Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 30)

 The Chamber: Kamar Gas

“Lama sekali. Pukul lima lewat dengan cepat. Lalu sekonyong-konyong sudah hampir pukul enam. Aku pergi beberapa menit sebelum pukul enam dan bermobil melewati kantor Kramer. Tempat itu tampak baik-baik saja. Beberapa orang yang suka bangun pagi sudah keluar dan berkeliaran, dan aku tak ingin terlihat. Aku menyeberangi sungai dan menuju Lake Village, Arkansas, lalu kembali ke Greenville. Saat itu sudah pukul tujuh, matahari sudah naik, dan orang-orang sudah berkeliaran. Tak ada ledakan. Mobil kuparkir di jalan kecil, dan aku berjalan-jalan sebentar. Benda terkutuk itu tak mau meledak. Aku tak bisa masuk mengambilnya, kau tahu. Aku berjalan dan berjalan, mendengarkan mati-matian, berharap tanah berguncang. Tak ada yang terjadi."

"Apakah kau melihat Marvin Kramer dan anak-anaknya masuk ke dalam gedung itu?"

"Tidak. Aku berbelok di sudut dan melihat mobilnya diparkir, dan kupikir terkutuk benar urusan itu. Pikiranku jadi kosong. Aku tak dapat berpikir. Tapi kemudian kupikir, peduli amat, dia cuma seorang Yahudi dan sudah melakukan banyak perbuatan busuk. Kemudian aku memikirkan sekretaris dan orang-orang lain yang akan bekerja di dalam sana, jadi aku berjalan mengelilingi blok itu lagi. Aku ingat melihat jam tangan pada pukul 07.40, lalu terlintas dalam pikiranku mungkin aku harus menelepon gelap ke kantor itu dan menceritakan kepada Kramer ada bom dalam lemari. Kalau tak mempercayaiku dia bisa pergi melihatnya. Lalu kabur."

"Mengapa kau tidak melakukannya?"

"Aku tak punya uang receh. Semua uang receh kutinggalkan sebagai tip untuk pelayan itu. Aku tak ingin masuk ke toko tukar uang kecil. Aku benar-benar gelisah. Tanganku gemetar, dan aku tak ingin bertindak mencurigakan di depan siapa pun. Aku orang asing, benar? Bomkulah yang ada di dalam sana, benar? Aku berada di kota kecil tempat semua orang saling kenal, dan mereka pasti ingat orang asing bila ada tindak kejahatan. Aku ingat berjalan menyusuri trotoar, tepat di seberang kantor Kramer. Di depan tukang pangkas ada rak surat kabar, dan laki-laki itu sedang merogoh-rogoh saku mencari uang receh. Aku nyaris minta uang kecil agar bisa menelepon cepat-cepat, tapi aku terlalu gelisah."

"Mengapa kau gelisah, Sam? Kau baru saja mengatakan tak peduli kalau Kramer sampai terluka. Itu pengebomanmu yang keenam, benar?"

"Yeah, tapi yang lainnya mudah. Nyalakan sumbu, keluar dari pintu, dan tunggu beberapa menit. Aku terus memikirkan sekretaris kecil yang manis di kantor Kramer, sekretaris yang menunjukkan kamar kecil kepadaku. Sekretaris yang memberikan kesaksian dalam sidang. Dan aku terus memikirkan orang-orang lain yang bekerja di kantornya, sebab ketika aku masuk ke sana hari itu aku melihat orang di mana-mana. Saat itu hampir pukul delapan, dan aku tahu tempat itu akan buka beberapa menit lagi. Aku tahu banyak orang akan terbunuh. Pikiranku berhenti bekerja.

"Aku ingat berdiri di samping gardu telepon satu blok dari sana, menatap jam tangan, lalu menatap telepon, mengatakan pada diriku sendiri harus menelepon. Akhirnya aku melangkah ke dalam dan mencari nomornya, tapi begitu menutup buku aku melupakannya. Aku mencarinya lagi dan mulai memutar nomornya ketika teringat tak punya uang receh. Jadi, kuputuskan masuk ke tempat pangkas rambut dan tukar uang receh. Kakiku berat dan aku berkeringat habis-habisan. Aku berjalan ke tempat pangkas, berhenti di depan jendela kaca, dan melihat ke dalam. Tempat itu penuh. Mereka antre di depan dinding, bercakap-cakap dan membaca koran, dan di sana ada sederet kursi, semua terisi laki-laki yang bicara berbarengan. Aku ingat beberapa di antara mereka memandangku, lalu satu atau dua lagi mulai menatap, maka aku berlalu."

"Ke mana kau pergi?"

"Aku tidak pasti. Ada sebuah kantor di samping kantor Kramer, dan aku ingat melihat sebuah mobil parkir di depannya. Kupikir mungkin itu sekretaris atau seseorang yang akan masuk ke kantor Kramer, dan kurasa aku sedang berjalan ke arah mobil itu ketika bom meledak."

"Jadi, kau ada di seberang jalan?"

“Kurasa begitu. Aku ingat terguling ke kiri, bertumpu tangan dan lutut, sementara kaca dan reruntuhan berjatuhan di sekelilingku. Tapi aku tidak ingat banyak sesudah itu."

Pintu diketuk pelan dari luar, lalu Sersan Packer muncul dengan cangkir styrofoam besar, kertas lap, sebatang pengaduk, dan susu bubuk. "Kupikir kau mungkin perlu kopi. Maaf menyela." Ia meletakkan cangkir dan perlengkapan lainnya pada counter.

"Terima kasih," kata Adam.

Packer cepat-cepat berbalik dan beranjak ke pintu.

"Aku mau dua sendok gula dan sesendok susu," kata Sam dari sisi seberang.

"Ya Sir," tukas Packer tanpa mengendurkan langkah. Ia menghilang.

"Bagus sekali pelayanan di sini," kata Adam. "Hebat, hebat sekali."

~ 14 ~

Sam, tentu saja, tidak diberi kopi. Ia langsung tahu hal ini, tapi Adam tidak. Jadi sesudah menunggu beberapa menit, Sam berkata, “Minumlah,” ia sendiri menyalakan rokok lagi dan mondar-mandir sedikit di belakang kursi, sementara Adam mengaduk gula dengan pengaduk plastik. Saat itu hampir pukul 11.00, dan Sam sudah ketinggalan jam istirahatnya. Ia sama sekali tak yakin Packer akan memberi waktu sebagai penggantinya.

Ia mondar-mandir dan berjongkok beberapa kali, membungkuk setengah lusin kali, membunyikan lutut dan sendi-sendi ketika bangkit dan menunduk goyah. Pada beberapa bulan pertamanya di The Row, ia cukup berdisiplin berlatih. Pada suatu hari ia bisa melakukan push-up dan sit-up seratus kali di selnya. Bobotnya turun sampai delapan puluh kilogram, dan diet rendah lemak itu meunjukkan hasil. Perutnya rata dan keras.

Berperasaan ia sesehat itu, tapi tak lama sesudahnya datang kesadaran bahwa The Row merupakan rumah terakhirnya, dan suatu hari negara akan membunuhnya di sini. Apa manfaat kesehatan yang baik dan otot biseps yang keras bila ia dikurung 23 jam sehari, menunggu ajal? Latihan itu perlahan-lahan berhenti. Kebiasaan merokok makin hebat.

Di antara rekan-rekannya, Sam dianggap beruntung, terutama karena punya uang di luar. Seorang adik laki-laki, Donnie, tinggal di North Carolina dan sekali sebulan mengirimi Sam satu kotak yang dikemas rapi, berisi sepuluh kardus rokok Montclair. Sam rata-rata mengisap tiga sampai empat bungkus sehari. Ia ingin bunuh diri sebelum negara melakukannya. Dan ia lebih suka mati karena penyakit berkepanjangan, penyakit yang menuntut perawatan mahal yang secara hukum harus diberikan Negara Bagian Mississippi.

Namun tampaknya ia akan kalah dalam pacuan itu.

Hakim federal yang memegang kembali kendali atas Parchman melalui suatu sidang hak-hak narapidana telah mengeluarkan perintah menyeluruh untuk menyempurnakan prosedur koreksi mendasar. Dengan cermat ia mendefinisikan hak-hak narapidana. Dan ia mencantumkan perincian-perincian kecil, misalnya luas setiap sel di The Row dan jumlah uang yang boleh dimiliki masing-masing narapidana. Dua puluh dolar adalah jumlah maksimum. Uang itu diberi istilah "dust" yang berarti debu, dan selalu berasal dari luar.

Para terpidana mati tidak diperbolehkan bekerja dan mendapatkan bayaran. Mereka yang beruntung, menerima beberapa dolar sebulan dari kerabat dan sahabat. Mereka bisa membelanjakannya di kantin yang terletak di tengah MSU. Minuman ringan disebut sebagai bottle-up. Permen dan makanan kecil adalah zu-zu dan wham-wham. Rokok asli dalam bungkus adalah tight-leg dan ready roll.

Mayoritas narapidana tidak menerima apa-apa dari luar. Mereka berdagang, tukar-menukar, melakukan barter, dan mengumpulkan cukup koin untuk membeli daun tembakau lembaran yang mereka gulung dengan kertas tipis dan diisap perlahan-lahan. Sam benar-benar beruntung.

Ia duduk dan menyalakan satu lagi.

"Mengapa kau tidak memberikan kesaksian dalam sidang?" pengacaranya bertanya dari balik kisi-kisi.

"Sidang yang mana?"

"Poin bagus. Dua sidang pertama."

"Aku tak perlu melakukannya. Brazelton memilih juri yang baik, semua kulit putih, orang-orang baik yang bersimpati dan memahami segala persoalan. Aku tahu takkan dipidana orang-orang itu. Tak ada gunanya memberikan kesaksian."

"Dan sidang terakhir?"

"Itu sedikit lebih rumit. Aku dan Keyes membahasnya beberapa kali. Pada mulanya dia berpendapat itu mungkin membantu, sebab aku bisa menjelaskan kepada juri, apa niatku. Mestinya tak ada yang terluka dan seterusnya. Bom itu dimaksudkan meledak pukul lima pagi. Tapi kami tahu pemeriksaan silangnya akan brutal. Hakim sudah memuluskan pengeboman yang lain bisa dibicarakan untuk menunjukkan fakta-fakta tertentu. Aku akan dipaksa mengakui benar-benar memasang bom itu. lima belas batang seluruhnya yang tentu saja lebih dari cukup untuk membunuh orang.”

"Jadi, kenapa kau tidak memberikan kesaksian?"

"Dogan. Bangsat pembohong itu mengatakan pada Juri bahwa rencana kami adalah membunuh Yahudi itu. Dia saksi yang sangat efektif. Maksudku, coba kaupikir. Inilah mantan imperial Wizzard Ku Khu Klan di Mississippi, memberikan kesaksian memberatkan bagi Jaksa Penuntut terhadap salah satu anak buahnya sendiri. Kesaksian itu kuat. Juri menelannya begitu saja."

"Mengapa Dogan bohong?"

"Jerry Dogan jadi gila, Adam. Maksudku, benar-benar gila. Lima belas tahun FBI memburunya, menyadap teleponnya, menguntit istrinya ke seluruh penjuru kota, menakut-nakuti sanak saudaranya, mengancam anak-anaknya, mengetuk pintunya setiap saat di waktu malam. Hidupnya menyedihkan. Selalu ada orang yang mengawasi dan mendengarkan. Lalu dia ceroboh dan IRS ikut campur. Mereka, bersama FBI mengatakan padanya bahwa dia menghadapi tiga puluh tahun penjara. Dogan tak kuat menahan tekanan. Sesudah sidangku, kudengar dia dikirim ke rumah sakit beberapa lama. Kau tahu, ke rumah sakit gila. Dia dirawat, pulang, dan tak lama kemudian mati."

"Dogan sudah mati?"

Sejenak Sam berhenti menyedot rokoknya. Asap bocor dari mulut dan bergulung ke atas, melewati hidung dan depan matanya yang saat itu sedang menatap tercengang mata cucunya melalui lubang. "Kau tidak tahu tentang Dogan?" ia bertanya.

Ingatan Adam terbang mencari artikel dan berita tak terhitung jumlahnya yang pernah ia kumpulkan dan susun menurut indeks. Ia menggelengkan kepala. "Tidak. Apa yang terjadi pada Dogan?"

"Kupikir kau tahu segalanya." kata Sam. "Kupikir kau menghafalkan segalanya tentang diriku."

"Aku tahu banyak tentang kau, Sam. Tapi aku sama sekali tak peduli dengan Jeremiah Dogan."

"Dia hangus dalam kebakaran rumah. Dia dan istrinya. Suatu malam mereka sedang tidur ketika pipa gas entah bagaimana bocor mengeluarkan gas propan. Para tetangga mengatakan kejadian itu seperti ledakan bom,"

"Kapan hal ini terjadi?"

"Tepat setahun setelah dia memberikan kesaksian memberatkanku."

Adam mencoba mencatat ini, tapi penanya tak mau bergerak. Ia mengamati wajah Sam, mencari tanda-tanda tertentu. "Tepat setahun?"

"Ya."

"Itu kebetulan yang bagus."

"Aku ada di dalam sini, tentunya, tapi aku mendengar kabar itu sepotong-sepotong. Polisi mengatakan itu kecelakaan. Bahkan kurasa ada gugatan yang diajukan terhadap perusahaan gas."

"Jadi, kau tidak berpendapat dia dibunuh?"

"Tentu saja aku berpendapat dia dibunuh."

"Oke. Siapa yang melakukannya?"

"Sebenarnya FBI pernah datang ke sini dan mengajukan beberapa pertanyaan kepadaku. Bisakah ini kaupercaya? FBI mengendus-endus di sini. Beberapa bocah dari Utara. Tak sabar ingin mengunjungi death row untuk melambaikan lencana mereka dan menemui teroris Klan asli yang masih hidup. Mereka begitu ketakutan melihat bayangannya sendiri. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan tolol selama satu jam, kemudian berlalu. Aku tak pernah dengar apa-apa lagi dari mereka."

"Siapa yang mau membunuh Dogan?"

Sam menggigit filter dan menyedot asap terakhir semulut penuh dari rokok itu. Lalu ia menghunjamkannya ke asbak sambil mengembuskan asap ke kisi-kisi. Adam mengusir asap itu dengan gerakan yang sengaja dilebih-lebihkan, tapi Sam tak menghiraukannya. "Banyak orang," gumamnya.

Adam menulis catatan di pinggir halaman untuk bicara tentang Dogan nanti. Ia akan melakukan riset lebih dulu, lalu mengangkatnya lagi dalam percakapan kelak.

"Hanya sebagai argumentasi," katanya sambil masih menulis, "rasanya kau seharusnya memberikan kesaksian untuk melawan Dogan."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 31)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.