Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 21)

 The Chamber: Kamar Gas

"Alat pengatur waktu itu sedikit lebih rumit. Siapa yang mengajarkan cara merakitnya?"

"Ibuku. Kapan rencanamu kembali ke sini?"

"Besok."

"Bagus. Inilah yang akan kita lakukan. Aku butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Aku tak ingin bicara sekarang juga, dan jelas aku tak ingin menjawab pertanyaan. Coba kupelajari dulu dokumen ini, membuat beberapa perubahan, dan kita akan bertemu lagi besok."

"Itu membuang-buang waktu."

"Aku sudah menyia-nyiakan hampir sepuluh tahun di sini. Apa arti sehari lagi?"

"Mereka mungkin tidak mengizinkanku kembali kalau secara resmi aku tidak mewakilimu. Kunjungan ini adalah jasa baik mereka."

"Orang-orang yang hebat, bukan? Katakan pada mereka kau pengacaraku selama 24 jam berikut. Mereka akan membiarkanmu masuk."

"Ada banyak hal yang harus kita bahas, Sam. Aku ingin segera mulai."

"Aku perlu berpikir, oke? Bila kau menghabiskan waktu sendirian selama sembilan tahun lebih, kau jadi benar-benar pandai dalam berpikir dan menganalisis. Tapi kau tak bisa melakukannya dengan cepat, mengerti? Butuh waktu lebih lama untuk memilah-milah berbagai hal dan mengurutkannya. Saat ini rasanya aku berputar-putar, kau tahu? Kau memberiku pukulan keras."

"Oke."

"Aku akan lebih baik besok. Kita bisa bicara. Aku janji.”

"Baiklah." Adam memasang tutup pena dan menyelipkannya ke dalam saku. Dimasukkannya berkas tadi ke dalam tas, dan ia bersantai di kursinya. "Aku akan tinggal di Memphis selama beberapa bulan berikut ini."

"Memphis? Kukira kau tinggal di Chicago."

"Kami punya kantor kecil di Memphis. Aku akan bekerja di sana. Nomor teleponnya tercantum pada kartu. Silakan menelepon kapan saja."

"Apa yang terjadi bila urusan ini selesai?"

"Entahlah. Mungkin aku kembali ke Chicago."

"Kau sudah menikah?"

"Belum,"

"Carmen?"

"Belum"

"Bagaimana tampangnya?"

Adam melipat tangan di belakang kepala dan memperhatikan kabut tipis di atas mereka. "Dia sangat cerdas. Sangat cantik. Sangat mirip ibunya."

"Evelyn dulu gadis yang cantik."

"Dia masih cantik."

"Kupikir Eddie beruntung mendapatkannya. Tapi aku tak menyukai keluarganya."

Dan ia pun pasti tak menyukai keluarga Eddie, pikir Adam. Dagu Sam turun sampai hampir ke dadanya. Ia menggosok mata dan mencubit pangkal hidung. "Urusan keluarga ini akan perlu banyak kerja, bukan?" katanya tanpa memandang.

"Ya."

"Aku mungkin tak bisa membicarakan beberapa hal."

"Ya, kau akan bicara. Kau berutang padaku, Sam. Dan pada dirimu sendiri."

"Kau tak tahu apa yang kaukatakan, dan kau tak ingin mengetahui semuanya."

"Coba saja. Aku sudah muak dengan rahasia."

"Mengapa kau ingin tahu begitu banyak?"

"Supaya aku bisa mengerti dan mencoba menalarnya."

"Itu hanya buang-buang waktu."

"Aku yang harus memutuskan hal itu, bukan?"

Sam meletakkan tangan pada lutut dan perlahan-lahan berdiri. Ia menarik napas dalam dan memandang Adam melalui kisi-kisi. "Aku mau pergi sekarang." Mata mereka bertemu melalui lubang kecil pada partisi itu.

"Baiklah," kata Adam. “Adakah sesuatu yang bisa kubawakan?"

“Tidak ada. Kembalilah saja."

"Aku janji."

~ 11 ~

Sersan Packer menutup pintu dan menguncinya, dan mereka bersama-sama melangkah dari naungan sempit di luar ruang pertemuan ke bawah sinar matahari siang yang membutakan mata. Adam memejamkan mata dan berhenti sedetik, lalu merogoh-rogoh saku, sia-sia mencari kacamata hitam.

Packer menunggu dengan sabar, matanya tertutup kacamata Ray-Ban imitasi yang tebal, wajahnya terlindung tepian topi resmi Parchman. Udara mencekik dan nyaris dapat dilihat. Keringat langsung menutupi lengan dan wajah Adam ketika akhirnya ia menemukan kacamata hitam dalam tas dan memakainya. Ia mengernyit dan meringis, dan begitu bisa melihat ia mengikuti Packer menyusuri jalan setapak dari bata dan rumput kering di depan unit tersebut.

"Sam baik-baik saja?" tanya Packer. Tangannya dalam saku dan ia tidak tergesa-gesa.

“Kurasa begitulah."

"Kau lapar?"

“Tidak," jawab Adam sambil melirik jam tangannya. Saat itu hampir pukul 13.00. Ia tak pasti apakah Packer menawarkan makanan penjara atau lainnya, tapi ia tak mau ambil risiko.

"Sayang. Hari ini Rabu, itu berarti turnip greens dan roti jagung. Lezat sekali."

“Terima kasih." Adam yakin jauh di dalam gennya ia mestinya merindukan turnip greens dan roti jagung. Menu hari ini seharusnya membuat liurnya menetes dan perutnya berontak. Namun ia menganggap dirinya orang California, dan seingatnya ia belum pernah melihat turnip greens. "Mungkin, minggu depan," katanya, nyaris tak percaya ia ditawari makanan di The Row.

Mereka sampai di gerbang ganda pertama. Sewaktu gerbang itu terbuka, Packer, tanpa mengeluarkan tangan dari saku, berkata, "Kapan kau kembali?"

"Besok."

"Secepat itu?"

"Yeah. Aku akan berada di sini beberapa lama."

"Nah, senang bertemu denganmu." Ia tersenyum lebar dan berjalan pergi.

Sewaktu Adam berjalan melewati gerbang kedua, ember merah itu turun. Ember itu berhenti hampir satu meter dari tanah, dan ia mengaduk-aduk kumpulan kunci di bagian bawah sampai menemukan kuncinya. Ia tak pernah menengadah memandang penjaga.

Sebuah mini-van patih dengan tulisan-tulisan resmi pada pintu dan sisinya sedang menunggu di samping mobil Adam. Jendela pengemudinya terbuka dan Lucas Mann melongok ke luar. "Apa kau tergesa-gesa?"

Adam kembali melirik jam tangannya. "Tidak."

"Bagus. Masuklah. Aku perlu bicara denganmu. Kita akan melihat-lihat tempat ini sebentar."

Adam tak ingin melihat-lihat tempat ini, tapi toh ia merencanakan mampir ke kantor Mann. Ia membuka pintu penumpang serta melemparkan jas dan koper ke jok belakang. Syukurlah AC-nya bekerja sempurna. Lucas, bersih dan masih rapi, tampak aneh duduk di belakang kemudi mini-van. Ia meluncur meninggalkan MSU dan menuju jalan utama.

"Bagaimana urusanmu?" tanyanya. Adam mencoba mengingat secara tepat uraian Sam tentang Lucas Mann. Garis besarnya, ia tak dapat dipercaya.

"Oke, kurasa," jawabnya, samar-samar waspada.

"Apa kau akan mewakilinya?"

"Kurasa begitu. Dia ingin memikirkannya malam ini. Dan dia ingin menemuiku besok."

"Tak ada masalah, tapi kau perlu mendapatkannya sebagai klien besok. Kami butuh surat kuasa tertulis darinya."

"Aku akan mendapatkannya besok. Akan ke mana kita?"

Mereka berbelok ke kiri dan meninggalkan bagian depan penjara. Mereka melewati rumah-rumah putih terakhir dengan pohon-pohon rindang dan rumpun bunga, dan sekarang mereka bermobil di tengah ladang kapas dan kacang yang membentang tak terhingga.

"Tak ada tujuan khusus. Cuma kukira kau mungkin ingin melihat sebagian tanah pertanian kami. Kita perlu membahas beberapa hal."

"Aku mendengarkan."

"Keputusan dari Fifth Circuit disampaikan menjelang siang, dan kita sedikitnya sudah menerima tiga telepon dari wartawan. Mereka mencium bau darah, tentu saja, dan mereka ingin tahu apakah ini akan menjadi akhir riwayat Sam. Aku kenal beberapa dari orang-orang ini, pernah berurusan dengan mereka pada eksekusi lain. Beberapa di antaranya orang-orang yang menyenangkan, sebagian besar bangsat yang memuakkan. Tapi bagaimanapun juga, mereka semua bertanya tentang Sam dan apakah dia punya pengacara atau tidak. Apakah dia akan mewakili diri sendiri sampai saat terakhir? Kau tahu, sampah macam itulah."

Di ladang sebelah kanan ada sekelompok besar narapidana bercelana putih dan tanpa kemeja. Mereka bekerja menggarap ladang itu dan berkeringat hebat, punggung dan dada mereka basah kuyup serta berkilauan di bawah matahari yang membakar. Seorang penjaga di atas kuda mengawasi mereka dengan sepucuk senapan. "Apa kerja orang-orang itu?" tanya Adam.

"Memotong kapas."

"Apakah mereka diharuskan bekerja?"

"Tidak. Semua sukarela. Pilihannya adalah bekerja atau duduk dalam sel sepanjang hari."

"Mereka memakai seragam putih. Sam pakai yang merah. Aku melihat satu kelompok di tepi jalan raya memakai seragam biru."

"Itu bagian dari sistem klasifikasi di sini. Putih berarti orang-orang ini berisiko rendah."

"Apa kejahatan mereka?"

"Segala macam. Obat bius, pembunuhan, pelanggaran berulang, sebutkan saja. Tapi perilaku mereka baik sejak mereka di sini, jadi mereka memakai seragam putih dan diperbolehkan bekerja."

Mini-van itu berbelok pada sebuah persimpangan, dan pagar serta kawat duri kembali terlihat. Di sebelah kiri ada sederet barak modern dibangun dalam dua tingkat dan bercabang ke segala penjuru dari sebuah poros. Kalau bukan karena kawat duri dan menara jaga, unit itu bisa disangka asrama sekolah yang dirancang buruk. "Apa itu?" tanya Adam, menunjuk.

"Unit 30."

"Ada berapa unit di sana?"

"Aku tak tahu pasti. Kami terus membangun dan meruntuhkan. Sekitar tiga puluh." .

"Itu tampak baru."

"Oh ya. Selama hampir dua puluh tahun kami selalu mendapat masalah dari pengadilan federal, jadi kami banyak membangun. Bukan rahasia lagi kepala penjara sebenarnya di tempat ini adalah hakim federal."

"Bisakah reporter-reporterku menunggu sampai besok? Aku perlu melihat dulu apa yang dipikirkan Sam. Aku tak suka bicara dengan mereka sekarang, dan kemudian urusan ternyata jadi tidak beres besok."

"Kurasa aku bisa menunda mereka satu hari. Tapi mereka takkan menunggu lama."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 22)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.