Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 37)

 The Chamber: Kamar Gas

Sam setuju dengan serangga itu dan tak menghiraukan sisa sarapannya. Ia menghirup kopi dan menatap lantai.

Pukul 09.30, Sersan Packer berada di dalam penjara, mencari Sam. Saatnya menghirup udara segar. Hujan sudah berhenti dan matahari memanggang Delta. Packer datang bersama dua penjaga dan membawa sepasang rantai kaki dari besi.

Sam menuding rantai itu dan bertanya, "Untuk apa itu?"

"Untuk pengamanan, Sam."

"Aku cuma keluar untuk bermain, bukan?"

"Tidak, Sam. Kami akan membawamu ke perpustakaan hukum. Pengacaramu ingin menemuimu di sana, kalian bisa bicara di antara buku-buku hukum. Sekarang berbaliklah."

Sam mengulurkan kedua tangannya melalui lubang pada pintunya. Packer memborgolnya dengan kendur, lalu pintu terbuka dan Sam melangkah ke gang. Penjaga-penjaga itu berlutut dan memasang borgol kaki. Sam bertanya pada Packer, "Bagaimana dengan jam istirahat keluarku?"

"Bagaimana dengannya?"

"Kapan aku mendapatkannya?"

"Nanti"

"Kau bilang begitu kemarin dan aku tidak mendapatkan jam rekreasiku. Kau bohong padaku kemarin. Sekarang kau membohongiku lagi. Aku akan menggugatmu karena ini."

"Gugatan butuh waktu lama. Bertahun-tahun."

"Aku ingin bicara dengan Kepala Penjara."

"Aku yakin dia pun ingin bicara denganmu, Sam. Sekarang, kau ingin menemui pengacaramu atau tidak?"

"Aku punya hak menemui pengacaraku dan aku punya hak atas waktu rekreasiku."

"Jangan ganggu dia, Packer!" Hank Henshaw berteriak dari jarak sekitar dua meter.

"Kau bohong, Packer! Kau bohong!" J.B. Gullit menambahkan dari sisi lain.

"Tenang, anak-anak," kata Packer dingin. "Kita akan tangani Sam."

"Yeah, kau akan mengegasnya hari ini kalau bisa," Henshaw berteriak.

Borgol kaki sudah terpasang, dan Sam tertatih ke dalam selnya untuk mengambil berkas. Ia mendekapnya di dada dan tertatih-tatih menyusuri gang dengan Packer di sampingnya dan para penjaga membuntuti.

"Hajar mereka, Sam," teriak Henshaw ketika mereka berjalan pergi.

Terdengar teriakan lain mendukung Sam dan mengejek Packer ketika meninggalkan penjara. Mereka dipersilakan melewati beberapa pintu dan Tier A sudah di belakang mereka.

"Kepala Penjara mengatakan kau bisa mendapat dua jam siang ini, dan dua jam tiap hari sampai semuanya selesai," kata Packer ketika mereka bergerak perlahan-lahan di lorong pendek.

"Sampai apa selesai?"

"Sampai thang ini selesai."

"Thang apa?"

Packer dan sebagian besar penjaga menyebut eksekusi sebagai thang.

"Kau tahu apa maksudku," kata Packer.

"Katakan pada Kepala Penjara, dia benar-benar baik hati. Dan tanya dia apakah aku akan mendapat dua jam kalau thang ini tidak terjadi, oke? Dan sewaktu kau membicarakannya, katakan padanya menurutku dia bangsat pembohong."

"Dia sudah tahu."

Mereka berhenti pada tembok jeruji dan menunggu pintu terbuka. Mereka melewatinya dan dihentikan lagi oleh dua penjaga di pintu depan. Packer cepat-cepat menulis catatan pada clipboard, lalu mereka berjalan ke luar. Sebuah van putih sedang menunggu. Penjaga memegang lengan Sam, lalu mengangkat tubuh dan rantainya ke pintu samping. Packer duduk di depan bersama pengemudi.

"Apakah mobil ini ber-AC?" tukas Sam kepada sopir yang jendelanya terbuka.

"Ya," kata si pengemudi ketika mereka mundur dari bagian depan MSU.

"Kalau begitu, nyalakan benda sialan itu, oke?"

"Hentikan itu, Sam," kata Packer ragu.

"Rasanya sudah cukup hebat berkeringat seharian dalam sangkar tanpa AC, tapi sungguh konyol duduk di sini dan tercekik. Nyalakan benda sialan itu. Aku punya hak."

"Tarik napas dalam, Sam," Packer berkata mengejek dan berkedip kepada pengemudi.

"Kau akan membayar ucapanmu, Packer. Kau akan menyesal telah mengucapkannya."

Pengemudi menekan tombol dan udara sejuk mulai bertiup. Van itu dipersilakan lewat melalui gerbang ganda dan perlahan-lahan beringsut di jalan tanah, meninggalkan The Row. Meskipun kaki dan tangannya diborgol, perjalanan singkat di luar itu menyegarkan. Sam berhenti mengomel dan langsung tidak mengacuhkan yang lain dalam van itu.

Hujan telah meninggalkan kubangan-kubangan air dalam selokan-selokan berumput di tepi jalan, dan mencuci tanaman kapas yang sekarang sudah lebih dari selutut. Batang dan daunnya hijau tua. Sam teringat ketika masih kanak-kanak, ia memetik kapas, lalu cepat-cepat menepiskan pikiran itu. Ia telah melatih pikiran untuk melupakan masa lalu, dan pada kesempatan-kesempatan yang jarang itu, ketika memori masa kanak-kanak terlintas di depannya, ia cepat-cepat menepiskannya.

Van itu merangkak pelan, dan ia bersyukur akan hal ini. Ia menatap dua narapidana duduk di bawah pohon, menyaksikan temannya berlatih angkat beban di bawah matahari. Ada pagar mengitari mereka, tapi betapa nikmatnya, pikirnya, berada di luar berjalan-jalan dan bicara, berlatih dan duduk-duduk, tak pernah memikirkan kamar gas, tak pernah mengkhawatirkan pembelaan terakhir.

Perpustakaan hukum itu dikenal sebagai The Twig atau Ranting, sebab tempat itu begitu kecil untuk dianggap satu cabang. Perpustakaan hukum utama di penjara itu terletak lebih jauh dalam perkebunan, di kamp lain. The Twig hanya dipakai terpidana mati. Tempat itu menempel pada bagian belakang gedung administrasi, dengan satu pintu dan tanpa jendela. Sam sudah berkali-kali ke sana selama sembilan tahun terakhir ini.

Perpustakaan itu berupa ruangan sempit dengan koleksi buku-buku hukum baru dan laporan-laporan up-to-date yang lumayan. Sebuah meja rapat usang berdiri di tengah, dengan rak-rak buku menutupi keempat dindingnya. Sekali-sekali seorang narapidana dengan sukarela bekerja sebagai pustakawan, tapi bantuan yang baik sulit didapatkan dan buku-bukunya jarang ditempatkan di tempat semestinya. Itu sangat mengesalkan Sam, sebab ia suka kerapian dan membenci orang-orang Afrika itu. Ia yakin sebagian besar—kalau bukan semua—pustakawan itu kulit hitam, meskipun ia tidak pasti.

Dua penjaga itu membuka borgol Sam di pintu. "Kau punya waktu dua jam," kata Packer.

"Aku punya waktu selama aku mau," kata Sam sambil menggosok pergelangan tangan, seolah-olah borgol tadi telah mematahkannya.

“Tentu, Sam. Tapi bila aku datang menjemputmu dua jam lagi, aku berani bertaruh akan kami angkut pantat tipismu itu ke dalam van."

Packer membuka pintu begitu penjaga mengambil posisi di sampingnya. Sam memasuki perpustakaan itu dan membanting pintu di belakangnya. Ia meletakkan berkasnya di meja dan menatap pengacaranya.

Adam berdiri di ujung lain meja rapat, memegang sebuah buku dan menunggu kliennya. Ia sudah mendengar suara-suara di luar, dan menyaksikan Sam memasuki ruangan tanpa penjaga atau borgol. Sam berdiri dalam pakaian terusan merahnya, kelihatan jauh lebih kecil sekarang, tanpa kisi-kisi besi di antara mereka.

Mereka saling mengawasi beberapa lama dari ujung meja, cucu dan kakek, pengacara dan klien, orang asing dan orang asing. Jeda itu terasa ganjil saat mereka saling mengukur; masing-masing tak tahu apa yang harus dilakukan terhadap lainnya.

"Halo, Sam," kata Adam, berjalan ke arahnya.

"Pagi. Kulihat kita muncul di TV beberapa jam yang lalu."

"Yeah. Sudah kaubaca surat kabarnya?"

"Belum. Nanti saja."

Adam menggeser koran pagi ke seberang meja dan Sam menghentikannya. Ia memegangnya dengan dua tangan, bergeser ke kursi, dan mengangkat koran itu dalam jarak lima belas senti dari hidungnya. Ia membacanya dengan cermat dan mengamati foto dirinya dan Adam.

***

Todd Marks jelas telah menghabiskan sebagian malam harinya untuk menggali-gali data dan menelepon ke sana-sini. Ia telah memverifikasikan bahwa Alan Cayhall dilahirkan di Clanton, Ford County, pada tahun 1964, dan nama ayahnya pada akte kelahirannya adalah Edward S. Cayhall. Ia memeriksa akte kelahiran Edward S. Cayhall dan menemukan ayahnya adalah Samuel Lucas Cayhall, sama dengan orang yang sekarang berada di penjara, menanti hukuman mati.

Ia melaporkan Adam Hall telah mengonfirmasikan nama ayahnya telah diganti di California, dan kakeknya Sam Cayhall. Ia hati-hati untuk tidak memakai kutipan langsung dari Adam, tapi bagaimana pun juga ia telah melanggar kesepakatan mereka. Tak banyak disangsikan dua orang itu telah berbicara.

Mengutip dari sumber yang tak disebutkan namanya, berita itu menjelaskan bagaimana Eddi dan keluarganya meninggalkan Clanton pada tahun 1967 sesudah Sam ditahan, dan melarikan diri ke California, tempat Eddie kelak bunuh diri. Jejak itu berakhir di sana, sebab Marks jelas kehabisan waktu di penghujung hari dan tak bisa mengonfirmasikan apa pun dari California.

Sumber atau sumber-sumber yang tak disebutkan namanya itu tidak menyebutkan putri Sam tinggal di Memphis, jadi Lee tidak disorot. Cerita itu kehabisan tenaga sesudah serangkaian no comment dari Baker Cooiey, Garner Goodman, Phillip Naifeh, Lucas Mann, dan seorang pengacara dari kantor Kejaksaan Agung di Jackson. Namun Marks mengakhirinya dengan kuat, memberikan ringkasan peristiwa pengeboman atas Kramer.

Berita itu dimuat di halaman depan The Press, di atas berita utama. Foto lama Sam di sebelah kanan, dan di sampingnya ada foto Adam yang aneh dari pinggang ke atas. Beberapa jam sebelumnya Lee membawakan surat kabar itu untuknya, ketika ia duduk di teras dan menyaksikan lalu lintas pagi di sungai. Mereka minum kopi dan sari buah, membaca cerita itu dan membacanya lagi

Sesudah analisis panjang, Adam memutuskan Todd Paries telah menempatkan seorang fotografer di seberang Hotel Peabody. Ketika Adam meninggalkan pertemuan kecil mereka kemarin dan melangkah ke trotoar, fotonya diambil. Jas dan dasinya jelas yang dipakai kemarin.

"Apakah kau bicara dengan badut ini?" Sam menggeram sambil meletakkan koran di meja. Adam duduk di seberangnya.

"Kami bertemu."

"Mengapa?"

"Sebab dia menelepon kantor kami di Memphis, mengatakan mendengar desas-desus. Aku ingin dia mendengar versi sebenarnya. Bukan urusan besar."

"Foto kita muncul di halaman depan bukan urusan besar?"

"Kau sudah pernah muncul di koran."

"Dan kau?"

"Aku sama sekali tidak berpose. Itu sergapan, kau tahu. Tapi kupikir aku kelihatan cukup tampan."

"Apakah kau mengonfirmasikan fakta-fakta ini untuknya?"

"Benar. Kami setuju hal itu akan jadi background, dan dia tak boleh mengutip apa pun duriku, atau memakaiku sebagai narasumber. Dia melanggar kesepakatan dan mengecohku. Dia juga menyembunyikan seorang fotografer, jadi aku bicara untuk pertama dan terakhir kalinya dengan Memphis Press"

Sam memandang surat kabar itu sejenak, santai, dan ucapannya lambat seperti biasanya. Ia bahkan menyunggingkan senyum sepintas. “Jadi, kau mengonfirmasikan kau cucuku?"

"Ya. Sama sekali tak bisa menyangkalnya, bukan?”

"Apa kau ingin menyangkalnya?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 38)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.