Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 15)

 The Chamber: Kamar Gas

"Tentu," kata Adam berbasa-basi. Ia tak bisa memimpikan kapan ia ingin mendengar kisah tentang pembunuh biadab dan eksekusi mereka.

"Saya katakan pada Garner, menurut saya Anda tak seharusnya diizinkan mengunjungi Sam. Dia mendengarkan sejenak, kemudian menjelaskan, agak samar-samar, mungkin Anda menghadapi situasi khusus, dan Anda sedikitnya diizinkan mengunjunginya satu kali. Dia tidak mengatakan apa yang begitu istimewa tentang hal ini. Anda tahu maksud saya?" Lucas menggaruk dagu ketika mengucapkan ini, seolah-olah nyaris memecahkan teka-teki tersebut. "Kebijaksanaan kita agak keras, terutama untuk MSU. Tapi Kepala Penjara akan melakukan apa saja yang saya minta." Ia mengucapkan ini dengan sangat perlahan-lahan, kata-katanya bergantung di udara.

"Saya... uh... benar-benar perlu menemuinya," kata Adam, suaranya nyaris pecah.

"Ah, dia butuh pengacara. Terus terang, saya gembira Anda di sini. Kita tak pernah mengeksekusi orang, kecuali pengacaranya hadir. Ada segala macam manuver hukum sampai menit terakhir, dan saya lebih lega kalau Sam punya pengacara." Ia berjalan mengelilingi meja dan mengambil tempat duduk di sisi lain. Ia membuka sebuah berkas dan mempelajari sehelai kertas. Adam menunggu dan mencoba bernapas normal. "Kami menyelidiki cukup mendalam latar belakang para terpidana mati," kata Lucas, masih memandang berkas itu. Pernyataan itu mengandung nada peringatan sungguh-sungguh. "Terutama bila waktu penundaan sudah habis dan eksekusi itu akan dilaksanakan. Apa Anda tahu sesuatu tentang keluarga Sam?"

Rasa nyeri itu mendadak terasa bagaikan bola basket dalam perut Adam. Ia mengangkat pundak dan menggelengkan kepala pada saat yang sama, seolah-olah mengatakan tak tahu apa-apa

"Apakah Anda merencanakan bicara dengan keluarga Sam?"

Sekali lagi tak ada tanggapan, cuma gerakan mengangkat pundak yang canggung, pundak yang sangat berat saat ini.

"Maksud saya, biasanya dalam kasus-kasus ini ada cukup banyak kontak dengan keluarga si terhukum menjelang eksekusi. Anda mungkin ingin menghubungi orang-orang ini. Sam punya seorang putri di Memphis, Mrs. Lee Booth. Saya punya alamatnya, kalau Anda mau." Lucas memandangnya dengan curiga. Adam tak mampu bergerak. "Saya rasa Anda tak mengenalnya, bukan?"

Adam menggelengkan kepala, tapi tak mengucapkan apa pun.

"Sam punya seorang putra, Eddie Cayhall, tapi laki-laki malang itu bunuh diri pada tahun 1981. Dulu tinggal di California. Eddie meninggalkan dua anak, seorang putra lahir di Clanton, Mississippi, tanggal 12 Mei 1964, yang anehnya, menurut Martindale-Hubbel Law Directory adalah hari ulang tahun Anda. Menurut buku itu, Anda lahir di Memphis pada hari yang sama. Eddie juga meninggalkan seorang anak perempuan yang lahir di California. Mereka cucu Sam. Akan saya coba menghubungi mereka, kalau Anda..."

"Eddie Cayhall ayah saya," kata Adam tanpa berpikir, dan ia menghela napas panjang. Ia tenggelam lebih dalam di kursinya dan menatap permukaan meja. Jantungnya berdebar-debar liar, tapi sedikitnya ia bernapas kembali. Pundaknya sekonyong-konyong jadi lebih ringan. Ia bahkan menyunggingkan senyum yang sangat kecil.

Wajah Mann tidak menunjukkan ekspresi. Ia berpikir panjang, kemudian berkata dengan sedikit nada puas, "Saya kurang lebih sudah menduganya" Ia langsung membalik-balik kertas, seolah-olah berkas itu mengandung banyak kejutan lain. "Selama ini Sam orang yang sangat kesepian di death row, dan dalam hati saya kerap bertanya tentang keluarganya. Dia menerima sejumlah surat, tapi hampir tak satu pun dari keluarganya. Sama sekali tak ada pengunjung, meskipun tak berarti dia menginginkannya. Namun agak luar biasa bagi seorang narapidana yang begitu terkemuka diabaikan begitu saja oleh keluarganya. Terutama yang berkulit putih. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan orang, Anda mengerti."

"Tentu."

Lucas tak menghiraukan ini. "Kita harus membuat persiapan untuk eksekusi itu, Mr. Hall. Misalnya, kita perlu tahu apa yang harus dilakukan pada jenazahnya, cara penguburan, dan sebagainya. Di situlah keluarga terlibat. Sesudah bicara dengan Garner kemarin, saya minta beberapa orang kami untuk melacak keluarganya. Itu cukup mudah. Mereka juga memeriksa dokumen-dokumen Anda, dan langsung menemukan bahwa Negara Bagian Tennessee tidak memiliki catatan kelahiran Adam Hall pada tanggal 12 Mei 1964. Satu hal menuntun pada yang lain. Itu tidak sulit."

"Saya tidak lagi bersembunyi."

"Kapan Anda tahu tentang Sam?"

"Sembilan tahun yang lalu. Bibi saya, Lee Booth, menceritakannya pada saya sesudah kami menguburkan ayah saya."

"Pernahkah Anda mencoba menghubungi Sara?"

"Tidak."

Lucas menutup berkas itu dan merebahkan kursinya yang berkeriut-keriut. "Jadi, Sam tidak tahu siapa Anda dan mengapa Anda ke sini?"

"Benar."

"Wow," ia bersiul ke langit-langit.

Adam sedikit tenang dan duduk tegak di kursinya. Si kucing sekarang sudah keluar dari karung, dan seandainya bukan karena Lee dan ketakutannya dikenali, ia tentu merasa lega sepenuhnya. "Berapa lama saya bisa menemuinya hari ini?" ia bertanya.

"Nah, Mr. Hall..."

"Panggil saja aku Adam, oke?"

"Baiklah, Adam, kami sebenarnya punya dua perangkat peraturan untuk The Row."

"Maaf, tapi tadi aku diberitahu penjaga gerbang tidak ada death row di sini."

"Resminya tidak. Kau takkan pernah mendengar penjaga atau personel lain menyebutnya dengan nama lain kecuali Maximum Security Unit atau MSU atau Unit 17. Omong-omong, bila waktu seseorang di The Row sudah hampir habis, kami sedikit melonggarkan peraturan-peraturannya. Biasanya pertemuan dengan pengacara dibatasi sampai satu jam sehari, tapi dalam kasus Sam kau boleh memakai waktu sebanyak yang kaubutuhkan. Kukira ada banyak hal yang ingin kaubicarakan."

"Jadi, tak ada batas waktu?"

"Tidak. Kau boleh tinggal sehari penuh kalau mau. Kami mencoba membuat segala urusan mudah pada hari-hari terakhir. Kau bisa datang dan pergi sesukamu, selama tidak ada risiko keamanan. Aku pernah ke death row di lima negara bagian lain, dan percayalah padaku, kami yang terbaik dalam memperlakukan mereka. Astaga, di Louisiana mereka membawa narapidana malang itu keluar dari unitnya dan selama tiga hari mengurungnya dalam tempat yang disebut The Death House sebelum membunuhnya. Bicara tentang kekejaman, kami tidak melakukan hal itu. Sam akan diperlakukan dengan istimewa, sampai hari besar itu tiba."

"Hari besar?"

“Itu empat minggu mulai hari ini, kau tahu? 8 Agustus." Lucas meraih sejumlah kertas di sudut mejanya, lalu mengangsurkannya kepada Adam. "Ini datang pagi tadi. Pengadilan Fifth Circuit mencabut penundaan eksekusi kemarin sore, Mahkamah Agung Mississippi baru saja menentukan tanggal eksekusi baru, yaitu 8 Agustus."

Adam memegang dokumen itu tanpa memandangnya. "Empat minggu," katanya, tercengang.

"Aku khawatir begitulah. Aku memberikan satu copy pada Sam sekitar sejam yang lalu, jadi dia sedang murung."

"Empat minggu," Adam mengulangi, hampir kepada diri sendiri. Ia melirik keputusan pengadilan itu. Kasus itu diberi judul State of Mississippi vs Sam Cayhall. "Kurasa sebaiknya aku pergi menemuinya, bagaimana menurutmu?" katanya seenaknya.

"Yeah. Dengar, Adam, aku bukan salah satu dari orang-orang jahat itu, oke?" Lucas bangkit berdiri perlahan-lahan dan berjalan ke tepi meja, lalu pelan-pelan menyandarkan pantatnya. Ia melipat tangan dan memandang Adam. "Aku cuma melaksanakan tugas, oke? Aku akan terlibat, sebab aku harus mengurus tempat ini dan memastikan segalanya dilaksanakan sesuai hukum, menurut buku. Aku takkan menikmatinya, tapi ini akan jadi urusan gila dan cukup menekan, dan setiap orang akan meneleponku—Kepala Penjara, asisten-asistennya, kantor Jaksa Agung, Gubernur, kau, dan seratus lainnya. Jadi, aku akan berada di tengah semua ini meskipun tidak menginginkannya. Ini bagian paling tak menyenangkan dalam pekerjaan ini. Aku cuma ingin kau tahu aku ada di sini bila kau membutuhkanku, oke? Aku akan selalu jujur dan terus terang denganmu."

"Kau mengasumsikan Sam mengizinkanku mewakilinya?"

"Ya. Aku mengasumsikan demikian."

"Bagaimana peluang eksekusi itu akan dilaksanakan empat minggu lagi?"

"Lima puluh-lima puluh. Kau tak pernah tahu apa yang akan dilakukan pengadilan pada menit terakhir. Kami akan mulai bersiap seminggu sebelumnya. Kami punya checklist panjang tentang hal-hal yang harus dilakukan untuk persiapan."

"Semacam cetak biru untuk kematian?"

"Semacam itulah. Jangan kira kami menyukainya."

"Kurasa semua orang di sini cuma melaksanakan tugas mereka, benar?"

"Itu undang-undang negara bagian ini. Bila masyarakatmu ingin membunuh pelaku tindak kejahatan, harus ada yang melakukannya."

Adam memasukkan surat keputusan pengadilan ke dalam tasnya dan berdiri di depan Lucas. "Terima kasih atas keramah-tamahannya."

"Terima kasih kembali. Sesudah kau menemui Sam, aku perlu tahu apa yang terjadi."

"Akan kukirim satu copy perjanjian representasi kami kepadamu, kalau dia menandatanganinya."

"Itulah yang kuperlukan." Mereka berjabatan tangan dan Adam beranjak ke pintu.

"Satu hal lain," kata Lucas. "Saat mereka membawa Sam ke mang kunjungan, mintalah penjaga melepaskan borgolnya. Akan kupastikan mereka melakukannya. Itu akan berarti banyak bagi Sam."

"Terima kasih."

~ 9 ~

Suhu udara telah naik sedikitnya sepuluh derajat ketika Adam meninggalkan bangunan itu dan berjalan melewati dua narapidana yang menyapu kotoran yang sama dengan gerakan lamban yang sama. Ia berhenti di tangga depan dan sejenak mengawasi segerombolan narapidana mengumpulkan sampah di sepanjang jalan raya, tak lebih seratus meter dari sana.

Seorang penjaga bersenjata di atas kuda mengawasi mereka dari selokan. Kendaraan lewat tanpa mengurangi kecepatan. Dalam hati Adam bertanya, penjahat macam apa mereka ini, yang diizinkan bekerja di luar pagar dan begitu dekat ke jalan raya. Tampaknya tak seorang pun memedulikan hal itu, kecuali dirinya.

Ia berjalan menempuh jarak pendek ke mobilnya, dan sudah berkeringat saat membuka pintu dan menyalakan mesin. Ia mengikuti jalan mobil, melintasi halaman parkir di belakang kantor Mann, kemudian berbelok ke kiri pada jalan utama penjara itu.

Sekali lagi ia melewati rumah-rumah putih yang mungil dengan bunga-bungaan dan pepohonan di halaman depannya. Sungguh masyarakat kecil yang beradab. Sebuah panah pada papan tanda jalan menunjuk ke kiri, menuju Unit 17. Ia berbelok, sangat pelan, dan dalam beberapa detik sampai pada jalan tanah yang dengan cepat membawanya ke pagar kawat dan kawat duri ketat.

The Row di Parchman dibangun pada tahun 1954, dan secara resmi disebut sebagai Maximum Security Unit, atau MSU. Sebuah tanda peringatan pada dinding sebelah dalam mencantumkan tanggal, nama gubernur saat itu, nama berbagai pejabat penting dan sudah lama terlupakan yang menunjang pembangunannya, dan tentu saja nama arsitek dan kontraktornya. Bangunan itu tergolong modern untuk saat itu—sebuah bangunan bata merah satu lantai beratap datar, membentang jadi dua empat persegi panjang dari tengahnya.

Adam parkir di halaman tanah, di antara dua mobil lain, dan memandangnya. Tak ada jeruji yang terlihat dari luar. Tak ada penjaga berpatroli di sekitarnya. Kalau bukan karena pagar dan kawat duri tersebut, tempat itu bisa disangka sebagai sekolah dasar di pedesaan. Di dalam halaman yang terkurung pagar di ujung salah satu sayap, seorang narapidana memantul-mantuIkan bola basket pada lapangan yang tak berumput dan melemparkannya pada papan sasaran yang bengkok.

Tinggi pagar di depan Adam sedikitnya tiga setengah meter, bagian atasnya dimahkotai dengan bentangan kawat duri tebal dan gulungan kawat tajam yang mengancam. Pagar itu membentang lurus ke sudut, sampai bergabung dengan menara pengawas tempat para penjaga mengawasi ke bawah.

Pagar itu mengurung The Row dari empat sisi dengan bentuk yang simetris sempurna, di tiap sudut ada menara serupa, berdiri tinggi dengan ruang penjaga tertutup kaca di puncaknya. Di balik pagar itu tanaman kapas mulai berderet dan serasa membentang tak terhingga. Secara harfiah, The Row terletak di tengah ladang kapas.

Adam melangkah keluar dari mobilnya, mendadak merasa ngeri berada di tempat tertutup. Ia meremas pegangan tas kerjanya yang tipis, sambil menatap melalui pagar kawat ke bangunan kecil yang datar dan panas itu, tempat mereka membunuh orang. Perlahan-lahan ia menanggalkan jas dan melihat kemejanya sudah basah dan lengket ke dada. Rasa nyeri di perutnya kembali meruyak.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.