Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 3)

 The Chamber: Kamar Gas

Setelah debu di sekitar kantor Marvin mengendap, para tetangga, beberapa di antaranya penjaga toko dan kerani kantor lain, menyapu serpihan kaca dari trotoar dan saling berbisik ketika menyaksikan polisi dan regu penolong mulai menggali. Desas-desus kuat melanda pusat kota Greenville, mengatakan seorang tersangka sudah ditahan.

Sore itu juga kelompok-kelompok penonton sudah tahu bahwa nama orang itu Sam Cayhall, dari Clanton, Mississippi, ia anggota Klan, dan entah bagaimana terluka dalam serangan itu. Satu laporan berita menyajikan gambar-gambar mengerikan dari pengeboman lain yang dilakukan Cayhall dengan segala macam luka mengerikan dan mayat-mayat yang porak-poranda, namun semuanya hanya melibatkan negro-negro miskin. Laporan berita lain menceritakan kecemerlangan polisi Greenville dalam melacak orang gila ini hanya beberapa detik setelah ledakan. Pada siaran berita tengah hari, stasiun TV Greenville menegaskan apa yang sudah diketahui, bahwa dua anak kecil itu tewas, ayah mereka luka parah, dan Sam Cayhall sudah ditahan.

Sam Cayhall akan dibebaskan beberapa saat lagi, dengan uang jaminan tiga puluh dolar. Saat dibawa ke kantor polisi, ia tersadar dan minta maaf dengan sopan kepada polisi karena tidak menepi seperti yang mereka harapkan. Ia dituduh melakukan pelanggaran yang amat sepele, dan dikirim ke ruang penahanan sementara untuk diproses lebih lanjut dan dibebaskan. Dua petugas yang menahannya bergegas berlalu untuk memeriksa ledakan tersebut.

Seorang petugas pemelihara gedung yang bertugas ganda sebagai petugas kesehatan penjara menghampiri Sam dengan peralatan PPPK yang tidak terurus dan membasuh darah kering dari wajahnya. Perdarahannya sudah berhenti.

Sam mengulangi bahwa ia terlibat dalam suatu perkelahian di bar. Malam yang keras. Petugas kesehatan berlalu, dan sejam kemudian seorang sipir muncul di jendela geser ruang tahanan dengan surat-surat lain. Tuduhannya adalah tidak memberi jalan kepada kendaraan emergency, denda maksimumnya tiga puluh dolar, dan bila bisa membayar tunai jumlah tersebut, Sam bebas pergi begitu urusan administrasi selesai, dan mobilnya dilepas. Sam mondar-mandir gelisah sekeliling ruangan, melirik jam tangan, mengelus pelan luka di pipinya.

Ia akan dipaksa menghilang. Ada catatan atas penahanan ini, dan tak lama lagi orang-orang udik ini akan menghubungkan namanya dengan pengeboman itu, dan kemudian... nah, ia harus kabur. Ia akan meninggalkan Mississippi, mungkin bergabung dengan Rollie Wedge dan berangkat ke Brazil atau tempat lain. Dogan akan memberi mereka uang. Ia akan menelepon Dogan begitu meninggalkan Greenville. Mobilnya masih terparkir di pangkalan truk di Cleveland. Ia akan tukar kendaraan di sana, lalu berangkat ke Memphis, dan naik bus Greyhound.

Itulah yang akan dilakukannya. Sungguh tolol ia, kembali ke tempat kejadian. Tapi, pikirnya, kalau ia tetap tenang, badut-badut ini akan melepaskannya.

Setengah jam berlalu sebelum sang sipir tiba dengan satu formulir lain. Sam menyerahkan tiga puluh dolar kontan dan menerima kuitansi. Ia mengikuti laki-laki itu melewati lorong sempit, menuju meja depan penjara. Di sana ia diberi surat panggilan untuk muncul di Pengadilan Negeri Greenville dalam dua minggu. "Mana mobilnya?" ia bertanya sambil melipat surat panggilan.

"Mereka sedang mengambilnya. Tunggu saja di sini."

Sam memeriksa jam tangan dan menunggu selama lima belas menit. Melalui jendela kecil pada sebuah pintu besi ia melihat mobil datang dan pergi di halaman parkir di depan penjara. Dua pemabuk diseret ke meja oleh seorang polisi bertubuh kekar. Sam bergerak-gerak resah dan menunggu.

Tiba-tiba dari belakangnya terdengar sebuah suara baru memanggilnya perlahan-lahan, "Mr. Cayhall."

Ia menoleh dan berhadapan dengan seorang laki-laki pendek dalam jas lusuh. Sebuah lencana dilambaikan di bawah hidung Sam.

"Saya Detektif Ivy, Kepolisian Greenville. Perlu mengajukan beberapa pertanyaan pada Anda." Ivy melambai ke arah sederet pintu kayu di sepanjang lorong, dan Sam mengikuti dengan patuh.

Mulai saat pertama duduk di depan meja kotor, menghadap Detektif Ivy, Sam bicara cuma sedikit. Ivy berumur awal empat puluhan, tapi sudah beruban dan berkeriput di sekitar mata. Ia menyalakan sebatang Camel tanpa filter, menawarkan sebatang pada Sam, lalu menanyakan bagaimana wajahnya sampai terluka. Sam memain-mainkan rokok itu, tapi tidak menyalakannya.

Sudah bertahun-tahun yang lalu ia berhenti merokok, dan meskipun merasakan dorongan kuat untuk mulai mengepul-ngepulkan asap pada saat kritis ini, ia cuma mengetuk-ngetukkannya pelan pada meja. Tanpa memandang Ivy, ia mengatakan mungkin ia terlibat dalam suatu perkelahian.

Ivy seperti mendengus dengan senyum kecil, seolah-olah ia sudah menduga jawaban macam ini dan Sam tahu ia sedang menghadapi seorang profesional. Sekarang ia takut, tangannya mulai gemetar. Ivy tentu saja memperhatikan semua ini. Di manakah perkelahian itu? Dengan siapa kau berkelahi? Kapan perkelahian itu terjadi? Mengapa kau berkelahi di Greenville sini, sedangkan kau tinggal tiga jam dari sini? Dari mana kau mendapatkan mobil itu?

Sam tidak mengatakan apa-apa. Ivy menghujaninya dengan pertanyaan; semuanya tak bisa dijawab Sam, sebab kebohongan akan berlanjut dengan kebohongan lain, dan Ivy akan menjeratnya dalam beberapa detik.

"Aku ingin bicara dengan seorang penasihat hukum," akhirnya Sam berkata.

"Itu bagus, Sam. Kupikir memang itulah yang harus kaulakukan." Ivy menyalakan sebatang Camel lagi dan mengembuskan asap tebal ke langit-langit.

"Ada ledakan bom pagi ini, Sam. Apa kau tahu itu?" Ivy bertanya, suaranya naik sedikit dengan nada mengejek.

"Tidak."

"Tragis. Kantor seorang pengacara lokal bernama Kramer diledakkan sampai berkeping-keping. Terjadi sekitar dua jam yang lalu. Mungkin pekerjaan orang-orang Ku KIux Klan, kau tahu. Kami tidak punya Ku Klux Klan di sekitar sini, tapi Mr. Kramer orang Yahudi. Coba kuterka... kau tidak tahu apa-apa tentang hal ini, bukan?"

"Benar."

"Menyedihkan sekali, Sam. Kau tahu, Mr. Kramer punya dua putra yang masih kecil, Josh dan John, dan sudah nasib mereka berada di kantor bersama ayahnya ketika bom itu meledak."

Sam menghela napas dalam dan memandang Ivy. Ceritakan sisanya padaku, matanya berkata.

"Dan dua bocah kecil ini, kembar, umur lima tahun, sangat lucu. Meledak berkeping-keping, Sam. Tewas tuntas, Sam."

Sam menundukkan kepala perlahan-lahan, sampai dagunya berjarak satu senti dari dada. Ia terpukul. Pembunuhan, dua orang. Pengacara, pengadilan, hakim, juri, penjara, segalanya menerpa sekaligus dan ia memejamkan mata.

"Ayah mereka mungkin beruntung. Dia ada di rumah sakit sekarang, sedang menjalani operasi. Anak-anaknya ada di kamar jenazah. Sungguh suatu tragedi, Sam. Tidakkah mestinya kau tahu sesuatu tentang bom itu, Sam?"

“Tidak. Aku ingin menemui pengacara."

“Tentu." Ivy berdiri perlahan-lahan dan meninggalkan ruangan.

***

Kepingan kaca pada wajah Sam dikeluarkan dokter dan dikirim ke laboratorium FBI. Laporannya tidak mengandung kejutan—kaca yang sama dengan jendela depan kantor itu. Pontiac hijau itu dengan cepat dilacak sampai pada Jeremiah Dogan di Meridian. Sebuah sumbu lima belas menit ditemukan dalam bagasi. Seorang pengirim barang maju ke depan dan menerangkan kepada polisi bahwa ia melihat mobil itu dekat kantor Mr. Kramer, sekitar pukul 04.00.

FBI memastikan pers langsung mengetahui Mr. Sam Cayhall sebagai anggota lama Ku Klux Klan, dan menjadi tersangka utama dalam beberapa pengeboman lain. Mereka merasa kasus ini sudah terungkap, dan mereka menghujani Kepolisian Greenville dengan pujian. J. Edgar Hoover sendiri mengeluarkan pernyataan.

Dua hari sesudah pengeboman tersebut, si kembar Kramer dibaringkan untuk beristirahat selamanya di sebuah makam kecil. Saat itu ada 146 orang Yahudi tinggal di Greenville, dan kecuali Marvin Kramer dan enam orang lain, setiap orang menghadiri upacara pemakaman. Dan jumlah mereka dikalahkan dua banding satu oleh para wartawan dan fotografer dari berbagai penjuru negeri.

Esok paginya Sam melihat foto-foto dan membaca berita tersebut dalam sel kecilnya. Sang asisten sipir, Larry Jack Polk, adalah orang polos yang sekarang sudah jadi temannya, sebab seperti yang dibisikkannya kepada Sam sebelumnya, ia punya saudara sepupu yang jadi anggota Klan dan ia selalu ingin bergabung, tapi istrinya tak setuju. Ia membawakan Sam kopi segar dan surat kabar tiap pagi.

Larry Jack sudah menyatakan kekagumannya atas keterampilan Sam melakukan pengeboman. Selain beberapa patah kata biasa yang diperlukan untuk memanipulasi Larry Jack, Sam boleh dibilang tidak mengucapkan apa-apa. Sehari sesudah pengeboman itu ia dijatuhi tuduhan melakukan dua pembunuhan terencana, maka skenario kamar gas memenuhi pikirannya. Ia menolak mengucapkan sepatah kata pun kepada Ivy dan polisi lain; begitu pula kepada FBI. Para wartawan pun bertanya, tapi tak pernah berhasil melewati Larry Jack. Sam menelepon istrinya dan menyuruhnya tetap tinggal di Clanton dengan pintu terkunci. Ia duduk seorang diri dalam sel dan mulai menulis buku harian.

~ 3 ~ 

Kalau ingin menemukan dan mengaitkan Rollie Wedge dengan pengeboman itu, polisi harus mencarinya. Sam Cayhall pernah mengangkat sumpah sebagai anggota Klan, dan baginya sumpah itu suci. Ia takkan pernah mengadukan anggota Klan lain. Ia benar-benar berharap Jeremiah Dogan punya perasaan yang sama mengenai sumpahnya.

Dua hari sesudah pengeboman, seorang pengacara licik dengan tata rambut riap-riap bernama Clovis Brazelton muncul pertama kali di Greenville. Ia anggota rahasia Klan, dan sudah terkenal di Jackson suka mewakili segala macam bajingan. Ia ingin ikut pemilihan sebagai gubernur.

Katanya ia berpendirian melestarikan ras putih, FBI adalah iblis, orang kulit hitam harus dilindungi tapi tidak bercampur dengan orang kulit putih, dan lain-lain. Ia dikirim Jeremiah Dogan untuk membela Sam Cayhall, dan yang lebih penting lagi, untuk memastikan Cayhall tetap tutup mulut. FBI mengawasi Dogan dengan cermat gara-gara Pontiac hijau itu, dan ia takut didakwa sekongkol.

***

Bersekongkol, Clovis menerangkan kepada klien barunya sejak awal, sama bersalahnya seperti orang yang sesungguhnya menarik pelatuk. Sam mendengarkan, tapi tak banyak bicara. Ia sudah mendengar tentang Brazelton, dan juga tidak mempercayainya.

"Dengar, Sam," kata Clovis, seakan-akan menerangkan persoalan kepada bocah kelas satu, "aku tahu siapa yang memasang bom itu. Dogan menceritakannya padaku. Kalau hitunganku benar, ada empat orang—aku, kau, Dogan, dan Wedge. Sekarang, pada titik ini, Dogan hampir pasti bahwa Wedge takkan pernah ditemukan. Mereka belum bicara, tapi bocah itu cemerlang dan mungkin sudah berada di negara lain saat ini. Namun polisi akan sulit menangkapnya, kecuali mereka bisa membuktikan kalian bekerja sama untuk meledakkan kantor si Yahudi itu. Dan satu-satunya cara membuktikan hal ini adalah bila kau mengatakannya pada mereka."

"Jadi, aku yang harus berkorban?" tanya Sam.

"Tidak. Kau bungkam saja tentang Dogan. Sangkal segalanya. Kita akan mengarang cerita tentang mobil itu. Biar aku yang mengurusnya. Akan kuusahakan agar sidangnya dipindahkan ke county lain, mungkin di daerah perbukitan atau tempat lain yang tidak ada orang Yahudi. Kita cari juri yang seluruhnya kulit putih, dan akan kutahan mereka agar tidak mendapatkan keputusan bulat, sehingga kita berdua jadi pahlawan. Biar aku saja yang menanganinya."

"Kaupikir aku takkan dipidana?"

"Tidak. Dengar, Sam, pegang kata-kataku. Kita akan dapatkan dewan juri yang penuh dengan patriot, orang-orang macam dirimu, Sam. Semuanya kulit putih. Semuanya khawatir anak-anak mereka akan dipaksa pergi ke sekolah bersama anak-anak Negro. Orang-orang baik, Sam. Kita pilih dua belas di antara mereka, dudukkan mereka di boks juri, dan jelaskan pada mereka bagaimana Yahudi busuk ini mengobar-ngobarkan omong kosong tentang gerakan hak sipil. Percayalah padaku, Sam, ini akan mudah." Bersama dengan itu, Clovis membungkuk di atas meja yang goyah, meremas lengan Sam, dan berkata, "Percayalah padaku, Sam. Aku sudah pernah melakukannya."

***

Siang itu Sam diborgol, dikelilingi polisi kota Greenville, dan digiring ke mobil patroli yang sedang menunggu. Antara penjara dan mobil itu ia dipotret oleh sepasukan kecil fotografer. Satu kelompok lain orang-orang yang pantang mundur ini sedang menunggu di gedung pengadilan ketika Sam tiba bersama iring-iringannya.

Ia menghadap hakim kota itu bersama pengacara barunya, Clovis Brazelton, yang menerima saja sidang pemeriksaan pendahuluan dilewatkan dan melakukan beberapa manuver hukum rutin lain tanpa banyak suara. Dua puluh menit setelah meninggalkan penjara, ia kembali lagi. Clovis berjanji akan kembali beberapa hari lagi untuk mulai merancang strategi, kemudian ia keluar dan tampil anggun di depan kamera untuk para wartawan.

Butuh waktu satu bulan penuh sebelum kegemparan media surut di Greenville. Sam Cayhall dan Jeremiah Dogan didakwa melakukan pembunuhan berencana pada tanggal 5 Mei 1967. Jaksa penuntut setempat mengumumkan keras akan mengusahakan hukuman mati. Nama Rollie Wedge tak pernah disebut-sebut. Polisi dan FBI tidak mengetahui keberadaannya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.