Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 22)

  The Chamber: Kamar Gas

Mereka melewati menara jaga terakhir dan Unit 30 menghilang. Mereka bermobil sedikitnya dua mil sebelum kawat duri mengilat dari unit lain mengintip di atas ladang.

"Aku bicara dengan kepala penjara ini, sesudah kau tiba di sini," kata Lucas. "Katanya dia ingin bertemu denganmu. Kau akan menyukainya. Dia benci eksekusi, kau tahu. Dia berharap bisa pensiun dua tahun lagi tanpa perlu melaksanakan eksekusi lagi, tapi sekarang kelihatannya meragukan."

"Coba kutebak. Dia cuma melaksanakan tugas, benar?"

"Kami semua melaksanakan tugas di sini."

"Itulah yang kumaksud. Aku mendapat kesan tiap orang di sini ingin menepuk punggungku dan bicara dengan suara sedih tentang apa yang akan terjadi pada Sam tua yang malang. Tak seorang pun ingin membunuhnya, tapi kalian semua cuma melaksanakan tugas."

"Ada banyak orang yang menginginkan kematian Sam."

"Siapa?"

"Gubernur dan Jaksa Agung. Aku yakin kau sudah tahu tantang Gubernur, tapi yang perlu kauwaspadai adalah Jaksa Agung. Dia, sudah tentu, ingin jadi gubernur suatu ketika kelak. Karena suatu alasan, di negara bagian ini kami memilih politisi-politisi muda yang sangat ambisius dan tak bisa duduk diam."

"Namanya Roxburgh, benar?"

"Itu dia. Dia suka kamera, dan kurasa akan ada jumpa pers dengannya siang ini. Kalau beranggapan benar dia akan memikul tanggung jawab penuh atas kemenangan di Fifth Circuit, dan menjanjikan usaha sungguh-sungguh untuk mengeksekusi Sam dalam empat minggu. Kantornya mengurusi masalah-masalah ini, kau tahu. Dan takkan mengejutkan bagiku kalau sang Gubernur sendiri tidak muncul dalam berita malam dengan satu-dua komentar. Maksudku begini, Adam, akan ada tekanan besar dari atas untuk memastikan takkan ada lagi penundaan. Mereka menginginkan Sam mati demi keuntungan politis mereka sendiri. Mereka akan memerah segala yang bisa mereka dapatkan."

Adam mengamati penjara berikutnya sewaktu mereka lewat. Di lantai beton di antara dua bangunan, permainan basket sedang berlangsung dengan kekuatan penuh dan dimainkan oleh sedikitnya selusin pemain pada masing-masing sisi. Semuanya berkulit hitam. Di samping lapangan, sederet barbel sedang diangkat dan ditarik beberapa atlet angkat berat. Adam melihat ada beberapa orang kulit putih.

Lucas berbelok ke jalan lain. "Ada satu alasan lagi," ia meneruskan. "Louisiana membunuh kiri kanan. Texas tahun ini sudah mengeksekusi enam orang. Florida, lima. Kita tak pernah melaksanakan eksekusi selama dua tahun lebih. Kita terlalu lamban, demikian kata beberapa orang. Sekaranglah saatnya memperlihatkan pada negara bagian lain bahwa kita sama seriusnya dengan mereka dalam melaksanakan pemerintahan yang baik. Baru minggu lalu sebuah komite legislatif di Jackson mengadakan dengar pendapat tentang masalah ini. Ada berbagai macam pernyataan gusar dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin kita tentang penundaan yang tak ada habisnya dalam urusan ini. Tidak mengejutkan bila disepakati bahwa pihak pengadilan federallah yang harus dipersalahkan. Ada banyak tekanan untuk membunuh orang. Dan Sam kebetulan mendapat giliran berikut."

"Siapa sesudah Sam?"

“Tak ada siapa-siapa. Bisa makan waktu dua tahun sebelum kita sampai sedekat ini lagi. Burung alap-alap sedang terbang berputar putar."

"Mengapa kau menceritakan ini padaku?"

"Aku bukan musuh, oke? Aku pengacara penjara ini, bukan mewakili Negara Bagian Mississippi. Dan kau belum pernah ke sini. Kupikir kau ingin tahu tentang hal-hal ini."

“Terima kasih," kata Adam. Meskipun informasi tersebut tidak diminta, informasi itu memang bermanfaat.

"Aku akan membantu sebisaku."

Atap bangunan-bangunan itu bisa dilihat di kaki langit. "Apakah itu bagian depan penjara?" tanya Adam.

"Ya."

"Aku mau pergi sekarang."

***

Kantor Kravitz & Bane di Memphis menempati dua lantai gedung Brinkley Plaza, sebuah bangunan besar 1920-an di sudut antara Main dan Monroe di pusat kota. Main Street juga dikenal sebagai Mid-America Mall. Mobil dan truk dilarang masuk ketika kota itu berusaha menghidupkan kembali pusatnya dan mengganti aspal dengan lantai keramik, air mancur, dan pohon-pohon dekoratif. Cuma lalu lintas pejalan kaki diperbolehkan di Mall itu.

Gedung itu sendiri dihidupkan kembali dan diperbaharui dengan penuh gaya. Lobi utamanya terbuat dari marmer dan kuningan. Kantor K&B luas dan didekorasi indah dengan barang antik dan panel-panel kayu ek serta permadani Persia.

Adam diantar seorang sekretaris muda yang menarik ke kantor sudut milik Baker Cooley, sang partner pelaksana. Mereka berkenalan, berjabat tangan, dan mengamati si sekretaris saat ia meninggalkan mangan dan menutup pintu. Cooley melirik sedikit terlalu lama dan sepertinya menahan napas sampai pintu sepenuhnya tertutup dan pemandangan itu lenyap.

"Selamat datang di Selatan," kata Cooley, akhirnya mengembuskan napas dan duduk di kursi putar mewah berjok kulit merah anggur.

"Terima kasih. Kurasa Anda sudah bicara dengan Garner Goodman."

"Kemarin. Dua kali. Dia sudah memberitahu aku. Kita punya ruang rapat kecil yang nyaman di ujung lorong ini, dilengkapi dengan telepon dan komputer. Ruangan itu luas. Tempat itu untukmu selama... selama kauperlukan."

Adam mengangguk dan memandang sekeliling kantor itu. Cooley berumur awal lima puluhan, seorang laki-laki rapi dengan meja kerja yang teratur dan ruangan yang bersih. Ucapan dan tangannya cepat, dan rambutnya kelabu dengan lingkaran gelap di matanya, bagaikan akuntan yang kecapekan.

"Pekerjaan macam apa yang digarap di sini?” tanya Adam.

“Tidak banyak perkara gugatan, dan pasti tak ada perkara pidana," ia menjawab cepat, seolah-olah pelaku kejahatan tak diizinkan menginjakkan kaki kotor mereka pada karpet tebal dan permadani indah di tempat itu. Adam ingat uraian Goodman tentang kantor cabang Memphis—sebuah biro hukum pajangan dengan dua belas pengacara cakap yang pembeliannya oleh Kravitz & Bane bertahun-tahun sebelumnya sekarang merupakan misteri. Namun alamat tambahan pada kepala surat kelihatan bagus.

"Kebanyakan urusan perusahaan," Cooley meneruskan. "Kami mewakili beberapa bank, dan kami banyak menggarap urusan obligasi untuk unit-unit pemerintah." Pekerjaan yang memesona, pikir Adam. "Biro hukum ini sendiri sudah berdiri selama 140 tahun, yang tertua di Memphis. Sudah ada sejak Perang Saudara. Firma ini pernah terpecah dan goyah beberapa kali, lalu bergabung dengan tokoh-tokoh di Chicago."

Cooley menceritakan kronik sejarah singkat itu dengan bangga, seolah-olah silsilah itu ada gunanya dalam praktek hukum tahun 1990.

"Berapa pengacara?" tanya Adam, mencoba mengisi kesenjangan percakapan yang mulai dengan lamban dan berlarut tanpa tujuan.

"Selusin. Sebelas paralegal. Sembilan asisten. Tujuh belas sekretaris. Sepuluh staf pendukung untuk berbagai macam pekerjaan. Bukan operasi yang jelek untuk tempat ini. Tapi memang tidak seperti Chicago."

Kau benar tentang itu, pikir Adam. "Aku sudah berharap akan berkunjung ke sini. Kuharap aku tidak mengganggu."

"Sama sekali tidak. Tapi aku khawatir kami takkan banyak membantu. Kami pengacara perusahaan, kau tahu, pekerja kantoran, banyak pekerjaan tulis-menulis dan semacamnya. Sudah dua puluh tahun aku tak pernah melihat ruang sidang."

"Tidak apa-apa. Mr. Goodman dan orang-orang di sana akan membantuku."

Cooley bangkit berdiri dan menggosok-gosokkan tangan, seolah-olah tak tahu apa lagi yang harus mereka kerjakan. "Nah, uh, Darlene akan jadi sekretarismu. Sebenarnya dia bekerja melayani beberapa orang, tapi aku sudah menugaskannya untuk membantumu. Dia akan memberimu sebuah kunci, memberikan informasi tentang parkir, keamanan, telepon, mesin copy, pekerjaan. Semuanya modern. Benar-benar bagus. Kalau kau butuh paralegal, beritahu saja aku. Akan kita carikan dari salah satu partner, dan..."

"Tidak, ini tidak perlu. Terima kasih."

"Nah, kalau begitu, mari kita lihat kantormu."

Adam mengikuti Cooley menyusuri gang yang kosong dan sunyi, dan tersenyum sendiri ketika memikirkan kantor-kantor di Chicago. Di sana lorong-lorongnya selalu penuh dengan pengacara yang terburu-buru dan sekretaris yang sibuk. Telepon berdering tak putus-putusnya; mesin copy, fax, dan interkom berbunyi dan berdengung, menciptakan suasana seperti pusat perbelanjaan di sana. Tempat itu seperti rumah sakit gila selama sepuluh jam tiap hari. Keheningan hanya bisa didapatkan dalam bilik-bilik di perpustakaan, atau mungkin di pojok-pojok gedung tempat para partner bekerja.

Tempat ini sesunyi rumah jenazah. Cooley mendorong sebuah pintu dan menekan tombol. "Bagaimana?" tanyanya, melambaikan tangan dalam lingkaran lebar.

Ruangan itu lebih dari memadai, sebuah kantor yang panjang sempit dengan meja indah berpelitur di tengahnya dan lima kursi pada masing-masing sisi. Di salah satu ujungnya telah diatur sebuah tempat kerja sementara dengan telepon, komputer, dan sebuah kursi eksekutif. Adam berjalan sepanjang meja, memandang rak-rak buku berisi buku-buku hukum yang rapi tapi tak terpakai. Ia mengintip melalui tirai jendela. "Pemandangan yang indah," katanya sambil memandang burung merpati dan orang-orang di Mall tiga lantai di bawah.

"Mudah-mudahan ini memadai," kata Cooley.

"Ini sangat bagus. Sangat memadai. Aku akan sibuk dengan urusanku dan takkan mengganggumu."

"Omong kosong. Kalau kau perlu sesuatu, telepon saja aku." Cooley berjalan perlahan-lahan menghampiri Adam. "Tapi ada satu hal," katanya dengan wajah yang mendadak serius.

Adam memandangnya. "Apa itu?"

"Beberapa jam yang lalu ada telepon dari seorang reporter di Memphis sini. Kami tidak kenal orang ini, tapi katanya dia sudah mengikuti kasus Cayhall selama bertahun-tahun. Ingin tahu apakah biro hukum kita masih menangani kasus ini, kau tahu. Kusarankan dia menghubungi orang-orang di Chicago. Kami, tentu saja, tak ada hubungannya dengan itu."

Ia mencabut secarik kertas dari saku kemeja dan mengangsurkannya kepada Adam. Di situ tertulis sebuah nama dan nomor telepon. Cooley maju selangkah lebih dekat dan menyilangkan lengan di depan dada. "Dengar, Adam, kami bukan pengacara pembela di pengadilan, kau tahu. Kami menangani urusan hukum perusahaan. Uangnya besar. Kami tidak menonjolkan diri, dan kami menghindari publisitas, kau tahu."

Adam mengangguk perlahan-lahan, tapi tak mengucapkan apa pun.

"Kami tak pernah menyentuh kasus kriminal, apalagi yang sebesar ini."

"Kau tak mau terperciki kotorannya, benar?"

"Bukan itu maksudku. Sama sekali bukan. Tidak. Cuma segalanya berbeda di sini. Ini bukan Chicago. Klien terbesar kami kebetulan bankir-bankir lama dan mantap, sudah memakai kami selama bertahun-tahun, dan... ah, kami cuma khawatir dengan citra kami. Kau tahu apa maksudku?"

“Tidak."

“Tentu saja kau tahu. Kami tidak berurusan dengan penjahat, dan... ah, kami sangat sensitif dengan citra yang kami proyeksikan di Memphis sini."

"Kau tidak berurusan dengan penjahat?"

"Tidak pernah."

“Tapi kalian mewakili bank-bank besar?"

"Ayolah, Adam. Kau tahu dari mana asalku. Wilayah praktek kami berubah dengan cepat. Deregulasi, merger, kegagalan, suatu sektor hukum yang sungguh dinamis. Kompetisi di antara biro-biro hukum berlangsung keras, dan kami tak ingin kehilangan klien. Ah, semua orang menginginkan bank."

"Dan kau tak ingin klienmu ternoda klienku?"

"Dengar, Adam, kau dari Chicago. Mari kita letakkan urusan ini pada tempatnya, oke? Ini kasus Chicago, ditangani orang-orang sana. Memphis tak ada sangkut paut dengannya, oke?"

"Kantor ini bagian dari Kravitz & Bane."

"Yeah, dan kantor ini tak memperoleh keuntungan apa pun berhubungan dengan sampah masyarakat seperti Sam Cayhall."

"Sam Cayhall adalah kakekku."

"Sialan!" Lutut Cooley terkunci dan lengannya terjatuh dari dada. "Kau bohong!"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 23)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.