Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 26)

  The Chamber: Kamar Gas

Sam meletakkan makanannya di ranjang dan mencampurkan sebungkus gula ke dalam kopinya. Kegiatan rutinnya tidak termasuk telur dan daging babi asap. Ia akan menyimpan roti panggang dengan selai itu dan memakannya sepanjang pagi. Ia menghirup kopinya dengan hati-hati, menjatahnya sampai pukul 10.00, saat baginya untuk berolahraga dan menikmati matahari.

Ia meletakkan mesin tik pada lutut dan mulai mengetik.

~ 13 ~

Surat perjanjian versi Sam selesai pukul 09.30. Ia bangga dengannya, salah satu karya terbaiknya pada bulan-bulan terakhir ini. Ia mengunyah sepotong roti bakar sambil memeriksa dokumen itu untuk terakhir kalinya. Ketikannya rapi, tapi ketinggalan zaman—hasil mesin tik kuno. Bahasanya berlebihan dan repetitif, berbunga-bunga dan penuh dengan kata-kata yang tak pernah diucapkan orang awam. Sam nyaris fasih berbahasa hukum dan bisa memperdebatkan pendiriannya sendiri dengan pengacara mana pun.

Pintu di ujung gang terempas membuka, lalu tertutup. Langkah-langkah berat berdetak mantap, dan Packer muncul. "Pengacaramu ada di sini, Sam," katanya sambil melepaskan borgol dari ikat pinggang.

Sam berdiri dan menarik celana pendeknya. "Jam berapa sekarang?"

"Setengah sembilan lewat sedikit. Apa bedanya?"

"Aku seharusnya keluar pukul sepuluh."

"Kau mau keluar atau menemui pengacaramu?"

Sam merenungkan tawaran ini sambil mengenakan pakaian terusan merah dan memasukkan kaki ke dalam sandal. Berpakaian adalah prosedur kilat di penjara ini. "Bisakah aku melakukannya nanti?"

"Kita lihat nanti."

"Aku ingin jatah istirahatku di luar, kau tahu."

"Aku tahu, Sam. Ayo pergi."

"Itu benar-benar penting bagiku."

"Aku tahu, Sam. Itu benar-benar penting bagi semua orang. Kita lihat saja nanti, oke?"

Sam menyisir rambutnya dengan gerakan pelan hati-hati, lalu membasuh tangan dengan air dingin. Packer menanti dengan sabar. Sam ingin mengatakan sesuatu pada J.B. Gullit, sesuatu tentang suasana hatinya pagi ini, tapi Gullit sudah tertidur kembali. Hampir semua di antara mereka tertidur.

Kebanyakan narapidana di penjara itu bangun selama makan pagi dan menonton televisi satu-dua jam, lalu berbaring untuk tidur pagi. Meskipun penelitiannya sama sekali tidak ilmiah, Packer memperkirakan mereka tidur lima belas sampai enam belas jam sehari. Dan mereka bisa tidur di tengah udara panas, keringat, hawa dingin, dan hiruk-pikuk keras suara televisi dan radio.

Kebisingan itu jauh berkurang pagi ini. Kipas angin berdengung dan melolong, tapi tak ada teriakan balas-membalas. Sam mendekati jeruji, memunggungi Packer, dan mengulurkan dua belah tangan melalui lubang sempit di pintu. Packer memasang borgol, dan Sam berjalan ke ranjang serta memungut dokumen tadi. Packer mengangguk pada seorang penjaga di ujung lorong, pintu Sam terbuka secara elektronis, lalu tertutup.

Dalam situasi ini rantai kaki bisa dipasang bisa tidak. Pada tahanan yang lebih muda, yang banyak tingkah dan staminanya lebih baik, Packer mungkin akan memakaikannya. Tapi ini cuma Sam, ia orang tua. Seberapa jauh ia bisa lari? Sejauh mana kerugian yang bisa ia timbulkan dengan kakinya?

Dengan lembut Packer meletakkan tangan pada biseps Sam yang kurus dan membimbingnya menyusuri gang. Mereka berhenti di pintu, sederet jeruji lain, menunggunya terbuka dan menutup, dan meninggalkan Tier A. Seorang penjaga lain mengikuti di belakang ketika mereka tiba di pintu baja yang dibuka Packer dengan anak kunci dari saku. Mereka berjalan melewatinya, dan di sana Adam duduk sendiri, di balik kisi-kisi hijau.

Packer melepaskan borgol dan meninggalkan ruangan.

***

Pertama kali Adam membacanya perlahan-lahan. Ketika membaca untuk kedua kalinya, ia menulis beberapa catatan dan merasa geli oleh sebagian bahasanya. Ia pernah melihat karya yang lebih buruk dari pengacara-pengacara terlatih. Dan pernah melihat banyak karya yang lebih baik. Sam menderita penyakit yang juga menimpa kebanyakan mahasiswa hukum tahun pertama. Ia memakai enam kata saat satu kata sudah memadai. Bahasa Latin-nya payah. Seluruh alinea itu tak berguna. Namun secara keseluruhan bukan karya yang jelek untuk orang awam.

Surat perjanjian dua halaman itu sekarang jadi empat, diketik rapi dengan garis tepi sempurna; hanya ada dua koreksi dan satu kata yang salah eja.

"Kau mengerjakannya cukup baik," kata Adam sambil meletakkan dokumen itu pada counter. Sam mengepulkan rokok dan menatapnya melalui lubang. "Pada dasarnya perjanjian ini sama dengan yang kuberikan padamu kemarin."

"Pada dasarnya sangat jauh berbeda," kata Sam, mengoreksinya.

Adam melirik catatannya, lalu berkata, "Kau tampaknya mengkhawatirkan lima hal. Gubernur, buku, film, pemutusan perjanjian, dan siapa yang harus menyaksikan eksekusi."

"Aku mengkhawatirkan banyak hal. Yang itu tadi kebetulan tak bisa ditawar."

"Kemarin aku sudah berjanji takkan berurusan dengan buku dan film."

"Bagus. Sesuai dengan ini."

"Kalimat tentang pemberhentian ini boleh juga. Kau ingin hak untuk memutuskan perwakilanku, juga Kravitz & Bane, kapan saja dan karena alasan apa saja, tanpa perselisihan."

"Dulu aku butuh waktu lama untuk memecat bangsat-bangsat Yahudi itu. Aku tak mau mengalaminya lagi."

"Itu masuk akal."

"Aku tak peduli apakah kaupikir syarat ini masuk akal, oke? Itu tercantum dalam perjanjian, dan tak bisa ditawar."

"Cukup adil. Dan kau tak mau berurusan dengan orang lain selain aku."

"Benar. Tak seorang pun di Kravitz & Bane boleh menyentuh berkasku. Tempat itu penuh sesak orang Yahudi, dan mereka tak boleh terlibat, oke? Juga untuk negro dan perempuan."

"Dengar, Sam, bisakah kita tinggalkan dulu cercaan itu? Bagaimana kalau kita sebut mereka orang kulit hitam?"

"Uups. Maaf. Bagaimana kalau kita melakukan yang benar dan menyebut mereka Afro-Amerika, Yahudi-Amerika dan Perempuan-Amerika? Kau dan aku akan jadi Irlandia-Amerika, juga Laki-laki-Kulit Putih-Amerika. Bila kau butuh bantuan dari biro hukummu, cobalah memintanya dari orang Jerman-Amerika atau Itali-Amerika. Karena kau di Chicago, mungkin memakai beberapa Polandia-Amerika. Wah, itu menyenangkan, bukan? Kita akan benar-benar sopan dan benar secara politis dan multikultural, bukan?"

"Terserahlah."

"Aku sudah merasa lebih baik."

Adam membuat tanda centang di samping catatannya. "Aku setuju dengan ini."

"Sudah tentu kau akan setuju, kalau kau menginginkan ada perjanjian. Sisihkan saja orang-orang minoritas dari hidupku."

"Kau mengasumsikan mereka ingin sekali melibatkan diri."

"Aku tidak mengasumsikan apa-apa. Aku punya waktu empat minggu untuk hidup, dan aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan orang-orang yang kupercayai."

Adam membaca kembali satu alinea di halaman tiga konsep Sam. Syarat di situ memberi Sam wewenang penuh untuk memilih dua saksi pada eksekusinya. "Aku tak mengerti klausul tentang saksi ini," kata Adam.

"Itu sangat sederhana. Kalau aku sampai ke titik itu, akan ada sekitar lima belas saksi. Karena aku tamu kehormatan, aku harus memilih dua. Menurut undang-undang, kalau kau punya kesempatan membacanya, harus ada beberapa orang yang hadir. Sang Kepala Penjara, dia orang Lebanon-Amerika, berwenang memilih sisanya. Mereka biasanya mengundi untuk memilih alap-alap pers mana yang diizinkan menyaksikannya."

"Kalau begitu, mengapa kau ingin klausul ini?"

"Sebab si pengacara selalu jadi salah satu dari dua orang yang dipilih terhukum. Yaitu aku."

"Dan kau tak ingin aku menyaksikan eksekusi?"

"Benar."

"Kau mengasumsikan aku ingin menyaksikannya?"

"Aku tak mengasumsikan apa pun. Itu cuma fakta. Para pengacara biasanya tak sabar lagi ingin menyaksikan klien mereka yang malang digas begitu hal itu tak terelakkan lagi. Kemudian mereka tak sabar ingin muncul di depan kamera dan menangis, lalu bertele-tele mencerca ketidakadilan."

"Dan kaupikir aku akan melakukan hal itu?"

“Tidak. Kupikir kau takkan melakukannya."

"Kalau begitu, mengapa ada klausul ini?" Sam mencondongkan tubuh ke depan dan menopangkan siku pada counter. Hidungnya dua setengah send dari kisi-kisi.

"Sebab kau takkan menyaksikan eksekusi, oke?"

"Janji," kata Adam tak acuh, dan membalik ke halaman berikutnya. "Kita takkan sampai sejauh itu, Sam."

"Wah, wah. Itulah yang ingin kudengar."

“Tentu saja kita mungkin butuh Gubernur."

Sam mendengus muak dan duduk santai di kursinya, menyilangkan kaki kanan di atas lutut kiri dan memandang tajam pada Adam. "Perjanjian ini sangat jelas."

Memang demikian. Hampir sehalaman penuh dicurahkan untuk melontarkan serangan berbisa kepada David McAllister. Sam lupa pada hukum dan memakai kata-kata seperti keji, egois, dan narsistik, dan lebih dari satu kali menyebutkan keinginan tak terpuaskan untuk mendapatkan publisitas.

"Jadi, kau punya masalah dengan Gubernur," kata Adam. Sam mendengus. "Kupikir ini bukan gagasan yang bagus, Sam."

"Aku sama sekali tak peduli apa pendapatmu."

"Gubernur bisa menyelamatkan nyawamu."

"Oh, benar. Dialah alasan satu-satunya aku ada di sini, di penjara untuk terpidana mati, menunggu ajal, dalam kamar gas. Mengapa dia ingin menyelamatkan nyawaku?"

"Aku tidak mengatakan dia ingin. Aku mengatakan dia bisa. Mari, biarkan pilihan kita tetap terbuka."

Lama Sam tersenyum dibuat-buat, sambil menyalakan sebatang rokok. Ia berkedip dan memutar mata seolah-olah bocah ini orang paling tolol yang pernah dijumpainya dalam beberapa dasawarsa. Kemudian ia membungkuk ke depan, bertelekan siku kiri, dan menuding Adam dengan satu jari kanan yang bengkok.

"Kalau kaupikir David McAllister akan memberiku pengampunan pada saat terakhir, kau tolol. Akan kuberitahukan apa yang akan dilakukannya. Dia akan memakaimu, dan aku, untuk menyedot segala publisitas yang ada. Dia akan mengundangmu ke kantornya di gedung gubernuran, dan sebelum kau sampai ke sana, dia akan memberi kisikan kepada media. Dia akan mendengarkan dengan lagak tulus luar biasa. Dia akan menyatakan keprihatinan untuk mempertimbangkan apakah aku harus mati.

"Dia akan menjadwalkan pertemuan lain, lebih dekat ke saat eksekusi. Sesudah kau pergi, dia akan mengadakan beberapa wawancara dan mengungkapkan semua yang baru saja kauceritakan padanya. Dia akan menguraikan kembali pengeboman Kramer. Dia akan bicara tentang hak-hak sipil dan semua omong kosong negro radikal itu. Bahkan mungkin dia akan menangis. Makin dekat aku ke kamar gas, akan makin besar sirkus media massa itu. Dia akan mencoba setiap cara di dunia untuk masuk ke tengahnya. Dia akan berunding denganmu tiap hari, kalau kita mengizinkannya. Dia akan membawa kita di bawah sorotan."

"Dia tak dapat melakukan ini tanpa kita."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 27)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.