Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 18)

   The Chamber: Kamar Gas

"Pengacara memburuku, menuntutku, mengadiliku, mendakwaku, menghancurkanku, lalu mengirimku ke tempat ini. Sejak aku di sini, mereka terus membuntutiku, menyakitiku lebih banyak lagi, membohongiku, dan sekarang mereka kembali dalam bentuk dirimu, fanatik hijau tanpa tabu sedikit pun bagaimana menemukan gedung pengadilan."

"Kau mungkin akan terkejut."

"Akan jadi kejutan luar biasa, Nak, kalau kau tahu membedakan hitam dan putih. Kau akan jadi badut pertama dari Kravitz & Bane yang memiliki informasi seperti itu."

"Mereka telah menjauhkanmu dari kamar gas selama tujuh tahun terakhir ini."

"Dan aku harus berterima kasih? Ada lima belas penghuni The Row yang lebih senior dari aku. Mengapa aku harus jadi yang berikutnya? Sudah sembilan setengah tahun aku di sini. Treemont sudah di sini selama empat belas tahun. Tentu saja dia seorang Afro-Amerika, dan itu selalu menolong. Mereka punya hak lebih banyak, kau tahu! Jauh lebih sulit mengeksekusi salah satu di antara mereka, sebab apa pun yang mereka perbuat selalu akibat kesalahan orang lain."

"Itu tidak benar."

"Bagaimana kau tahu apa yang benar? Setahun yang lalu kau masih kuliah, masih memakai jeans belel sepanjang hari, masih minum bir pada saat happy hour bersama sobat-sobat kecilmu yang idealis. Kau belum hidup, Nak. Jangan beritahu aku apa yang benar."

"Jadi, kau mendukung eksekusi secepatnya bagi orang Afro-Amerika?"

"Bukan gagasan jelek, sungguh. Sebenarnya sebagian besar dari bajingan-bajingan itu pantas di-gas."

"Aku yakin itu pendapat minoritas di penjara ini."

"Kau boleh bilang begitu."

"Dan kau, tentu saja, berbeda dan tidak semestinya di sini."

"Benar. Tak seharusnya aku di sini. Aku tahanan politik, dikirim ke sini oleh seorang egomaniak yang memanfaatkan diriku untuk tujuan-tujuan politiknya sendiri."

"Bisakah kita membahas apakah kau bersalah atau tidak?"

"Tidak. Tapi aku tidak melakukan apa yang menurut Juri telah kulakukan."

"Jadi, kau punya sekongkol? Orang lain yang menanam bom itu?"

Sam menggosok kerutan dalam di keningnya dengan jari tengah, seolah-olah memberi isyarat dengan jari itu. Tapi ia tidak memberi isyarat. Ia sekonyong-konyong menerawang berkepanjangan. Ruang pertemuan itu jauh lebih sejuk daripada selnya. Percakapan itu tanpa arah, tapi setidaknya itu percakapan dengan orang lain di luar penjaga dan sesama narapidana yang tak terlihat di sebelah selnya. Ia tidak tergesa-gesa, membuatnya berlangsung selama mungkin.

Adam mengamati catatannya dan memikirkan apa yang harus diucapkan selanjutnya. Mereka sudah dua puluh menit bercakap-cakap, saling mengukur, tanpa tujuan jelas. Ia bertekad akan mengungkap sejarah keluarganya sebelum meninggalkan tempat itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana melakukannya.

Beberapa menit berlalu. Tak satu pun memandang yang lain. Sam kembali menyalakan sebatang Montclair.

"Mengapa kau merokok begitu banyak?" akhirnya Adam berkata.

"Aku lebih suka mati karena kanker paru-paru. Itu keinginan lumrah di penjara ini."

"Berapa bungkus sehari?"

"Tiga atau empat."

Semenit lagi berlalu. Sam perlahan-lahan menghabiskan rokoknya dan bertanya baik-baik, "Kuliah di mana kau?"

"Fakultas hukum di Michigan. Sarjana muda di Pepperdine."

"Di mana itu?"

"California,"

"Di situkah kau dibesarkan?"

"Yeah."

"Berapa banyak negara bagian yang memberlakukan hukuman mati?"

"Tiga puluh delapan. Tapi sebagian besar tidak memakainya. Rasanya hukuman itu cuma populer di wilayah Selatan, Texas, Florida, dan California."

"Kau tahu lembaga legislatif kita yang terhormat telah mengubah undang-undang di sini? Sekarang kita bisa mati dengan suntikan mematikan. Itu lebih manusiawi. Bukankah itu bagus? Tapi itu tidak berlaku untukku karena vonisku sudah jatuh bertahun-tahun yang lalu. Aku harus menghirup gas."

"Mungkin tidak."

"Kau 26 tahun?"

"Yeah."

"Lahir tahun 1964?"

"Benar."

Sam mencabut sebatang rokok lagi dan mengetukkan Filternya pada counter. "Di mana?"

"Memphis," jawab Adam tanpa memandangnya.

"Kau tak mengerti, Nak. Negara bagian ini butuh satu eksekusi, dan aku kebetulan jadi korban terdekat. Louisiana, Texas, dan Florida membunuh mereka seperti membunuh lalat, dan para pengabdi hukum di negara bagian ini tak bisa mengerti mengapa kamar gas kita tidak dipergunakan. Semakin keras tindak kejahatan yang kita hadapi, makin banyak orang yang meminta eksekusi. Membuat mereka lebih lega. Sepertinya sistem ini bekerja keras untuk melenyapkan para pembunuh. Para politisi berkampanye secara terbuka dengan janji menggandakan pidana, memperberat vonis, dan memperbanyak eksekusi. Itulah sebabnya badut-badut di Jackson memberikan suara mendukung suntikan maut. Cara itu dianggap lebih manusiawi, kurang ditentang, jadi lebih mudah diterapkan. Kau mengikuti?"

Adam menganggukkan kepala sedikit.

"Sekarang tiba saatnya mengadakan eksekusi, dan giliranku tiba. Itulah sebabnya mereka mendesak mati-matian. Kau tak dapat menghentikannya."

"Kita tentu bisa mencoba. Aku menginginkan kesempatan itu."

Sam akhirnya menyalakan rokok. Ia menyedotnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap melalui bibirnya. Ia membungkuk sedikit ke depan, bertelekan siku, dan mengintip dari lubang pada kisi-kisi. "Dari California bagian mana asalmu?"

"L.A. Selatan." Adam melirik mata yang menusuk tajam itu, lalu berpaling.

"Keluargamu masih di sana?"

Rasa nyeri yang kejam menghunjam dada Adam, dan untuk sedetik jantungnya membeku. Sam mengepul-ngepulkan rokok dan tak pernah berkedip.

"Ayahku sudah meninggal," katanya dengan suara bergetar, dan ia merosot beberapa senti di kursinya.

Satu menit yang panjang berlalu, sementara Sam duduk siaga di kursinya. Akhirnya ia berkata, "Dan ibumu?"

"Dia tinggal di Portland, menikah kembali."

"Di mana adik perempuanmu?" ia bertanya.

Adam memejamkan mata dan menundukkan kepala. "Dia kuliah di college," gumamnya.

"Kurasa namanya Carmen, benar?" tanya Sam pelan.

Adam mengangguk. "Dari mana kau tahu?" ia bertanya dengan gigi dikatupkan rapat.

Sam mundur dari kisi-kisi dan tenggelam dalam kursi lipat besi itu. Ia menjatuhkan rokok ke lantai tanpa melihatnya. "Mengapa kau datang ke sini?" tanyanya, suaranya jauh lebih tegas dan keras.

"Bagaimana kau tahu ini aku?"

"Suaramu. Kau kedengaran seperti ayahmu. Mengapa kau datang ke sini?"

"Eddie mengirimku."

Mata mereka bertemu sepintas, lalu Sam mengalihkan pandangan. Perlahan-lahan ia membungkuk ke depan dan menempelkan kedua siku pada lutut. Tatapan matanya terpaku pada sesuatu di lantai. Ia diam tak bergerak.

Kemudian ditempelkannya tangan kanannya menutupi mata.

~ 10 ~

Phillip Naifeh berumur 63 tahun, dan menjelang pensiun sembilan belas bulan lagi. Sembilan belas bulan dan empat hari. Sudah 27 tahun ia mengabdi sebagai Inspektur State Department of Corrections, dan dengan demikian telah mengalami pemerintahan enam gubernur, sepasukan legislator negara bagian, seribu gugatan dari para tahanan, campur tangan pengadilan federal yang tak terhitung banyaknya dan eksekusi yang lebih banyak dari yang diingatnya.

Kepala penjara ini—sebutan ini lebih disukainya, meskipun nama ini secara resmi tak ada dalam terminologi Undang-Undang Mississippi—sepenuhnya berdarah Lebanon. Orangtuanya berimigrasi pada tahun dua puluhan dan menetap di Delta. Mereka hidup berkecukupan, mengelola sebuah toko kecil di Clarksdale. Di sana ibunya jadi cukup terkenal karena makanan penutup ala Lebanon buatannya. Ia dididik di sekolah-sekolah negeri, masuk college, kembali ke negara bagian itu, dan karena alasan-alasan yang sudah lama terlupakan, jadi terlibat dalam pelaksanaan hukum.

Ia benci hukuman mati. Ia mengerti bahwa masyarakat merindukannya, dan sudah lama ia menghafalkan semua alasan steril mengapa hukuman itu diperlukan. Hukuman itu merupakan sarana pencegah. Untuk menyingkirkan para pembunuh. Hukuman terakhir. Sesuai dengan ajaran agama. Memuaskan kebutuhan masyarakat akan pembalasan. Meredakan kepedihan yang dialami keluarga korban. Bila terpaksa, hukuman itu bisa membuat alasan-alasan ini sepersuasif yang dilakukan jaksa mana pun. Ia bahkan sebenarnya percaya pada satu atau dua alasan itu.

Namun beban pelaksanaan pembunuhan itu ada di pundaknya, dan ia sangat membenci aspek mengerikan dalam pekerjaannya ini. Phillip Naifeh-lah yang berjalan bersama si terhukum dari selnya menuju tempat yang disebut Ruang Isolasi, untuk menanggung jam terakhir sebelum kematian. Phillip Naifeh-lah yang membimbingnya menuju kamar gas di sebelah, dan mengawasi bagaimana harus mengikat kaki, tangan, dan kepalanya.

"Ada pesan terakhir?" Kalimat itu sudah ia ucapkan 22 kali selama 27 tahun. Kewajibannyalah memerintahkan penjaga agar mengunci pintu kamar gas, dan kewajibannyalah mengangguk kepada algojo untuk menarik tuas pencampur gas mematikan tersebut. Ia telah menyaksikan dua terpidana pertama saat mereka mati, kemudian memutuskan yang terbaik adalah menyaksikan wajah para saksi dalam ruang kecil di belakang kamar gas. Ia harus memilih para saksi. Ia harus melakukan seratus hal yang terdaftar dalam buku pegangan tentang cara membunuh narapidana secara legal, termasuk mengumumkan kematian, pengambilan jenazah dari kamar gas, penyemprotan untuk membersihkan pakaiannya dari gas, dan seterusnya, dan seterusnya.

Sekali ia pernah memberi kesaksian di hadapan komite legislatif di Jackson, dan memberikan pendapatnya tentang hukuman mati. Ia punya gagasan yang lebih baik, demikian jelasnya kepada telinga-telinga tuli itu, dan rencananya adalah mengurung para pembunuh yang sudah terbukti bersalah di dalam Maximum Security Unit dan dikucilkan sehingga mereka tak bisa membunuh, tak bisa kabur, dan tak berhak dibebaskan. Pada akhirnya mereka akan mati di penjara itu, tapi tidak di tangan negara.

Kesaksian ini menjadi berita besar dan nyaris mengakibatkan dirinya dipecat.

Sembilan belas bulan dan empat hari, pikirnya, sementara jarinya menyisir rambutnya yang tebal kelabu. Perlahan-lahan ia membaca keputusan terakhir dari Pengadilan Fifth Circuit. Lucas Mann duduk di seberang meja dan menunggu.

"Empat minggu," kata Naifeh sambil menggeser surat keputusan itu ke samping. "Berapa kali lagi hak pengajuan banding yang tersisa?" tanyanya dengan suara yang diseret lembut.

"Segala macam usaha terakhir, seperti biasa," jawab Mann.

"Kapan ini diturunkan?"

"Pagi tadi. Sam akan mengajukannya ke Mahkamah Agung, dan mungkin takkan dihiraukan. Ini akan makan waktu sekitar seminggu."

"Bagaimana pendapatmu, Pengacara?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 19)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.