Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 2)

 The Chamber: Kamar Gas

Sam nyaris panik. Meskipun tersesat, ia cukup yakin mereka tak jauh dari pusat kota. Ia menghela napas dalam dan mengamati jalan. Ia melirik jam tangan. Tak terlihat ada mobil lain. Semuanya sunyi. Ini saat yang sempurna untuk ledakan bom. Ia bisa melihat sumbu terbakar di lantai kayu. Ia bisa merasakan tanah bergetar. Ia bisa mendengar kayu dan batu fondasi bergemeretak, juga bata dan kaca. Sialan, pikir Sam sambil mencoba menenangkan diri. Bisa-bisa mereka terkena pecahan kaca.

"Mestinya Dogan menyediakan mobil yang lebih baik," ia bergumam sendiri. Rollie tidak bereaksi, matanya memandang sesuatu di luar jendela.

Sedikitnya lima belas menit sudah berlalu sejak mereka meninggalkan kantor Kramer, dan sudah saatnya ledakan itu terjadi. Sam menyeka butiran keringat dari kening, dan sekali lagi memutar kunci kontak. Untunglah mesinnya menyala. Ia tersenyum lebar pada Rollie, yang kelihatannya sama sekali tak peduli. Ia memundurkan mobil beberapa meter, lalu memacunya pergi. Jalan pertama ini tampak sudah dikenalnya, dan dua blok kemudian mereka sudah berada di Main Street.

"Sumbu macam apa yang kaupakai?" Sam akhirnya bertanya saat mereka berbelok ke Highway 82, tak lebih sepuluh blok dari kantor Kramer.

Rollie mengangkat pundak, seakan-akan menyatakan itu urusannya dan Sam tak semestinya bertanya. Mereka mengurangi kecepatan ketika melewati mobil polisi yang sedang parkir, lalu meningkatkan kecepatan di pinggir kota. Dalam beberapa menit, Greenville sudah di belakang mereka.

"Sumbu apa yang kaupakai?" Sam bertanya lagi. Suaranya mengandung nada kesal.

"Aku mencoba sesuatu yang baru," Rollie menjawab tanpa menoleh.

"Apa?"

"Kau takkan mengerti," kata Rollie.

Sam jadi tersinggung. "Alat pengatur waktu?" ia bertanya sesudah lewat beberapa kilometer.

"Semacam itulah."

Mereka bermobil ke Cleveland tanpa bicara sama sekali. Selama beberapa mil, ketika lampu-lampu di Greenville perlahan-lahan menghilang di balik tanah datar, Sam setengah berharap akan menyaksikan bola api atau mendengar gemuruh di kejauhan. Tapi tak ada apa pun yang terjadi. Wedge bahkan tertidur sebentar.

Kafetaria pangkalan truk itu penuh ketika mereka tiba. Seperti biasa, Rollie meninggalkan tempat duduk dan menutup pintu penumpang. "Sampai ketemu lagi," katanya dengan senyum tersungging melalui jendela terbuka, lalu ia berjalan menuju mobil sewaannya. Sam mengawasinya berlenggang pergi, dan sekali lagi takjub atas ketenangan Rollie Wedge.

Sekarang sudah setengah enam lewat beberapa menit, dan secercah cahaya jingga menembus kegelapan di timur. Sam mengemudikan Pontiac hijau itu di Highway 61, dan melaju ke selatan.

***

Malapetaka mengerikan dalam pengeboman Kramer sebenarnya dimulai sekitar saat Rollie Wedge yakin mereka tak jauh dari pusat kota.

Kengerian itu dimulai dengan beker di atas meja kecil tak jauh dari bantal Ruth Kramer. Ketika beker itu berdering pada pukul 05.30, seperti biasa, Ruth langsung tahu bahwa ia sangat sakit. Ia merasa agak demam, pelipisnya nyeri luar biasa, dan ia agak mual. Marvin membantunya ke kamar mandi tak jauh dari ranjang, dan selama setengah jam ia berada di dalamnya. Satu bulan ini ada virus flu ganas yang menyebar di Greenville, dan sekarang menyerang rumah keluarga Kramer.

Pembantu rumah tangga membangunkan si kembar. Josh dan John, sekarang umur lima tahun, pada pukul 06.30, dan cepat-cepat memandikan, mengganti pakaian, dan memberi mereka makan. Marvin menganggap sebaiknya membawa mereka ke sekolah seperti sudah direncanakan serta menjauhkan mereka dari rumah dan, mudah-mudahan, dari virus itu.

Ia menelepon dokter temannya untuk minta resep, dan meninggalkan dua puluh dolar kepada pembantu untuk membeli obat di apotek satu jam lagi. Ia berpamitan kepada Ruth yang sedang berbaring di lantai kamar mandi dengan bantal di bawah kepala dan sebungkus es pada wajah, lalu meninggalkan rumah bersama anak-anak.

Tidak seluruh praktek hukumnya diabdikan untuk mengurus perkara hak-hak sipil. Perkara macam itu tidak cukup banyak untuk lahan hidup di Mississippi pada tahun 1967. Ia menangani beberapa kasus pidana dan perkara perdata umum lainnya: perceraian, sengketa tanah, kebangkrutan, real estate.

Dan meskipun ayahnya nyaris tidak bicara dengannya, dan seluruh keluarga Kramer nyaris tak pernah menyebut namanya, Marvin menghabiskan sepertiga waktunya di kantor untuk menangani bisnis keluarganya. Pagi ini ia dijadwalkan hadir di pengadilan pada pukul 09.00 untuk memperdebatkan sebuah mosi dalam gugatan yang melibatkan real estate pamannya.

Si kembar sangat menyukai kantornya. Mereka baru akan bersekolah pukul 08.00, jadi Marvin bisa bekerja sedikit sebelum mengantar anak-anak dan kemudian menghadiri sidang pengadilan. Hal ini terjadi mungkin sekali sebulan. Kenyataannya hampir tak pernah sehari pun lewat tanpa salah satu dari si kembar merengek kepada Marvin agar membawa mereka ke kantornya dulu, baru kemudian ke sekolah.

Mereka tiba di kantor sekitar pukul 07.30, dan begitu berada di dalam si kembar langsung menghampiri meja kerja sekretaris dan setumpuk kertas ketik, semuanya menunggu dipotong, di-copy, di-stapler, dan dilipat jadi amplop. Kantor itu merupakan bangunan yang simpang siur, dibangun bertahap dengan tambahan di sana-sini. Pintu depannya terbuka ke sebuah serambi sempit tempat meja resepsionis diletakkan nyaris di bawah tangga. Empat kursi bagi para klien yang sedang menunggu berderet dekat dinding. Majalah bertebaran di bawah kursi-kursi.

Di sebelah kiri dan kanan serambi itu ada kantor-kantor kecil untuk para pengacara. Marvin sekarang punya tiga associate yang bekerja untuknya. Sebuah lorong membujur lurus dari serambi, melintasi bagian tengah lantai bawah, sehingga dari pintu depan bagian belakang bangunan itu bisa terlihat sejauh sekitar 24 meter.

Kantor Marvin adalah ruangan terbesar di lantai bawah, dan terletak pada pintu terakhir di sebelah kiri, di samping lemari yang penuh sesak. Tepat di seberang lemari di gang itu adalah kantor sekretaris Marvin. Namanya Helen, seorang wanita menawan yang selama delapan belas bulan diimpi-impikan oleh Marvin.

Di lantai dua adalah kantor-kantor yang berjejalan milik satu pengacara lain dan dua sekretaris. Lantai tiga tanpa pemanas atau AC, dan dipakai untuk gudang.

Biasanya ia tiba di kantor antara pukul 07.30 sampai pukul 08.00, sebab ia suka satu jam tenang sebelum orang-orang lain tiba dan telepon mulai berdering. Seperti biasa, ia orang pertama yang tiba pada hari Jumat, 21 April.

Ia membuka kunci pintu depan, menyalakan lampu, dan berhenti di serambi. Dikuliahinya si kembar agar tidak memorak-porandakan meja Helen, tapi mereka sudah kabur ke gang dan tak mendengarkan sepatah kata pun. Josh sudah memegang gunting dan John memegang stapler saat Marvin mengulurkan kepala untuk pertama kali dan memperingatkan mereka. Ia tersenyum sendiri, lalu beranjak ke kantornya dan langsung tenggelam dalam riset.

Sekitar pukul 07.45, seperti diingatnya kelak di rumah sakit, Marvin naik tangga ke lantai tiga untuk mencari berkas lama yang, saat itu ia duga, relevan dengan kasus yang sedang dipersiapkannya. Sambil naik tangga, ia bergumam sendiri. Ketika ledakan itu terjadi, berkas tua itu menyelamatkan nyawanya. Anak-anak sedang tertawa di suatu tempat di gang.

Ledakan itu meletup ke atas dan mendatar dengan kecepatan beberapa ribu kaki per detik. Lima belas batang dinamit di tengah bangunan berangka kayu akan meremukkannya jadi puing dan kepingan-kepingan kecil dalam hitungan detik. Perlu satu menit penuh sebelum potongan-potongan kayu runcing dan puing lainnya kembali ke bumi. Tanah serasa berguncang bagaikan gempa kecil, dan seperti diuraikan para saksi, kepingan-kepingan kaca terpercik di pusat kota Greenville selama beberapa waktu yang serasa berabad-abad.

Josh dan John Kramer berada tak lebih dari empat setengah meter dari episentrum ledakan tersebut. Untunglah mereka tak pernah tahu apa yang menimpa diri mereka. Mereka tidak menderita. Tubuh mereka yang hancur ditemukan petugas pemadam kebakaran setempat di bawah timbunan puing setinggi dua setengah meter. Marvin Kramer pertama terlempar menghantam langit-langit lantai tiga, lalu tak sadarkan diri, terjatuh bersama puing-puing atap ke dalam kawah yang mengepulkan asap di tengah bangunan. Dalam tiga jam, dua kakinya diamputasi sebatas lutut.

Ledakan itu terjadi tepat pukul 07.46, dan dari satu segi ini merupakan keberuntungan. Helen, sekretaris Marvin, sedang meninggalkan kantor pos empat blok dari sana dan merasakan ledakan itu. Sepuluh menit lagi ia sudah akan berada di dalam, membuat kopi.

David Lukland, seorang associate muda dalam firma hukum itu, tinggal tiga blok dari sana, dan baru saja mengunci pintu apartemennya ketika mendengar dan merasakan ledakan tersebut. Sepuluh menit lagi ia sudah akan memilah-milah surat di kantornya di lantai dua. Kebakaran kecil terjadi di gedung perkantoran sebelah, dan meskipun cepat-cepat dipadamkan, hal itu banyak menambah ketegangan. Asap bergulung-gulung tebal beberapa saat, hingga orang-orang berlarian hilir-mudik.

Ada dua pejalan kaki yang terluka. Sebatang kayu ukuran sepuluh kali lima sentimeter sepanjang satu meter mendarat di trotoar sembilan puluh meter dari sana, melenting sekali, lalu menimpa Mrs. Mildred Talton tepat di wajahnya ketika ia melangkah keluar dari mobil dan memandang ke arah ledakan itu. Ia menderita luka koyak yang mengerikan dan hidung patah, namun akan sembuh pada saatnya.

Luka pada korban kedua sangat kecil tapi penting. Seorang asing bernama Sam Cayhall sedang berjalan perlahan-lahan ke arah kantor Kramer ketika tanah bergetar begitu keras, sehingga ia kehilangan keseimbangan dan tersandung pada trotoar. Ketika berusaha berdiri, ia terhantam oleh kaca yang beterbangan, satu kali di kuduk dan satu kali di pipi kiri. Ia merunduk di belakang sebatang pohon ketika puing dan reruntuhan menghujani sekelilingnya. Ia ternganga menyaksikan kehancuran di hadapannya, lalu berlari pergi.

Darah menetes-netes dari pipi dan menggenang di kemejanya. Ia terperanjat dan kelak tak ingat banyak tentang ini. Dengan Pontiac hijau yang sama, ia bergegas pergi dari pusat kota, dan kemungkinan besar akan berhasil keluar dari Greenville untuk kedua kalinya dengan selamat, seandainya ia berpikir dan menaruh perhatian.

Dua polisi dalam mobil patroli sedang melaju ke daerah bisnis untuk menanggapi panggilan atas pengeboman itu ketika mereka berpapasan dengan Pontiac hijau yang, entah karena apa, tak mau menepi untuk membiarkan mereka lewat.

Mobil patroli itu membunyikan sirene, lampunya berkeredapan, klaksonnya berdengung, dan polisi-polisi itu mengumpat, Pontiac hijau itu tetap diam di jalurnya, tak mau menyisih. Polisi itu berhenti, berlarian ke sana, mengentakkan pintu sampai terbuka, dan menemukan seorang laki-laki berlumuran darah. Borgol dipasang pada pergelangan tangan Sam.

***

Bom yang menewaskan anak kembar Kramer adalah jenis yang paling kasar. Lima belas batang dinamit diikat erat satu sama lain dengan selotip. Tapi tak ada sumbu. Sebagai gantinya, Rollie Wedge memakai detonator, sebuah timer, dan sebuah beker pegas murahan. Ia mencabut jarum menit dari beker itu dan mengebor sebuah lubang kecil di antara angka tujuh dan delapan. Ke dalam lubang kecil itu ia menyisipkan jarum besi yang bila disentuh putaran jarum jam akan menyambung sirkuit dan memicu bom tersebut. Rollie menginginkan waktu lebih banyak dari yang bisa disediakan sumbu ukuran lima belas menit. Di samping itu, ia menganggap dirinya pakar dan ingin bereksperimen dengan alat-alat baru.

Barangkali jarum jam itu sedikit bengkok. Barangkali piringan permukaan jam itu tidak sepenuhnya datar. Barangkali Rollie dalam antusiasmenya telah memutarnya terlalu kencang, atau kurang kencang. Barangkali jarum pemicu itu tidak sama rata dengan piringan jam. Bagaimanapun juga, ini percobaan pertama Rollie dengan sebuah timer. Atau barangkali alat pengatur waktu itu bekerja tepat seperti yang direncanakan.

Namun apa pun alasan atau dalihnya, kegiatan pengeboman Jeremiah Dogan dan Ku Klux Klan sekarang telah menumpahkan darah orang Yahudi di Mississippi. Dan, karena segala alasan praktis, kegiatan itu pun usai.

~ 2 ~ 

Begitu tubuh-tubuh itu diangkat, polisi Greenville menyegel daerah sekitar reruntuhan dan menjauhkan orang banyak. Dalam beberapa jam, barang-barang bukti diserahkan kepada tim FBI dari Jackson, dan sebelum hari gelap satu unit pembongkar memindahkan puing-puing itu.

Puluhan agen FBI dengan serius memulai tugas membosankan, yaitu memungut setiap kepingan kecil, memeriksanya, memperlihatkannya kepada orang lain, lalu mengemasinya untuk dicocokkan satu sama lain esok harinya. Sebuah gudang kapas kosong di tepi kota disewa dan dijadikan tempat penyimpanan puing kantor Kramer.

Pada waktunya, FBI akan mengonfirmasikan apa yang sudah diduga dari semula. Dinamit, sebuah timer, dan sejumlah kabel. Cuma sebuah bom sederhana yang dikaitkan satu sama lain oleh seorang amatir yang cukup beruntung tidak ikut terbunuh.

Marvin Kramer cepat-cepat diterbangkan ke rumah sakit yang lebih bagus di Memphis, dan selama tiga hari dimasukkan dalam daftar pasien kritis tapi stabil. Ruth Kramer dirumahsakitkan karena shock, pertama di Greenville, kemudian dipindahkan dengan ambulans ke rumah sakit yang sama di Memphis. Mereka berbagi satu kamar, Mr. dan Mrs. Kramer, dan juga berbagi obat penenang dalam jumlah besar. Para dokter dan sanak saudara yang tak terhitung jumlahnya begadang menjagai. Ruth dilahirkan dan dibesarkan di Memphis, jadi ada banyak teman yang menjagainya.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 3)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.