Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 31)

The Chamber: Kamar Gas

"Aku nyaris melakukannya," kata Sam dengan sedikit nada menyesal. "Pada malam sebelum sidang terakhir, aku, Keyes, dan associate-nya, aku lupa namanya, tidak tidur sampai tengah malam, berunding apakah aku harus bersaksi atau tidak. Tapi coba pikir, Adam, aku akan dipaksa mengaku memasang bom itu, bom itu memakai pengatur waktu yang disetel untuk meledak sesudahnya. Aku terlibat dalam pengeboman lain, dan aku ada di seberang jalan ketika bangunan itu meledak. Plus, Penuntut sudah membuktikan dengan jelas Marvin Kramer adalah salah satu sasaran. Maksudku, terkutuklah, mereka memutar rekaman hasil sadapan telepon FBI di depan Juri. Kau seharusnya mendengarkannya.

"Mereka memasang speaker-speaker besar dalam ruang sidang, dan meletakkan tape player di meja di depan Juri, sepertinya benda itu bom hidup. Dan terdengarlah suara Dogan bicara dengan Wayne Graves di telepon. Suaranya parau, tapi terdengar sangat jelas, bicara tentang pengeboman Marvin Kramer karena ini dan itu, serta membual bagaimana dia akan mengirim 'kelompoknya', begitulah dia menyebutku, ke Greenville untuk menangani urusan itu.

"Suara dari tape itu bagaikan setan dari neraka dan Juri mendengarkan setiap patah kata. Sangat efektif. Kemudian masih ada kesaksian Dogan sendiri. Aku tentu akan kelihatan konyol saat itu, bila mencoba memberi kesaksian dan meyakinkan Juri bahwa aku bukan orang buruk. McAllister tentu akan menelanku hidup-hidup. Jadi, kami putuskan aku takkan bersaksi. Kalau dilihat kembali, keputusan itu merupakan langkah jelek. Seharusnya aku bicara."

"Tapi berdasarkan nasihat pengacaramu kau tak melakukannya?"

"Dengar, Adam, kalau kau berpikir untuk menyerang Keyes atas dasar pemberian nasihat hukum yang tidak efektif, lupakan saja. Aku membayar mahal kepada Keyes, menggadaikan semua yang kumiliki, dan dia bekerja baik. Dulu Goodman dan Tyner pernah mempertimbangkan memburu Keyes, tapi mereka tak menemukan apa pun yang keliru dengan pembelaannya. Lupakan saja"

Berkas Cayhall di Kravitz & Bane sedikitnya punya hasil riset dan catatan setebal lima senti mengenai pembelaan yang dilakukan Benjamin Keyes. Nasihat hukum yang tidak efektif oleh pembela merupakan argumentasi bagus dalam pengajuan banding vonis mati, tapi hal itu tak pernah dipakai dalam kasus Sam. Goodman dan Tyner sudah membahasnya panjang-lebar, bertukar memo bolak-balik antara kantor mereka di lantai 61 dan 66 di Chicago. Memo terakhir menyatakan Keyes bekerja begitu baik dalam sidang, sehingga tak ada apa pun yang bisa diserang.

Berkas itu juga mencantumkan surat tiga halaman dari Sam yang secara tegas melarang serangan apa pun terhadap Keyes. Ia takkan menandatangani petisi apa pun dalam hal itu, demikian janjinya.

Akan tetapi memo terakhir itu ditulis tujuh tahun yang lalu, ketika kematian merupakan kemungkinan kecil. Segalanya berbeda sekarang. Segala persoalan harus dibangkitkan kembali atau bahkan dikarang. Sudah saatnya mencari pegangan pada gelagah sekalipun.

"Di mana Keyes sekarang?" tanya Adam.

“Terakhir kali kudengar dia bekerja di Washington. Dia menulis surat padaku lima tahun yang lalu. Katanya dia tidak lagi berpraktek. Dia sangat terpukul ketika kami kalah. Kurasa tak satu pun di antara kami menduganya."

"Kau tak menduga akan divonis bersalah?"

“Tidak. Sudah dua kali aku menang, kau tahu. Dan dalam dewan juri terakhir ada delapan orang kulit putih, atau seharusnya kusebut orang Anglo-Amerika. Betapapun buruknya sidang itu, kurasa aku tak pernah menyangka mereka akan menjatuhkan vonis bersalah padaku."

"Bagaimana dengan Keyes?"

"Oh, dia khawatir. Tentu saja kita tidak memandang enteng. Berbulan-bulan kami habiskan untuk menyusun persiapan sidang itu. Dia mengabaikan kliennya yang lain, bahkan keluarganya sendiri, selama berminggu-minggu sementara kami bersiap. McAllister rasanya muncul di surat kabar setiap hari, dan makin banyak dia bicara, makin keras kami bekerja. Mereka mengeluarkan daftar yang potensial akan menjadi anggota juri, dan kami menghabiskan waktu berhari-hari untuk memeriksa orang-orang itu. Persiapan prasidangnya tak tercela. Kami tidak naif."

"Lee mengatakan kau pernah mempertimbangkan menghilang."

"Oh, dia cerita?"

"Yeah, kemarin malam."

Sam mengetukkan rokok berikutnya pada counter, dan mengamatinya sejenak, seakan-akan itu rokoknya yang terakhir. "Yeah, aku pernah mempertimbangkannya. Hampir tiga belas tahun berlalu sebelum McAllister memburuku. Aku orang bebas. Persetan! Aku 47 tahun ketika sidang kedua berakhir dan aku pulang. Empat puluh tujuh tahun, dan aku sudah dibebaskan dua dewan juri. Semua ini sudah di belakangku. Aku bahagia. Hidupku normal. Aku bertani dan mengelola penggergajian, minum kopi di kota dan memberikan suara pada setiap pemilu. FBI mengawasiku beberapa bulan, tapi kurasa mereka yakin aku sudah berhenti melakukan pengeboman.

"Dari waktu ke waktu, reporter dan wartawan usil muncul di Clanton dan mengajukan berbagai pertanyaan, tapi tak seorang pun bicara pada mereka. Mereka selalu berasal dari Utara, tolol setengah mati, kasar dan tak tahu diri, serta mereka tak pernah tinggal lama. Suatu hari satu orang datang ke rumah dan tak mau pergi. Bukannya mengambil senapan, kulepaskan anjing-anjing mengejarnya dan mereka menggigit pantatnya. Dia tak pernah kembali."

Ia terkekeh sendiri dan menyalakan rokok. "Dalam mimpi yang paling gila sekalipun tak pernah kubayangkan hal ini. Seandainya aku punya prasangka sedikit saja dugaan paling samar sekalipun bahwa ini akan terjadi padaku, aku tentu sudah pergi bertahun-tahun yang lalu. Aku sepenuhnya bebas, kau mengerti? Tak ada pembatasan. Aku bisa pergi ke Amerika Selatan, ganti nama, menghilang dua atau tiga kali, lalu menetap di suatu tempat seperti Sao Paulo atau Rio."

"Seperti Mengele.'"

"Seperti itulah. Mereka tak pernah menangkapnya, kau tahu. Mereka tak pernah menangkap orang-orang itu. Saat ini mungkin aku akan tinggal di rumah mungil yang nyaman, bicara bahasa Portugis, dan menertawakan orang-orang goblok seperti David McAllister." Sam menggelengkan kepala dan memejamkan mata membayangkan apa yang mungkin terjadi.

"Mengapa kau tidak kabur ketika McAllister mulai ribut-ribut?"

"Sebab aku tolol. Itu terjadi perlahan-lahan. Seperti mimpi buruk yang muncul dalam potongan-potongan kecil. Pertama McAllister terpilih dengan segala janji-janjinya itu. Kemudian, setelah beberapa bulan, Dogan tertangkap IRS. Aku mulai mendengar desas-desus dan membaca sedikit di surat kabar. Tapi aku menolak mempercayai ini bisa terjadi. Sebelum aku menyadari, FBI sudah menguntitku dan aku tak bisa lari."

Adam melihat jam tangan dan mendadak letih. Sudah dua jam lebih mereka bicara, ia butuh udara segar dan sinar matahari. Kepalanya sakit karena asap rokok, dan ruangan itu semakin panas. Ia memutar tutup pulpen dan memasukkan buku ke dalam tasnya. "Sebaiknya aku pergi," katanya ke kisi-kisi. "Aku mungkin akan kembali besok, untuk bicara lagi."

"Aku akan di sini."

"Lucas Mann sudah memberiku lampu hijau untuk berkunjung setiap saat aku mau."

"Hebat sekali dia, bukan?"

"Dia oke. Cuma melaksanakan tugas."

"Begitu juga Naifeh, Nugent, dan semua orang putih itu."

"Orang-orang putih?"

"Yeah, itu sebutan slang untuk pihak berwenang. Tak seorang pun benar-benar ingin membunuhku. Mereka cuma melaksanakan tugas. Ada setan kecil berjari sembilan yang jadi algojo resmi—orang yang mencampur gas dan memasang canister. Tanya apa yang dilakukannya ketika mereka mengikatku, dan dia akan mengatakan, 'Cuma melaksanakan tugas.' Pendeta penjara, dokter penjara, dan psikiater penjara, bersama para penjaga yang akan menggiringku masuk dan petugas kesehatan yang membawaku keluar, nah, mereka orang-orang baik, tak ada dendam apa pun padaku, tapi mereka cuma melaksanakan tugas."

"Takkan terjadi sejauh itu, Sam."

"Apakah itu janji?"

"Bukan. Tapi berpikirlah positif."

"Yeah, berpikir positif benar-benar populer di sini. Aku dan rekan-rekan di sini sangat gemar dengan acara ceramah motivasi serta program wisata dan belanja di rumah. Orang-orang Afrika lebih suka 'Soul Train'."

"Lee mengkhawatirkanmu, Sam. Dia ingin aku mengatakan padamu bahwa dia memikirkanmu dan berdoa untukmu."

Sam menggigit bibir bawah dan memandang lantai. Ia mengangguk pelan, tidak mengucapkan apa pun.

"Aku akan tinggal bersamanya selama satu-dua bulan."

"Dia masih menikah dengan laki-laki itu?"

"Kurang-lebih. Dia ingin melihatmu."

"Tidak."

"Mengapa tidak?"

Dengan hati-hati Sam bangkit dari kursi dan mengetuk pintu di belakangnya. Ia menoleh dan memandang Adam dari balik kisi-kisi. Mereka saling pandang, sampai seorang penjaga membuka pintu dan membawa Sam pergi.

~ 15 ~

"Anak itu pulang sejam yang lalu, dengan otorisasi, meskipun aku belum melihatnya dalam bentuk tertulis," Lucas Mann menjelaskan kepada Phillip Naifeh yang sedang berdiri di depan jendela, menyaksikan gerombolan narapidana pembersih sampah di sepanjang jalan raya. Naifeh sakit kepala, sakit punggung, dan sedang di tengah hari yang menyebalkan, termasuk tiga telepon pagi-pagi dari Gubernur dan dua dari Roxburgh, jaksa agung. Sudah tentu Sam-lah alasan telepon-telepon itu.

"Jadi, dia sudah mendapat pengacara," kata Naifeh sambil memijat pelan bagian belakang pinggangnya.

"Yeah, dan aku benar-benar menyukai anak ini. Dia mampir ketika hendak pulang dan tampangnya seperti baru saja ditabrak truk. Kurasa dia baru saja berdebat keras dengan kakeknya tentang hal ini."

"Akan jadi lebih buruk bagi si kakek."

"Akan jadi lebih buruk bagi kita semua."

"Tahukah kau apa yang ditanyakan Gubernur padaku? Dia ingin tahu apakah bisa mendapat satu copy buku panduan kita tentang pelaksanaan eksekusi. Aku bilang tidak, dia tak bisa mendapatkan satu copy. Dia mengatakan dia gubernur negara bagian ini dan merasa sepantasnya punya satu copy. Kucoba menjelaskan sebenarnya tidak ada buku pedoman macam itu, cuma lembaran-lembaran lepas dengan binder hitam yang terus direvisi habis-habisan tiap kali kita mengegas seseorang. Dia ingin tahu, apa sebutan buku itu. Kukatakan buku itu tidak disebut apa-apa, sebenarnya tak ada nama resmi, sebab syukurlah buku itu tidak begitu banyak dipakai. Tapi sesudah memikirkannya lagi, aku sendiri menyebutnya buku hitam kecil. Dia mendesak lebih keras, aku jadi tambah marah. Kami memutuskan hubungan, dan lima belas menit kemudian pengacaranya, si bongkok kerdil dengan kacamata menjepit hidungnya..."

"Larramore."

"Larramore meneleponku dan mengatakan menurut bagian ini dan itu dalam buku undang-undang, dia dan Gubernur punya hak memiliki copy buku pedoman itu. Aku menyuruhnya menunggu, mencari peraturan itu, membiarkannya sepuluh menit, kemudian kami membaca undang-undang itu bersama-sama, dan tentu saja seperti biasa, dia bohong dan menggertak dan menyangka aku tolol. Tak ada kalimat macam itu dalam buku undang-undang milikku.

"Aku memutuskan sambungan telepon. Sepuluh menit kemudian Gubernur menelepon kembali, bermanis-manis menyuruhku melupakan buku hitam kecil itu, dia sangat prihatin dengan hak konstitusional Sam dan sebagainya, dan cuma ingin aku terus mengabarinya begitu ada perubahan. Sungguh perayu hebat." Naifeh menggeser badannya dan mengganti tinju untuk memijat punggung sambil menatap ke jendela.

"Setengah jam kemudian Roxburgh menelepon, dan coba tebak apa yang ingin dia ketahui? Dia ingin tahu apakah aku sudah bicara dengan Gubernur. Kaulihat, Roxburgh menyangka dia dan aku benar-benar sahabat karib, teman politik lama, kau tahu, dan karena itu kami bisa saling percaya. Dia mengatakan padaku—tentu saja secara konfidensial, antara sahabat dan sahabat—bahwa menurutnya Gubernur mungkin akan mencoba mengeksploitasi eksekusi ini untuk kepentingan politiknya sendiri."

"Omong kosong!" Lucas mencemooh.

"Yeah, kukatakan pada Roxburgh aku tak bisa percaya dia punya pikiran macam itu terhadap gubernur kita. Aku begitu serius, dan dia pun jadi begitu serius. Kami saling berjanji akan mengawasi Gubernur baik-baik. Kalau melihat tanda-tanda dia mencoba memanipulasi situasi, kami akan saling menelepon secepatnya. Roxburgh mengatakan ada beberapa hal yang bisa dia kerjakan untuk menetralisir Gubernur bila keluar jalur. Aku tak berani menanyakan apa atau bagaimana, tapi dia tampaknya yakin pada dirinya sendiri."

"Jadi, siapa yang lebih tolol?"

"Mungkin Roxburgh. Tapi itu percakapan yang sulit." Naifeh meregangkan tubuh dengan hati-hati dan berjalan kembali ke meja. Sepatunya lepas dan ujung kemejanya keluar. Ia jelas kesakitan. "Mereka berdua punya nafsu yang tak terpuaskan untuk mendapatkan publisitas. Mereka seperti dua bocah kecil yang ketakutan setengah mati kalau-kalau yang satu akan memperoleh permen lebih besar. Aku benci mereka berdua."

"Semua orang benci mereka, kecuali para pemilih.”

Terdengar ketukan tajam pada pintu, tiga kali gedoran mantap dilakukan dengan interval yang tepat. "Ini pasti Nugent," kata Naifeh, rasa sakitnya mendadak menghebat. "Masuk."

Pintu terbuka cepat dan Kolonel Purnawirawan George Nugent berjalan tegap ke dalam ruangan, hanya berhenti sebentar untuk menutup pintu, dan bergerak resmi ke arah Lucas Mann yang tidak berdiri tapi tetap berjabatan tangan. "Mr. Mann," Nugent menyapanya singkat, lalu melangkah ke depan dan menjabat tangan Naifeh di seberang meja.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 32)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.