Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 19)

The Chamber: Kamar Gas

"Pada titik ini, semua dalih yang menunjang sudah diajukan. Menurutku, peluang eksekusi itu dilaksanakan empat minggu lagi adalah lima puluh persen."

"Itu banyak."

"Aku punya firasat bahwa yang ini akan habis."

Dalam rolet hukuman mati yang tak pernah berhenti ini, peluang sebesar lima puluh persen berarti nyaris pasti. Prosesnya harus dimulai. Petunjuk pelaksanaan harus dibahas. Sesudah bertahun-tahun pengajuan banding dan penundaan yang tak habis-habisnya, empat minggu terakhir akan lewat dalam sekejap mata.

"Kau sudah bicara dengan Sam?" sang Kepala Penjara bertanya.

"Sekilas. Aku membawakan copy surat keputusan pagi ini."

"Garner Goodman meneleponku kemarin. Katanya mereka mengirim salah satu associate muda mereka untuk bicara dengan Sam. Apa kau sudah mengurusnya?"

"Aku bicara dengan Garner dan dengan associate itu. Namanya Adam Hall. Dia- sedang menemui Sam sementara kita bicara di sini. Pasti menarik. Sam adalah kakeknya."

"Apanya?"

"Kau mendengarku. Sam Cayhall adalah kakek Adam Hall dari pihak ayah. Kami melakukan penyelidikan rutin atas latar belakang Adam Hall kemarin, dan kami melihat beberapa titik samar-samar. Aku menelepon FBI di Jackson, dan dalam dua jam mereka sudah mendapatkan banyak bukti tak langsung. Aku menanyainya langsung pagi ini dan dia mengaku. Kurasa dia tidak mencoba menyembunyikannya."

"Tapi namanya berbeda."

"Kisahnya panjang. Mereka tak pernah berjumpa sejak Adam masih balita. Ayahnya kabur meninggalkan negara bagian ini sesudah Sam ditahan karena pengeboman itu. Pindah ke Barat, ganti nama, bergelandangan, keluar-masuk kerja. Kedengarannya seperti pecundang sejati. Bunuh diri pada tahun 1981. Tapi Adam masuk college dan mendapat nilai sempurna. Kuliah hukum di Michigan, salah satu sekolah top ten, dan jadi editor buletin hukum. Bergabung dengan sobat-sobat kita di Kravitz & Bane, dan dia muncul pagi ini untuk reuni dengan kakeknya."

Naifeh sekarang menggaruk rambutnya dengan dua tangan dan menggelengkan kepala. "Sungguh hebat. Sepertinya kita butuh publisitas lebih banyak. Lebih banyak lagi reporter idiot dan pertanyaan tolol."

"Mereka sedang bertemu sekarang. Kuperkirakan Sam akan setuju membiarkan bocah itu mewakilinya. Aku sungguh berharap demikian. Kita tak pernah mengeksekusi narapidana tanpa pengacara."

"Kita mestinya mengeksekusi para pengacara tanpa narapidana," kata Naifeh dengan senyum dipaksakan. Kebenciannya terhadap pengacara sudah melegenda, dan Lucas tidak keberatan. Ia mengerti. Ia pernah memperkirakan Phillip Naifeh adalah orang yang paling banyak dijadikan tergugat dalam perkara pengadilan daripada siapa pun dalam sejarah negara bagian itu. Ia berhak membenci pengacara.

"Sembilan belas bulan lagi aku akan pensiun," kata Naifeh, seolah-olah Lucas tak pernah mendengar hal ini. "Siapa yang berikutnya sesudah Sam?"

Lucas berpikir sejenak dan mencoba mengurutkan berbagai pengajuan banding dari 47 terpidana mati. "Tak ada siapa-siapa. Si Pizza Man nyaris dieksekusi empat bulan yang lalu, tapi dia mendapatkan penundaan. Mungkin masa penundaannya akan habis sekitar satu tahun, tapi ada masalah lain dengan kasusnya. Aku tak melihat akan ada eksekusi dalam beberapa tahun mendatang."

"Pizza Man? Siapa dia?" .

"Malcolm Friar. Membunuh tiga pengantar pizza dalam seminggu. Dalam sidang dia mengatakan perampokan bukanlah motifnya. Katanya dia lapar."

Naifeh mengangkat dua tangannya dan mengangguk. "Oke, oke, aku ingat. Dia urutan berikut sesudah Sam?"

"Mungkin. Sulit dikatakan."

"Aku tahu." Naifeh pelan-pelan beringsut menjauh dari meja dan berjalan ke jendela. Sepatunya ada di bawah meja. Ia memasukkan tangan ke dalam saku, menekankan jari kaki ke karpet, dan berpikir keras beberapa saat. Setelah eksekusi terakhir, ia masuk rumah sakit. Menurut dokternya karena serangan jantung ringan. Satu minggu ia habiskan di ranjang rumah sakit sambil mengawasi debar jantungnya pada monitor, dan berjanji pada istrinya takkan pernah menanggung penderitaan menyaksikan eksekusi lain. Seandainya ia bisa bertahan hidup sesudah eksekusi Sam, ia dapat berhenti dengan pensiun penuh.

Ia berbalik dan menatap Lucas Mann sahabatnya. "Aku takkan melakukan yang ini, Lucas. Akan kuserahkan tanggung jawabku pada orang lain, salah satu bawahanku, orang yang lebih muda, orang baik yang dapat dipercaya, orang yang belum pernah menyaksikan pertunjukan ini, orang yang gatal mendapatkan percikan darah di tangannya."

"Bukan Nugent."

"Itulah orangnya. Kolonel Purnawirawan George Nugent, asistenku yang terpercaya."

"Dia orang gila.”

"Ya, tapi dia orang kita, Lucas. Dia fanatik dalam menangani detail, disiplin, organisasi, persetan, dia pilihan sempurna. Kuberikan buku panduan padanya, kuceritakan apa yang kuinginkan, dan dia akan melaksanakan tugas membunuh Sam Cayhall dengan baik. Dia pilihan yang sempurna."

George Nugent adalah asisten Kepala Penjara Parchman. Ia mendapat nama karena mengelola pelatihan paling berhasil untuk narapidana dengan pelanggaran pertama. Program itu berupa latihan berat selama enam minggu yang brutal. Nugent berjalan mondar-mandir dengan lars hitam, mencaci maki habis-habisan bagaikan instruktur tentara, dan mengancam pemerkosaan beramai-ramai atas pelanggaran terkecil sekalipun. Para narapidana yang pertama kali melakukan tindak kejahatan itu jarang kembali ke Parchman.

"Nugent itu gila, Phillip. Tinggal menghitung waktu saja sebelum dia melukai orang."

"Benar! Sekarang kau mengerti. Kita akan biarkan dia melukai Sam, tepat seperti seharusnya. Sesuai buku. Tuhan tahu betapa cintanya Nugent pada buku petunjuk yang harus diikuti. Dia pilihan yang sempurna, Lucas. Eksekusi itu akan berjalan mulus tanpa cacat."

Itu sama sekali tak banyak artinya bagi Lucas. Ia mengangkat pundak, dan berkata, "Kaulah bosnya."

"Terima kasih," kata Naifeh.

"Tapi awasi Nugent, oke? Aku mengawasinya dari sisi ini, dan kau mengawasi segi hukumnya. Kita akan berhasil."

"Ini akan jadi yang terbesar," kata Lucas.

"Aku tahu. Aku harus bergegas. Aku sudah tua."

Lucas mengumpulkan berkas-berkasnya dari meja dan beranjak ke pintu. "Aku akan meneleponmu sesudah bocah itu pergi. Dia seharusnya menemuiku sebelum pergi."

"Aku ingin bertemu dengannya," kata Naifeh.

"Dia bocah yang menyenangkan."

"Keluarga hebat, ya?"

***

Si bocah yang menyenangkan dan kakeknya yang terpidana menghabiskan lima belas menit tanpa bicara; satu-satunya suara dalam ruangan itu adalah bunyi gemeretak resah AC yang bekerja keras. Pada suatu titik, Adam berjalan ke dinding dan mengebaskan tangan di depan lubang angin berdebu itu. Terasa ada sedikit embusan angin sejuk.

Ia bersandar pada counter dengan tangan terlipat dan menatap pintu, sejauh mungkin dari Sam. Ia sedang bersandar dan menatap ketika pintu itu terbuka dan kepala Sersan Packer muncul. Cuma memeriksa apakah segalanya beres, katanya sambil melirik Adam, lalu ke seberang ruangan di balik kisi-kisi, pada Sam yang membungkuk ke depan di kursinya dengan satu tangan menutupi wajah.

"Kami baik-baik saja," kata Adam tidak begitu yakin.

"Bagus, bagus," kata Packer dan cepat-cepat menutup pintu. Pintu itu terkunci, dan Adam perlahan-lahan berjalan kembali ke kursinya. Ia menariknya dekat ke kisi-kisi dan bertelekan siku. Sam tak menghiraukannya selama satu-dua menit, lalu menyeka mata dengan lengan kemeja dan duduk. Mereka saling pandang.

"Kita perlu bicara," kata Adam pelan.

Sam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa-apa. Ia kembali menyeka mata, kali ini dengan lengan satunya. Ia mencabut sebatang rokok dan meletakkannya di antara bibir. Tangannya bergetar ketika menyalakan korek. Ia menyedot rokok dengan cepat.

"Jadi, kau benar-benar Alan," katanya dengan suara rendah parau.

"Suatu ketika dulu, kurasa. Aku tidak mengetahuinya sampai ayahku meninggal."

"Kau lahir tahun 1964?"

"Benar."

"Cucu pertamaku?"

Adam mengangguk dan melengos.

"Kau menghilang tahun 1967."

"Kurang-lebih begitu. Aku tidak ingat, kau tahu. Memori pertamaku adalah dari California."

"Kudengar Eddie pergi ke California, dan di sana punya satu anak lagi. Sesudah itu, seseorang bercerita padaku nama anak keduanya Carmen. Selama bertahun-tahun ini aku mendengar sedikit-sedikit dan sepotong-sepotong, tahu kalian semua ada di California Selatan, tapi dia benar-benar menghilang dengan mulus."

"Kami berpindah-pindah ketika aku masih anak anak. Kurasa dia punya kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan."

"Kau tadinya tidak tahu tentang aku?"

"Tidak. Keluargaku tak pernah menyebutkannya. Aku tahu tentang hal ini sesudah penguburannya."

"Siapa yang menceritakannya?"

"Lee."

Sejenak Sam memejamkan mata rapat-rapat, lalu kembali menyedot rokok. "Bagaimana keadaannya?"

"Baik-baik saja, kurasa."

"Mengapa kau bekerja untuk Kravitz & Bane?"

"Itu biro hukum yang bagus."

"Apa kau tahu mereka mewakiliku?"

"Ya."

"Jadi, kau sudah merencanakan ini?"

"Sekitar lima tahun."

"Tapi kenapa?"

"Entahlah."

"Kau pasti punya alasan."

"Alasannya jelas. Kau kakekku, oke? Suka atau tidak, kau adalah kau dan aku adalah aku. Sekarang aku ada di sini, jadi apa yang akan kita lakukan?"

"Kurasa kau harus pergi."

"Aku takkan pergi, Sam. Sudah lama aku bersiap untuk ini."

"Bersiap untuk apa?"

"Kau butuh pengacara. Kau butuh bantuan. Itu sebabnya aku ada di sini."

"Aku sudah tak bisa ditolong. Mereka sudah bertekad akan membunuhku dengan gas, oke? Karena banyak alasan. Kau tak perlu terlibat dalam hal ini."

"Mengapa tidak?"

"Ah, pertama, karena sudah tak ada harapan. Kau akan menderita kalau jungkir balik dan gagal. Kedua, identitas aslimu akan terungkap. Itu akan sangat memalukan. Hidupmu akan jauh lebih baik kalau kau tetap Adam Hall."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 20)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.