Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 28)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam mengawasi wajahnya dengan cermat. Mata biru yang tajam itu tak bergerak. Keriput pada wajahnya tak bergerak. Tak ada emosi, tak ada perasaan, kesedihan, atau kemarahan. Sam membalas tatapan itu tanpa berkedip.

Adam kembali ke buku catatannya. "Pada tanggal 2 Maret 1967, Kuil Hirsch di Jackson dibom. Apakah kau yang melakukannya?"

"Kau benar-benar to the point rupanya, ya?"

"Ini pertanyaan mudah."

Sam memutar filter di antara bibirnya dan berpikir sejenak. "Mengapa ini penting?"

"Jawab saja pertanyaan ini," bentak Adam. "Sudah terlambat untuk main-main."

"Sebelumnya aku belum pernah ditanyai seperti itu."

"Nah, kurasa hari ini hari besar bagimu. Jawaban sederhana, ya atau tidak sudah cukup."

"Ya."

"Apakah kau memakai Pontiac hijau itu?"

"Kurasa begitu."

"Siapa yang bersamamu?"

"Apa yang membuatmu berpikir ada seseorang bersamaku?"

"Sebab seorang saksi mengatakan melihat sebuah Pontiac hijau melaju kencang beberapa menit sebelum ledakan itu. Dan dia mengatakan ada dua orang dalam mobil tersebut. Dia bahkan mengidentifikasikan kaulah pengemudinya."

"Ah, ya. Sobat kecil kita Bascar. Aku membaca tentang dirinya di surat kabar."

"Dia ada di sudut Jalan Fortification dan State ketika kau dan temanmu lewat."

"Tentu saja dia ada di sana. Dan dia baru saja meninggalkan bar pada pukul tiga pagi, mabuk seperti kambing dan goblok luar biasa. Aku yakin kau tahu Bascar tak pernah berhasil mendekati ruang sidang, tak pernah meletakkan tangan pada Injil dan bersumpah untuk menceritakan kebenaran, tak pernah menghadapi pemeriksaan silang, tak pernah muncul ke depan sampai aku ditahan di Greenville dan separo isi dunia melihat foto Pontiac hijau itu. Identifikasi itu dia berikan hanya sesudah wajahku terpampang di semua surat kabar."

"Jadi, dia bohong?"

"Tidak, dia mungkin cuma bodoh. Perhatikanlah, Adam, aku tak pernah dituduh melakukan pengeboman itu. Bascar tak pernah ditempatkan di bawah tekanan. Dia tak pernah memberikan kesaksian di bawah sumpah. Aku yakin ceritanya terungkap ketika seorang wartawan surat kabar Memphis menggali-gali cukup lama di berbagai bar dan tempat pelacuran untuk menemukan orang seperti Bascar."

"Mari kita coba begini. Apakah kau bersama seseorang atau tidak ketika kau mengebom sinagoga Kuil Hirsch pada tanggal 2 Maret 1967?"

Tatapan mata Sam turun beberapa senti di bawah lubang, lalu ke counter, lalu ke lantai. Ia mendorong tubuhnya menjauh sedikit dari partisi dan bersantai di kursinya. Seperti sudah diduga bungkus biru rokok Montclair dikeluarkan dari saku depan. Ia berlama-lama memilih sebatang, lalu mengetukkan-ngetukkan filternya, lalu menyelipkannya sedemikian rupa di antara bibirnya yang basah. Menggoreskan batang kotek api adalah upacara singkat lain, tapi akhirnya selesai dan kabut asap biru membubung ke langit-langit.

Adam mengawasi dan menunggu sampai jelas takkan ada jawaban segera. Penundaan itu sendiri merupakan pengakuan. Ia mengetuk-ngetukkan pena pada buku tulis dengan gelisah. Ia bernapas cepat dan merasakan denyut jantungnya meningkat. Perutnya yang kosong mendadak jadi resah. Mungkinkah ini bisa menjadi pemecahan? Kalau benar ada kaki tangan, mungkin mereka bekerja sebagai satu regu, dan mungkin Sam tidak benar-benar menanam dinamit yang menewaskan keluarga Kramer. Mungkin fakta ini bisa diajukan kepada seorang hakim yang bersimpati entah di mana, mau mendengarkan dan memberikan penundaan eksekusi. Mungkin. Bisakah?

"Tidak," kata Sam pelan tapi tegas, sambil memandang Adam melalui lubang partisi.

"Aku tak mempercayaimu."

"Tak pernah ada pembantu."

"Aku tak percaya padamu, Sam."

Sam mengangkat pundak dengan tak acuh seolah-olah tak peduli. Ia menyilangkan kaki dan menangkupkan jari-jari tangan pada lutut.

Adam menghela napas dalam, menuliskan sesuatu seperti biasa seolah-olah sudah memperkirakan jawaban ini, dan membalik kertas ke halaman baru. "Pukul berapa kau tiba di Cleveland pada malam 20 April 1967?"

"Yang mana?"

"Yang pertama."

"Aku meninggalkan Clanton sekitar pukul enam. Bermobil dua jam menuju Cleveland. Jadi, aku tiba di sana sekitar pukul delapan."

"Ke mana kau pergi?"

"Ke pusat pertokoan."

"Mengapa kau pergi ke sana?"

"Untuk mengambil mobil."

"Pontiac hijau itu?"

"Ya. Tapi mobil itu tak ada di sana. Jadi, aku pergi ke Greenville untuk melihat-lihat sedikit."

"Pernahkah kau ke sana sebelum itu?"

"Ya. Beberapa minggu sebelumnya aku mengamati tempat itu. Aku bahkan masuk ke dalam kantor Yahudi itu untuk melihat dengan jelas."

"Itu agak tolol, bukan? Maksudku, sekretarisnya mengidentifikasikanmu dalam sidang sebagai orang yang datang menanyakan alamat dan ingin memakai kamar kecil."

"Sangat tolol. Tapi aku tidak memperkirakan akan ditangkap. Dia seharusnya tidak melihat wajahku lagi." Ia menggigit filter dan menyedot keras. "Langkah yang sangat buruk. Tentu saja sangat mudah duduk di sini sekarang dan menebak-nebak kembali segala yang mungkin terjadi."

"Berapa lama kau tinggal di Greenville?"

"Sekitar satu jam. Kemudian aku kembali ke Cleveland untuk mengambil mobil. Dogan selalu punya rencana terperinci dengan beberapa pilihan perubahan. Mobil itu diparkir di tempat B, dekat pangkalan truk."

"Di mana kuncinya?"

"Di bawah karpet."

"Apa yang kaulakukan?"

"Membawanya pergi. Ke luar kota, melewati ladang-ladang kapas. Aku menemukan tempat yang sepi dan memarkir mobil itu. Kubuka bagasi untuk memeriksa dinamit."

"Berapa batang?"

"Lima belas, kurasa. Aku memakai antara dua belas sampai dua puluh, tergantung bangunannya. Dua puluh untuk sinagoga itu, sebab tempat itu baru dan modem serta dibangun dengan beton dan batu. Tapi kantor Yahudi itu bangunan kayu yang sudah tua, dan aku tahu lima belas batang akan meruntuhkannya."

"Apa lagi yang ada dalam bagasi?"

"Barang-barang biasa. Satu kardus dinamit, dua tutup peledak, sumbu lima belas menit."

"Itu saja?"

"Ya."

"Kau pasti?"

"Tentu saja aku pasti."

"Bagaimana dengan alat pengatur waktu itu? Detonatornya?"

"Oh, yeah, aku lupa tentang itu. Alat itu ada di dalam kardus lain yang lebih kecil."

"Jelaskanlah."

"Kenapa? Kau sudah membaca transkrip sidang-sidang itu. Pakar FBI sudah bekerja sangat baik dalam merekonstruksi bom kecilku. Kau sudah baca ini, bukan?"

"Berkali-kali."

"Dan kau sudah menyaksikan foto-foto yang mereka pakai dalam sidang. Gambar tentang pecahan dan kepingan pengatur waktu itu. Kau sudah lihat semua ini, bukan?"

"Aku sudah melihatnya. Dari mana Dogan mendapatkan jam itu?"

"Aku tak pernah tanya. Kau bisa membelinya di toko mana pun. Itu cuma beker pegas murahan. Tak ada yang istimewa."

"Apakah ini pekerjaan pertamamu dengan alat pengatur-waktu?"

"Kau sudah tahu. Bom-bom lainnya diledakkan dengan sumbu. Mengapa kau menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan ini?"

"Sebab aku ingin mendengar jawabanmu. Aku sudah membaca segalanya, tapi aku ingin mendengarnya darimu. Mengapa kau ingin menunda bom untuk Kramer?"

"Sebab aku bosan menyalakan sumbu dan berlari seperti orang gila. Aku ingin tenggang yang lebih panjang antara memasang bom dan merasakannya meledak."

"Pukul berapa kau memasangnya?"

"Sekitar pukul empat pagi."

"Pukul berapa bom itu seharusnya meledak?"

"Sekitar pukul lima."

"Apa yang tidak beres?"

"Bom itu tidak meledak pukul lima. Malah meledak beberapa menit sebelum pukul delapan. Saat itu sudah ada orang dalam gedung, dan beberapa di antara mereka tewas. Itulah sebabnya aku duduk di sini dalam pakaian monyet merah ini sambil menduga-duga bagaimana bau gas itu."

"Dogan memberikan kesaksian bahwa pemilihan Marvin Kramer sebagai sasaran adalah kerja sama antara kalian berdua. Kramer sudah dua tahun masuk dalam daftar sasaran Klan; pemakaian alat pengatur waktu itu kausarankan sebagai cara untuk membunuh Kramer, sebab kerja rutinnya bisa diperkirakan; kau bertindak sendirian."

Sam mendengarkan dengan sabar sambil mengepul-ngepulkan rokok. Matanya menyipit menjadi garis tipis dan ia mengangguk ke lantai. Kemudian ia nyaris tersenyum. "Ah, aku khawatir Dogan gila, bukan begitu? FBI bertahun-tahun menguntitnya, dan akhirnya dia menyerah. Dia bukan laki-laki yang kuat, kau tahu." Ia menghela napas dalam dan memandang Adam. "Tapi sebagian omongannya benar. Tidak banyak, tapi sebagian."

"Apa kau berniat membunuhnya?"

"Tidak. Kami tidak membunuh orang. Cuma meledakkan bangunan."

"Bagaimana dengan rumah Pinder di Vicksburg? Apakah itu salah satu perbuatanmu?"

Sam mengangguk perlahan-lahan.

"Bom itu meledak pukul empat pagi, ketika seluruh keluarga Pinder sedang tertidur lelap. Enam orang. Ajaibnya cuma satu orang menderita luka kecil."

"Itu bukan mukjizat. Bom itu diletakkan dalam garasi. Seandainya ingin membunuh orang, aku tentu meletakkannya di samping jendela kamar tidur."

"Separo rumah itu runtuh."

"Yeah, dan aku mestinya bisa memakai beker dan membunuh segerombolan Yahudi saat mereka sedang makan kue bagel."

"Mengapa kau tidak melakukannya?"

"Seperti sudah kukatakan, kami tidak mencoba membunuh orang."

"Apa yang kalian coba lakukan?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 29)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.