Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 27)

 The Chamber: Kamar Gas

"Dan dia akan melakukannya. Ingatlah kata-kataku, Adam. Satu jam sebelum aku mati, dia akan mengadakan jumpa pers entah di mana—barangkali di sini, mungkin di istana gubernur—dan dia akan berdiri di bawah sorotan seratus kamera; menolak memberikan pengampunan. Dan mata bangsat itu akan berkaca-kaca."

“Tak ada ruginya bicara dengannya."

"Baik. Bicaralah dengannya. Dan sesudah kau melakukannya, aku akan melaksanakan alinea dua dan kau akan kembali ke Chicago."

"Dia mungkin menyukaiku. Kita bisa berteman."

"Oh, dia akan menyukaimu. Kau cucu Sam. Sungguh cerita hebat! Makin banyak lagi reporter, kamera, wartawan, wawancara. Dia akan senang berteman denganmu, supaya dia bisa menyeretmu dalam sorotan. Persetan, kau mungkin bisa membuatnya terpilih kembali."

Adam membalik satu halaman lagi, membuat beberapa catatan lagi, dan berdiam beberapa lama, berusaha menyingkir dari urusan tentang Gubernur. "Di mana kau belajar menulis seperti ini?" tanyanya.

"Di tempat yang sama kau mempelajarinya. Aku diajar oleh jiwa-jiwa terpelajar yang juga memberikan kuliah padamu. Hakim-hakim mati. Hakim agung terhormat. Pengacara-pengacara hebat. Profesor-profesor yang membosankan. Aku sudah baca sampah serupa yang kaubaca."

"Tidak jelek," kata Adam, memeriksa satu alinea lain.

"Aku senang kau berpendapat begitu."

"Setahuku kau cukup banyak praktek di sini."

"Praktek? Apa itu praktek? Mengapa pengacara berpraktek? Mengapa mereka tidak bisa bekerja saja seperti orang lain? Apakah tukang pipa berpraktek? Apakah sopir truk berpraktek? Tidak, mereka cuma bekerja. Tapi ahli hukum tidak. Sama sekali tidak. Mereka istimewa, dan mereka berpraktek. Dengan segala praktek itu, kau akan mengira mereka tahu apa yang mereka lakukan. Kaupikir mereka akhirnya akan jadi pandai dalam suatu hal."

"Ada yang kausukai?"

"Itu pertanyaan idiot."

"Mengapa idiot?"

"Sebab kau duduk di sisi lain dinding ini. Kau bisa berjalan keluar dari pintu itu dan pergi menaiki mobilmu. Dan malam ini kau bisa makan malam di restoran bagus dan tidur di ranjang empuk. Kehidupan agak berbeda di sisi sini. Aku diperlakukan seperti binatang. Aku punya sangkar. Aku punya vonis mati yang mengizinkan Negara Bagian Mississippi membunuhku empat minggu lagi, dan memang benar, Nak, sulit sekali mencintai dan mengasihi. Sulit menyukai orang lain hari-hari ini. Itulah sebabnya pertanyaanmu tolol."

"Jadi, dulu kau penyayang dan penuh kasih sebelum tiba di sini?"

Sam menatap melalui lubang dan mengepulkan rokok. "Pertanyaan tolol lagi."

"Kenapa?"

“Tidak relevan, Pengacara. Kau ahli hukum, bukan psikolog."

"Aku cucumu. Karena itulah aku boleh mengajukan pertanyaan tentang masa lalumu."

"Tanyakanlah. Pertanyaan itu boleh tidak dijawab."

"Mengapa tidak?"

"Masa lalu sudah lewat, Nak. Itu sejarah. Kita tak bisa mencabut apa yang sudah terjadi. Juga tak bisa menerangkan semuanya."

"Tapi aku tak punya masa lalu."

"Kalau begitu, kau benar-benar orang yang beruntung."

"Aku tidak yakin."

"Dengar, kalau kau mengharapkan aku mengisi bagian-bagian yang senjang, aku khawatir kau menemui orang yang salah."

"Oke. Siapa lagi yang harus kuajak bicara?"

"Entahlah. Itu tidak penting."

"Mungkin itu penting bagiku."

"Ah, terus terang, aku tidak terlalu memikirkanmu saat ini. Percaya atau tidak, aku jauh lebih mengkhawatirkan diriku. Aku dan masa depanku. Aku dan leherku. Ada jam besar yang berdetak entah di mana, berdetak agak keras, bukan begitu menurutmu? Karena alasan aneh, jangan kautanya aku mengapa, tapi aku bisa mendengar benda terkutuk itu, dan aku benar-benar cemas. Aku merasa sulit mengkhawatirkan masalah orang lain."

"Mengapa kau jadi anggota Klan?"

"Sebab ayahku bergabung dengan Klan."

"Mengapa dia jadi anggota Klan?"

"Sebab ayahnya bergabung dengan Klan."

"Hebat. Tiga generasi."

"Empat, kurasa. Kolonel Jacob Cayhall bertempur bersama Nathan Bedford Forrest, dan menurut legenda keluarga, dia salah satu di antara anggota pertama Klan. Dia kakek buyutku."

"Kau bangga dengan ini?"

"Apakah itu pertanyaan?"

"Ya."

"Itu tak ada hubungannya dengan kebanggaan." Sam mengangguk pada counter. "Apa kau akan menandatangani surat perjanjian itu?"

"Ya."

"Kalau begitu, kerjakanlah."

Adam membubuhkan tanda tangan di bawah halaman belakang dan mengangsurkannya kepada Sam.

"Kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat rahasia. Sebagai pengacaraku, kau tak bisa membocorkan sepatah kata pun."

"Aku mengerti hubungan ini."

Sam membubuhkan tanda tangannya di samping tanda tangan Adam, kemudian mengamati kedua tanda tangan tersebut. "Kapan kau ganti nama menjadi Hall?"

"Sebulan sebelum ulang tahunku yang keempat. Itu urusan keluarga. Kami semua ganti nama pada saat yang sama. Tentu saja aku tidak ingat."

"Mengapa dia masih memakai nama Hall? Mengapa tidak melepasnya sama sekali dan memilih nama Miller, atau Green, atau entah apa?"

"Apakah itu pertanyaan?"

"Bukan."

"Dia melarikan diri, Sam. Dan dia ingin membuang masa lalunya. Kurasa empat generasi sudah cukup baginya."

Sam meletakkan surat perjanjian pada kursi di sampingnya dan secara metodis menyalakan sebatang rokok lagi. Ia mengembuskannya ke langit-langit dan menatap Adam. "Dengar, Adam," katanya perlahan-lahan, suaranya mendadak jauh lebih lembut. "Sementara ini mari kita sisihkan urusan keluarga, oke? Mungkin kita akan membicarakannya nanti. Saat ini aku perlu tahu, apa yang akan terjadi padaku. Apa peluangku, kau tahu? Hal-hal macam itu. Bagaimana kau menghentikan jam? Apa yang selanjutnya akan kauajukan ke pengadilan?"

"Tergantung beberapa hal, Sam. Tergantung seberapa banyak yang kauceritakan tentang pengeboman itu."

"Aku tak mengerti."

"Kalau ada fakta-fakta baru, kita mengajukannya. Selalu ada jalan, percayalah padaku. Kita akan cari hakim yang mau mendengarkan."

"Fakta baru macam apa?"

Adam membalik buku tulisnya ke halaman baru, dan menuliskan tanggal saat itu di garis tepinya, "Siapa yang mengirim Pontiac hijau itu ke Cleveland pada malam hari sebelum pengeboman?"

"Aku tidak tahu. Salah satu suruhan Dogan."

"Kau tak tahu namanya?"

"Tidak."

"Ayolah, Sam."

"Sumpah. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya. Aku tak pernah melihat orang itu. Mobil itu dikirim ke sebuah lapangan parkir. Aku menemukannya. Aku diharapkan meninggalkannya di tempatku menemukannya. Aku tak pernah melihat orang yang mengantarkannya."

"Mengapa dia tak pernah ditemukan dalam sidang-sidang itu?"

"Bagaimana aku tahu? Dia cuma kaki tangan tak berarti, kurasa. Mereka mengincarku. Mengapa repot-repot dengan seorang pesuruh? Entahlah."

"Kramer adalah pengeboman nomor enam, benar?"

"Kurasa begitu." Sam kembali membungkuk ke depan dengan wajah nyaris menyentuh kisi-kisi. Suaranya rendah, kata-katanya dipilih dengan hati-hati, seolah-olah ada orang yang mungkin mendengarkan.

"Kaupikir begitu?"

"Itu sudah lama, oke?" Ia memejamkan mata dan berpikir sejenak. "Yeah, nomor enam."

"Kata FBI, ini yang keenam."

"Kalau begitu, persoalannya beres. Mereka selalu benar."

"Apakah Pontiac hijau itu dipakai juga dalam salah satu atau semua pengeboman sebelumnya?"

"Ya. Seingatku dalam beberapa kejadian. Kami memakai lebih dari satu mobil."

"Semua dipasok Dogan?"

"Ya. Dia dealer mobil."

"Aku tahu. Apakah orang yang sama mengirimkan Pontiac tersebut dalam pengeboman terdahulu?"

"Aku tak pernah melihat atau berjumpa dengan siapa pun yang mengirimkan mobil untuk pengeboman itu. Bukan begitu cara Dogan bekerja. Dia luar biasa hati-hati, dan rencananya terperinci. Aku tak tahu pasti akan hal ini, tapi aku yakin orang yang mengirimkan mobil-mobil itu tidak tahu-menahu siapa aku."

"Apakah mobil itu datang bersama dinamitnya?"

"Ya. Selalu. Dogan punya cukup senapan dan peledak untuk dipakai dalam perang kecil. FBI juga tak pernah menemukan gudang amunisinya."

"Di mana kau belajar tentang peledak?"

"Di kamp latihan KKK dan buku panduan latihan dasar."

"Mungkin bakat turunan, bukan?"

"Bukan."

"Aku serius. Bagaimana kau belajar memakai bahan peledak?"

"Itu sangat sederhana dan mudah. Orang tolol mana pun bisa mempelajarinya dalam tiga puluh menit."

"Kalau begitu, dengan sedikit latihan kau jadi seorang ahli?"

"Latihan membantu. Itu tidak lebih sulit daripada menyalakan perasan. Kaunyalakan korek, korek apa pun jadi, dan kautempelkan pada ujung sumbu yang panjang, sampai sumbu itu menyala. Lalu kau lari mati-matian. Kalau kau beruntung, dinamit itu takkan meledak sampai kira-kira lima belas menit."

"Dan ini kurang-lebih dipelajari oleh semua anggota Klan?"

"Hampir semua yang kukenal bisa menanganinya."

"Apa kau masih kenal dengan anggota Klan lainnya?"

"Tidak. Mereka sudah meninggalkanku."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 28)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.