Mereka kejam dan tolol. Mereka pembohong dan suka melakukan kekeliruan yang ceroboh "

"Tapi aku pengacara, Sam. Itu sudah tertanam."

"Aku tahu itu sulit, tapi usahakanlah mengendalikan diri. Aku tak ingin hal ini terjadi lagi."

Adam merogoh ke dalam tas, tersenyum, dan mengeluarkan sejumlah dokumen. "Aku punya gagasan bagus tentang cara menyelamatkan nyawamu." Ia menggosokkan kedua tangan, kemudian mencabut pena dan saku. Saat untuk bekerja.

"Aku mendengarkan."

"Nah, seperti mungkin sudah kauduga, aku telah banyak melakukan riset."

"Untuk itulah kau dibayar."

"Ya. Dan aku sudah punya teori kecil yang luar biasa, klaim baru yang hendak kuajukan pada hari Senin. Teori ini sederhana. Mississippi adalah satu di antara lima negara bagian yang masih memakai kamar gas, benar?"

"Benar."

"Dan Badan Legislatif Mississippi pada tahun 1984 mengesahkan undang-undang yang memberikan pilihan kepada terhukum untuk mati dengan suntikan atau dalam kamar gas. Namun undang-undang baru itu hanya berlaku bagi mereka yang divonis sesudah tanggal 1 Juli 1984. Tidak berlaku untukmu."

"Itu benar. Kupikir separo orang-orang di The Row akan mendapat pilihan itu. Tapi  itu masih bertahun-tahun lagi."

"Salah satu alasan badan legislatif menyetujui suntikan mematikan adalah untuk membuat pembunuhan itu lebih manusiawi. Aku sudah mempelajari sejarah legislatif di belakang undang-undang itu, dan ada banyak perdebatan tentang masalah yang dihadapi negara dalam pelaksanaan eksekusi memakai kamar gas. Teorinya sederhana: buat eksekusi itu cepat dan tak menyakitkan, sehingga lebih sedikit klaim konstitusional bahwa mereka kejam. Suntikan mematikan menimbulkan lebih sedikit masalah hukum, jadi pembunuhan-pembunuhan itu lebih mudah dilaksanakan. Dengan demikian, teori kita adalah karena negara sudah mengesahkan suntikan mematikan, secara tak langsung mengatakan kamar gas sudah usang. Dan mengapa hal itu usang? Sebab itu merupakan cara yang kejam untuk membunuh manusia."

Sam mengepul-ngepulkan rokok selama semenit dan mengangguk perlahan-lahan. "Teruskan," katanya.

"Kita serang kamar gas sebagai metode eksekusi."

"Apakah kau membatasinya pada Mississippi?"

"Mungkin. Aku tahu ada masalah dengan Teddy Doyle Meeks dan Maynard Tole."

Sam mendengus dan mengembuskan asap ke seberang meja. "Masalah? Kau bisa bilang begitu."

"Berapa banyak yang kauketahui?"

"Ayolah. Mereka mati dalam jarak lima puluh meter dariku. Kami duduk di sel sepanjang hari dan memikirkan kematian. Setiap orang di The Row tahu apa yang terjadi pada anak-anak itu."

"Ceritakanlah tentang mereka."

Sam membungkuk ke depan bertelekan siku dan menatap kosong pada surat kabar di depannya. "Meeks adalah eksekusi pertama di Mississippi sesudah sepuluh tahun, dan mereka tak tahu apa yang mereka kerjakan. Itu terjadi tahun 1982. Aku sudah hampir dua tahun di sini, dan sampai saat itu kami hidup dalam dunia mimpi. Kami tak pernah memikirkan kamar gas, pil sianida, dan santapan terakhir. Kami divonis mati, tapi persetan, mereka tak membunuh siapa pun, jadi mengapa khawatir? Tapi peristiwa Meeks membangunkan kami. Mereka membunuhnya, jadi mereka tentu bisa membunuh kami semua."

"Apa yang terjadi padanya?" Adam sudah pernah membaca selusin cerita tentang eksekusi Teddy Doyle Meeks yang kacau-balau, tapi ia ingin mendengarnya dari Sam.

"Segalanya kacau. Kau sudah melihat kamar gas itu?"

"Belum."

"Ada ruangan kecil di sampingnya, tempat algojo mencampur larutannya. Asam sulfat ada dalam kaleng yang dibawa dari laboratoriumnya, ke slang yang menjulur sampai ke bagian bawah kamar gas. Waktu mengeksekusi Meeks, si algojo mabuk."

"Ah, Sam."

"Aku tak melihatnya, oke? Tapi semua orang tahu dia mabuk. Undang-undang negara bagian menentukan ditunjuknya seorang algojo resmi, dan Kepala Penjara serta anak buahnya tidak memikirkan hal ini sampai beberapa jam sebelum eksekusi itu. Ingat, tak seorang pun mengira Meeks akan mati. Kami semua menunggu penundaan kembali pada menit terakhir, sebab dia sudah dua kali mengalaminya. Tapi tak ada penundaan, dan pada menit terakhir itu mereka tunggang-langgang mencari algojo resmi. Mereka menemukannya, mabuk. Dia tukang pipa, kurasa.

“Nah, campurannya yang pertama tidak berhasil. Dia meletakkan kaleng canister ke dalam slang, menarik tuas, dan setiap orang menunggu Meeks menarik napas dalam dan mati. Meeks menahan napasnya selama mungkin, lalu menghirup. Tak ada yang terjadi. Mereka menunggu. Meeks menunggu. Para saksi menunggu. Setiap orang perlahan-lahan menoleh kepada si algojo, yang juga menunggu dan mengumpat. Dia kembali ke ruangan kecilnya dan membuat lagi campuran asam sulfat.

“Lalu dia harus mengambil kembali canister lama dari tempat pengisian, dan itu butuh waktu sepuluh menit. Kepala Penjara, Lucas Mann, dan seluruh kelompoknya berdiri di sana, menunggu dan bergerak-gerak resah, mengumpat si tukang pipa pemabuk yang akhirnya menancapkan canister baru dan menarik tuas. Kali ini asam sulfat itu mendarat di tempat semestinya, dalam mangkuk di bawah kursi tempat Meeks diikat. Algojo itu menarik tuas kedua untuk menjatuhkan tablet sianida yang juga ada di bawah kursi, bergelantungan di atas asam sulfat.

“Tablet itu jatuh dan tentu saja gasnya membubung ke atas, tempat Meeks yang malang sedang menahan napas lagi. Kau bisa melihat uapnya, kau tahu. Ketika akhirnya dia menyedot sehidung penuh, dia mulai gemetar dan meregang, dan ini berlangsung cukup lama. Karena suatu alasan, di sana ada tiang besi yang tegak dari bagian atas kamar gas sampai ke dasarnya, dan tiang itu berada tepat di belakang kursi.

“Ketika Meeks diam tak bergerak dan semua orang menyangka dia sudah mati, kepalanya mulai mengentak ke depan dan ke belakang, menghantam tiang ini, memukul-mukulnya sekuat tenaga. Matanya terbalik ke belakang, mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan busa, dan dia memukul-mukulkan belakang kepalanya pada tiang itu. Mengerikan."

"Berapa lama yang diperlukan untuk membunuhnya?"

"Siapa tahu? Menurut dokter penjara, kematian terjadi seketika dan tanpa rasa sakit. Menurut beberapa saksi mata, Meeks kejang-kejang dan melonjak-lonjak dan memukul-mukulkan kepalanya selama lima menit."

Eksekusi Meeks telah menyediakan banyak amunisi bagi para penganjur penghapusan hukuman mati. Tak ada keraguan bahwa ia menderita hebat, dan di artikel dituliskan mengenai kematiannya. Versi Sam luar biasa konsisten dengan laporan para saksi mata.

"Siapa yang menceritakan ini padamu?" tanya Adam.

"Beberapa penjaga membicarakannya. Bukan kepadaku, tentu saja, tapi kabar tersebar cepat. Masyarakat protes, dan itu pasti lebih hebat lagi seandainya Meeks dulu bukan orang yang begitu keji. Semua orang membencinya. Dan korban kecilnya menderita sangat hebat, jadi sulit untuk bersimpati."

"Di mana kau ketika dia dieksekusi?"

"Di sel pertamaku, Tier D, di ujung terjauh dari kamar gas. Mereka mengurung semuanya malam itu, setiap narapidana di Parchman. Eksekusi itu sesudah tengah malam, dan itu mengejutkan sebab negara punya waktu sehari penuh untuk melaksanakannya. Surat keputusan pelaksanaan hukuman itu tidak menyebutkan waktu tertentu, cuma hari tertentu. Jadi bangsat-bangsat tolol itu begitu gatal untuk melaksanakannya secepat mungkin. Mereka merencanakan setiap eksekusi dilaksanakan semenit sesudah tengah malam.”

Empat tahun sesudah eksekusi Teddy Doyle Meeks, pembelaan Maynard Tole sampai ke jalan buntu dan tibalah saat kamar gas itu dipakai lagi. Seorang pengacara muda bernama Peter Wiesenberg mewakili Tole, di bawah supervisi E. Garner Goodman. Baik Weisenbcrg maupun Goodman menyaksikan eksekusi itu, dan banyak segi sama mengerikannya dengan eksekusi Meeks. Adam belum membicarakan eksekusi Tole dengan Goodman, tapi ia mempelajari berkas itu dan membaca laporan saksi yang ditulis Wtesenberg dan Goodman.

“Bagaimana dengan Maynard Tole?" tanya Adam

"Dia orang Afrika, militan yang membunuh banyak orang dalam perampokan dan tentu saja menjatuhkan segala kesalahan pada sistem. Selalu menyebut dirinya sebagai pejuang Afrika. Dia pernah beberapa kali mengancamku, tapi sebagian besar cuma membual."

"Membual?"

"Yeah, omong kotor, bicara sampah. Lumrah pada orang-orang Afrika. Mereka semua tak berdosa, kau tahu. Setiap orang di antara mereka. Mereka ada di sini karena mereka hitam dan sistem ini putih. Meskipun mereka memerkosa dan membunuh, itu dianggap kesalahan orang lain. Selalu, selalu kesalahan orang lain."

"Jadi, kau senang dia mati?"

"Aku tidak berkata begitu. Pembunuhan itu salah. Salah bagi orang-orang Afrika itu melakukan pembunuhan. Salah bagi orang-orang Anglo Saxon membunuh. Dan salah bagi warga Negara Bagian Mississippi membunuh narapidana di sini. Apa yang kulakukan salah, jadi bagaimana kau membuatnya benar dengan membunuhku?"

"Apakah Tole menderita?"

"Sama seperti Meeks. Mereka menemukan algojo baru dan dia mengerjakannya dengan benar pada kesempatan pertama. Gas itu menerpa Tole dan dia kejang-kejang, mulai membentur-benturkan kepala ke tiang, tepat seperti Meeks. Tapi Tole rupanya punya kepala lebih keras, sebab dia terus memukul-mukulkannya pada tiang itu. Kejadian itu berlarut-larut, dan akhirnya Naifeh beserta gerombolannya jadi sangat cemas, sebab bocah itu tidak mati-mati dan segalanya jadi berantakan. Maka mereka menyuruh para saksi meninggalkan ruangan saksi. Sungguh mengerikan."

"Aku membaca entah di mana, dia butuh sepuluh menit untuk mati."

"Dia bergulat keras, itu saja yang kuketahui. Sudah tentu Kepala Penjara dan dokternya mengatakan kematian berlangsung seketika dan tanpa rasa sakit. Biasa. Tapi mereka benar-benar melakukan sedikit penambahan dalam prosedur, sesudah Tole. Pada saat mengeksekusi sobatku Moac, mereka merancang berangus kecil yang lucu, terbuat dari tali kulit dan gesper, dan memasangnya pada tiang terkutuk itu. Pada Moac, dan kelak pada Jumbo Parris, mereka mengikat kepala terhukum begitu ketat, sampai tak mungkin lolos dan membenturkannya pada tiang. Cara yang bagus, bukan? Itu memudahkan Naifeh dan saksi, sebab mereka sekarang tak perlu menyaksikan banyak penderitaan."

"Kaulihat poinku, Sam? Itu cara mati yang menyeramkan. Kita serang metode itu. Kita cari saksi-saksi yang akan memberikan kesaksian tentang eksekusi ini, dan kita coba meyakinkan hakim agar menyatakan kamar gas tidak konstitusional."

"Lalu apa? Apakah kita kemudian minta suntikan mematikan? Apa gunanya? Rasanya konyol kalau aku mengatakan lebih suka tidak menemui ajal dalam kamar gas, tapi peduli amat, suntikan mematikan boleh juga. Letakkan aku di atas kereta dorong dan isi tubuhku dengan obat. Aku akan mati, benar? Aku tak mengerti."

"Benar. Tapi kita akan mendapat tenggang waktu. Kita serang kamar gas, dapatkan penundaan sementara, lalu usahakan lagi melalui pengadilan yang lebih tinggi. Kita bisa menyeret hal ini sampai bertahun-tahun."

"Itu sudah pernah dikerjakan."

"Apa maksudmu sudah pernah dikerjakan?"

"Texas, 1983. Kasus Larson. Argumentasi yang sama diajukan tanpa hasil. Pengadilan mengatakan kamar gas telah ada selama lima puluh tahun, dan terbukti cukup efisien dalam melakukan pembunuhan secara manusiawi."

"Yeah, tapi ada satu perbedaan besar."

"Apa?"

"Ini bukan Texas. Meeks, Tole, Moac, dan Parris tidak digas di Texas. Dan, omong-omong, Texas sudah beralih ke suntikan mematikan. Mereka membuang kamar gas, sebab mereka menemukan cara yang lebih baik untuk membunuh. Kebanyakan negara bagian yang dulu memakai kamar gas sudah menggantikannya dengan teknik yang lebih baik."

Sam bangkit berdiri dan berjalan ke ujung lain meja itu. "Ah, bila tiba waktuku, aku tentu saja ingin mati dengan teknologi terbaru." Ia mondar-mandir di sepanjang meja, maju-mundur tiga-empat kali, lalu berhenti. "Cuma lima setengah meter jarak antara ujung ruangan ini dan ujung satunya. Aku cuma bisa berjalan lima setengah meter tanpa menabrak jeruji. Apa kau menyadari bagaimana rasanya menghabiskan 23 jam sehari dalam sel berukuran hampir dua kali tiga meter? Inilah kebebasan, Man." Ia mondar-mandir lagi, mengepul-ngepulkan rokok ketika datang dan pergi.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 39)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.