Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 24)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam memencet remote control dan video itu bergerak. Gambar-gambar sidang pengadilan ketiga dan terakhir yang jelas dan modern bergerak cepat. Muncullah Sam, mendadak tiga belas tahun lebih tua, dengan pengacara baru, melewati pintu samping Pengadilan Lakehead County. "Apakah kau pergi ke sidang ketiga?"

"Tidak. Dia menyuruhku menyingkir."

Adam menghentikan video itu. "Kapan Sam menyadari mereka memburunya lagi?"

"Sulit dikatakan. Suatu hari ada artikel kecil di koran Memphis tentang jaksa distrik baru di Greenville yang ingin membuka kembali kasus Kramer. Itu bukan berita besar, cuma beberapa alinea di tengah koran itu. Aku ingat membacanya dengan perasaan ngeri. Sepuluh kali aku membaca dan menatapnya selama satu jam. Setelah tahun-tahun ini, nama Sam Cayhall sekali lagi muncul di koran. Aku tak bisa mempercayainya. Aku meneleponnya dan, tentu saja, dia pun sudah membacanya. Dia memintaku agar jangan khawatir.

"Sekitar dua minggu kemudian ada berita lain, kali ini sedikit lebih besar, dengan wajah David McAllister di tengahnya. Kutelepon Daddy. Dia mengatakan segalanya beres. Begitulah urusan ini mulai. Agak sepi, kemudian mendidih. Keluarga Kramer mendukung gagasan tersebut, lalu NAACP ikut terlibat. Suatu hari jelaslah McAllister bertekad memaksakan sidang baru, dan hal itu takkan berlalu begitu saja. Sam muak dengannya dan ketakutan, tapi mencoba berlagak berani. Dia sudah dua kali menang katanya, dan bisa menang lagi."

"Apa kau menelepon Eddie?"

"Yeah. Begitu sudah jelas akan ada dakwaan baru, aku meneleponnya dan mengabarkan berita ini. Dia tidak berkomentar banyak, sama sekali tidak berbicara banyak. Percakapan itu berlangsung singkat, dan aku berjanji akan terus mengabarinya. Kurasa dia tidak begitu senang menerima berita ini. Tak lama kemudian hal ini jadi berita nasional, dan aku yakin Eddie mengikutinya di media."

Mereka menyaksikan potongan-potongan terakhir sidang ketiga tanpa bicara. Wajah McAllister bersungging senyum ada di mana-mana, dan lebih dari sekali Adam menyesali kenapa tidak menyunting lebih banyak. Sam digiring terakhir kalinya dengan borgol, kemudian layar kosong.

"Apakah ada orang lain yang sudah melihat ini?" tanya Lee.

"Tidak. Kau yang pertama."

"Bagaimana kau mengumpulkan semua ini?"

"Ini butuh waktu, sedikit uang, banyak usaha."

"Ini luar biasa."

"Ketika aku masih junior di SMA, kami punya guru ilmu politik yang dungu. Dia menyuruh kami membawa surat kabar dan majalah serta memperdebatkan pokok persoalan saat itu. Seseorang membawa berita dari halaman depan L.A. Times tentang sidang pengadilan Sam Cayhall yang akan datang di Mississippi. Kami membahasnya cukup bagus, kemudian kami memperhatikan dengan cermat saat sidang itu berlangsung. Semua orang, termasuk aku, cukup senang ketika dia dinyatakan bersalah. Tapi terjadi perdebatan besar mengenai hukuman mati. Beberapa minggu kemudian, ayahku meninggal dan kau akhirnya menceritakan yang sebenarnya padaku. Aku ngeri teman-temanku akan tahu."

"Apakah mereka tahu?"

"Tentu saja tidak. Aku seorang Cayhall, empu dalam menyimpan rahasia."

"Rahasia itu takkan bisa bertahan lebih lama lagi."

"Tidak."

Mereka lama berdiam diri sambil menatap layar televisi yang kosong. Adam akhirnya menekan tombol power dan televisi itu mati. Dilemparkannya remote control ke atas meja. "Aku minta maaf, Lee, kalau ini akan mempermalukanmu. Aku sungguh-sungguh. Kalau saja ada cara untuk menghindarinya."

"Kau tak mengerti."

"Aku tahu. Dan kau tak bisa menjelaskannya, benar? Apakah kau takut pada Phelps dan keluarganya?"

"Aku muak pada Phelps dan keluarganya."

"Tapi kau menikmati uang mereka."

"Aku layak mendapatkan uang mereka, oke? Selama 27 tahun aku bertahan dengannya."

"Apakah kau takut klub-klubmu itu mengucilkanmu? Mereka akan menendangmu keluar dari country club."

"Hentikan itu, Adam."

"Maaf," kata Adam. "Hari ini berat. Aku seperti keluar dari lemari, Lee. Aku menghadapi masa laluku, dan kurasa aku mengharapkan semua orang bersikap seberani itu. Maaf."

"Bagaimana tampangnya sekarang?"

"Sangat tua. Banyak keriput dan pucat. Dia terlalu tua untuk dikurung dalam sangkar."

"Aku ingat bicara padanya beberapa hari sebelum sidang terakhirnya. Kutanyakan padanya mengapa dia tidak kabur saja, menghilang dalam kegelapan malam, dan bersembunyi di suatu tempat seperti Amerika Selatan. Dan kau tahu apa katanya?"

"Apa?"

"Dia bilang pernah memikirkan hal itu. Sudah bertahun-tahun sejak Ibu meninggal. Dia pernah membaca buku tentang Mengele Eichmann, dan penjahat perang Nazi lainnya yang menghilang di Amerika Selatan. Dia bahkan menyebut Sao Paulo. Katanya kota itu berpenduduk 20 juta orang dan penuh dengan segala macam pengungsi. Dia punya seorang teman, juga anggota Klan kurasa, yang bisa membereskan dokumen-dokumen dan membantunya bersembunyi. Dia banyak memikirkannya."

"Seandainya saja dia pergi.. Mungkin ayahku masih tetap bersama kita."

"Dua hari sebelum dia pergi ke Parchman, aku menjenguknya di penjara Greenville. Itu kunjungan terakhir. Aku menanyainya mengapa dia tidak melarikan diri. Dia mengatakan tak pernah mimpi akan mendapatkan hukuman mati. Tak bisa kupercaya bahwa selama bertahun-tahun dia bebas dan seharusnya bisa dengan mudah melarikan diri. Katanya sungguh kekeliruan besar bahwa dia tidak melarikan diri. Suatu kesalahan yang harus dibayar dengan nyawanya."

Adam meletakkan mangkuk popcorn di meja dan perlahan-lahan bersandar ke arah Lee. Kepalanya disandarkan pada pundak Lee. Lee meraih tangannya. "Aku menyesal kau terlibat di tengah semua ini," bisiknya.

"Dia tampak begitu mengibakan duduk di sana, dalam seragam merah penjara itu."

~ 12 ~

Clyde Packer menuang kopi kental banyak-banyak ke dalam cangkir bertuliskan namanya, dan mulai menggarap pekerjaan administrasi pagi ini. la sudah 21 tahun bekerja di The Row, tujuh tahun terakhir sebagai shift commander. Selama delapan jam tiap pagi ia bertugas sebagai salah satu dari empat tier sergeant, bertanggung jawab atas empat belas narapidana, dua penjaga, dan dua trustee.

Ia menyelesaikan formulir-formulirnya dan memeriksa sebuah clipboard. Di situ ada catatan untuk menelepon Kepala Penjara. Satu catatan lain menyebutkan F.M. Dempsey kehabisan pil untuk penyakit jantungnya dan ingin menemui dokter. Mereka semua ingin menemui dokter. Ia menghirup kopi yang mengepul-ngepul seraya meninggalkan kantor untuk melakukan inspeksi pagi. Ia memeriksa seragam dua penjaga di pintu depan dan menyuruh yang muda berkulit putih cukur.

MSU tidak terlalu buruk untuk tempat bekerja. Secara umum para terpidana mati itu tenang dan berperilaku baik. Mereka menghabiskan 23 jam sehari sendiri dalam sel, terpisah satu sama lain dan dengan demikian tak bisa menimbulkan masalah. Mereka menghabiskan enam belas jam sehari untuk tidur. Mereka diberi makan di sel mereka.

Mereka diizinkan menikmati rekreasi di luar selama satu jam sehari—hour out, demikian mereka menyebutnya, dan mereka bisa menikmati kesempatan ini seorang diri kalau mau. Setiap orang punya satu televisi atau radio, atau keduanya, dan sesudah makan pagi, empat bangunan itu jadi hidup dengan musik, siaran berita, opera sabun, dan percakapan pelan melalui jeruji.

Para narapidana itu tak dapat melihat tetangga sebelah mereka, namun mereka bercakap-cakap tanpa banyak kesulitan. Perselisihan sekali-sekali meledak mengatasi bunyi musik, tapi percekcokan kecil ini dengan cepat diselesaikan penjaga. Para narapidana itu punya hak tertentu, dan mereka punya hak istimewa tertentu. Penyitaan televisi atau radio merupakan sesuatu yang sangat berat.

The Row melahirkan persahabatan yang aneh di antara orang-orang hukuman di sana. Separo kulit putih, separo kulit hitam, dan semuanya dipidana karena melakukan pembunuhan brutal. Namun tak banyak keprihatinan atas perbuatan dan catatan kriminal mereka di waktu lampau, dan umumnya tak ada perhatian terhadap warna kulit.

Dalam populasi umum penjara di luar sana, ada segala macam geng yang dengan efektif menggolong-golongkan para narapidana, biasanya berdasarkan ras. Akan tetapi di The Row, orang dinilai berdasarkan caranya menangani pengucilan itu. Entah mereka saling menyukai atau tidak, semuanya terkurung bersama di sudut dunia mereka yang kecil, semuanya menunggu ajal. Itu adalah asrama kecil compang-camping berisi orang-orang yang tak dapat menyesuaikan diri, pengangguran, bajingan, dan pembunuh berdarah dingin.

Dan kematian satu orang bisa berarti kematian semuanya. Kabar vonis mati baru untuk Sam dibisikkan di antara sel dan jeruji. Ketika vonis itu masuk dalam siaran berita siang kemarin, The Row secara mencolok jadi lebih sunyi. Setiap narapidana sekonyong-konyong ingin bicara dengan pengacaranya. Timbul minat baru terhadap segala urusan hukum, dan Packer melihat beberapa di antara mereka mempelajari berkas-berkas pengadilan mereka dengan televisi dimatikan dan radio dikecilkan.

Ia melewati pintu berat, meneguk minuman lama-lama, dan berjalan perlahan-lahan tanpa menimbulkan kebisingan di sepanjang Tier A. Empat belas sel yang serupa, lebar dua meter dan panjang tiga meter, menghadap ke lorong. Bagian depan setiap sel berupa dinding jeruji besi, maka seorang narapidana tak pernah bisa menikmati privasi penuh. Apa pun yang dikerjakannya—tidur, memakai toilet—selalu bisa diamati penjaga.

Mereka semua ada di ranjang ketika Packer memperlambat langkah di depan masing-masing ruangan kecil itu dan mencari-cari kepala di bawah seprai. Lampu-lampu sel dipadamkan dan penjara itu gelap. The Hall Man, seorang narapidana dengan hak khusus, akan membangunkan atau mengguncang-guncang mereka pada pukul 05.00. Makan pagi disajikan pukul 06.00—telur, roti bakar, selai, kadang-kadang babi asap, kopi, dan sari buah.

Dalam beberapa menit The Row akan terbangun ketika 47 orang mengebaskan kantuk mereka dan meneruskan proses menjemput ajal yang tak bisa dihentikan. Peristiwa itu terjadi perlahan-lahan, sekali setiap hari, sementara matahari kembali terbit dan menyelimuti neraka kecil mereka dengan panas. Dan itu terjadi cepat, seperti hari sebelumnya, ketika pengadilan di suatu tempat menolak dalih pembelaan, mosi, atau banding dan mengatakan eksekusi harus segera dilaksanakan.

Packer meneguk kopi dan menghitung kepala, lalu menyeret kaki diam-diam melewati ritual paginya. Umumnya, MSU berjalan mulus bila kegiatan rutin tidak dilanggar dan jadwal diikuti. Ada banyak peraturan dalam buku pegangan, tapi peraturan-peraturan tersebut adil dan mudah diikuti. Setiap orang mengetahuinya. Namun eksekusi punya buku pegangan sendiri, dengan kebijaksanaan berbeda dan garis besar panduan berfluktuasi yang biasanya mengacaukan ketenangan The Row.

Packer sangat menghormati Phillip Naifeh, tapi terkutuklah kalau ia tidak menuliskan kembali buku tersebut sebelum dan sesudah setiap eksekusi. Ada tekanan besar untuk melakukannya dengan benar, secara konstitusional dan berperikemanusiaan. Tak ada dua pembunuhan yang sama.

Packer benci eksekusi. Ia percaya hukuman mati, sebab ia orang yang religius dan karena Tuhan mengatakan satu mata ganti satu mata, berarti Tuhan sungguh-sungguh. Tapi ia lebih suka eksekusi itu dilaksanakan di tempat lain, oleh orang lain. Syukurlah eksekusi tersebut begitu langka di Mississippi, sehingga tugasnya berjalan mulus dengan sedikit gangguan. Ia pernah menyaksikan tujuh belas eksekusi dalam dua puluh tahun, tapi cuma empat sejak 1982.

Ia bicara pelan dengan seorang penjaga di ujung penjara. Matahari mulai mengintip melalui jendela-jendela yang terbuka di atas jalan penjara. Hari itu akan panas dan mencekik. Juga akan lebih sunyi. Akan lebih sedikit keluhan terhadap makanan, lebih sedikit tuntutan untuk menemui dokter, keluhan kecil di sana-sini tentang ini-itu, namun secara keseluruhan mereka akan jadi kelompok yang jinak dan tenang.

Sedikitnya sudah setahun dan mungkin lebih lama lagi sejak suatu penundaan ditarik sedekat ini pada pelaksanaan eksekusi. Packer tersenyum pada diri sendiri sambil mencari kepala di bawah selimut. Hari ini akan benar-benar sepi.

Selama beberapa bulan pertama karier Sam di The Row, Packer tak menghiraukannya. Buku petunjuk resmi melarang hubungan apa pun selain kontak seperlunya dengan narapidana, dan Packer mendapati Sam sebagai orang yang mudah dibiarkan sendiri. Ia anggota Klan. Ia benci orang kulit hitam. Ia tidak banyak bicara. Ia orang yang pahit dan pemurung, setidaknya dulu.

Namun diam tanpa berbuat apa-apa selama delapan jam sehari perlahan-lahan mengikis kekakuannya, dan dengan lewatnya waktu mereka mencapai tingkat komunikasi yang terdiri atas sejumlah kata-kata pendek dan dengusan. Sesudah sembilan setengah tahun saling melihat tiap hari, Sam sekali-sekali bisa benar-benar tersenyum pada Packer.

Sesudah bertahun-tahun mengamati, Packer berkesimpulan ada dua jenis pembunuh di The Row. Ada pembunuh berdarah dingin yang akan melakukannya lagi seandainya diberi kesempatan, dan ada yang sekadar melakukan kesalahan dan tak pernah bermimpi mengucurkan darah lagi. Mereka yang masuk dalam kelompok pertama seharusnya digas cepat-cepat. Mereka yang masuk dalam kelompok kedua menimbulkan perasaan tak enak pada Packer, sebab eksekusi mereka tidak memberikan manfaat apa pun.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 25)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.