Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 16)

 The Chamber: Kamar Gas

Beberapa langkah pertamanya ke gardu jaga lamban dan kaku, terutama karena kakinya goyah dan lututnya bergetar. Pantofel berjumbainya sudah berdebu ketika ia berhenti di bawah menara pengawas dan menengadah. Sebuah ember merah, seperti yang biasa dipakai mencuci mobil, diturunkan dengan tali oleh seorang wanita berseragam yang bertampang serius.

"Masukkan kunci Anda ke dalam ember," ia menerangkan dengan efisien, membungkuk di atas susuran. Kawat duri di atas pagar itu berjarak satu setengah meter di bawahnya.

Adam cepat-cepat melakukan instruksi tersebut. Dengan hati-hati ia memasukkan kunci-kuncinya ke dalam ember, bergabung dengan selusin ikatan kunci lain. Wanita itu menariknya kembali dan Adam menyaksikannya naik beberapa detik, kemudian berhenti. Wanita itu mengikatkan tali, dan ember merah kecil ini bergantung tak berdaya di udara. Sedikit embusan angin segar akan mengayunnya pelan, tapi saat itu, dalam kevakuman yang mencekik, nyaris tak ada cukup udara untuk bernapas. Angin sudah mati bertahun-tahun yang lalu.

Penjaga itu selesai dengannya. Seseorang entah di mana menekan tombol atau menarik tuas. Adam tak tahu siapa yang melakukannya, tapi terdengar suara berdengung, dan gerbang kawat pertama di antara dua gerbang berat itu mulai bergeser beberapa meter sehingga ia bisa masuk. Ia berjalan empat setengah meter di jalan tanah itu, lalu berhenti ketika gerbang pertama menutup di belakangnya. Ia dalam proses mempelajari peraturan dasar pertama tentang pengamanan penjara—setiap pintu masuk yang perlu dilindungi punya dua daun pintu atau gerbang terkunci.

Ketika gerbang pertama berhenti di belakangnya dan terkunci di tempatnya, gerbang kedua dengan patuh bergeser membuka dan bergulir di sepanjang pagar. Ketika ini terjadi, seorang penjaga yang sangat kekar dengan lengan sebesar kaki Adam muncul di pintu utama unit itu dan mulai melangkah tanpa tergesa-gesa pada jalan setapak bata menuju gerbang. Penjaga itu perutnya keras dan lehernya besar, dan sepertinya, sudah menantikan Adam ketika Adam menunggu gerbang itu terbuka.

Ia mengangsurkan satu tangan hitam raksasa dan berkata, "Sersan Packer." Adam menjabatnya dan langsung memperhatikan sepatu lars koboi mengilat pada kaki Sersan Packer.

"Adam Hall," katanya, mencoba menggenggam tangan itu.

"Kemari untuk menemui Sam?" ucap Packer datar.

"Ya, Sir," kata Adam sambil bertanya-tanya dalam hati, apakah setiap orang di sini memanggilnya Sam saja.

"Kunjungan pertama ke sini?" Mereka mulai berjalan perlahan-lahan ke depan bangunan.

"Yeah," kata Adam, memandang jendela-jendela terbuka di sepanjang deretan bangunan terdekat. "Apakah semua terpidana mati dikurung di sini?" tanyanya.

"Yap. Sampai hari ini ada 47 orang. Hilang satu minggu lalu."

Mereka hampir sampai ke pintu utama. "Hilang satu?"

"Yeah. Mahkamah Agung mencabut vonis. Kami harus memindahkannya bersama populasi umum. Saya harus menggeledah Anda." Mereka sampai di pintu, dan Adam melirik sekeliling dengan gelisah, ingin tahu di mana Parker ingin melakukan penggeledahan.

"Rentangkan saja kakimu sedikit," kata Packer, lalu mengambil tas kerja Adam dan meletakkannya di beton. Pantofel gaya yang berjumbai itu sekarang terpaku di tempat. Meskipun ia pening dan untuk sementara tak bisa menggunakan segenap pikirannya, pada saat mengerikan ini Adam masih bisa ingat tak seorang pun pernah memintanya merentangkan kaki, meskipun cuma sedikit.

Tapi Packer seorang profesional. Ia meraba-raba kaus kaki dengan ahli, bergerak ke atas dengan lembut ke lutut, yang lebih lemas, lalu ke pinggang dalam waktu singkat. Penggeledahan pertama terhadap Adam selesai dalam beberapa detik, lalu Sersan Packer meraba sepintas di bawah lengannya seolah-olah Adam mungkin memakai selempang pundak dengan pistol kecil di dalamnya. Dengan tangkas Packer memasukkan tangan kanannya yang kokoh ke dalam koper, lalu menyerahkannya kembali kepada Adam. "Bukan hari baik untuk menemui Sam," katanya.

"Begitulah yang kudengar," jawab Adam, menyandangkan jasnya sekali lagi ke pundak. Ia menghadap pintu besi itu, seakan-akan sudah saatnya memasuki The Row.

"Ke sini," gumam Parker sambil melangkah ke rumput dan beranjak mengitari sudut. Dengan patuh Adam mengikuti jalan setapak lain dari bata merah, sampai mereka tiba di sebuah pintu biasa dengan rumput liar tumbuh di sampingnya. Pintu itu tanpa tanda atau label apa pun.

"Apa ini?" tanya Adam. Samar-samar ia ingat uraian yang diberikan Goodman tentang tempat ini, namun saat itu perinciannya kabur.

"Ruang pertemuan." Packer mengeluarkan sebuah kunci dan membuka pintu itu. Adam melihat sekeliling sebelum masuk dan mencoba mengumpulkan ketabahannya. Pintu itu terletak di samping bagian tengah unit tersebut, dan Adam menyadari mungkin para penjaga dan administrator mereka tidak menginginkan para pengacara merintangi dan melongok-longok. Jadi, ini jalan masuk bagian luar.

Ia menarik napas dalam dan melangkah masuk. Tak ada pengacara lain yang sedang mengunjungi klien mereka. Adam lega. Pertemuan ini bisa jadi heboh dan mungkin emosional, dan ia lebih suka melakukannya secara pribadi. Setidaknya untuk saat ini ruangan itu kosong.

Tempat itu cukup besar untuk beberapa pengacara datang berkunjung dan memberikan nasihat hukum; mungkin panjangnya sembilan meter dan lebarnya empat setengah meter, dengan lantai beton dan lampu neon terang benderang. Dinding paling ujung terbuat dari bata merah dengan tiga jendela tinggi di atas, sama seperti bagian luar unit itu. Langsung terlihat jelas ruang pertemuan itu ruang tambahan. AC di situ berapa perangkat jendela kecil yang meraung riuh dan mengembuskan angin sejuk lebih sedikit dari seharusnya.

Ruangan itu dibagi rapi dengan dinding bata pejal dan besi; para pengacara menempati sisi mereka dan kliennya di sisi lain. Dinding pemisahnya terbuat dari bata setinggi hampir satu meter pertama, lalu ada counter untuk para pengacara meletakkan buku catatan mereka dan menuliskan catatan. Sebuah kisi-kisi hijau dari kawat baja tebal bertengger kokoh di atas counter, membentang sampai ke langit-langit.

Adam berjalan perlahan-lahan ke ujung ruangan, mengelak dari segala jenis kursi—kursi lipat, bangku kafetaria yang sempit, dan kursi hijau atau abu-abu buangan kantor pemerintah.

"Aku akan mengunci pintu ini," kata Packer sambil melangkah ke luar. "Kami akan bawa Sam ke sini."

Pintu itu terbanting dan Adam pun sendirian. Ia cepat-cepat memilih tempat di ujung ruangan itu untuk berjaga-jaga. Kalau ada pengacara lain yang datang ke sana, ia tentu akan mengambil posisi di ujung seberang dan mereka bisa menyusun strategi tanpa didengar orang lain. Ia menarik sebuah kursi ke counter kayu itu, meletakkan jasnya di kursi lain, mengeluarkan buku catatan, membuka tutup pena, dan mulai menggigit-gigit kuku.

Ia mencoba berhenti menggigit-gigit kuku, tapi tak bisa. Perutnya bergolak liar dan tumitnya berkedut-kedut tak terkendali. Ia memandang ke balik kisi-kisi dan mengamati bagian untuk narapidana—counter kayu yang sama, segala macam kursi tua yang sama. Di tengah kisi-kisi di depannya ada celah, 10 kali 25 senti, dan melalui lubang kecil inilah ia akan berhadapan muka dengan Sam Cayhall.

Ia menunggu dengan resah, mengatakan pada diri sendiri agar tenang, santai, rileks. Ia bisa menangani ini. Ia mencoret-coretkan sesuatu pada buku, tapi terus terang ia tak bisa membacanya. Ia menggulung lengan baju. Ia memandang sekeliling ruangan, mencari mikrofon dan kamera tersembunyi, tapi ruangan itu begitu sederhana, sehingga tak bisa ia bayangkan ada orang yang mencoba menguping. Kalau melihat sikap Sersan Packer, bisa diambil kesimpulan, staf lainnya tentu juga santai, nyaris tak acuh.

Adam mengamati kursi-kursi kosong di kedua sisi kisi-kisi dan bertanya-tanya dalam hati, berapa banyak orang putus asa, pada jam-jam terakhir hidup mereka, pernah bertemu di sini dengan pengacara mereka dan mencari-cari kata-kata pengharapan. Berapa banyak dalih pembelaan pernah melewati kisi-kisi ini, sementara jam berdetak teratur, lewat bersama waktu?

Berapa banyak pengacara pernah duduk di tempatnya sekarang dan mengatakan kepada klien mereka bahwa sudah tak ada yang bisa dilakukan lagi, eksekusi akan dilaksanakan? Pemikiran itu menyedihkan, tapi sedikit menenangkan Adam. Ia bukan orang pertama yang datang ke sini, dan ia takkan jadi yang terakhir. Ia pengacara, sangat terlatih, diberkahi dengan pikiran cerdas, dan datang ke sini dengan sumber daya besar dari Kravitz & Bane di belakangnya. Ia bisa melaksanakan tugasnya. Perlahan-lahan kakinya diam, dan ia berhenti menggigit-gigit kuku.

Gerendel pintu berdetak dan ia terperanjat setengah mati. Pintu itu terbuka perlahan-lahan, dan seorang penjaga muda berkulit putih melangkah ke dalam bagian untuk narapidana. Di belakangnya, dalam pakaian terusan merah, terborgol, adalah Sam Cayhall. Ia menatap tajam ke sekeliling mangan, mengerling ke kisi-kisi, sampai matanya terfokus pada Adam. Seorang penjaga menarik sikunya dan membimbingnya tepat ke hadapan sang pengacara. Ia kurus, pucat, dan lima belas senti lebih pendek dari dua penjaga itu, tapi mereka sepertinya memberikan banyak tempat kepadanya.

"Siapa kau?" ia mendesis kepada Adam, yang saat itu sedang menggigiti kuku.

Seorang penjaga menarik kursi ke belakang Sam, dan penjaga lain mendudukkannya ke sana. Ia menatap Adam. Penjaga-penjaga itu mundur dan hendak berlalu ketika Adam berkata, "Bisakah kalian membuka borgolnya?"

"Tidak. Kami tak bisa melakukannya."

Adam menelan ludah dengan keras. "Lepaskan saja, oke? Kami akan berada di sini beberapa lama," katanya, mengerahkan segenap ketegasan.

Penjaga-penjaga itu saling bertukar pandang, seolah-olah permintaan ini belum pernah didengar. Lalu sebuah anak kunci cepat-cepat dikeluarkan, dan borgol itu dibuka.

Sam tidak terkesan. Ia menatap berapi-api pada Adam melalui lubang pada kisi-kisi ketika penjaga berlalu dengan ribut. Pintu terbanting dan gerendel berdetik.

Mereka sendirian, reuni keluarga versi Cayhall. AC gemeretak dan mengembus, dan selama satu menit yang panjang hanya ia yang menimbulkan suara. Meskipun mencoba dengan gagah berani, Adam tak sanggup memandang langsung ke mata Sam lebih dari dua detik. Ia menyibukkan diri dengan menuliskan catatan penting pada bukunya, dan ketika menomori setiap baris ia bisa merasakan panasnya tatapan mata Sam.

Akhirnya Adam menyodorkan sehelai kartu nama melalui celah. "Namaku Adam Hall. Aku pengacara dari Kravitz & Bane. Chicago dan Memphis."

Sam dengan sabar mengambil kartu itu dan memeriksanya depan-belakang. Adam mengamati setiap gerakan. Jemarinya keriput dan bernoda cokelat kerena rokok. Wajahnya pucat pasi, warna satu-satunya muncul dari jenggot kelabu putih yang lima hari tidak dicukur. Rambutnya panjang, kelabu, dan berminyak, disisir menempel ke belakang.

Adam cepat-cepat memutuskan ia sama sekali tidak mirip dengan gambar-gambar mati dari video itu. Tidak pula mirip dengan foto-foto yang terakhir beredar, foto-foto dari sidang tahun 1981. Ia sudah cukup tua sekarang, dengan kulit halus pucat dan lapisan-lapisan keriput di sekitar mata. Goresan-goresan dalam karena usia dan penderitaan terpeta di keningnya. Satu-satunya bagian menarik adalah sepasang mata tajam berwarna biru tua yang terangkat dari kartu nama itu.

"Kalian bocah-bocah Yahudi tak kenal menyerah, bukan?" katanya dengan nada datar, menyenangkan. Tak ada tanda-tanda kegusaran.

"Aku bukan Yahudi," kata Adam, membalas tatapan Sam dengan berhasil.

"Kalau begitu, bagaimana kau bisa bekerja pada Kravitz & Bane?" ia bertanya sambil menyisihkan kartu itu ke samping. Kata-katanya lembut, lamban, dan diucapkan dengan kesabaran orang yang sudah menghabiskan sembilan setengah tahun sendirian di dalam sel berukuran sekitar dua kali tiga meter.

"Kami memberikan kesempatan yang sama untuk semua orang."

"Itu bagus. Semuanya menurut aturan dan legal, kurasa. Sepenuhnya sesuai dengan peraturan hak-hak sipil dan undang-undang federal."

"Tentu."

"Ada berapa partner di Kravitz & Bane sekarang?"

Adam mengangkat bahu. Jumlahnya bervariasi dari tahun ke tahun. "Sekitar 150."

"Seratus lima puluh partner. Dan berapa yang wanita?"

Adam sangsi sementara mencoba menghitung. "Aku sungguh tidak tahu. Barangkali selusin."

"Selusin," Sam mengulangi, hampir tidak menggerakkan bibir. Tangannya terlipat dan diam, matanya tak berkedip. "Jadi, kurang dari sepuluh persen dari partner di sana wanita. Berapa partner negro yang kalian miliki?"

"Bisakah kita menyebut mereka orang kulit hitam?"

"Oh, tentu, tapi tentu saja istilah itu pun sudah usang. Mereka sekarang ingin disebut Afro-Amerika. Sudah tentu secara politis kau cukup cakap mengetahui hal ini."

Adam mengangguk, tapi tak mengucapkan apa pun.

"Berapa partner Afro-Amerika yang kalian miliki?"

"Empat, kurasa."

"Kurang dari tiga persen. Wah, wah. Kravitz & Bane, kubu hebat tempat keadilan sipil dan aksi politik liberal, sebenarnya, mendiskriminasikan orang Afro-Amerika dan Perempuan-Amerika. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakan."

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 17)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.