Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 29)

 The Chamber: Kamar Gas

"Mengintimidasi. Melakukan pembalasan. Mencegah Yahudi-Yahudi terkutuk itu membiayai gerakan hak-hak sipil. Kami berusaha menempatkan orang-orang Afrika itu tetap di tempat mereka—di sekolah dan gereja mereka, serta pemukiman dan WC mereka sendiri, terpisah dari wanita dan anak-anak kami. Yahudi macam Marvin Kramer mengupayakan masyarakat antarras dan menghasut orang-orang Afrika itu. Haram jadah itu perlu diberi pelajaran."

"Kalian benar-benar memberi pelajaran kepadanya, bukan?"

"Dia mendapatkan yang pantas. Aku menyesal tentang anak-anak itu."

"Perasaan belas kasihmu mengagumkan."

"Dengar, Adam, dan dengarkan baik-baik. Aku tidak berniat melukai siapa pun. Bom itu dirancang untuk meledak pukul lima pagi, tiga jam sebelum dia biasanya tiba untuk bekerja. Alasan satu-satunya anak-anaknya ada di sana adalah karena istrinya sakit flu."
"Tapi kau tidak menyesal Marvin kehilangan dua kaki?"

"Tidak."

"Tak ada penyesalan saat dia bunuh diri?"

"Dia yang menarik pelatuk, bukan aku."

"Kau orang sakit, Sam."

"Yeah, dan akan lebih sakit lagi saat aku menghirup gas."

Adam menggelengkan kepala dengan muak, tapi ia menahan lidah. Mereka bisa berdebat tentang ras dan kebencian nanti. Bukan berarti ia saat ini mengharapkan akan mendapatkan kemajuan dalam topik ini dengan Sam. Namun ia bertekad mencoba. Tapi sekarang mereka perlu membicarakan fakta-fakta.

"Sesudah memeriksa dinamit itu, apa yang kaulakukan?"

“Kembali ke pangkalan truk. Minum kopi."

"Kenapa?"

"Mungkin aku haus."

"Lucu sekali, Sam. Cobalah jawab pertanyaan-pertanyaan ini."

"Aku menunggu."

"Menunggu apa?"

"Aku perlu menunggu beberapa jam. Saat itu baru sekitar tengah malam, dan aku ingin menghabiskan waktu sependek mungkin di Greenville. Jadi, aku menghabiskan waktu di Cleveland."

"Apakah kau bicara dengan seseorang di kafe itu?"

“Tidak."

"Apakah tempat itu penuh?"

"Aku benar-benar tidak ingat."

"Apakah kau duduk seorang diri?"

"Ya."

"Di depan meja?"

"Ya." Sam melontarkan senyum sekilas sebab tahu apa yang akan muncul.

"Seorang sopir truk bernama Torryny Farris mengatakan melihat seorang laki-laki yang sangat mirip denganmu di pangkalan truk malam itu, dan laki-laki itu lama minum kopi dengan laki-laki lain yang lebih muda."

"Aku tak pernah bertemu dengan Mr. Farris, tapi aku yakin sesudah tenggang tiga tahun, dia tidak lagi mengingat jelas. Seingatku tak pernah ada sepatah kata pun kepada orang lain, sampai wartawan menyorotnya dan namanya tercantum di surat kabar. Sungguh mencengangkan bagaimana saksi-saksi misterius ini muncul sesudah sidang-sidang itu."

"Mengapa Farris tidak memberikan kesaksian dalam sidang terakhirmu?"

"Jangan tanya aku. Kukira itu karena dia tak punya apa pun untuk diceritakan. Fakta aku minum kopi sendiri atau dengan orang lain tujuh jam sebelum pengeboman itu hampir tidak relevan. Plus, acara minum kopi itu terjadi di Cleveland, dan tak ada kaitan dengan apakah aku melakukan kejahatan atau tidak."

"Jadi, Farris bohong?"

"Aku tidak tahu apa yang dikerjakan Farris. Aku sama sekali tak peduli. Aku sendirian. Itu saja yang penting."

"Pukul berapa kau meninggalkan Cleveland?"

"Sekitar pukul tiga, kurasa."

"Dan kau pergi langsung ke Greenville?"

"Ya. Dan aku melewati rumah Kramer, melihat si penjaga duduk di teras, melewati kantornya, putar-putar lagi, dan sekitar pukul empat aku parkir di belakang kantornya, menyelinap lewat pintu belakang, menempatkan bom dalam lemari di gang, berjalan kembali ke mobilku, dan berlalu."

"Pukul berapa kau meninggalkan Greenville?"

"Tadinya aku merencanakan pergi sesudah bom itu meledak. Tapi, seperti kauketahui, baru beberapa bulan kemudian aku bisa benar-benar keluar dari kota itu."

“Ke mana kau pergi setelah kau meninggalkan kantor Kramer?"

"Aku menemukan kedai kopi kecil di tepi jalan, kira-kira setengah mil dari kantor Kramer."

"Mengapa kau pergi ke sana?"

"Untuk minum kopi."

"Pukul berapa saat itu?"

"Aku tidak tahu. Sekitar setengah lima."

"Apakah tempat itu penuh?"

"Ada beberapa orang. Itu cuma kedai biasa yang buka sepanjang malam, dengan koki gemuk memakai T-shirt kotor dan seorang pelayan yang mendecak-decakkan permen karet."

"Apakah kau bicara dengan seseorang?"

"Aku bicara dengan pelayan ketika memesan kopi. Mungkin aku makan donat."

"Dan kau cuma menikmati kopi, sibuk dengan urusan sendiri, menunggu bom itu meledak?"

"Yeah. Aku selalu suka mendengarkan bom meledak dan menyaksikan orang-orang bereaksi."

"Jadi, sebelum itu kau pernah melakukannya?"

"Beberapa kali. Pada bulan Februari tahun itu, aku mengebom kantor real estate di Jackson. Orang-orang Yahudi itu menjual rumah kepada orang negro di wilayah orang kulit putih. Aku baru saja duduk di suatu kedai, tak sampai tiga blok dari sana ketika bom meledak. Waktu itu aku memakai sumbu, jadi aku harus bergegas. Parkir cepat-cepat, dan mencari meja. Pelayan bara saja meletakkan kopiku ketika bumi bergetar dan semua orang diam membeku. Aku menyukai itu. Saat itu pukul empat pagi dan tempat itu penuh dengan sopir truk dan pengirim barang, bahkan ada beberapa polisi di sudut. Tentu saja mereka lari ke mobil dan ngebut dengan lampu berkeredapan. Mejaku bergetar begitu keras, sampai kopi itu tumpah dari cangkir."

"Dan itu membuat hatimu begitu tergetar?"

"Ya benar. Tapi pekerjaan-pekerjaan yang lain itu terlalu riskan. Aku tak punya waktu untuk menemukan kafe atau kedai, jadi aku cuma bermobil putar-putar selama beberapa menit, menunggu keramaian. Aku memeriksa jam dengan hati-hati, jadi aku selalu tahu kapan bom itu akan meledak. Kalau aku ada di dalam mobil, aku suka berada di tepi kota, kau tahu." Sam berhenti dan menyedot rokoknya panjang-panjang. Ucapannya lambat dan hati-hati. Matanya menari-nari sedikit ketika ia bicara tentang petualangannya namun kata-katanya terkendali. "Aku menyaksikan pengeboman Pinder," ia menambahkan.

"Dan bagaimana kau melakukannya?"

"Mereka tinggal di sebuah rumah besar di tepi kota, banyak pepohonan, seperti di lembah. Aku parkir di sisi bukit sekitar satu mil dari sana, dan duduk di bawah pohon ketika bom itu meledak."

"Sungguh damai."

"Memang benar. Bulan purnama, malam yang sejuk. Aku bisa melihat jelas ke jalan itu dan hampir semua atap ramahnya. Suasana begitu tenang dan damai, semua orang tertidur, lalu... glaar, atap itu terempas sampai ke neraka dan kembali lagi."

"Apa dosa Mr. Pinder?'

"Cuma seperti umumnya Yahudi. Mencintai orang negro. Selalu memeluk orang-orang Afrika radikal bila mereka datang dari Utara dan mengagitasi semua orang. Dia suka berpawai dan melakukan pemboikotan bersama orang-orang Afrika. Kami curiga dia mendanai banyak kegiatan mereka."

Adam membuat catatan dan berusaha menyerap semua ini. Hal ini sulit dicerna karena nyaris mustahil dipercaya. Barangkali hukuman mati sebenarnya bukan gagasan yang buruk. "Kembali ke Greenville. Di mana letak kedai kopi ini?"

"Tidak ingat."

"Apa namanya?"
“Itu kejadian 23 tahun yang lalu. Dan itu bukan tempat yang ingin kaukenang."

"Apakah letaknya di Highway 82?"

"Kurasa begitu. Apa yang akan kaulakukan? Menghabiskan waktumu untuk mencari-cari si koki gemuk dan si pelayan jembel? Apakah kau meragukan ceritaku?"

"Ya Aku meragukan ceritamu."

"Mengapa?"

"Sebab kau tak bisa menceritakan di mana kau belajar membuat bom dengan timing detonator."

"Di garasi di belakang rumahku."

"Di Clanton?"

"Di luar Clanton. Itu tidak sulit."

"Siapa yang mengajarimu?"

"Aku belajar sendiri. Aku punya gambar, buklet kecil dengan diagram dan sebagainya. Langkah pertama, kedua, ketiga. Bukan sesuatu yang luar biasa."

"Berapa kali kau berlatih dengan alat macam itu sebelum Kramer?"

"Sekali."

"Di mana? Kapan?"

"Di dalam hutan tak jauh dari rumahku. Aku bawa dua batang dan peralatan yang diperlukan, dan aku pergi ke sungai kecil jauh di tengah hutan. Bom itu bekerja sempurna"

"Tentu saja. Kau belajar dan melakukan semua penelitian ini di garasimu?"

"Itulah yang kukatakan."

"Laboratorium kecil milikmu sendiri?"

"Sebut apa saja semaumu."

"Nah, FBI melakukan penggeledahan teliti di rumah, garasi, dan tanahmu ketika kau ditahan. Mereka tak menemukan sedikit pun bukti adanya bahan peledak."

"Mungkin mereka tolol. Mungkin aku benar-benar hati-hati dan tak meninggalkan jejak."

"Atau mungkin bom itu dipasang orang yang berpengalaman memakai peledak."

"Tidak. Maaf."

“Berapa lama kau tinggal di coffee shop di Greenville?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 30)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.