Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 17)

 The Chamber: Kamar Gas

Adam mencoret-coretkan sesuatu yang tak terbaca pada buku tulisnya. Tentu saja ia bisa mendebat bahwa hampir sepertiga dari associate di sana wanita dan biro hukum itu dengan giat berusaha merekrut mahasiswa hukum kulit hitam dengan prestasi terbaik. Ia bisa menerangkan bagaimana mereka pernah diperkarakan karena balik mendiskriminasikan dua laki-laki kulit putih yang tawaran kerjanya lenyap pada detik terakhir.

"Berapa banyak partner Yahudi-Amerika yang kalian miliki? Delapan puluh persen?"

"Entahlah, aku tidak tahu. Itu sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku."

"Nah, itu jelas ada sangkut pautnya denganku. Aku selalu malu diwakili orang-orang yang terang-terangan fanatik."

"Banyak orang berpendapat itu pantas."

Sam merogoh satu-satunya saku pada pakaian terusannya dan mengeluarkan sebungkus rokok Montclair berwarna biru dan korek disposable. Pakaian terusan itu tidak dikancingkan sampai ke tengah dada, bulu tebal berwarna abu-abu terlihat dari celah itu. Bahannya katun yang sangat ringan. Adam tak bisa membayangkan hidup di tempat ini tanpa AC.

Ia menyalakan rokok dan mengembuskan asapnya ke langit-langit. "Kukira aku sudah selesai berurusan dengan kalian."

"Mereka tidak mengirimku ke sini. Aku menawarkan diri secara sukarela."

"Kenapa?"

"Entahlah. Kau butuh pengacara dan..."

"Kenapa kau begitu gelisah?"

Adam mencabut kuku jarinya dari gigi dan berhenti mengetuk-ngetukkan kaki. "Aku tidak gelisah."

"Jelas kau gelisah. Aku sudah menyaksikan banyak pengacara di tempat ini, dan aku belum pernah melihat yang segelisah kau. Ada apa, Nak? Kau takut aku menerobos kisi-kisi ini untuk mengejarmu?"

Adam mendengus dan mencoba tersenyum. "Jangan konyol. Aku tidak gelisah."

"Berapa umurmu?"

"Dua puluh enam."

"Kau kelihatan seperti 22 tahun. Kapan kau lulus dari sekolah hukum?"

"Tahun lalu."

"Hebat sekali. Bangsat-bangsat Yahudi itu mengirim seorang pelonco untuk menyelamatkanku. Sudah lama aku tahu diam-diam mereka menginginkan aku mati, dan sekarang inilah buktinya. Aku pernah membunuh beberapa orang Yahudi, dan sekarang mereka ingin membunuhku. Selama ini aku benar."

"Kau mengakui membunuh anak-anak Kramer itu?"

"Pertanyaan macam apa itu? Juri mengatakan aku melakukannya. Selama sembilan tahun, Pengadilan Tinggi mengatakan Juri benar. Itulah yang penting. Memangnya kau siapa, berani menanyakan pertanyaan macam itu padaku?"

"Kau butuh pengacara, Mr. Cayhall. Aku di sini untuk membantu."

"Aku butuh banyak hal, Nak, tapi yang jelas aku tidak membutuhkan bocah ingusan macam kau menasihatiku. Kau berbahaya, Nak, dan kau terlalu tolol untuk mengetahuinya." Sekali lagi ucapan itu keluar dengan hati-hati dan tanpa emosi. Ia memegang rokok di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanan, dan dengan tak acuh menjentikkan abu menjadi tumpukan teratur di tengah mangkuk plastik. Matanya sekali-sekali berkedip. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan atau emosi apa pun.

Adam membuat catatan tanpa makna, lalu kembali mencoba menatap mata Sam melalui lubang itu. "Dengar, Mr. Cayhall, aku pengacara, dan aku punya keyakinan moral yang kuat menentang hukuman mati. Aku terdidik dan terlatih dengan baik, membaca banyak masalah mengenai Amandemen Kedelapan, dan aku bisa membantumu. Itulah sebabnya aku ada di sini. Gratis."

"Gratis," Sam mengulangi. "Sungguh murali hati. Apakah kau tahu, Nak, aku menerima sedikitnya tiga tawaran seminggu dari pengacara-pengacara yang ingin mewakiliku dengan gratis? Pengacara-pengacara besar, tersohor, kaya. Ular-ular yang benar-benar licin. Mereka semua bersedia duduk di tempatmu sekarang, mengajukan mosi dan banding terakhir, memberikan wawancara, mengejar kamera, menggandeng tanganku pada jam-jam terakhir, menyaksikan mereka membunuhku dengan gas, lalu mengadakan jumpa pers lagi, menandatangani kontrak penulisan buku, pembuatan film, mungkin kontrak pembuatan miniseri televisi tentang kehidupan Sam Cayhall, seorang Klan pembunuh sejati. Kaulihat, Nak, aku terkenal, dan apa yang dulu kuperbuat kini menjadi legenda. Dan karena mereka akan membunuhku, aku akan jadi lebih terkenal lagi. Jadi, pengacara-pengacara itu menginginkanku. Aku menghasilkan uang besar. Negeri yang sakit, bukan?"

Adam menggelengkan kepala. "Aku tidak menginginkan hal-hal itu, aku janji. Aku akan menuliskannya hitam di atas putih. Aku akan menandatangani perjanjian menutup rahasia."

Sam terkekeh. "Baik, dan siapa yang akan melaksanakannya kelak sesudah aku mati?"

"Keluargamu," kata Adam.

"Lupakan saja keluargaku," kata Sam tegas.

"Motivasiku murni, Mr. Cayhall. Biro hukumku sudah mewakilimu selama tujuh tahun sekarang, jadi aku tahu hampir segalanya tentang kehidupanmu. Aku pun sudah melakukan banyak riset tentang latar belakangmu."

"Hebat. Celana dalamku pun sudah diteliti ratusan reporter keledai. Rasanya banyak orang yang tahu banyak tentang diriku, dan seluruh pengetahuan itu tak ada manfaatnya bagi diriku sekarang. Waktuku tinggal empat minggu. Apa kau tahu ini?"

"Aku punya copy ke putusan itu."

"Empat minggu, dan mereka akan memasukkan aku ke kamar gas."

"Jadi, mari kita segera bekerja. Kau boleh pegang janjiku, aku takkan pernah bicara dengan pers kecuali kau mengizinkannya, aku takkan pernah mengulangi apa pun yang kauceritakan padaku, dan aku takkan menandatangani kontrak penulisan buku atau pembuatan film. Aku sumpah."

Sam menyalakan sebatang rokok lagi dan menatap sesuatu pada counter. Ia menggosok lembut pelipis kanannya dengan jempol kanan, rokoknya hanya beberapa senti dari rambut. Untuk beberapa lama yang terdengar hanyalah bunyi derak AC di jendela yang terlalu banyak bekerja.

Sam merokok dan merenung. Adam membuat gambar yang tak ada artinya di buku tulis dan merasa agak bangga karena kakinya tidak bergerak dan perutnya tak lagi sakit. Keheningan itu terasa canggung, dan ia menduga, dengan tepat, Sam bisa duduk sambil merokok dan berpikir selama berhari-hari tanpa bicara sedikit pun.

"Apa kau kenal kasus Barroni?” Sam bertanya pelan.

"Barroni?"

"Ya, Barroni. Turun dari Pengadilan Ninth Circuit. Kasus California."

Adam memeras otak mencari nama Barroni. "Mungkin aku pernah melihatnya."

"Kau mungkin pernah melihatnya? Kau terlalu baik, banyak membaca, dan lain-lain, dan mungkin pernah melihat kasus Barroni! Pengacara tolol macam apa kau ini?"

"Aku bukan pengacara tolol."

"Benar. Benar. Bagaimana dengan Texas vs. Eeekesl? Pasti kau sudah baca yang ini."

"Kapan kasus ini turun?"

"Dalam enam minggu."

"Pengadilan mana?"

"Fifth Circuit."

"Amandemen Kedelapan?"

"Jangan tolol," Sam mendengus dengan perasaan benar-benar muak. "Kaupikir aku mengabiskan waktuku untuk membaca kasus-kasus kebebasan mengeluarkan pendapat? Pantatkulah yang duduk di sini, Nak, pergelangan kaki dan tangankulah yang akan diikat. Hidungkulah yang akan diserbu racun."

"Tidak. Aku tidak ingat Eeekes."

"Apa yang kaubaca?"

"Semua kasus penting."

"Kau pernah baca Barefoot?"

"Tentu."

"Ceritakan tentang Barefoot padaku."

"Apa ini, pop quiz?"

"Terserah apa mauku. Dari mana Barefoot berasal?" Sam bertanya.

"Aku tidak ingat. Tapi nama lengkapnya adalah Barefoot vs. Estelle, kasus monumental pada tahun 1983 yang diputuskan Mahkamah Agung bahwa terpidana mati tak boleh menahan tuntutan haknya yang sahih pada sidang banding, agar mereka bisa memakainya lagi kelak. Begitulah, kurang-lebih."

"Wah, wah, kau sudah membacanya. Pernahkah terpikir olehmu betapa aneh bagaimana pengadilan yang sama bisa berubah pendapat bila mereka menghendakinya? Pikirkanlah. Selama dua abad Mahkamah Agung AS mengizinkan pembunuhan legal. Katanya eksekusi itu konstitusional, diuraikan dengan bagus oleh Amandemen Kedelapan. Kemudian, pada tahun 1972, Mahkamah Agung AS membaca konstitusi yang sama, tak berubah, dan menghapuskan hukuman mati. Kemudian, pada tahun 1976, Mahkamah Agung mengatakan eksekusi sebenarnya konstitusional. Gerombolan kalkun yang sama memakai jubah hitam yang sama di gedung yang sama di Washington. Sekarang Mahkamah Agung mengubah peraturan lagi berdasarkan konstitusi yang sama. Anak buah Reagan bosan membaca terlalu banyak pengajuan banding, jadi mereka mengumumkan beberapa jalan tertentu harus ditutup. Rasanya aneh dalam penilaianku."

"Rasanya aneh bagi banyak orang."

"Bagaimana dengan Dulaney?” Sam bertanya sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Hanya ada sedikit ventilasi dalam ruangan itu atau sama sekali tidak ada, jadi terbentuklah awan di atas mereka.

"Dari mana asalnya?"

"Louisiana. Pasti kau sudah membacanya."

"Aku yakin sudah membacanya. Sebenarnya aku mungkin sudah membaca lebih banyak kasus daripadamu, tapi aku tidak selalu peduli mengingatnya, kecuali aku merencanakan memakainya."

"Memakainya di mana?"

"Dalam mosi atau banding."

"Jadi, kau sudah pernah menangani kasus hukuman mati sebelumnya? Berapa banyak?"

"Ini yang pertama."

"Mengapa aku tidak terhibur dengan ini? Pengacara-pengacara Yahudi-Amerika di Kravitz & Bane mengirimmu ke sini untuk bereksperimen denganku, benar? Kau mendapatkan sedikit pelatihan, agar kau bisa mencantumkannya dalam resumemu."

"Sudah kukatakan tadi, mereka tidak mengirimku ke sini."

"Bagaimana dengan Garner Goodman? Dia masih hidup?"

"Ya. Dia seumurmu."

"Kalau begitu, dia tak punya banyak waktu lagi, bukan? Dan Tyner?"

"Mr. Tyner baik-baik saja. Akan kuceritakan padanya kau menanyakannya."

"Oh, silakan. Katakan padanya aku benar-benar merindukannya, mereka berdua. Persetan, aku butuh hampir dua tahun untuk memecat mereka."

"Mereka bekerja jungkir balik untukmu."

"Katakan pada mereka untuk mengirimkan tagihan padaku." Sam terkekeh sendiri, senyum pertamanya pada pertemuan ini. Dengan teratur ia menghunjamkan rokok ke dalam mangkuk dan menyalakan yang baru. "Sebenarnya, Mr. Hall, aku benci pengacara."

"Itulah cara Amerika."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 18)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.