Senin, 29 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 32)

 The Chamber: Kamar Gas

"Duduklah, George," kata Naifeh, melambai ke kursi kosong di samping Mann. Naifeh ingin memerintahkannya menghentikan sikap kaku militernya, tapi tahu itu tak ada gunanya.

"Ya, Sir," jawab Nugent sambil duduk di kursi, tanpa membungkukkan punggung. Meskipun di Parchman seragam hanya dipakai penjaga dan narapidana, Nugent menciptakan seragam sendiri untuknya. Kemeja dan celananya hijau tua, dibuat dengan ukuran sempurna dan disetrika sempurna dengan lipatan yang tepat, dan pakaian itu secara ajaib melewatkan setiap hari tanpa kusut sedikit pun.

Celana itu berhenti beberapa senti di atas mata kaki dan menghilang ke dalam sepasang sepatu lars tempur hitam dari kulit yang disemir dan digosok sedikitnya dua kali sehari agar tetap mengilat. Sekali pernah terdengar desas-desus bahwa seorang sekretaris atau mungkin narapidana memergoki segumpal lumpur pada salah satu solnya, namun desas-desus itu tak pernah dikonfirmasikan.

Kancing teratas dibiarkan terbuka, membentuk segitiga sempurna yang memperlihatkan kaus abu-abu. Saku dan lengan kemejanya polos dan tak berhias apa pun, bebas dari medali dan pita-pitanya, dan Naifeh sudah lama curiga bahwa ini menimbulkan perasaan terhina yang tidak kecil bagi sang Kolonel.

Potongan rambutnya benar-benar gaya militer, dengan kulit kepala bersih di atas telinga dan lapisan rambut tipis di bagian atas. Nugent berumur 52 tahun, sudah mengabdi bagi negaranya selama 34 tahun, pertama sebagai prajurit satu di Korea dan kemudian sebagai kapten di Vietnam, tempat ia bertempur dari belakang meja. Ia terluka dalam kecelakaan jip dan dikirim pulang dengan satu pita penghargaan lagi.

Sekarang sudah dua tahun Nugent mengabdi tanpa cela sebagai asisten superintenden, seorang bawahan Naifeh yang terpercaya, loyal, dan andal. Ia mencintai detail, peraturan, dan undang-undang. Ia melahap buku-buku panduan, dan secara konstan menulis prosedur-prosedur baru, petunjuk-petunjuk, dan modifikasi-modifikasi untuk dipertimbangkan Kepala Penjara. Sang Kepala Penjara sangat membencinya, tapi bagaimanapun ia dibutuhkan. Bukan rahasia lagi bahwa sang Kolonel menginginkan jabatan Naifeh dalam dua tahun lagi.

"George, aku dan Lucas merundingkan urusan Cayhall. Aku tak tahu berapa banyak yang kauketahui tentang pengajuan bandingnya, tapi Pengadilan Fifth Circuit sudah mencabut penundaan dan kita menghadapi eksekusi dalam empat minggu."

"Ya, Sir," tukas Nugent, menyerap dan menganalisis setiap patah kata. "Saya membaca tentang hal itu di koran hari ini."

"Bagus. Eksekusi ini akan terlaksana, kau tahu. Benar, Lucas?"

"Ada peluang besar. Lebih dari lima puluh-lima puluh," Lucas berkata tanpa memandang Nugent.

"Sudah berapa lama kau bekerja di sini, George?"

"Dua tahun satu bulan."

Sang Kepala Penjara menghitung sesuatu sambil menggosok pelipis. "Kau tidak menyaksikan eksekusi Parris?"

"Ya, Sir. Ketinggalan beberapa minggu," ia menjawab dengan sedikit nada kecewa.

"Jadi, kau belum pernah menyaksikan satu pun?"

"Belum, Sir."

"Ah, itu mengerikan, George. Mengerikan. Bagian terburuk dalam pekerjaan ini. Terus terang, aku sama sekali tak sanggup. Aku berharap akan pensiun sebelum kita memakai kamar gas lagi, tapi sekarang tampaknya meragukan. Aku butuh bantuan.''

Punggung Nugent, meskipun tampak sudah kaku menyakitkan, serasa lebih tegak lagi. Ia mengangguk cepat-cepat, matanya menari-nari ke segala penjuru.

Naifeh pelan-pelan duduk di kursi, meringis ketika ia turun pada kulit yang halus. "Karena aku tidak sanggup, George, aku dan Lucas berpikir mungkin kau akan melaksanakan tugas ini dengan baik."

Sang Kolonel tak dapat menahan senyum. Tapi senyuman itu cepat-cepat menghilang dan digantikan dengan roman yang sangat serius. "Saya yakin bisa menanganinya, Sir."

"Aku pun yakin kau bisa." Naifeh menunjuk ke binder hitam di sudut meja kerjanya. "Kita punya semacam buku panduan. Itu dia, kumpulan kebijaksanaan yang didapat dari dua lusin kunjungan ke kamar gas selama tiga puluh tahun terakhir."

Mata Nugent menyipit dan terpusat pada buku hitam itu. Diperhatikannya bahwa halaman-halamannya tidak semuanya rata dan seragam, segala macam kertas dilipat dan dijejalkan sembarangan dalam teks itu, binder-nya sendiri sudah usang dan jorok. Ia memutuskan dalam beberapa jam buku panduan itu akan berubah menjadi buku yang layak diterbitkan. Itu akan menjadi tugas pertamanya. Pekerjaan tulis-menulisnya takkan tercela.

“Bagaimana kalau kau membacanya malam ini dan kita bertemu lagi besok?"

"Ya, Sir," katanya puas.

"Jangan katakan apa pun pada orang lain sampai kita membicarakannya lagi, mengerti?"

"Ya, Sir."

Nugent mengangguk sopan pada Lucas Mann dan meninggalkan kantor itu sambil memeluk buku hitam tersebut, seperti anak kecil dengan mainan baru. Pintu tertutup di belakangnya.

"Dia gila" kata Lucas.

"Aku tahu. Kita akan mengawasinya."

"Kita sebaiknya mengawasinya. Dia bahkan begitu bersemangat, sehingga mungkin akan mencoba mengegas Sam akhir pekan ini."

Naifeh membuka laci meja dan mengeluarkan sebotol pil. Ia menelan dua butir tanpa bantuan air. "Aku mau pulang, Lucas. Aku perlu berbaring. Mungkin aku akan mati sebelum Sam."

"Sebaiknya kau bergegas."

***

Percakapan telepon dengan E. Garner Goodman berlangsung singkat. Adam menerangkan dengan sedikit nada bangga bahwa ia dan Sam sudah punya perjanjian tertulis untuk mewakilinya, dan mereka sudah menghabiskan empat jam bersama-sama, meskipun tak banyak yang dicapai. Goodman menginginkan satu copy surat perjanjian itu, dan Adam menerangkan bahwa saat itu belum ada copy, aslinya disimpan rapi dalam sel di death row, dan hanya akan ada copy kalau klien setuju demikian.

Goodman berjanji akan mempelajari kembali berkas itu dan mulai bekerja. Adam memberikan nomor telepon Lee dan berjanji akan melapor tiap hari. Ia memutuskan sambungan dan menatap dua pesan telepon yang mengerikan di samping komputernya. Keduanya dari wartawan, satu dari sebuah koran Memphis dan satu dari stasiun televisi di Jackson, Mississippi.

Baker Cooley sudah bicara dengan dua wartawan itu. Bahkan satu kru TV dari Jackson sudah menghadap resepsionis biro hukum itu dan baru pergi sesudah Cooley melontarkan ancaman. Semua perhatian ini mengacaukan kegiatan rutin yang membosankan di cabang Kravitz & Bane Memphis. Cooley tak menyukai hal ini. Partner-partner lain tak banyak bicara pada Adam. Para sekretaris secara profesional bersikap sopan, tapi jelas ingin menjauhi kantornya.

Wartawan sudah tahu, Cooley memperingatkannya dengan cemas. Mereka tahu tentang Sam dan Adam, tentang hubungan cucu-kakek, dan meskipun ia tak yakin bagaimana mereka tahu, hal itu pasti bukan berasal darinya. Ia tak pernah bercerita kepada satu jiwa pun, sampai kabar sudah keluar dan ia terpaksa mengumpulkan para partner dan associate tepat sebelum makan siang dan menyampaikan berita itu.

Saat itu hampir pukul 17.00. Adam duduk di depan meja kerja dengan pintu tertutup, mendengarkan suara-suara dalam gang ketika para pekerja, paralegal, dan staf gajian lain bersiap-siap pulang. Ia memutuskan tidak bicara dengan reporter TV. Ia memutar nomor Todd Marks di Memphis Press. Suara rekaman membimbingnya dalam keajaiban pos suara. Setelah beberapa menit, Mr. Marks mengangkat sambungannya yang bernomor lima angka dan bicara dengan tergesa-gesa, "Todd Marks." Suaranya terdengar seperti remaja.

"Ini Adam Hall, dari Kravitz & Bane. Saya menerima pesan untuk menelepon Anda."

"Ya, Mr. Hall," sembur Marks tak terkendali, langsung bersikap ramah dan tidak lagi terburu-buru. "Terima kasih atas teleponnya. Saya... uh... well... kami... uh... mendengar kabar angin Anda menangani kasus Cayhall, dan... uh... saya mencoba menelusurinya."

"Saya mewakili Mr. Cayhall," kata Adam dengan kata-kata terkendali.

"Ya... well... itulah yang kami dengar. Dan... uh... Anda dari Chicago?"

"Saya dari Chicago."

"Begitu. Bagaimana... uh... Anda mendapatkan kasus ini?"

"Biro hukum saya sudah tujuh tahun mewakili Sam Cayhall."

"Ya, benar. Tapi bukankah dia baru-baru ini memutuskan jasa pelayanan Anda?"

"Benar. Dan sekarang dia memakai lagi biro hukum kami." Adam bisa mendengar tombol keyboard berdetak-detak ketika Marks mengumpulkan kata-katanya ke dalam komputer.

"Begini. Kami mendengar kabar angin, cuma kabar angin, saya rasa, bahwa Sam Cayhall adalah kakek Anda."

"Dari mana Anda dengar ini?"

"Ah, Anda tahu, kami punya narasumber, dan kami harus melindungi mereka. Saya tak bisa mengatakan dari mana kabar itu berasal, Anda tahu."

"Yeah, saya tahu." Adam menghela napas dalam dan membiarkan Marks menunggu semenit. "Di mana Anda sekarang?"

"Di kantor."

"Di mana? Saya tidak kenal kota ini."

"Di mana Anda?" Marks bertanya.

"Pusat kota. Di kantor kami."

"Saya tidak jauh. Saya bisa ke sana dalam sepuluh menit."

"Tidak, jangan di sini. Mari kita bertemu di tempat lain. Di bar kecil yang tenang di mana saja"

"Baiklah. Hotel Peabody terletak di Jalan Union, tiga blok dari kantor Anda. Di samping lobinya ada bar yang nyaman bernama Mallards."

"Saya akan ke sana dalam lima belas menit. Cuma Anda dan saya, oke?"

"Pasti."

Adam meletakkan gagang telepon. Surat perjanjian dengan Sam mencantumkan syarat yang tak jelas dan kendur, berusaha mencegah pengacaranya bicara dengan pers. Kalimat itu punya kelemahan yang bisa dilanggar pengacara mana pun, tapi Adam tak berniat mempersoalkan urusan itu. Sesudah dua kali berkunjung, kakeknya masih tetap merupakan misteri. Ia tak suka pengacara dan siap memecat satu lagi begitu saja, sekalipun itu cucunya sendiri.

***

Mallards dengan cepat dipenuhi profesional-profesional muda yang letih dan butuh beberapa teguk minuman keras untuk pulang ke pinggir kota. Tak banyak orang yang benar-benar tinggal di pusat kota Memphis, maka para bankir dan broker bertemu di sini dan bar lain yang tak terhitung jumlahnya, meneguk bir dalam botol hijau dan menghirup vodka Swedia. Mereka berjajar mengelilingi bar dan berkumpul sekeliling meja kecil untuk membahas arah perubahan pasar dan berdebat tentang masa depan terbaik. Bar itu tempat yang gaya dengan dinding bata asli dan lantai dari kayu keras asli. Sebuah meja di samping pintu menyangga nampan berisi sayap dan hati ayam dibungkus irisan babi asin.

Adam melihat seorang laki-laki muda bercelana jeans memegang buku catatan. Ia memperkenalkan diri dan mereka menuju meja di sudut. Todd tak lebih dari 25 tahun. Ia memakai kacamata berbingkai kawat, rambutnya sampai ke pundak, sikapnya ramah dan sedikit resah. Mereka memesan Heineken.

Buku catatan itu diletakkan di meja, siap beraksi, dan Adam memutuskan memegang kendali. "Ada beberapa persyaratan pokok," katanya "Pertama, segala yang saya katakan adalah off the record. Anda tak bisa mengutip perkataan saya tentang segala hal. Setuju?"

Marks mengangkat pundak, seolah-olah ini bukan masalah, tapi bukan yang dikehendakinya. "Oke," katanya.

"Saya rasa Anda menyebutnya deep background, atau semacam itu."

"Begitulah."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 33)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.