Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 36)

 The Chamber: Kamar Gas

"Mengapa dia tinggal di Eropa?"

"Dia pergi ke Amsterdam dan jatuh cinta."

"Gadis Belanda yang cantik?"

“Pemuda Belanda yang cantik."

"Begitu."

Lee sekonyong-konyong tertarik pada salad. Ia menyendoknya ke piring dan mulai memotongnya kecil-kecil. Adam turut melakukannya. Selama beberapa saat mereka makan dalam keheningan, sementara bistro itu mulai terisi dan jadi lebih bising. Sepasang yuppie yang letih dan berpenampilan menarik duduk pada meja kecil di samping mereka dan memesan minuman keras.

Adam mengoleskan mentega pada roti tawar, menggigit sepotong, lalu bertanya, "Bagaimana reaksi Phelps?"

Lee menyeka sudut mulut. "Perjalanan terakhir Phelps bersamaku adalah ke Amsterdam untuk menemukan putra kami. Saat itu dia sudah dua tahun pergi. Dia beberapa kali menulis surat dan sekali-sekali menelepon, tapi kemudian semua korespondensi berhenti. Kami tentu saja khawatir, maka kami terbang ke sana dan menginap di hotel sampai menemukannya."

"Apa yang dia kerjakan?"

"Menjadi pelayan di sebuah kafe. Memakai anting-anting di kedua telinga. Rambutnya dipangkas pendek. Pakaiannya aneh. Dia memakai bakiak sialan itu dengan kaus kaki wol. Bahasa Belandanya sempurna. Kami tak ingin ribut di depan orang banyak, maka kami memintanya datang ke hotel kami. Dia datang. Sungguh mengerikan. Benar-benar mengerikan. Phelps menanganinya seolah-olah dia idiot, dan kerasukan itu tak terpulihkan lagi. Kami pulang. Phelps melakukan perombakan besar-besaran pada surat wasiatnya dan mencabut kembali hak-hak Walt."

"Dia tak pernah pulang?"

“Tak pernah. Aku bertemu dengannya di Paris sekali setahun. Kami berdua datang sendirian, itulah peraturan satu-satunya. Kami tinggal di hotel bagus dan melewatkan satu minggu bersama-sama, menjelajahi kota, makan-makan, mengunjungi museum. Itulah acara pentingku saat ini. Tapi dia benci Memphis."

"Aku ingin bertemu dengannya."

Lee memandang Adam dengan cermat, matanya basah. "Terpujilah kau. Kalau kau serius, aku akan senang mengajakmu pergi bersamaku."

"Aku serius. Aku tak peduli dia gay. Aku akan senang bertemu dengan sepupu pertamaku."

Lee menghela napas dalam dan tersenyum. Ravioli tiba dalam piring penuh kepulan uap ke segala penjuru. Sepotong garlic bread panjang diletakkan di tepi meja, dan si pelayan menghilang.

"Apa Walt tahu tentang Sam?" tanya Adam.

"Tidak. Aku tak pernah punya nyali untuk bercerita kepadanya."

"Apakah dia tahu tentang aku dan Carmen? Tentang Eddie? Tentang apa pun dalam sejarah keluarga kita yang hebat?"

"Ya, sedikit. Ketika dia masih kecil, kuceritakan padanya bahwa dia punya saudara sepupu di California tapi mereka tak pernah datang ke Memphis. Phelps, tentu saja mengatakan kepadanya bahwa sepupunya di California termasuk dalam kelas sosial yang jauh lebih rendah, karena itu tidak patut mendapatkan perhatiannya. Walt dididik ayahnya untuk menjadi orang snob, Adam, kau harus mengerti ini. Dia masuk ke sekolah menengah paling bergengsi, berkeliaran di country club paling nyaman, dan keluarganya terdiri atas gerombolan sepupu bermarga Booth yang semuanya sama. Mereka semua orang-orang menyedihkan."

"Bagaimana pendapat keluarga Booth punya anggota keluarga yang homoseks?"

"Mereka membencinya, tentu saja. Dan dia benci mereka."

"Aku sudah menyukainya."

"Dia bukan anak yang jelek. Dia ingin belajar seni dan melukis. Aku selalu mengiriminya uang."

"Apa Sam tahu dia punya cucu homoseks?"

"Kurasa tidak. Aku tak tahu siapa yang akan bercerita kepadanya."

"Mungkin aku akan bercerita kepadanya."

"Jangan. Sudah cukup banyak yang memenuhi pikirannya."

Ravioli itu sudah cukup dingin untuk disantap, mereka menikmatinya tanpa bicara. Pelayan mengisikan air dan teh lagi. Pasangan di samping mereka memesan sebotol anggur merah.

Adam menyeka mulut dan beristirahat sebentar, lalu membungkuk di atas meja. "Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang pribadi?" ia bertanya pelan.

“Semua pertanyaanmu rasanya bersifat pribadi."

"Benar. Jadi, bolehkah aku bertanya satu lagi?"

"Silakan."

"Nah, aku baru saja berpikir. Malam ini kau menceritakan padaku kau pecandu alkohol, suamimu binatang, dan anakmu gay. Itu cukup banyak untuk sekali telan. Tapi adakah hal lain yang harus kuketahui?"

"Coba kuingat. Ya, Phelps pun pecandu alkohol tapi takkan mengakuinya"

"Ada lainnya?"

"Dia pernah dua kali diperkarakan karena pelecehan seksual."

"Oke. Lupakan keluarga Booth. Ada kejutan lain dari keluarga kita?"

"Kita belum lagi menggores permukaannya, Adam."

"Aku sudah khawatir dengan hal itu."

~ 18 ~

Badai hebat bergulung melintasi Delta sebelum fajar, dan Sam terbangun oleh gemuruh halilintar. Ia mendengar tetes air hujan menerpa keras jendela-jendela terbuka di gang. Kemudian ia mendengarnya menetes dan menggenang pada dinding di bawah jendela, tak jauh dari selnya. Kelembapan ranjangnya sekonyong-konyong terasa sejuk. Mungkin hari ini takkan begitu panas. Mungkin hujan akan bertahan satu-dua hari. Ia selalu punya harapan semacam ini bila hari hujan, tapi di musim panas badai yang biasanya berarti tanah becek di bawah terik matahari tak berarti apa-apa, kecuali hawa panas yang lebih mencekik.

Ia mengangkat kepala dan mengawasi air hujan jatuh dari jendela dan terkumpul di lantai. Air berkilau diterpa pantulan cahaya dari lampu kuning di kejauhan. Kecuali sinar redup ini, The Row dalam keadaan gelap. Dan sunyi.

Sam suka hujan, terutama di waktu malam, dan terutama di musim panas. Negara Bagian Mississippi, dalam kebijaksanaannya yang tak terbatas, telah membangun penjaranya di tempat paling panas yang ada. Dan merancang Maximum Security Unit-nya dengan bentuk seperti oven. Jendela-jendela ke luar begitu kecil dan tak berguna, dibuat sedemikian rupa, tentu saja untuk alasan-alasan keamanan.

Para perencana cabang neraka kecil ini juga memutuskan tak ada ventilasi dalam bentuk apa pun, tak ada peluang bagi angin segar mengalir masuk atau bagi udara pengap mengalir ke luar. Dan sesudah membangun apa yang mereka anggap fasilitas lembaga permasyarakatan modern, mereka memutuskan tidak memberinya AC. Bangunan itu akan berdiri megah di samping tanaman kedelai dan kapas, menyerap panas serta hawa lembap yang sama dari tanah. Dan ketika tanah itu kering, The Row akan terpanggang begitu saja bersama tanaman tersebut.

Namun Negara Bagian Mississippi tak dapat mengendalikan cuaca, bila hujan datang serta menyejukkan udara, Sam tersenyum sendiri dan memanjatkan doa syukur pendek. Bagaimanapun juga, ada sesuatu yang lebih tinggi yang memegang kendali. Negara tak berdaya bila hari hujan. Itu merupakan kemenangan kecil.

Ia bangkit berdiri dan meregangkan punggung. Ranjangnya terdiri atas sepotong busa, hampir dua kali satu meter, tebal sepuluh senti, yang disebut sebagai kasur. Kasur itu diletakkan pada rangka besi yang ditempel mati pada lantai dan dinding.

Dua lembar seprai menutupinya. Kadang-kadang mereka membagikan selimut pada musim dingin. Sakit punggung adalah sesuatu yang lumrah di The Row, tapi dengan lewatnya waktu, tubuh pun menyesuaikan diri dan tak banyak keluhan. Dokter penjara tidak dianggap sebagai sahabat narapidana di situ.

Ia menapak dua langkah dan bertelekan siku pada jeruji. Ia mendengarkan bunyi angin dan guruh, serta mengawasi tetesan-tetesan air menerpa ambang jendela dan memercik ke lantai. Betapa nikmatnya melangkah menembus dinding itu dan berjalan di rumput basah di sisi seberang, berjalan-jalan di sekitar lahan penjara di bawah hujan lebat, telanjang dan gila, basah kuyup, dengan air menetes dari rambut dan jenggot.

Kengerian di penjara itu adalah kau mati sedikit-sedikit setiap hari. Penantian itu membunuhmu. Kau hidup dalam sangkar, dan ketika bangun kau menandai lewatnya satu hari lagi dan kaukatakan pada dirimu bahwa kau semakin dekat satu hari pada kematian.

Sam menyalakan rokok dan menyaksikan asap melayang ke atas, ke arah air hujan. Berbagai keganjilan terjadi dengan sistem yudisial yang absurd. Pengadilan memutuskan begini suatu hari dan kebalikannya pada hari berikutnya. Hakim-hakim yang sampai mengabaikan mosi atau pengajuan banding selama bertahun-tahun, lalu suatu hari meraihnya dan memberikan pembebasan. Hakim-hakim mati dan digantikan hakim yang berbeda cara berpikirnya. Presiden-presiden datang dan pergi serta menunjuk sahabat-sahabat mereka duduk di kursi hakim. Mahkamah Agung hanyut ke satu arah, lalu ke arah lain.

Kadang kala kematian akan disambut gembira. Dan bila diberi pilihan untuk mati atau hidup di penjara ini, Sam akan cepat-cepat memilih kamar gas. Tapi selalu ada harapan, selalu ada janji yang menyala sepintas, bahwa sesuatu entah di mana dalam rimba raya peradilan yang luas akan mengetuk seseorang, dan kasusnya akan dibatalkan. Setiap penghuni The Row memimpikan mukjizat pembebasan dari surga. Dan impian itu membuat mereka bertahan dari satu hari yang merana ke hari berikutnya.

Sam baru-baru ini membaca bahwa ada hampir 2.500 narapidana divonis mati di Amerika, dan dalam tahun 1989 cuma enam belas orang dieksekusi. Mississippi mengeksekusi empat orang sejak 1977, tahun saat Gary Oilmore bersikeras menghadapi regu tembak di Utah. Ada perasaan aman dalam angka-angka itu. Mereka memperkuat tekadnya untuk mengajukan lebih banyak lagi dalih pembelaan.

Ia merokok di antara jeruji, sementara badai lewat dan hujan berhenti. Ia mengambil sarapan ketika matahari naik, dan pukul 07.00 ia menyalakan televisi untuk menyaksikan berita pagi. Ia baru saja menggigit sepotong roti panggang dingin ketika mendadak wajahnya muncul di layar, di belakang pembawa berita pagi Memphis.

Dengan penuh semangat wanita itu melaporkan berita paling menggemparkan hari itu, kasus aneh Sam Cayhail dan pengacara barunya. Tampaknya pengacara baru itu adalah cucunya yang lama hilang, Adam Hall, pengacara muda dari biro hukum raksasa di Chicago. Kravitz & Bane, lembaga yang sudah mewakili kepentingan hukum Sam selama tujuh tahun terakhir. Foto Sam sedikitnya sudah berumur sepuluh tahun, foto sama yang selalu mereka pakai tiap kali namanya disebut di TV atau media cetak. Foto Adam agak lebih aneh. Jelas ia tidak berpose untuk itu. Seseorang menjepretnya di luar ketika ia tak melihat.

Si pembawa berita menjelaskan dengan mata berbinar bahwa Memphis Press melaporkan pagi ini bahwa Adam Hall sudah mengonfirmasikan dirinya sebenarnya cucu Sam Cayhall. Ia memberikan garis besar singkat tentang kejahatan Sam dan dua kali menyebutkan tanggal eksekusinya yang tertunda. Akan ada lebih banyak lagi dalam kisah ini, ia berjanji, mungkin segera pada Laporan Siang. Kemudian ia beralih pada pokok berita tentang pembunuhan tadi malam.

Sam melemparkan roti panggang ke lantai di samping rak buku dan menatapnya. Seekor serangga menemukannya nyaris seketika, merangkak di atasnya, dan mengitarinya setengah lusin kali sebelum memutuskan benda itu layak dimakan.

Pengacaranya sudah bicara kepada pers. Apa yang mereka ajarkan kepada orang-orang ini di sekolah hukum? Apakah mereka memberikan pelajaran tentang kontrol media?

"Sam, kau ada di sana?" suara Gullit.

"Yeah. Aku juga di sini."

"Baru saja melihatmu di saluran empat."

"Yeah. Aku sudah melihatnya."

"Kau marah?"

"Aku baik-baik saja."

"Tarik napas dalam, Sam. Tak apa-apa."

Di antara orang-orang yang divonis mati dalam kamar gas, istilah "tarik napas dalam" sering dipakai dan dianggap lak lebih dari suatu usaha untuk humor. Mereka selalu mengatakannya satu sama lain, biasanya bila salah satu sedang marah. Tapi bila diucapkan para penjaga, itu jauh dari lucu. Ucapan itu dianggap pelanggaran hukum. Hal itu disebutkan dalam lebih dari satu gugatan, sebagai contoh perlakuan kejam yang terjadi di penjara itu.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 37)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.