Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 33)

 The Chamber: Kamar Gas

"Saya akan menjawab beberapa pertanyaan Anda, tapi tidak banyak. Saya ada di sini sebab ingin Anda mendapatkan yang benar, oke?"

"Cukup adil. Apakah Sam Cayhall kakek Anda?"

"Sam Cayhall adalah klien saya, dan dia menginstruksikan agar saya tidak bicara kepada pers. Itu sebabnya Anda tak bisa mengutip apa yang saya katakan. Saya di sini untuk mengonfirmasikan atau menyangkal. Itu saja."

"Oke. Tapi apakah dia kakek Anda?"

"Ya"

Marks menarik napas dalam dan melahap fakta luar biasa yang tak diragukan lagi akan mengarah pada berita luar biasa. Ia sudah bisa melihat kepala beritanya.

Kemudian disadarinya bahwa ia harus mengajukan pertanyaan lagi. Dengan hati-hati ia mengambil pena dari saku. "Siapa ayah Anda?"

"Ayah saya sudah meninggal."

Mereka lama terdiam. "Oke. Jadi, Sam adalah ayah dari ibu Anda."

"Bukan. Sam adalah ayah dari ayah saya."

"Baiklah. Mengapa Anda punya nama keluarga yang berbeda?"

"Sebab ayah saya ganti nama."

"Mengapa?"

"Saya tak ingin menjawab yang itu. Saya tak ingin mengupas latar belakang keluarga terlalu banyak."

"Apakah Anda besar di Clanton?"

"Tidak. Saya lahir di sana, tapi meninggalkannya ketika saya berumur tiga tahun. Orangtua saya pindah ke California. Di sanalah saya dibesarkan."

"Jadi, Anda tidak berkumpul dengan Sam Cayhall?"

"Tidak."

"Apakah Anda mengenalnya?"

"Saya bertemu dengannya kemarin."

Marks mempertimbangkan pertanyaan selanjutnya, dan syukurlah bir tiba. Mereka meneguknya bersama-sama dan tak mengucapkan apa-apa.

Ia menatap buku catatan, menuliskan sesuatu, lalu bertanya, "Sudah berapa lama Anda bekerja di Kravitz & Bane?"

"Hampir satu tahun."

"Berapa lama Anda menangani kasus Cayhall?"

"Satu setengah hari."

Ia minum panjang-panjang dan mengawasi Adam, seolah-olah mengharapkan penjelasan. "Dengar... uh... Mr. Hall..."

"Panggil saja Adam."

"Baiklah, Adam. Rasanya ada banyak kesenjangan di sini. Bisakah kau membantuku sedikit?"

"Tidak."

"Baiklah. Aku membaca bahwa Cayhall memecat Kravitz & Bane baru-baru ini. Apakah kau menangani kasus tersebut ketika hal ini terjadi?"

"Baru saja kukatakan padamu bahwa baru satu setengah hari aku menangani kasus ini."

"Kapan pertama kali kau pergi ke death row?'

"Kemarin."

"Apakah dia tahu kau akan datang?"

"Aku tidak mau menjawab itu."

"Kenapa tidak?"

"Ini masalah yang sangat konfidensial. Aku tak ingin membicarakan kunjunganku ke death row. Aku hanya akan mengonfirmasikan atau menyangkal hal-hal yang bisa kauverifikasi di tempat lain."

"Apakah Sam punya anak lain?"

"Aku tak akan membicarakan keluarga. Aku yakin surat kabarmu sudah pernah meliput hal itu.”

"Tapi itu sudah lama."

"Kalau begitu, carilah lagi."

Sekali lagi ia meneguk minuman lama-lama dan memandang buku catatan lama-lama. "Bagaimanakah peluang eksekusi ini akan dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus?"

"Itu sangat sulit dikatakan. Aku tak ingin berspekulasi."

"Tapi semua dalih pembelaan sudah habis, bukan?"

"Mungkin. Katakan saja aku mendapatkan pekerjaan yang memang dirancang untukku."

"Bisakah Gubernur memberikan pengampunan?"

"Ya"

"Apakah itu suatu kemungkinan?"

"Sangat kecil. Kau harus bertanya padanya."

"Apakah klienmu akan memberikan wawancara sebelum eksekusi?"

"Aku meragukannya."

Adam melirik jam tangan, seolah-olah mendadak harus mengejar pesawat terbang. "Ada yang lainnya?" ia bertanya, lalu menghabiskan bir.

Marks menjejalkan pena ke dalam saku kemeja. "Bisakah kita bicara lagi?"

"Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Tergantung bagaimana caramu menangani ini. Kalau kau menyeret-nyeret urusan keluarga, sekian saja."

“Pasti ada yang disembunyikan."

"No comment." Adam berdiri dan menjabat tangan. "Senang berjumpa denganmu,"  katanya ketika mereka bersalaman.

“Terima kasih. Aku akan meneleponmu."

Adam berjalan cepat-cepat melewati orang banyak di bar dan menghilang lewat lobi hotel.

~ 16 ~

Dari semua peraturan konyol dan rewel yang dikenakan pada penghuni The Row, satu yang paling menjengkelkan Sam adalah peraturan satu setengah senti. Peraturan hasil pemikiran cemerlang ini membatasi banyaknya dokumen hukum yang bisa dimiliki penghuni penjara di dalam selnya. Dokumen-dokumen itu tak boleh lebih tebal dari satu setengah senti bila ditumpuk dan ditekan rapat.

Berkas Sam tak jauh berbeda dari milik narapidana lain, dan sesudah sembilan tahun perang hukum, berkas itu sudah mengisi penuh sebuah kardus besar. Bagaimana caranya bisa melakukan riset dan penelitian dan bersiap dengan adanya pembatasan-pembatasan seperti peraturan satu setengah senti itu?

Beberapa kali Packer pernah memasuki selnya dengan penggaris yang dilambai-lambaikannya seperti pemimpin band dan dengan hati-hati menempelkannya pada dokumen-dokumen itu. Tiap kali Sam selalu melewati batas; sekali pernah tertangkap dengan dokumen, yang menurut penilaian Packer, setebal enam setengah senti. Dan tiap kali Packer menulis RVR—rules violation report atau laporan pelanggaran peraturan—lebih banyak lagi dokumen yang masuk dalam berkas penjara Sam.

Sam kerap kali bertanya-tanya dalam hati, apakah berkasnya di gedung administrasi utama lebih tebal dari satu setengah senti. Ia berharap demikian. Dan siapa yang peduli? Mereka sudah sembilan setengah tahun mengurungnya dalam sangkar dengan satu tujuan untuk mempertahankan nyawanya, sehingga suatu hari mereka bisa mengambilnya. Apa lagi yang bisa mereka lakukan terhadapnya?

Tiap kali Packer memberinya waktu 24 jam antuk menipiskan berkasnya. Sam biasanya mengeposkan beberapa senti kepada saudaranya di North Carolina. Beberapa kali ia pernah dengan enggan mengirimkan satu atau dua senti kepada E. Garner Goodman.

Pada saat ini dokumennya sekitar tiga setengah senti lebih. Dan ia menyembunyikan sebuah berkas tipis tentang kasus-kasus terbaru yang diputuskan Mahkamah Agung di bawah kasurnya. Dan ia punya setengah senti di sel sebelah, tempat Hank Henshaw mengawasinya di atas rak buku. Dan ia punya hampir satu senti di sel sebelah lagi, di atas tumpukan dokumen J.B. Gullit. Sam memeriksa semua dokumen dan surat untuk Henshaw dan Gullit. Henshaw punya pengacara yang baik, yang dibeli dengan uang keluarga. Gullit mendapatkan pengacara tolol dari sebuah biro hukum besar di D.C. yang tak pernah melihat ruang sidang.

Peraturan tiga buku adalah pembatasan membingungkan lain yang menentukan apa yang bisa disimpan narapidana dalam sel mereka. Peraturan itu menyebutkan seorang terpidana mati boleh memiliki tak lebih dari tiga buku. Sam punya lima belas, enam di dalam selnya, dan sembilan bertebaran di antara klien-kliennya di The Row. Ia tak punya waktu untuk membaca fiksi. Koleksinya terbatas pada buku-buku hukum tentang hukuman mati dan Amandemen Kedelapan.

Ia sudah menghabiskan makan malam yang terdiri atas babi rebus, kacang pinto, dan roti jagung, dan ia sedang membaca kasus dari Pengadilan Ninth Circuit di California tentang narapidana yang begitu tenang menghadapi kematiannya, sampai para pengacaranya memutuskan ia pasti gila. Lalu mereka mengajukan serangkaian mosi, menyatakan klien mereka benar-benar terlalu gila untuk dieksekusi. Pengadilan Ninth Circuit dipenuhi orang-orang California liberal yang menentang hukuman mati, dan mereka melompat pada argumentasi baru ini. Eksekusi ditunda. Sam suka kasus ini. Ia berkali-kali berangan-angan dirinya diawasi Pengadilan Ninth Circuit, bukannya Pengadilan Fifth Circuit.

Gullit di sel sebelah berkata, "Ada layang-layang, Sam," dan Sam pun berjalan ke jeruji. Menerbangkan layang-layang adalah metode korespondensi satu-satunya bagi para penghuni penjara yang terpisah beberapa sel. Gullit mengangsurkan catatan tersebut kepadanya. Itu dari Preacher Boy, bocah kulit putih yang menyedihkan, tujuh sel dari sana.

Pada umur empat belas ia jadi pengkhotbah kampung, pengutuk maksiat, namun karier itu terpotong pendek dan mungkin tertunda selamanya ketika ia dijatuhi vonis bersalah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan terhadap istri seorang diaken. Umurnya sekarang 24 tahun, penghuni The Row selama tiga tahun, dan baru-baru ini kembali taat pada ajaran gereja. Catatan itu berbunyi demikian:

Dear Sam,

Aku di sini saat ini, mendoakan dirimu. Aku benar-benar percaya Tuhan akan campur tangan dalam urusan ini dan menghentikannya. Tapi bila tidak, aku memohon pada-Nya untuk mengambilmu dengan cepat, tanpa sakit atau apa pun, dan membawamu pulang.

Salam kasih, Randy.

Sungguh hebat, pikir Sam. Mereka sudah berdoa agar aku pergi dengan cepat, tanpa sakit atau apa pun. Ia duduk di tepi ranjang dan menuliskan pesan pendek pada secarik kertas.

Dear Randy, 

Terima kasih atas doamu. Aku membutuhkannya. Aku juga butuh salah satu bukuku. Judulnya Bronsterin's Death Penalty Review. Warnanya hijau. Kirimkanlah ke sini.

Sam.

Ia menyerahkannya kepada J.B. dan menunggu dengan tangan terulur di antara jeruji ketika layang-layang itu berjalan sepanjang lorong. Saat itu hampir pukul 20.00, masih panas dan gerah, tapi di luar hari mulai gelap. Malam akan menurunkan suhu sampai sedikit di bawah delapan puluh derajat, dan dengan kipas angin berputar menderu, mereka bisa tahan di dalam sel-sel itu.

Sam menerima beberapa layang-layang sepanjang hari itu. Semua menyatakan simpati dan harapan. Semua menawarkan bantuan apa pun yang tersedia. Musik lebih tenang, dan teriakan yang meledak sekali-sekali bila hak seseorang dilanggar tak pernah terjadi. The Row pun lebih damai selama dua hari ini. Televisi berbunyi sepanjang hari sampai malam, tapi suaranya dikecilkan. Tier A secara mencolok terasa tenang.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 34)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.