Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 14)

 The Chamber: Kamar Gas

Dari risetnya yang mendalam, ia tahu selama beberapa dasawarsa jalan raya ini telah berfungsi sebagai penyalur utama ratusan ribu orang kulit hitam miskin dari Delta yang pergi ke utara menuju Memphis, St. Louis, Chicago, dan Detroit, ke tempat-tempat mereka mencari pekerjaan dan perumahan yang layak.

Dari kota-kota kecil dan darah pertanian inilah, di rumah-rumah bobrok, toko-toko desa yang berdebu, dan tempat minum anekawarna sepanjang Highway 61, musik blues dilahirkan dan tersebar ke Utara. Musik itu mendapatkan tempat di Memphis; di situ dicampur dengan musik gereja dan country, dan bersama-sama mereka menelurkan rock and roll. Ia mendengarkan sebuah kaset Muddy Waters lama ketika memasuki Tunica County yang terkenal sebagai county termiskin di seluruh negeri.

Musik itu tak banyak menenangkannya. Ia menolak makan pagi di rumah Lee. Katanya ia tidak lapar, tapi sebenarnya perutnya nyeri. Rasa nyeri itu makin menghebat setiap mil.

Tepat di utara kota Tunica, ladang-ladang tampak luas dan membentang ke segala penjuru, sampai ke kaki langit. Kedelai dan kapas tumbuh setinggi lutut. Sam melihat pasukan kecil traktor hijau dan merah dengan garu di belakangnya hilir-mudik di antara deretan dedaunan yang membentang rapi tak terhingga. Meskipun saat itu belum lagi pukul 09.00, udara sudah panas dan lengket.

Tanah begitu kering dan awan debu membara di belakang setiap gam. Sekali-sekali sebuah mesin pemanen muncul entah dari mana dan dengan akrobatis memangkas bagian atas ladang itu, lalu menderu ke atas. Lalu lintas padat dan lamban, dan kadang-kadang terpaksa nyaris berhenti ketika sebuah truk John Deere raksasa beringsut maju, seakan-akan jalan itu kosong. Adam penyabar. Ia tidak ditunggu kedatangannya sebelum pukul 10.00, dan tidak ada masalah seandainya ia terlambat.

Di Clarksdale ia meninggalkan Highway 61 dan menuju tenggara melalui Highway 49, melintasi pemukiman-pemukiman kecil Mattson, Dublin, dan Tutwiler, melintasi ladang-ladang kedelai lagi. Ia melewati rumah-rumah miskin dan rumah-rumah mobil yang kotor, yang semuanya karena alasan tertentu ditempatkan di dekat jalan raya bebas hambatan. Sekali-sekali ia melewati rumah bagus, selalu di kejauhan, selalu berdiri megah di bawah pepohonan ek dan elm besar, dan biasanya dengan kolam renang berpagar di salah satu sisi. Tak ada keraguan siapa yang memiliki ladang-ladang ini.

Sebuah tanda jalan mengumumkan bahwa penjara negara bagian terletak lima mil di depan, dan secara naluriah Adam mengurangi kecepatan mobilnya. Sesaat kemudian ia menghampiri sebuah traktor besar yang beringsut lamban di jalan. Bukannya melewati, ia memilih mengikutinya. Operatornya, seorang laki-laki kulit putih dengan topi kotor, memberi tanda padanya agar menghampiri.

Adam melambai dan tetap berada di belakang gam dengan kecepatan dua puluh mil per jam. Tak ada kendaraan lain yang terlihat. Sekali-sekali gumpalan tanah terlontar dari ban belakang traktor dan mendarat beberapa senti di depan Saab. Ia mengurangi kecepatan sedikit lagi. Si operator berputar di tempat duduknya dan kembali melambai kepada Adam agar menghampiri. Mulutnya bergerak dan wajahnya gusar, seolah-olah itu jalannya sendiri dan ia tidak menyukai idiot-idiot yang menguntit traktornya. Adam tersenyum dan melambai kembali, tapi tetap bertahan di belakangnya.

Beberapa menit kemudian, ia melihat penjara itu. Tak ada pagar kawat tinggi di sepanjang jalan. Tak ada bentangan kawat duri mengilat untuk mencegah pelarian. Tak ada menara dengan penjaga-penjaga bersenjata. Tak ada kerumunan narapidana yang melolong meneriaki orang lewat. Sebaliknya, Adam melihat sebuah gerbang di sebelah kanan dan kata-kata MISSISSIPPI STATE PENITENTIARY terbentang pada lengkungan di atasnya. Di samping gerbang itu ada beberapa bangunan, semuanya menghadap ke jalan raya dan jelas tak dijaga.

Adam melambai sekali lagi kepada operator traktor, kemudian meluncur keluar dari jalan raya. Ia menghela napas dalam dan mengamati gerbang itu. Seorang wanita berseragam melangkah dari gardu jaga di bawah lengkungan dan menatapnya. Adam mengendarai mobilnya perlahan-lahan ke arahnya dan menurunkan jendela.

"Pagi," kata wanita itu. Di pinggangnya ada pistol dan di tangannya ada sebuah clipboard. Satu penjaga lain mengawasi dari dalam. "Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?"

"Saya pengacara, datang ke sini untuk menjumpai seorang klien di death row," kata Adam lemah, sangat sadar bahwa suaranya bergetar dan gelisah. Tenanglah, katanya pada diri sendiri.

"Kami tak punya siapa pun di death row, Sir."

"Ya?"

“Tidak ada tempat bernama death row di sini. Kami memang punya banyak narapidana di Maximum Security Unit, atau MSU kependekannya, tapi Anda bisa mencari di seluruh tempat ini dan takkan menemukan death row."

"Oke."

"Nama?" katanya sambil meneliti clipboard.

"Adam Hall."

"Dan klien Anda?"

"Sam Cayhall."

Ia sudah separo berharap akan mendapatkan tanggapan atas jawaban ini, tapi si penjaga tak peduli. Ia membalik sehelai kertas dan berkata, "Tunggu di sini."

Gerbang itu berubah menjadi jalan masuk dengan pohon-pohon peneduh dan bangunan-bangunan kecil di setiap sisi. Ini bukan penjara. Ini jalan kecil yang bagus di sebuah kota kecil, dan setiap saat sekelompok anak akan muncul dengan sepeda dan sepatu roda.

Di sebelah kanan ada sebuah bangunan kuno dengan teras depan dan bunga-bungaan. Sebuah papan tanda menunjukkan tempat itu adalah Balai Pengunjung, seolah-olah cendera mata dan limun tersedia di sana untuk pelancong yang bersemangat. Sebuah pickup putih dengan tiga pemuda kulit hitam di dalamnya dan tulisan Mississippi Department of Correction tercetak pada pintunya lewat tanpa mengurangi kecepatan sedikit pun.

Sepintas Adam melihat penjaga tadi berdiri di belakang mobilnya. Sang penjaga menuliskan sesuatu pada clipboard sambil menghampiri jendela Adam. "Tinggal di mana di Illinois?" tanyanya.

"Chicago."

"Bawa kamera, senjata api, atau tape recorder?”

“Tidak."

Wanita itu mengulurkan tangan ke dalam dan meletakkan sehelai kartu pada dashboard. Kemudian ia kembali ke clipboard-nya dan berkata, "Saya catat di sini bahwa Anda harus menemui Lucas Mann."

"Siapa itu?"

"Dia pengacara penjara."

"Saya tak tahu harus menemuinya."

Ia memegang secarik kertas semeter dari wajah Adam. "Begitulah yang tertulis di sini. Belok kiri pada tikungan ketiga di ujung sana, lalu berputarlah ke belakang gedung bata merah itu." Ia menunjuk.

"Apa yang dia inginkan?"

Ia mendengus dan mengangkat pundak bersamaan, lalu berjalan ke gardu jaga sambil menggelengkan kepala. Pengacara tolol.

***

Adam pelan-pelan menginjak pedal gas dan melewati Balai Pengunjung tadi, meluncur di jalan teduh itu. Di kedua sisinya berjajar rumah-rumah putih yang rapi, yang kelak diketahuinya sebagai tempat tinggal penjaga penjara dan karyawan lain beserta keluarga mereka. Ia mengikuti instruksi dan parkir di depan sebuah bangunan bata tua. Dua narapidana bercelana penjara biru bergaris-garis putih sampai ke kaki, menyapu tangga depan. Adam menghindari kontak mata dan masuk ke dalam.

Tanpa banyak kesulitan ia menemukan kantor Lucas Mann yang tanpa tanda apa pun. Seorang sekretaris tersenyum kepadanya dan membuka pintu lain ke sebuah kantor luas tempat Mr. Mann sedang berdiri di belakang meja kerjanya dan berbicara di telepon.

"Silakan duduk," si sekretaris berbisik sambil menutup pintu di belakangnya. Mann tersenyum dan melambaikan tangan dengan canggung, sementara mendengarkan telepon. Adam meletakkan tas kerjanya di sebuah kursi dan berdiri di belakangnya.

Kantor itu luas dan bersih. Dua jendela panjang menghadap ke jalan raya dan memberikan banyak cahaya. Pada dinding kiri tergantung sebuah pigura besar berisi foto wajah yang sudah dikenal, seorang laki-laki muda tampan dengan senyum tulus dan dagu kuat. Itulah David McAllister, gubernur Negara Bagian Mississippi. Adam curiga foto yang sama tergantung di setiap kantor pemerintah, juga tertempel di setiap lorong, kamar ganti, dan toilet di gedung-gedung milik pemerintah.

Lucas Mann merentangkan kabel telepon dan berjalan ke jendela, memunggungi meja dan Adam. Penampilannya sama sekali tidak mirip pengacara. Ia berusia pertengahan lima puluhan dengan rambut kelabu tua yang dibiarkan panjang dan entah bagaimana ditariknya dan tetap melekat di tengkuknya. Pakaiannya seperti pakaian mahasiswa paling modem—kemeja kerja khaki yang dikanji kaku dengan dua saku dan sebuah dasi warna-warni masih terikat tapi dikendurkan; kancing paling atas terbuka, memperlihatkan kaus katun abu-abu; celana panjang dril cokelat yang juga dikanji licin dengan lipatan satu senti pada ujungnya, yang sedikit memperlihatkan kaus kaki putih; dan pantofel yang disemir tanpa cela.

Jelas Lucas tahu bagaimana cara berpakaian, dan juga jelas ia menjalankan praktek hukum yang berbeda. Seandainya ia memakai anting-anting kecil di daun telinga kiri, ia bisa disangka hippie tua yang pada tahun-tahun terakhirnya menyerah pada kemapanan.

Kantor itu diisi rapi dengan perabotan warisan milik pemerintah: sebuah meja kerja usang tampak luar biasa rapi; tiga kursi besi dengan jok vinil; sederet lemari berkas yang tidak seragam menutupi salah satu dinding. Adam berdiri di belakang sebuah kursi dan mencoba menenangkan diri. Apakah pertemuan ini selalu dialami semua pengacara yang datang berkunjung? Pasti tidak. Ada lima ribu narapidana di Parchman. Garner Goodman tak pernah bicara tentang kunjungan pada Lucas Mann.

Nama itu samar-samar seperti sudah dikenalnya! Di suatu tempat, jauh di dalam salah satu kardus berisi berkas-berkas pengadilan dan kliping koran ia pernah melihat nama Lucas Mann, dan ia mati-matian mencoba mengingat apakah ia orang baik atau bukan. Apa perannya secara tepat dalam perkara tuntutan hukuman mati? Adam tahu pasti musuhnya adalah jaksa negara bagian, namun ia tak bisa menempatkan Lucas secara tepat dalam skenario.

Mann sekonyong-konyong memutuskan sambungan dan mengangsurkan satu tangan kepada Adam. "Senang bertemu dengan Anda, Mr. Hall. Silakan duduk," katanya lembut dengan suara menyenangkan sambil melambaikan tangan ke sebuah kursi. "Terima kasih Anda mau mampir ke sini."

Adam duduk. "Tentu. Senang berjumpa dengan Anda," jawabnya gelisah. "Ada apa?"

"Ada beberapa hal. Pertama, saya cuma ingin bertemu dengan Anda dan berkenalan. Sudah dua belas tahun saya bekerja sebagai pengacara di sini. Saya menggarap sebagian besar perkara perdata yang disemburkan tempat ini. Anda tahu, segala macam gugatan gila yang diajukan tamu-tamu kami—hak-hak narapidana, gugatan kerusakan, hal-hal semacam itulah. Rasanya setiap hari kami digugat. Menurut peraturan, saya juga memainkan peran kecil dalam kasus-kasus hukuman mati, dan saya mengerti Anda ke sini untuk mengunjungi Sam."

"Itu benar."

"Apakah dia sudah menyewa Anda?"

"Belum."

"Sudah saya duga. Ini menimbulkan sedikit masalah. Anda tahu, Anda tak seharusnya mengunjungi seorang narapidana, kecuali Anda benar-benar mewakilinya, dan saya tahu Sam telah berhasil memecat Kravitz & Bane."

"Jadi, saya tak bisa menemuinya?" tanya Adam, nyaris dengan nada lega.

"Seharusnya Anda tidak menemuinya. Saya bicara lama dengan Garner Goodman kemarin. Saya dan dia menyaksikan eksekusi Maynard Tole beberapa tahun yang lalu. Apa Anda tahu tentang kasus itu?"

"Samar-samar."

"1986. Itu eksekusi kedua bagi saya," katanya, seolah-olah ia sendiri yang menarik saklar. Ia duduk di tepi meja kerja dan memandang ke bawah pada Adam. Kain celananya bergemeresik pelan. Kaki kanannya terayun dari meja. "Saya sudah mengalami empat kali, Anda tahu. Sam bisa jadi yang kelima. Omong-omong, Garner-lah yang mewakili Maynard Tole, dan kami jadi saling kenal. Dia seorang gentleman yang baik dan pembela yang buas."

"Terima kasih," kata Adam, sebab ia tak bisa memikirkan hal lain.

"Saya benci mereka, secara pribadi."

"Anda menentang hukuman mati?"

"Kebanyakan. Saya sebenarnya melewati beberapa tahapan. Setiap kali kami membunuh seseorang di sini, saya pikir seluruh dunia sudah jadi gila. Kemudian, tanpa terkecuali, saya telaah kembali salah satu kasus ini dan mengingat betapa brutal dan mengerikan sebagian dari tindak kejahatan ini. Eksekusi pertama saya adalah Teddy Doyle Meeks, pengangguran yang memerkosa, memotong-motong, dan membunuh seorang bocah kecil. Tak banyak kesedihan di sini ketika dia digas. Tapi, hei, dengar, bisa-bisa waktu kita habis untuk kisah-kisah begini. Mungkin kita punya waktu untuk itu nanti, oke?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.