Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 25)

The Chamber: Kamar Gas

Masyarakat takkan celaka atau bahkan takkan memperhatikan seandainya orang-orang ini dibebaskan dari penjara. Sam termasuk kelompok kedua. Ia bisa saja dikembalikan ke rumahnya, dan tak lama lagi ia akan mati kesepian. Tidak, Packer tak ingin Sam Cayhall dieksekusi.

Ia berjalan menyeret kakinya kembali menyusuri Tier A, menghirup kopi, dan memandang sel-sel gelap itu. Bagian penjara itu yang paling dekat dengan ruang isolasi, yang terletak di sebelah kamar gas. Sam ada di sel nomor enam Tier A, secara harfiah kurang 27 meter dari kamar gas. Ia mengajukan permohonan pindah setahun sebelumnya karena perselisihan konyol dengan Cecil Duff, waktu itu tetangga sebelahnya.

Sam sekarang sedang duduk dalam kegelapan di tepi ranjang. Packer berhenti, berjalan ke jeruji. "Pagi, Sam," katanya lembut.

"Pagi," balas Sam, mengernyit pada Packer. Sam kemudian berdiri di tengah ruangannya dan menghadap ke pintu. Ia memakai T-shirt putih kumal dan celana pendek baggy, pakaian yang biasa dipakai para narapidana di The Row, sebab tempat itu begitu panas. Peraturan di situ mengharuskan pakaian terusan merah dipakai di luar sel, tapi di dalam mereka memakai sesedikit mungkin pakaian.

"Hari ini akan panas," kata Packer, salam pagi yang biasa.

“Tunggu sampai Agustus," kata Sam, jawaban baku untuk salam pagi tersebut.

"Kau baik-baik saja?" tanya Packer.

"Tak pernah sebaik ini."

"Pengacaramu mengatakan akan kembali hari ini."

"Yeah. Itulah yang dia katakan. Kurasa aku butuh banyak pengacara, bukan, Packer?"

"Kelihatannya begitu." Packer menghirup seteguk kopi dan memandang ke ujung penjara itu. Jendela-jendela di belakangnya menghadap ke selatan, dan secercah sinar menerobos masuk. "Sampai jumpa nanti, Sam," katanya dan beranjak pergi. Ia memeriksa sel-sel lain dan menemukan semua anaknya. Pintu berdetik di belakangnya ketika ia meninggalkan Tier A dan kembali ke depan.

***

Satu-satunya lampu dalam sel itu terletak di atas wastafel stainless steel—terbuat dari stainless steel sehingga tak bisa dipecah-pecah dan dipakai sebagai senjata atau alat bunuh diri. Di bawah wastafel itu ada toilet stainless steel. Sam menyalakan lampu dan menggosok gigi. Saat itu hampir pukul 05.30. Tidur merupakan sesuatu yang sulit.

la menyalakan sebatang rokok dan duduk di tepi ranjang, mengamati kaki dan menatap lantai beton bercat yang menahan panas di musim panas dan dingin di musim dingin. Sepatu satu-satunya, sepasang sepatu mandi dari karet yang dibencinya, terletak di bawah ranjang. Ia punya sepasang kaus kaki wol yang dipakainya untuk tidur pada musim dingin. Asetnya yang lain terdiri atas televisi hitam-putih, sebuah radio, mesin tik, enam T-shirt berlubang-lubang, lima pasang celana pendek putih polos, sebuah sikat gigi, sisir, gunting kuku, kipas angin putar, dan sebuah kalender dua belas bulan.

Asetnya yang paling berharga adalah koleksi buku hukum yang ia kumpulkan dan hafalkan selama bertahun-tahun. Buku-buku itu pun ditata rapi di atas rak kayu murahan di seberang dipannya. Dalam sebuah kardus di lantai antara rak dan pintu ada bertumpuk-tumpuk berkas, sejarah kronologis kasus State of Mississippi vs. Sam Cayhall. Berkas itu pun sudah disimpan dalam ingatan.

Neracanya kurus dan pendek, dan di luar surat perintah hukuman mati tak ada utang lain. Pada mulanya kemiskinan itu mengganggunya, namun keprihatinan itu sudah disisihkannya bertahun-tahun yang lalu. Menurut legenda keluarga, kakek buyutnya orang kaya raya dengan tanah luas dan budak, tapi tak ada keluarga Cayhall modern yang semakmur itu.

Ia pernah mengenal para terpidana mati yang bersusah payah meributkan surat wasiat mereka, seolah-olah ahli waris mereka akan bertikai memperebutkan televisi tua dan majalah kotor mereka. Ia mempertimbangkan membuat surat wasiat sendiri dan mewariskan kaus kaki wol serta celana dalam kotornya kepada Negara Bagian Mississippi, atau mungkin NAACP.

Di sebelah kanannya adalah J.B. Gullit, bocah kulit putih buta huruf yang pernah memerkosa dan membunuh seorang ratu kecantikan. Tiga tahun sebelumnya, Gullit sudah hampir dieksekusi sampai Sam campur tangan dengan sebuah mosi yang bagus. Sam menunjuk beberapa persoalan yang tak terpecahkan, dan menerangkan kepada Fifth Circuit bahwa Gullit tak punya pengacara. Penundaan langsung diberikan, dan Gullit jadi sahabatnya seumur hidup.

Di sebelah kirinya adalah Hank Henkshaw, pimpinan bereputasi dari sekelompok penjahat yang sudah lama terlupakan, bernama Redneck Mafia. Suatu malam Hank dan gengnya yang campur aduk membajak sebuah truk trailer delapan belas roda, hanya merencanakan merampok muatannya. Sopirnya mengeluarkan senjata dan terbunuh dalam tembak-menembak yang terjadi. Keluarga Hank menyewa pengacara-pengacara pandai, jadi ia diperkirakan tidak akan mati selama bertahun-tahun.

Tiga tetangga itu menyebut bagian kecil MSU itu sebagai Rhodesia.

Sam menjentikkan rokok ke dalam toilet dan berbaring di ranjang. Sehari sebelum pengeboman Kramer ia mampir ke rumah Eddie di Clanton. Ia tak ingat untuk apa, kecuali mengirimkan bayam segar dari kebunnya, dan ia bermain dengan Alan kecil, sekarang Adam, selama beberapa menit di halaman depan.

Saat itu bulan April, udaranya hangat, ia ingat, dan cucunya bertelanjang kaki. Ia ingat kaki kecil yang gemuk dengan Band-Aid membalut satu jari. Ia tergores batu, Alan menjelaskan dengan sangat bangga. Bocah itu sangat suka Band-Aid, selalu ada yang tertempel pada jari atau lutut. Evelyn memegang bayam itu dan menggelengkan kepala ketika Alan memperlihatkan sekotak penuh segala macam bahan perekat kepada kakeknya.

Itulah terakhir kali ia melihat Alan. Pengeboman itu terjadi keesokan harinya, dan Sam menghabiskan sepuluh bulan berikutnya di penjara. Saat sidang kedua selesai dan ia dibebaskan, Eddie dan keluarganya sudah pergi. Ia terlalu angkuh untuk mengejar mereka. Ada desas-desus dan gosip tentang tempat mereka tinggal. Lee mengatakan mereka ada di California, tapi ia tak bisa menemukan mereka. Bertahun-tahun kemudian ia bicara dengan Eddie dan mengetahui tentang anak kedua, seorang gadis bernama Carmen.

Terdengar suara-suara di ujung penjara itu. Kemudian suara toilet diguyur, kemudian radio. Penjara itu mulai terbangun. Sam menyisir rambutnya yang berminyak, menyalakan sebatang Montclair lagi, dan mengamati kalender pada dinding. Hari ini tanggal 12 Juli. Ia punya waktu 27 hari.

Ia duduk di tepi ranjang dan kembali mengamati kakinya. J.B. Gullit menyalakan televisi untuk mendengarkan siaran berita, dan sementara mengepulkan asap rokok dan menggaruk pergelangan kaki ia mendengarkan siaran stasiun NBC di Jackson.

Sesudah rentetan berita tentang penembakan, perampokan, dan pembunuhan lokal, pembawa berita menyampaikan kabar hangat bahwa eksekusi akan terjadi di Parchman. Dengan penuh semangat ia melaporkan bahwa Fifth Circuit telah mencabut penundaan untuk Sam Cayhall, narapidana Parchman paling tersohor, dan pelaksanaannya ditetapkan pada tanggal 8 Agustus. Pihak berwenang yakin dalih pembelaan Cayhall sudah habis, kata suara itu, dan eksekusi bisa terjadi.

Sam menyalakan televisinya. Seperti biasa, suaranya mendahului gambarnya sekitar sepuluh detik, dan ia mendengarkan sang Jaksa Agung sendiri meramalkan keadilan bagi Mr. Cayhall, sesudah bertahun-tahun ini. Seraut wajah berbintik-bintik muncul di layar, dengan kata-kata menyembur keluar, kemudian muncul Roxburgh tersenyum dan mengernyit bersamaan, berpikir serius sementara ia menguraikan dengan gembira untuk kamera, tentang skenario menyeret Mr. Cayhall ke kamar gas.

Kembali ke pembawa berita, seorang pemuda lokal dengan kumis halus kekuning-kuningan meringkas kisah itu dengan menguraikan kejahatan Sam yang mengerikan, sementara di atas pundaknya, di latar belakang, ditayangkan ilustrasi kasar seorang anggota Klan dengan topeng dan kerudung runcing. Sebuah senapan, salib yang berkobar-kobar, dan huruf KKK menutup uraian itu.

Pembawa berita itu mengulangi tanggalnya, 8 Agustus, seolah-olah pemirsa harus melingkari kalender mereka dan menyusun rencana untuk libur bekerja. Kemudian mereka beralih ke prakiraan cuaca. Ia mematikan televisi dan berjalan ke jeruji.

"Apakah kau mendengarnya, Sam?" Gullit berseru dari sebelah.

"Ya."

"Ini pasti akan jadi gila, Man."

"Ya."

"Lihat sisi terangnya, Man."

"Apa?"

"Kau hanya akan mengalaminya selama empat minggu." Gullit terkekeh ketika mengucapkan lelucon itu, tapi ia tidak lama tertawa.

Sam mencabut beberapa helai kertas dan duduk di tepi ranjang. Tak ada kursi di sel itu. Ia membaca surat perjanjian Adam untuk mewakilinya, sebuah dokumen dua halaman dengan tulisan sepanjang satu setengah halaman. Pada garis tepinya, Sam telah menuliskan catatan-catatan yang rapi dan tepat dengan pensil, dan ia telah menambahkan beberapa alinea di balik lembaran-lembaran itu. Satu gagasan lain terlintas dalam pikiran, dan ia menemukan tempat untuk menambahkannya. Dengan rokok di jari tangan kanan, ia memegang dokumen itu dengan tangan kiri dan membacanya lagi. Dan lagi.

Akhirnya Sam mengulurkan tangan ke rak dan dengan hati-hati menurunkan mesin tik Royal portabel kuno miliknya. Ia menyeimbangkannya dengan sempurna di atas lutut, menyelipkan sehelai kertas, dan mulai mengetik.

Pukul 06.10, pintu-pintu di ujung utara Tier A berdetak dan terbuka, dan dua penjaga masuk ke gang. Yang satu mendorong kereta dorong dengan empat belas nampan tertumpuk rapi di raknya. Mereka berhenti di sel nomor satu dan menyorongkan nampan logam itu melalui lubang sempit di pintu. Penghuni nomor satu adalah laki-laki Kuba kurus yang sedang menunggu pada jeruji, dengan celana kolor melorot tanpa kemeja. Ia meraih nampan itu bak pengungsi kelaparan, dan tanpa sepatah kata pun membawanya ke tepi ranjang.

Menu pagi ini dua telur goreng, empat potong roti putih panggang, seiris gemuk daging babi asap, dua wadah berisi selai anggur, sebotol kecil air jeruk siap minum, dan satu cangkir sfyrofoam berisi kopi. Makanan itu hangat dan mengenyangkan, serta telah disetujui pengadilan-pengadilan federal.

Mereka pindah ke sel berikutnya; sang narapidana sedang menunggu. Mereka selalu menunggu, selalu berdiri di samping pintu, bagaikan anjing kelaparan.

"Kau terlambat sebelas menit," kata narapidana itu pelan sambil mengambil nampan.

Dua penjaga itu tidak memandangnya. "Tuntut kami," yang satu berkata.

"Aku punya hak."

"Hakmu itu gombal."

"Jangan bicara seperti itu padaku. Aku akan menuntutmu. Itu menghina."

Penjaga-penjaga itu pindah ke sebelah tanpa memberikan tanggapan lebih jauh. Cuma sebagian dari ritual harian.

Sam tidak menunggu di pintu. Ia sibuk bekerja dalam kantor hukumnya ketika makan pagi tiba.

"Kurasa kau sedang mengetik," kata seorang penjaga ketika mereka berhenti di depan sel nomor enam.

Sam perlahan-lahan meletakkan mesin tik di ranjang. "Surat cinta," katanya sambil berdiri.

"Ah, apa pun yang kauketik, Sam, sebaiknya kau bergegas. Koki sudah bicara tentang makanan terakhirmu."

"Katakan padanya aku ingin pizza microwave. Dia mungkin akan membuatkannya. Atau aku mungkin akan makan hot dog dan kacang saja." Sam mengambil nampannya melalui lubang itu.

"Sekarang giliranmu, Sam. Orang terakhir ingin steak dan udang. Bisakah kaubayangkan? Steak dan udang di tempat ini."

"Apakah dia mendapatkannya?"

“Tidak. Dia kehilangan selera, dan sebagai gantinya mereka membuatnya kenyang dengan Va-Inm."

"Bukan cara yang jelek untuk mati."

"Diam!" J.B. Gullit berseru dari sel sebelah.

Penjaga-penjaga itu menggeser kereta dorong beberapa meter dan berhenti di depan J.B, yang sedang mencengkeram jeruji dengan dua belah tangan. Mereka menjaga jarak.

"Wah, wah, apakah kita tidak cekatan pagi ini?" salah satu berkata.

"Mengapa kalian bangsat-bangsat ini tidak menyajikan saja makanan tanpa bicara? Maksudku, apa kalian pikir kami ingin bangun tiap pagi dan memulai hari itu dengan mendengarkan komentar lucu kalian? Berikan saja makanan itu padaku."

"Wah, J.B. Kami sangat menyesal. Kami cuma menyangka kalian kesepian."

"Sangkaanmu keliru." J.B. mengambil nampan dan berbalik.

"Mengharukan, mengharukan," kata seorang penjaga ketika mereka pindah ke korban lain.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 26)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.