Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 34)

 The Chamber: Kamar Gas

"Aku dapat pengacara baru," kata Sam pelan, sambil membungkuk bertelekan siku dengan tangan tergantung ke gang. Ia tidak memakai apa-apa kecuali celana kolor. Ia bisa melihat telapak dan pergelangan tangan Gullit, tapi tak pernah bisa melihat wajahnya bila mereka bicara dalam sel masing-masing.

Tiap hari, sewaktu digiring keluar untuk berolah raga selama satu jam, Sam berjalan perlahan-lahan di lorong penjara itu dan menatap mata rekan-rekannya. Mereka balas menatapnya. Ia mengingat-ingat wajah mereka dan mengenali suara mereka. Sebab rasanya kejam hidup bersebelahan dengan seseorang selama bertahun-tahun dan bercakap-cakap panjang tentang hidup dan mati, tapi cuma melihat tangannya.

"Itu bagus, Sam. Aku senang mendengarnya."

"Yeah. Anak itu cukup cerdas, kurasa."

"Siapa dia?" Gullit menangkupkan tangan. Kedua tangan itu tak bergerak.

"Cucuku," Sam berkata pelan, sekadar cukup didengar Gullit. Ia bisa dipercaya untuk memegang rahasia.

Jemari Gullit bergerak sedikit ketika ia merenungkan ucapan ini. "Cucumu?"

"Ya. Dari Chicago. Biro hukum besar. Menurutnya kita mungkin punya peluang."

"Kau tak pernah cerita kau punya cucu."

"Dua puluh tahun aku tak pernah melihatnya. Muncul kemarin dan mengatakan padaku dia pengacara dan ingin menangani kasusku."

"Di mana saja dia selama sepuluh terakhir ini?"

"Tumbuh dewasa, kurasa. Dia cuma anak-anak. Dua puluh enam, kurasa."

"Kau akan membiarkan seorang anak umur 26 tahun menangani kasusmu?"

Ucapan ini sedikit mengesalkan Sam. "Aku tak punya banyak pilihan saat ini."

"Aduh, Sam, kau lebih banyak tahu tentang urusan hukum daripada dia."

"Aku tahu, tapi rasanya menyenangkan punya pengacara asli di luar sana, mengetik mosi dan pembelaan dengan komputer asli dan mengajukannya ke pengadilan, kau tahu. Rasanya menyenangkan punya seseorang yang bisa lari ke pengadilan dan berdebat dengan para hakim, seseorang yang bisa bertarung dengan negara bagian pada kedudukan setara."

Ini rupanya memuaskan Gullit, sebab selama beberapa menit ia tidak bicara. Tangannya diam, tapi kemudian ia mulai menggosok-gosokkan ujung jari. Ini berarti ada sesuatu yang mengusiknya. Sam menunggu.

"Selama ini aku memikirkan sesuatu, Sam. Sepanjang hari hal ini mengusikku."

"Apa itu?"

"Nah, selama tiga tahun ini kau ada di sana dan aku di sini, kau tahu, dan kaulah sahabatku yang paling baik di dunia. Kau satu-satunya yang bisa kupercaya, kau tahu. Entah apa yang akan kulakukan bila mereka menggiringmu di sepanjang gang dan menuju kamar gas. Maksudku, biasanya ada kau untuk memeriksa urusan hukumku, urusan yang tak pernah kumengerti. Kau selalu memberiku nasihat yang bagus dan memberitahukan apa yang harus kulakukan. Aku tak bisa mempercayai pengacaraku di D.C. Dia tidak menelepon atau menyuratiku, dan aku tak tahu apa yang terjadi dengan kasusku. Maksudku, aku tak tahu apakah waktuku tinggal setahun atau lima tahun lagi, dan itu saja sudah cukup membuatku gila. Kalau bukan karena kau, aku tentu sudah gila sekarang. Dan bagaimana kalau kau tak berhasil?" Sekarang tangannya melompat dan menjulur dengan segala macam intensitas. Kata-katanya berhenti dan gerakan tangannya pun reda.

Sam menyalakan rokok dan menawarkan sebatang kepada Gullit, satu-satunya orang di penjara itu dengan siapa ia mau berbagi. Hank Henshaw, di sebelah kirinya tidak merokok. Mereka merokok sejenak, masing-masing mengembuskan awan asap ke deretan jendela di bagian atas gang.

Akhirnya Sam berkata, "Aku takkan ke mana-mana J.B. Pengacaraku mengatakan kita punya peluang besar."

"Kau mempercayainya?"

"Kurasa begitu. Dia bocah yang cerdas."

"Tentu aneh punya cucu yang jadi pengacaramu. Aku tak dapat membayangkannya." Gullit berumur 31 tahun, sudah menikah, tanpa anak, dan sering mengeluh tentang simpanan istrinya atau pacar dunia bebasnya. Ia seorang wanita kejam yang tak pernah datang menjenguk, dan suatu ketika pernah menulis sepucuk surat pendek dengan kabar baik bahwa ia hamil. Dua hari Gullit bersungut murung, sebelum mengaku kepada Sam bahwa selama bertahun-tahun ia sendiri telah memukuli istrinya dan menyeleweng dengan perempuan lain.

Sebulan kemudian istrinya menulis lagi dan mengatakan menyesal. Seorang teman meminjaminya uang untuk aborsi, ia menerangkan, dan ia tidak menginginkan cerai. Gullit tak bisa lebih bahagia lagi.

"Agak aneh, kurasa," kata Sam. "Dia sama sekali tidak mirip denganku, tapi mirip ibunya."

"Jadi, bocah itu datang begitu saja dan mengatakan dia cucumu yang lama hilang?"

"Tidak. Tidak pada mulanya. Kami bicara beberapa lama dan suaranya seperti sudah kukenal. Kedengaran seperti suara ayahnya."

"Ayahnya putramu, benar?"

"Yeah. Dia sudah mati."

"Anakmu sudah mati?"

"Yeah."

***

Buku hijau itu akhirnya tiba dari Preacher Boy dengan satu catatan lain tentang mimpi luar biasa yang ia alami dua malam yang lalu. Baru-baru ini ia mendapat anugerah spiritual yang langka untuk menafsirkan mimpi, dan tak sabar lagi untuk berbagi dengan Sam. Mimpi itu masih muncul, dan begitu selesai menyusunnya ia akan menguraikannya, menafsirkannya dan mengilustrasikannya untuk Sam. Itu kabar bagus, ia sudah tahu begitu banyak.

Setidaknya ia sudah berhenti bernyanyi, kata Sam pada diri sendiri ketika ia menyelesaikan catatan itu dan duduk di ranjang. Preacher Boy dulu seorang penyanyi gereja dan juga penulis lagu, dan secara periodik mendapati dirinya kerasukan roh, sehingga merayu seluruh penjara itu dengan lagu berkekuatan penuh pada segala jam, siang dan malam.

Ia penyanyi tenor yang tak terlatih dengan suara sumbang, tapi volumenya luar biasa. Keluhan pun berdatangan dengan cepat dan hebat ketika ia melolongkan lagu barunya ke gang. Packer sendiri biasanya turun tangan untuk menghentikan keributan itu. Sam bahkan mengancam bertindak secara hukum dan mempercepat eksekusi bocah itu bila lolongan kucing kawin itu tidak berhenti, suatu langkah sadis yang kelak ia sesali. Bocah malang itu cuma gila, dan seandainya Sam hidup cukup lama, ia merencanakan akan memakai strategi kegilaan yang pernah dibacanya dari kasus California itu.

Ia berbaring di ranjang, dan kipas angin mengembus dan menyirkulasikan udara yang lengket, tapi dalam beberapa menit seprai di bawahnya sudah basah. Ia tidur dalam kelembapan sampai pagi sebelum fajar, ketika The Row terasa nyaris sejuk dan seprai nyaris kering.

~ 17 ~

Auburn House tak pernah menjadi rumah atau tempat tinggal, tapi selama beberapa dasawarsa merupakan gereja antik kecil dari bata kuning dan kaca berwarna. Bangunan itu berdiri tegak, dikelilingi pagar kawat jelek di daerah yang rindang, beberapa blok dari pusat kota Memphis. Tulisan grafiti bertebaran pada bata kuningnya, kaca jendelanya yang warna-warni sudah digantikan dengan kayu lapis.

Jemaatnya sudah bertahun-tahun yang lalu kabur ke timur, jauh dari pusat kota, menuju pinggir kota yang aman. Mereka membawa bangku dan buku-buku nyanyian, bahkan juga jok yang dipakai untuk berlutut. Seorang satpam mondar-mandir sepanjang pagar, siap membuka gerbang. Di sampingnya ada gedung apartemen kumuh dan blok di belakangnya ada proyek perumnas buruk, tempat pasien-pasien Auburn House datang.

Mereka semua adalah ibu-ibu muda, para remaja yang tanpa kecuali juga mempunyai ibu di rumah. Tak seorang pun di antara mereka menikah. Mereka tinggal bersama ibu, bibi, atau nenek.

“Auburn House didirikan oleh beberapa biarawati dua puluh tahun yang lalu, untuk mengajari anak-anak ini bagaimana memelihara bayi yang sehat."

Adam mengangguk pada poster kondom. "Dan untuk mencegah kehamilan?"

"Ya. Kami bukan penyuluh keluarga berencana, tidak ingin jadi begitu, tapi tak ada salahnya menyebut pengendalian kelahiran."

"Mungkin kau harus berbuat lebih dari sekadar menyebutnya."

"Mungkin. Enam puluh persen bayi yang lahir di negara ini tahun lalu adalah anak di luar perkawinan, dan jumlahnya makin meningkat tiap tahun. Dan tiap tahun makin banyak saja kasus anak telantar dan ditinggalkan. Itu akan mematahkan hatimu. Beberapa dari sobat kecil ini tak punya kesempatan."

"Siapa yang mendanainya?"

"Semuanya swasta. Kami menghabiskan separo waktu kami dalam usaha untuk mendapatkan uang. Kami beroperasi dengan anggaran yang sangat kecil."

"Ada berapa penyuluh sepertimu?"

"Sekitar selusin. Beberapa bekerja beberapa sore seminggu, beberapa lainnya pada hari Sabtu. Aku beruntung. Aku bisa bekerja di sini sepenuhnya."

"Berapa jam seminggu?"

"Entahlah. Siapa yang menghitungnya? Aku tiba di sini sekitar pukul sepuluh dan pulang sesudah gelap."

"Dan kau melakukan semua ini tanpa upah?"

"Yeah. Pengacara macam kalian menyebutnya pro bono, kurasa."

"Ini berbeda dengan pengacara. Kami melakukan pekerjaan sukarela untuk membenarkan diri sendiri dan uang yang kami peroleh, sumbangan kecil kami kepada masyarakat. Kami masih tetap mendapat banyak uang, kau mengerti? Ini sedikit berbeda"

"Ini bermanfaat."

"Bagaimana kau menemukan tempat ini?"

"Entahlah. Kejadian itu sudah lama. Aku jadi anggota sebuah klub sosial, klub peminum teh panas. Kami berkumpul sekali sebulan untuk menikmati makan siang mewah dan merundingkan cara-cara mengumpulkan beberapa sen bagi mereka yang kurang beruntung. Suatu hari seorang biarawati bicara tentang Auburn House kepada kami, dan kami mengambilnya sebagai penerima sumbangan. Satu hal membawa pada lainnya."

"Dan kau tak dibayar sepeser pun?"

"Phelps punya banyak uang, Adam. Aku bahkan menyumbang banyak untuk Auburn House. Kami sekarang sedang mengadakan acara pengumpulan dana di Hotel Peabody, tamu-tamu berdasi hitam dan minum sampanye. Aku mendesak Phelps untuk membujuk teman-temannya sesama bankir agar datang bersama istri mereka dan mengeruk uang mereka. Tahun lalu kami mengumpulkan 200.000 dolar."

"Ke mana uang itu?"

"Sebagian untuk biaya overhead. Kami punya dua staf full-time. Bangunan ini murah, tapi masih perlu dibiayai. Sisanya untuk perlengkapan bayi, obat-obatan, dan bacaan. Tak pernah cukup."

"Jadi, kau kurang-lebih mengelola tempat ini?"

"Tidak. Kami membayar seorang administrator. Aku cuma penyuluh."

Adam mengamati poster di belakang Lee, poster yang memperlihatkan kondom besar berwarna kuning berkelok-kelok seperti ular pada dinding. Dari survei dan penelitian terbaru ternyata bahwa alat kecil ini tidak dipakai para remaja, meskipun ada banyak kampanye televisi, slogan sekolah, dan tayangan MTV oleh bintang-bintang rock yang bertanggung jawab. Ia tak bisa memikirkan apa pun yang lebih buruk daripada duduk dalam ruangan sempit yang penuh sesak ini sepanjang hari sambil membicarakan ruam popok dengan ibu-ibu berusia lima belas tahun.

"Aku kagum padamu karena pekerjaan ini," katanya, memandang ke dinding dengan poster makanan bayi.

Lee mengangguk, tapi tak mengucapkan apa-apa. Matanya letih dan ia siap untuk pulang. "Mari kita pergi makan," katanya.

"Di mana?"

"Entahlah. Di mana saja."

"Aku menemui Sam hari ini. Melewatkan dua jam bersamanya."

Lee merosot di tempat duduknya dan perlahan-lahan meletakkan kaki di atas meja. Seperti biasa, ia memakai jeans pudar dan kemeja button-down.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 35)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.