Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 35)

 The Chamber: Kamar Gas

"Aku pengacaranya."

"Dia menandatangani perjanjian?"

"Ya. Dia menyiapkannya sendiri, empat halaman. Kami berdua menandatanganinya, jadi sekarang terserah aku."

"Kau takut?"

"Ngeri. Tapi aku bisa menanganinya. Aku bicara dengan seorang wartawan dari Memphis Press siang ini. Mereka sudah dengar desas-desus Sam Cayhall adalah kakekku."

"Apa yang kaukatakan padanya?"

"Aku tak bisa menyangkalnya, bukan? Dia ingin mengajukan segala macam pertanyaan tentang keluarga, tapi hanya sedikit yang kuceritakan. Aku yakin dia akan menggali-gali dan menemukan lebih banyak lagi."

"Bagaimana denganku?"

"Sudah tentu aku tidak bercerita tentang dirimu, tapi dia akan mulai menggali. Maaf, aku menyesal."

"Menyesal untuk apa?"

"Menyesal karena mungkin mereka akan mengungkapkan identitasmu yang sebenarnya. Kau akan dicap sebagai putri Sam Cayhall, pembunuh, rasis, anti-Semit, teroris, anggota Klan, orang tertua yang pernah digiring ke kamar gas dan digas seperti binatang. Mereka akan mengusirmu ke luar kota."

"Aku sudah mengalami yang lebih buruk."

"Apa?"

"Jadi istri Phelps Booth." Adam tertawa mendengar ini dan Lee tersenyum. Seorang wanita setengah baya berjalan ke pintu yang terbuka dan memberi tahu Lee bahwa ia akan pulang. Lee melompat berdiri dan cepat-cepat memperkenalkan kemenakannya yang muda dan tampan, Adam Hall, pengacara dari Chicago, yang datang berkunjung untuk membuat kegemparan. Wanita itu cukup terkesan ketika mundur keluar dari kantor dan menghilang di gang.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu," kata Adam.

"Kenapa tidak?"

"Sebab namaku akan muncul di surat kabar besok—Adam Hall, pengacara dari Chicago, dan cucu."

Mulut Lee terbuka dua setengah senti sebelum ia menyadarinya. Ia kemudian mengangkat pundak, seolah-olah tak peduli, tapi Adam melihat ketakutan dalam matanya. Sungguh kekeliruan yang tolol, katanya pada dirinya sendiri. "Siapi peduli?" katanya seraya mengambil dompet dan tas kerja. "Ayo kita pergi cari restoran."

Mereka pergi ke sebuah bistro di dekat tempat itu, sebuah rumah makan kecil milik keluarga Itali dengan meja-meja kecil dan penerangan redup di sebuah bungalo. Mereka duduk di sudut yang gelap dan memesan minuman, es teh untuk Lee dan air mineral untuk Adam. Setelah pelayan berlalu, Lee mencondongkan tubuh dan berkata, "Adam, ada sesuatu yang perlu kuceritakan padamu."

Adam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa-apa.

"Aku seorang pecandu alkohol." Mata Adam menyipit, lalu membeku diam. Dua malam terakhir ini mereka minum bersama-sama.

"Sudah sekitar sepuluh tahun sekarang," Lee menjelaskan, masih membungkuk rendah di atas meja. Orang terdekat berjarak lima meter dari mereka. "Ada banyak alasan, oke? Beberapa di antaranya mungkin bisa kauterka. Aku menjalani pengobatan, keluar dengan bersih, dan bertahan sekitar setahun. Kemudian kembali menjalani rehabilitasi. Sudah tiga kali aku menjalani perawatan, yang terakhir lima tahun yang lalu. Itu tidak mudah."

“Tapi kau minum tadi malam. Beberapa gelas."

"Aku tahu. Dan malam sebelumnya. Dan hari ini kukosongkan semua botol dan kubuang birnya. Tak ada setetes pun dalam apartemen."

"Itu bukan masalah bagiku. Kuharap bukan aku penyebabnya."

"Tidak. Tapi aku butuh bantuanmu, oke? Kau akan tinggal bersamaku selama beberapa bulan, dan kita akan mengalami saat-saat buruk. Bantulah aku."

"Tentu, Lee. Seandainya saja kau memberitahukannya ketika aku tiba. Aku tidak banyak minum. Aku bisa minum atau sama sekali tidak."

"Alkoholisme adalah binatang aneh. Kadang-kadang aku bisa melihat orang minum dan sama sekali tidak terganggu. Kemudian, aku melihat iklan bir dan meneteskan air liur. Aku melihat iklan anggur yang dulu kusuka, dan keinginan itu begitu bebat, sampai aku mual. Sungguh pergulatan berat."

Minuman tiba dan Adam takut menyentuh air mineralnya. Ia menuangkannya di atas es dan mengaduknya dengan sendok. "Apakah itu menurun dalam keluarga kita?" tanyanya nyaris pasti memang demikian halnya.

"Kurasa tidak. Sam dulu suka keluar dan minum sedikit ketika kami masih kanak-kanak, tapi dia menyembunyikannya dari kami. Nenekku dari pihak ibu adalah pecandu alkohol, jadi ibuku tak pernah menyentuh benda itu. Aku tak pernah melihatnya di dalam ramah."

"Bagaimana itu terjadi padamu?"

"Perlahan-lahan. Ketika meninggalkan rumah, aku tak sabar mencobanya, sebab minuman keras adalah tabu ketika aku dan Eddie tumbuh dewasa. Kemudian aku berjumpa dengan Phelps, dan dia berasal dari keluarga social drinker. Kebiasaan itu jadi pelarian, kemudian jadi penopang."

"Akan kulakukan apa saja sebisaku. Maaf."

"Tak perlu menyesal. Aku menikmati minum bersamamu, tapi sudah saatnya berhenti, oke? Tiga kali aku gagal. Sebab aku mengira bisa minum satu atau dua gelas dan tetap mengendalikan diri. Suatu saat aku melewatkan satu bulan dengan minum anggur dan membatasi diri sampai segelas sehari. Kemudian jadi segelas setengah, lalu dua, lalu tiga. Lalu rehabilitasi. Aku seorang alkoholik dan takkan pernah sembuh tuntas."

Adam mengangkat gelasnya dan menempelkannya pada gelas Lee. "Untuk kegagalanmu. Kita sama-sama menghadapinya." Mereka meneguk minuman ringan itu.

Si pelayan adalah seorang mahasiswa yang langsung tahu apa yang harus mereka makan. Ia menyarankan ravioli panggang, sebab itu sajian terlezat di kota itu dan bisa disajikan dalam sepuluh menit. Mereka setuju.

"Aku sering bertanya-tanya dalam hati, apa yang kaulakukan dengan waktumu, tapi aku takut menanyakannya," kata Adam.

"Aku pernah punya pekerjaan. Setelah Walt lahir dan mulai bersekolah, aku jadi bosan, maka Phelps mencarikan pekerjaan untukku pada salah satu perusahaan temannya. Gaji besar, kantor bagus. Aku punya sekretaris pribadi yang tahu lebih banyak tentang pekerjaanku daripada aku sendiri. Sesudah setahun, aku berhenti. Aku menikahi uang, Adam, jadi aku tak perlu bekerja. Ibu Phelps tercengang ngeri mengetahui aku digaji."

"Apa kerja wanita-wanita kaya sepanjang hari?"

"Memikul beban dunia. Pertama-tama mereka harus memastikan papi berangkat bekerja, lalu mereka harus merencanakan hari itu. Para pelayan harus diberi pengarahan dan petunjuk. Berbelanja dibagi sedikitnya menjadi dua bagian, pagi dan siang. Belanja pagi biasanya terdiri atas telepon beruntun ke Fifth Avenue untuk memesan barang-barang. Belanja siang kadang-kadang dilakukan sendiri, tentu saja dengan sopir menunggu di halaman parkir. Makan siang menghabiskan sebagian besar hari itu, sebab acara itu memerlukan perencanaan berjam-jam dan sedikitnya dua jam untuk pelaksanaannya. Acara itu biasanya berupa pesta kecil yang lebih banyak dihadiri oleh jiwa-jiwa resah serupa. Kemudian ada tanggung jawab sosial sebagai wanita kaya. Sedikitnya tiga kali seminggu dia menghadiri jamuan minum teh di rumah teman-temannya, menikmati biskuit impor dan merengek tentang betapa malang nasib bayi-bayi telantar atau ibu-ibu yang kecanduan obat bius. Kemudian bergegas pulang untuk menyegarkan diri, menyambut papi pulang dari pertempuran di kantor. Lalu dia minum martini pertama bersama suaminya di tepi kolam renang, sementara empat orang mempersiapkan makan malam mereka."

"Bagaimana dengan seks?"

"Dia terlalu letih. Plus, dia mungkin punya gundik."

"Inikah yang terjadi pada Phelps?"

"Kurasa begitu, meskipun dia tak dapat mengeluh tentang seks. Aku punya bayi, aku makin tua, dan dia selalu punya pasokan gadis-gadis muda berambut pirang dari banknya. Kau takkan percaya keadaan kantornya. Tempat itu penuh dengan wanita-wanita hebat, dengan gigi dan kuku tanpa cacat, semuanya memakai rok mini dan bertungkai panjang. Mereka duduk di belakang meja kerja bagus dan bicara di telepon, menunggu isyarat dan panggilannya. Dia punya kamar tidur kecil di samping ruang rapat. Laki-laki itu binatang."

"Jadi, kau berhenti menjalani kehidupan berat sebagai wanita kaya dan pindah?"

"Yeah. Aku tidak begitu baik menjalani peran sebagai wanita kaya, Adam. Aku membencinya. Untuk beberapa saat memang menyenangkan, tapi aku tidak cocok. Bukan dari keturunan yang tepat. Percaya atau tidak, keluargaku tidak dikenal dalam kalangan sosial Memphis."

"Kau pasti bercanda."

"Sumpah. Dan untuk jadi wanita kaya yang pantas dan bermasa depan di kota ini, kau harus berasal dari keturunan kaya raya, lebih disukai dengan kakek buyut yang jadi kaya berkat perdagangan kapas. Aku tidak cocok."

“Tapi kau masih memainkan permainan sosial itu."

"Tidak. Aku masih muncul dalam berbagai acara, tapi cuma untuk Phelps. Penting baginya punya istri sebaya dan sedikit beruban; istri yang matang, kelihatan menarik dalam gaun malam dan berlian, serta bisa menahan diri sementara mengobrol dengan teman-teman suaminya yang membosankan. Kami keluar tiga kali setahun. Aku jadi semacam istri pajangan yang mulai menua."

"Rasanya dia ingin istri pajangan asli, salah satu dari gadis pirang berpakaian ketat itu."

“Tidak. Keluarganya akan terpukul, dan ada banyak uang dalam trust. Phelps harus hati-hati di depan keluarganya. Pada saat orangtuanya meninggal, dia akan siap keluar dari lemari."

"Kusangka orangtuanya membencimu."

"Sudah tentu. Ironisnya, karena merekalah kami masih bertahan. Perceraian berarti skandal."

Adam tertawa dan menggelengkan kepala keheranan. "Ini gila."

"Ya, tapi beres. Aku senang. Dia senang. Dia mendapatkan gadis-gadis mungilnya. Aku menyeleweng dengan siapa saja aku mau. Tak ada pertanyaan yang diajukan."

"Bagaimana dengan Walt?"

Perlahan-lahan Lee meletakkan gelas tehnya di meja dan memalingkan wajah. "Kenapa dia?" tanyanya, tanpa memandang.

"Kau tak pernah bicara tentang dia."

"Aku tahu," katanya pelan, masih memandang sesuatu di seberang ruangan.

"Coba kuterka. Ada sesuatu. Ada rahasia lain." Lee memandangnya dengan sedih, lalu mengangkat pundak sedikit, seolah-olah mengatakan, peduli amat.

"Bagaimanapun, dia sepupuku," kata Adam. "Dan setahuku, bila tak ada rahasia lain terungkap, dialah satu-satunya sepupu yang kumiliki."

"Kau takkan menyukainya."

"Sudah tentu. Dia bagian dari keluarga Cayhall."

"Bukan. Dia sepenuhnya Booth. Phelps ingin seorang putra, entah mengapa aku tak tahu. Jadi, kami pun punya anak laki-laki. Phelps, tentu saja, tak punya banyak waktu baginya. Selalu terlalu sibuk dengan bank. Dia membawa Walt ke country club dan mencoba mengajarinya bermain golf, tapi tidak berhasil. Walt tak pernah suka olahraga. Suatu ketika mereka pergi ke Kanada untuk berburu ayam. Ketika pulang, mereka tidak saling berbicara selama seminggu. Walt bukan pesolek, tapi tidak juga atletis. Phelps adalah atlet jagoan di sekolah—sepak bola, rugbi, tinju, semua itu. Walt mencoba bermain, tapi tak punya bakat. Phelps mendorongnya makin keras dan Walt berontak. Jadi, Phelps, dengan tangan besinya seperti biasa, mengirimnya ke asrama. Anakku meninggalkan rumah pada usia lima belas tahun."

"Ke college mana dia belajar?"

"Dia melewatkan satu tahun di Cornell, lalu drop out."

"Dia drop out?”

"Ya. Dia ke Eropa sesudah jadi mahasiswa sebentar, dan sejak itu dia tetap di sana."

Adam mengamati wajah Lee dan menunggu kata-kata lebih lanjut. Ia meneguk air dan akan berbicara ketika pelayan muncul dan cepat-cepat meletakkan semangkuk besar salad di antara mereka.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 36)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.