Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 20)

 The Chamber: Kamar Gas

"Aku Adam Hall, dan aku tak punya rencana mengubahnya. Aku pun cucumu, dan kita tak bisa mengubahnya, bukan? Jadi, apa yang menghebohkan?"

"Ini akan memalukan bagi keluargamu. Eddie sudah melindungimu dengan baik. Jangan mengacaukannya."

"Penyamaranku sudah terungkap. Biro hukumku sudah tahu. Aku bercerita pada Lucas Mann dan..."

"Bangsat itu akan bercerita pada semua orang. Jangan semenit pun mempercayainya."

"Dengar, Sam, kau tak mengerti. Aku tak peduli kalau dia mau bercerita. Aku tak peduli kalau dunia tahu aku cucumu. Aku sudah bosan dengan rahasia keluarga yang kotor ini. Aku sudah dewasa sekarang, aku bisa berpikir sendiri. Plus, aku pengacara, dan kulitku mulai tebal. Aku bisa menanganinya."

Sam sedikit rileks di kursinya dan memandang lantai dengan senyum menyenangkan, semacam senyum yang kerap dilontarkan orang dewasa pada anak kecil yang berlagak lebih besar dari usianya. Ia menggumamkan sesuatu dan dengan sangat perlahan-lahan menganggukkan kepala. "Kau tidak mengerti, Nak," katanya lagi, sekarang dengan nada sabar, terkontrol.

"Jadi, jelaskan padaku," kata Adam.

"Itu akan butuh waktu lama."

"Kita punya empat minggu. Kau bisa bicara banyak dalam empat minggu."

"Tepatnya apa yang ingin kaudengar?"

Adam membungkuk lebih dekat lagi, bertopang siku, pena dan buku tulisnya siap. Matanya hanya beberapa senti dari lubang di kisi-kisi itu. "Pertama, aku ingin bicara tentang kasus ini—pengajuan banding, strategi, sidangnya, pengeboman itu, siapa bersamamu malam itu..."

"Tak ada siapa pun bersamaku malam itu."

"Kita bisa bicara tentang hal itu nanti."

"Kita membicarakannya sekarang. Aku sendiri, kaudengar?"

"Oke. Kedua, aku ingin tahu tentang keluargaku."

"Mengapa?"

"Mengapa tidak? Mengapa membiarkannya terus terkubur? Aku ingin tahu tentang ayahku dan ayahnya, saudara-saudaramu dan sepupu-sepupumu. Aku mungkin tidak menyukai orang-orang ini bila semuanya selesai, tapi aku punya hak untuk tahu tentang mereka. Seumur hidup hakku untuk mengetahui informasi ini telah dirampas, dan aku ingin tahu."

"Tak ada yang luar biasa."

"Oh, benarkah? Nah, Sam, kupikir luar biasa sekali bahwa kau berhasil sampai ke penjara ini. Ini masyarakat yang cukup eksklusif. Masukkan fakta kau kulit putih, kelas menengah, hampir tujuh puluh tahun, dan masalah ini jadi lebih luar biasa lagi. Aku ingin tahu bagaimana dan mengapa kau sampai di sini. Apa yang membuatmu melakukan hal-hal itu? Berapa orang dalam keluargaku yang jadi anggota Klan? Dan mengapa? Berapa banyak orang lain yang terbunuh selama itu?"

"Dan kaupikir aku akan menumpahkan isi perutku begitu saja?"

"Yeah, kurasa begitu. Kau akan melakukannya. Aku cucumu, Sam, satu-satunya sanak yang hidup, bernapas, dan masih peduli padamu. Kau akan bicara, Sam. Kau akan bicara padaku."

"Nah, karena aku akan begitu banyak bicara, apa lagi yang akan kita bicarakan?"

"Eddie."

Sam menghela napas panjang dan memejamkan mata. "Kau tak tahu banyak, bukan?" katanya pelan. Adam mencoret-coretkan sesuatu yang tak bermakna di buku tulis.

Sekarang tiba saatnya untuk ritual menyalakan rokok lagi, dan Sam melakukannya dengan lebih sabar dan hati-hati. Gumpalan asap biru bergabung dengan kabut yang sudah tergantung di atas kepala mereka. Tangannya kembali mantap. "Bila kita sudah selesai dengan Eddie, siapa lagi yang ingin kaubicarakan?"

"Aku tidak tahu. Cerita itu akan menyibukkan kita selama empat minggu."

"Kapan kita bicara tentang dirimu?"

"Kapan saja." Adam merogoh ke dalam tas dan mengambil sebuah berkas tipis. Ia mengangsurkan kertas dan pena melalui lubang. "Ini perjanjian untuk mewakili kepentingan hukummu. Tanda tanganilah di bagian bawah."

Tanpa menyentuhnya, Sam membaca dari kejauhan. "Jadi, aku memakai Kravitz & Bane lagi?"

"Kurang-lebih."

"Apa maksudmu, kurang-lebih? Di sini dikatakan aku setuju membiarkan Yahudi-Yahudi ini mewakiliku lagi. Aku butuh waktu lama untuk memecat mereka, padahal... persetan, aku tidak membayar mereka."

"Ini perjanjian denganku, Sam, oke? Kau takkan pernah melihat orang-orang itu, kecuali kau menginginkannya."

"Aku tidak ingin."

"Baik. Aku kebetulan bekerja untuk biro hukum itu, maka perjanjian ini harus dibuat dengan biro hukum tersebut. Gampang."

"Ah, optimisme orang muda. Segalanya gampang. Di sinilah aku, duduk tak lebih tiga puluh meter dari kamar gas, jam berdetak di dinding sana, makin keras dan keras, dan segalanya mudah."

"Tanda tangani saja dokumen sialan ini, Sam."

"Lalu apa?"

"Lalu kita mulai bekerja. Secara hukum, aku tak bisa berbuat apa pun sampai kita punya perjanjian. Kautandatangani surat ini, kita mulai bekerja."

"Dan apa tugas pertama yang ingin kaukerjakan?"

"Mengupas pengeboman Kramer, perlahan-lahan, selangkah demi selangkah."

"Itu sudah ribuan kali dilakukan."

"Kita akan melakukannya lagi. Aku punya buku catatan tebal penuh dengan pertanyaan."

"Semuanya sudah pernah ditanyakan."

"Yeah, Sam, tapi pertanyaan itu belum dijawab, bukan?"

Sam menancapkan filter di antara bibirnya.

"Dan pertanyaan-pertanyaan itu belum kutanyakan, bukan?"

"Kaupikir aku bohong?"

"Kau bohong?"

"Tidak."

"Tapi kau belum menceritakan kisah seutuhnya, bukan?"

"Apa bedanya, Pengacara? Kau sudah baca kasus Bateman."

"Yeah. Aku sudah menghafalkan kasus Bateman, dan ada sejumlah kelemahan di dalamnya."

"Khas pengacara."

"Kalau ada bukti baru, selalu ada cara untuk mengajukannya. Yang kita lakukan, Sam, adalah berusaha menciptakan cukup kebingungan sampai seorang hakim entah di mana berpikir dua kali. Kemudian tiga kali. Kemudian dia akan memberikan penundaan agar bisa belajar lebih banyak.”

"Aku tahu bagaimana permainan ini dimainkan, Nak."

"Adam, oke? Namaku Adam."

"Yeah, dan panggil saja aku Kakek. Kurasa kau merencanakan mengajukan banding kepada Gubernur?"

"Ya."

Sam bergeser ke depan di kursinya dan bergerak dekat ke kisi-kisi. Dengan telunjuk kanan mulai menuding satu titik di tengah hidung Adam. Wajahnya mendadak kasar, matanya menyipit. "Dengar aku, Adam," ia menggeram, jarinya menunjuk maju-mundur. "Kalau aku menandatangani surat ini, kau sama sekali tak boleh bicara dengan bangsat itu. Sama sekali tidak. Kau mengerti?"

Adam mengawasi jari itu, tapi tak mengatakan apa-apa.

Sam memutuskan meneruskan, "Dia bajingan berhati palsu. Dia culas, keji, benar-benar korup, dan sepenuhnya mampu menyembunyikannya dengan senyum manis dan potongan rambut. Dialah alasan satu-satunya aku mendekam dalam penjara ini. Kalau kau menghubunginya dengan cara apa pun, kau tidak akan menjadi pengacaraku lagi."

"Jadi, aku sekarang pengacaramu."

Jari itu turun dan Sam rileks sedikit. "Oh, aku mungkin akan memberimu kesempatan, membiarkanmu berlatih denganku. Kau tahu, Adam, profesi hukum benar-benar busuk. Seandainya aku orang bebas, cuma berusaha cari nafkah, mengurus urusan sendiri, membayar pajak, mematuhi hukum dan lain-lain, aku takkan bisa menemukan seorang pengacara pun yang mau meluangkan waktu untuk bicara denganku, kecuali aku punya uang. Tapi di sinilah aku, pembunuh yang sudah dipidana, divonis mati, tak punya uang sepeser pun, tapi segala macam pengacara dari seluruh penjuru negeri memohon-mohon untuk mewakili aku. Pengacara-pengacara besar, kaya raya, dengan nama panjang yang dimulai dengan singkatan dan diikuti dengan angka, pengacara-pengacara tersohor dengan pesawat jet pribadi dan acara televisi sendiri. Bisakah kau menerangkan hal ini?"

"Tentu saja tidak. Dan aku pun tak peduli."

"Kau masuk dalam profesi gila."

"Sebagian besar pengacara-pengacara itu jujur dan bekerja keras."

"Tentu. Dan sebagian besar temanku dalam penjara ini akan jadi pendeta dan misionaris seandainya mereka tidak keliru dipidana."

"Gubernur kemungkinan akan menjadi peluang terakhir kita."

"Kalau begitu, lebih baik mereka mengegas aku sekarang. Bangsat congkak itu mungkin ingin menyaksikan eksekusiku, lalu akan mengadakan jumpa pers dan menceritakan kembali setiap detail kepada dunia. Dia cacing tak bertulang yang berhasil sampai sejauh ini karena aku. Dan kalau bisa memerahku lagi beberapa kali dia akan melakukannya. Jauhilah dia."

"Kita bisa membicarakannya nanti."

"Kita sekarang sedang membicarakannya, kurasa. Kau harus berjanji dulu sebelum aku menandatangani surat ini."

"Ada syarat lain?"

"Yeah. Aku ingin sesuatu ditambahkan di sini, sehingga bila aku memutuskan memecatmu lagi, kau dan biro hukummu takkan menentangku. Itu tentu mudah."

"Coba kulihat."

Surat perjanjian itu sekali lagi disodorkan melalui lubang, dan Adam mencetak satu alinea yang rapi di bawahnya. Ia mengangsurkannya kembali pada Sam, yang membacanya perlahan-lahan dan meletakkannya di atas counter.

"Kau tidak menandatanganinya," kata Adam.

"Aku masih berpikir."

"Boleh kuajukan beberapa pertanyaan sementara kau berpikir?"

"Kau boleh bertanya."

"Di mana kau belajar menangani bahan peledak?"

"Di San Vsuu."

"Sedikitnya ada lima pengeboman sebelum Kramer, semuanya dengan tipe yang sama, semuanya sangat sederhana—dinamit, penutup, sumbu. Kramer, tentu saja, berbeda, sebab di situ dipakai alat pengatur waktu. Siapa yang mengajarimu cara mempergunakan bom?"

"Pernahkah kau menyalakan petasan?"

"Tentu."

"Prinsipnya sama. Korek api disulutkan pada sumbu, lari sekencang-kencangnya, dan... bum."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 21)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.