Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 23)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam maju selangkah ke arahnya. "Aku tidak bohong, dan kalau keberatan dengan kehadiranku di sini kau perlu menelepon Chicago."

"Ini mengerikan," kata Cooley sambil melangkah mundur dan beranjak ke pintu.

"Teleponlah Chicago."

"Aku mungkin akan melakukannya," ia berkata, nyaris kepada diri sendiri, ketika ia membuka pintu dan menghilang sambil menggumamkan sesuatu.

Selamat datang di Memphis, kata Adam sambil duduk di kursi barunya dan menatap layar komputer yang kosong. Ia meletakkan potongan kertas tadi di meja dan melihat nama serta nomor telepon tersebut. Rasa lapar yang tajam menghunjam, dan disadarinya bahwa sudah berjam-jam ia belum makan. Saat itu sudah hampir pukul 16.00. Mendadak ia merasa lemah, letih, dan lapar.

Pelan-pelan ia meletakkan kedua kaki di atas meja, di samping telepon, dan memejamkan mata. Hari itu terasa kabur, mulai dari kecemasan menuju Parchman dan menyaksikan gerbang depan penjara itu, mulai dari pertemuan tak terduga dengan Lucas Mann, kengerian melangkah ke The Row, sampai pada ketakutan menghadapi Sam. Dan sekarang Kepala Penjara ingin bertemu dengannya, pers ingin bertanya, kantor cabang Memphis ingin semuanya diredam. Semua ini terjadi kurang dari delapan jam. Apa yang akan dihadapinya besok?

***

Mereka duduk berdampingan di sofa berjok empuk dengan semangkuk popcorn microwave di antara mereka. Kaki telanjang mereka ada di atas meja, di tengah setengah lusin kardus kosong bekas tempat masakan Cina dan dua botol anggur. Mereka mengintip lewat atas kaki dan menonton televisi, Adam memegang remote control. Ruangan itu gelap. Ia makan popcorn perlahan-lahan.

Lee lama tak bergerak. Matanya basah, tapi ia tak mengucapkan apa-apa. Video itu mulai untuk kedua kalinya.

Adam menekan tombol pause ketika Sam muncul pertama kali, terborgol, digiring dari penjara menuju sidang pemeriksaan. "Di mana kau ketika mendengar dia ditahan?" ia bertanya tanpa memandang Lee.

"Di Memphis sini," katanya pelan, tapi suaranya keras. "Kami sudah menikah beberapa tahun. Aku ada di rumah. Phelps menelepon dan mengatakan ada pengeboman di Greenville, sedikitnya dua orang tewas. Kemungkinan perbuatan Klan. Dia menyuruhku melihat berita tengah hari, tapi aku takut melakukannya. Beberapa jam kemudian, ibuku menelepon dan menceritakan mereka sudah menahan Daddy karena pengeboman tersebut. Katanya dia ada di penjara Greenville."

"Bagaimana reaksimu?"

"Aku tidak tahu. Terperanjat. Takut. Eddie menelepon dan menceritakan bahwa dia dan Ibu diperintahkan Sam untuk menyelinap ke Cleveland dan mengambil mobilnya. Aku ingat Eddie terus mengatakan, 'Akhirnya dia melakukannya, akhirnya dia melakukannya. Dia sudah pernah membunuh orang.' Eddie menangis dan aku mulai menangis, dan aku ingat saat itu sangat mengerikan."

"Mereka mengambil mobil itu?"

"Yeah. Tak seorang pun tahu. Fakta itu tak pernah muncul dalam sidang mana pun. Kami takut polisi akan mengetahui hal itu, serta memaksa Eddie dan ibuku memberi kesaksian. Tapi itu tak pernah terjadi."

"Di mana aku waktu itu?"

"Coba kuingat. Kalian tinggal di rumah putih yang mungil di Clanton, dan aku yakin kau ada disana bersama Evelyn. Kurasa dia tidak sedang bekerja saat itu. Tapi aku tidak pasti."

"Pekerjaan macam apa yang dilakukan ayahku?"

"Aku tidak ingat. Suatu ketika dia bekerja sebagai manajer sebuah toko suku cadang mobil di Clanton, tapi dia selalu ganti pekerjaan."

Video itu diteruskan dengan potongan rekaman Sam digiring dari dan ke penjara serta gedung pengadilan, kemudian ada laporan berita bahwa ia secara resmi sudah didakwa melakukan pembunuhan. Adam menghentikannya. "Apa di antara kalian ada yang pernah mengunjungi Sam di penjara?"

"Tidak. Tak pernah ketika dia ada di Greenville. Uang jaminan pembebasannya sangat tinggi. Setengah juta dolar, kurasa."

"Benar setengah juta."

"Dan pada mulanya keluarga kita mencoba mengumpulkan uang untuk membebaskannya. Ibu, tentu saja, ingin aku meyakinkan Phelps untuk menulis cek. Phelps, tentu saja, bilang tidak. Dia tak ingin terlibat. Kami bertengkar dengan penuh kepahitan, tapi aku tak bisa benar-benar menyalahkannya. Daddy tetap tinggal di penjara. Aku ingat salah satu saudara laki-lakinya mencoba meminjam uang dengan jaminan tanah, tapi tidak berhasil. Eddie tak mau pergi ke penjara menemuinya, dan Ibu tidak bisa. Aku sendiri tidak yakin Sam menginginkan kami ke sana."

"Kapan kami meninggalkan Clanton?"

Lee membungkuk ke depan dan mengambil gelas anggur dari meja. la mereguk dan berpikir sejenak. "Dia sudah di penjara sekitar sebulan, kurasa. Suatu hari aku pergi menjenguk Ibu, dan dia menceritakan bahwa Eddie mengatakan akan pergi. Aku tak mempercayainya. Ibu mengatakan Eddie malu dan terhina serta tak bisa menghadapi orang-orang di kota itu. Dia baru saja kehilangan pekerjaan dan tak mau keluar rumah. Aku meneleponnya dan bicara dengan Evelyn. Eddie tak mau menerima telepon. Evelyn mengatakan dia tertekan, malu, dan segala macam, dan aku ingat mengatakan kami semua merasa demikian. Kutanyakan padanya apakah mereka akan pergi, dan dia jelas menjawab tidak. Sekitar seminggu sesudahnya, Ibu menelepon kembali dan mengatakan kalian sudah berkemas dan pergi di tengah malam buta. Pemilik rumah menelepon dan menagih sewa rumah, dan tak seorang pun pernah melihat Eddie. Rumah itu kosong."

"Seandainya saja aku ingat kejadian ini."

"Kau baru tiga tahun, Adam. Terakhir kali aku melihatmu, kau sedang bermain di samping garasi rumah putih mungil itu. Kau begitu lucu dan manis."

"Wah, terima kasih."

"Beberapa minggu berlalu, lalu suatu hari Eddie meneleponku dan menyuruhku memberitahu Ibu bahwa kalian ada di Texas dan dalam keadaan baik. Yeah. Jauh sesudah itu, Evelyn bercerita kepadaku bahwa kalian bagaikan terhanyut ke barat. Dia hamil dan ingin sekali menetap di suatu tempat. Eddie menelepon lagi dan mengatakan kalian semua ada di California. Itu telepon terakhirnya selama bertahun-tahun."

"Bertahun-tahun?"

"Yeah. Kucoba membujuknya agar pulang, tapi dia tak bergeming. Bersumpah dia takkan pernah kembali, dan kurasa dia sungguh-sungguh."

"Di mana orangtua ibuku?"

"Aku tak tahu. Mereka bukan dari Ford County. Rasanya mereka tinggal di Georgia, mungkin Florida."

"Aku tak pernah bertemu dengan mereka." Adam kembali menekan tombol dan video itu berlanjut. Sidang pengadilan pertama dimulai di Nettles County. Camera menyorot halaman gedung pengadilan dengan sekelompok anggota Klan, deretan polisi, dan serombongan penonton.

"Ini luar biasa," kata Lee.

Adam menghentikannya lagi. "Apakah kau menghadiri sidang?"

"Sekali. Aku menyelinap ke dalam gedung pengadilan dan mendengarkan argumentasi penutup. Dia melarang kita menyaksikan ketiga sidangnya. Ibu tak bisa datang. Tekanan darahnya tak terkendali, dan dia makan banyak obat. Praktis dia tak bisa meninggalkan ranjang."

"Apakah Sam tahu kau ada di sana?"

"Tidak. Aku duduk di bagian belakang ruang sidang dengan syal menutupi kepala. Dia tak pernah melihatku."

"Apa yang dilakukan Phelps?"

"Bersembunyi di kantornya, mengurus bisnis, berdoa agar tak seorang pun tahu Sam Cayhall adalah mertuanya. Perpisahan pertama kami terjadi tak lama sesudah sidang itu."

"Apa yang kauingat dari sidang tersebut, dari ruang sidang?"

"Aku ingat aku merasa Sam mendapatkan juri yang baik, orang-orang macam dirinya. Aku tak tahu bagaimana pengacaranya melakukan hal itu, namun mereka memilih dua belas redneck paling fanatik yang bisa mereka temukan. Aku mengawasi para anggota juri bereaksi terhadap Jaksa Penuntut, dan aku mengawasi mereka mendengarkan pengacara Sam dengan cermat."

"Clovis Brazelton."

"Dia orator hebat, dan mereka mendengarkan setiap patah kata. Aku terperanjat ketika Juri tak dapat mencapai kesepakatan untuk menjatuhkan vonis dan pembatalan sidang diumumkan. Aku sudah yakin dia akan dibebaskan. Kupikir dia pun terperanjat.”

Sidang ketiga dimulai dengan berbagai kemiripan seperti yang pertama. "Berapa lama kau mengerjakan ini?" tanya Lee.

"Tujuh tahun. Aku masih mahasiswa bara di Pepperdine ketika gagasan itu muncul. Ini suatu tantangan." Sam mempercepat adegan menyedihkan saat Marvin Kramer terguling dari kursi roda sesudah sidang kedua, dan berhenti pada wajah tersunggingi senyum seorang reporter lokal yang berbicara tentang pembukaan sidang pengadilan ketiga terhadap Sam Cayhall yang legendaris. Itu kejadian tahun 1981.

"Selama tiga belas tahun Sam jadi orang bebas," kata Adam. "Apa yang dikerjakannya?"

"Dia menyendiri, bertani sedikit, mencoba menalar segalanya. Dia tak pernah bicara denganku tentang pengeboman itu atau tentang kegiatannya sebagai anggota Klan, namun dia menikmati perhatian di Clanton. Dia jadi semacam legenda lokal di sana, dan dia agaknya puas dengan hal itu. Kesehatan Ibu mundur, dan Sam banyak tinggal di rumah serta merawatnya."

"Dia tak pernah punya pikiran untuk kabur?"

“Tidak secara serius. Dia yakin masalah hukumnya sudah selesai. Dia sudah dua kali diadili, dan lolos dari keduanya. Tak ada juri di Mississippi yang akan memidana seorang anggota Klan pada akhir tahun enam puluhan. Pikirnya dia tak terkalahkan. Dia tetap tinggal di Clanton, menghindari Klan, dan menjalani hidup damai. Kurasa dia melewatkan tahun-tahun keemasannya dengan menanam tomat dan memancing ikan bream."

"Apa dia pernah bertanya tentang ayahku?"

Lee menghabiskan anggurnya dan meletakkan gelas di meja. Tak pernah terpikir oleh Lee bahwa suatu ketika ia akan diminta mengingat kembali sejarah menyedihkan itu dengan begitu terperinci. Ia sudah berusaha keras melupakannya. "Aku ingat selama tahun pertama dia kembali ke rumah, sekali-sekali dia bertanya padaku apakah aku mendengar kabar dari adikku. Tentu saja aku tak pernah mendengar apa pun. Kami tahu kalian ada di suatu tempat di California, dan kami berharap kalian baik-baik saja. Sam orang yang angkuh dan keras kepala, Adam. Dia tak pernah mempertimbangkan menyusul kalian dan memohon Eddie agar pulang. Kalau Eddie malu dengan keluarganya, Sam merasa dia memang seharusnya tinggal di California." Ia berhenti dan merosot lebih rendah di sofa. "Ibu didiagnosis mengidap kanker pada tahun 1973, dan aku menyewa seorang detektif swasta untuk menemukan Eddie. Enam bulan dia bekerja, menimbuniku dengan banyak tagihan, dan tak menemukan apa pun."

"Waktu itu aku sembilan tahun, kelas empat, berarti di Salem, Oregon."

"Yeah. Kelak Evelyn bercerita padaku bahwa kalian pernah tinggal di Oregon."

"Kami terus berpindah-pindah. Setiap tahun sekolah baru sampai aku kelas delapan. Saat itu kami menetap di Santa Monica."

"Kalian sulit dicari. Eddie pasti menyewa pengacara yang baik, sebab semua jejak tentang Cayhall terhapus. Si detektif bahkan memakai beberapa orang di sana, tapi tak ada hasil apa pun."

"Kapan Nenek meninggal?"

"1977. Kami duduk di depan gereja, hendak memulai upacara pemakaman, ketika Eddie menggeser pintu samping dan duduk di belakangku. Jangan tanya bagaimana dia tahu mengenai kematian Ibu. Dia muncul begitu saja di Clanton, lalu menghilang lagi. Tak mengucapkan sepatah kata pun pada Sam. Mengendarai mobil sewaan sehingga tak seorang pun bisa mengecek pelat nomornya. Keesokan harinya aku pergi ke Memphis, dan di sanalah dia, menunggu di jalan masuk ke rumah. Kami minum kopi selama dua jam dan bicara tentang segala hal. Dia membawa fotomu dan Carmen, segalanya indah di California Selatan yang bermandi matahari. Pekerjaan bagus, rumah nyaman di pinggir kota, Evelyn menjual real estate. Impian Amerika.

"Katanya dia takkan pernah kembali ke Mississippi. Bahkan tidak untuk penguburan Sam sekalipun. Sesudah memintaku bersumpah untuk menyimpan rahasia, dia menceritakan nama-nama baru itu dan memberiku nomor teleponnya. Bukan alamat, cuma nomor telepon. Dia mengancam bila kerahasiaan ini dilanggar, dia akan menghilang lagi. Dia melarangku meneleponnya, kecuali dalam keadaan darurat. Kukatakan padanya aku ingin melihat kau dan Carmen, dan dia mengatakan itu mungkin akan terjadi, suatu hari. Kadang kala dia Eddie yang sama seperti dulu, dan kadang-kadang dia orang lain. Kami berpelukan dan melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal, dan aku tak pernah melihatnya lagi."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 24)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.