Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 13)

 The Chamber: Kamar Gas

"Dua atau tiga bulan lagi. Permohonan penundaan eksekusinya akhirnya habis. Tak banyak lagi waktu tersisa."'

"Kalau begitu, mengapa kau melibatkan diri?"

"Entahlah. Mungkin karena kita punya peluang untuk bertempur. Aku akan bekerja jungkir balik selama beberapa bulan berikut dan berdoa meminta mukjizat."

"Aku pun akan mendoakan," kata Lee sambil menghirup seteguk lagi.

"Bisakah kita bicara tentang sesuatu?" tanya Adam, mendadak memandang bibinya.

"Tentu."

"Apakah kau tinggal di sini sendiri? Maksudku, ini pertanyaan yang wajar kalau aku akan tinggal di sini."

"Aku tinggal sendiri. Suamiku tinggal di rumah kami di pinggir kota."

"Apakah dia tinggal sendiri? Cuma ingin tahu.”

"Kadang-kadang. Dia suka gadis-gadis muda awal dua puluhan, biasanya karyawati di bank. Aku sebaiknya menelepon dulu sebelum datang ke rumah. Dia juga sebaiknya menelepon dulu sebelum datang ke sini."

"Cara yang bagus dan praktis. Siapa yang menegosiasikan perjanjian itu?"

"Mungkin kami saling mengerti dengan lewatnya waktu. Sudah lima belas tahun kami tidak hidup bersama."

"Sungguh pernikahan yang hebat."

"Sebenarnya itu berjalan cukup baik. Aku mengambil uangnya dan tidak mengajukan pertanyaan tentang kehidupan pribadinya. Kami tampil bersama dalam beberapa acara sosial yang diperlukan, dan dia bahagia."

"Apakah kau bahagia?"

"Kebanyakan."

"Kalau dia serong, mengapa kau tidak mengajukan gugatan cerai dan mengurasnya? Aku akan mewakilimu."

"Perceraian takkan berhasil. Phelps berasal dari keluarga tua kaya raya yang kaku dan penuh sopan santun. Masyarakat Memphis Lama. Selama beberapa dasawarsa keluarga-keluarga ini saling kawin di antara mereka. Sebenarnya Phelps diharapkan menikahi seorang sepupu kelima, tapi ternyata dia jatuh dalam pesonaku. Keluarganya sangat menentang, dan perceraian saat ini akan jadi pengakuan menyakitkan bahwa keluarganya ternyata benar. Di samping itu, mereka orang-orang berdarah biru yang angkuh, dan perceraian akan melecehkan mereka. Aku senang bisa mengambil uangnya dan hidup seperti yang kuinginkan."

"Apakah kau dulu mencintainya?"

"Tentu. Kami jatuh cinta setengah mati ketika menikah. Omong-omong, kami kawin lari. Itu terjadi tahun 1963, dan gagasan mengadakan pesta pernikahan besar dengan keluarganya yang aristokrat dan keluargaku yang dari golongan redneck tidak menarik. Ibunya tak mau bicara denganku, dan ayahku membakari salib. Pada saat itu Phelps tidak tahu ayahku anggota Klan, dan tentu saja aku mati-matian ingin menutupinya,"

"Apa dia akhirnya tahu?"

"Begitu Daddy ditahan karena pengeboman itu, aku bercerita padanya. Seterusnya dia bercerita pada ayahnya, dan kabar itu tersebar secara perlahan-lahan dan hati-hati di antara keluarga Booth. Orang-orang ini cukup pandai menyimpan rahasia. Itu satu-satunya persamaan mereka dengan kita, keluarga Cayhall."

"Jadi, hanya sedikit yang tahu kau putri Sam?"

"Sangat sedikit. Aku menginginkannya tetap demikian."

"Kau malu dengan.."

"Ya, aku malu dengan ayahku! Siapa yang tidak?" Kata-katanya mendadak tajam dan pahit. "Kuharap kau tidak memiliki citra romantis tentang laki-laki tua yang menderita di penjara, yang akan disalibkan secara tidak adil karena dosa-dosanya."

"Menurutku tidak seharusnya dia mati."

"Aku pun berpikir demikian. Tapi memang benar dia sudah membunuh cukup banyak orang—si kembar Kramer, ayah mereka, ayahmu, dan hanya Tuhan yang tahu siapa lagi. Dia harus tinggal di penjara seumur hidupnya."

"Kau tidak kasihan padanya?”

"Kadang-kadang. Kalau suasana hatiku baik dan matahari bersinar, aku suka memikirkannya dan teringat pada peristiwa menyenangkan semasa kanak-kanak. Tapi peristiwa macam itu sangat langka, Adam. Dia menimbulkan banyak penderitaan dalam hidupku dan hidup orang-orang di sekitarnya. Dia mengajar kami untuk membenci semua orang. Dia keji terhadap ibu kami. Seluruh keluarganya yang terkutuk itu berwatak keji."

"Kalau begitu, mari kita bunuh saja dia."

"Bukan itu yang kukatakan, Adam, dan kau tidak adil. Aku terus-menerus memikirkannya. Aku mendoakannya setiap hari. Berjuta kali aku bertanya pada dinding-dinding ini mengapa dan bagaimana ayahku menjadi orang yang demikian mengerikan. Mengapa dia tak bisa menjadi laki-laki tua yang menyenangkan dan sekarang duduk di teras depan dengan pipa dan tongkat, mungkin sedikit bourbon dalam gelas, untuk kesehatan perutnya, tentu saja. Mengapa ayahku harus menjadi seorang anggota Klan yang membunuh anak-anak tak berdosa dan menghancurkan keluarganya sendiri?"

"Mungkin dia tidak berniat membunuh mereka."

"Mereka mati, bukan? Juri mengatakan dia melakukannya. Mereka meledak sampai berkeping-keping dan dikuburkan berdampingan di kuburan kecil yang sama. Siapa peduli apakah dia berniat membunuh atau tidak? Dia ada di sana, Adam."

"Itu bisa sangat penting."

Lee melompat berdiri dan meraih tangan Adam. "Kemarilah," ia mendesak. Ia melangkah beberapa meter ke tepi teras. Ia menunjuk ke kaki langit Memphis beberapa blok dari sana. "Kaulihat gedung datar yang menghadap sungai di sana? Yang paling dekat ke kita. Tepat di sana, tiga atau empat blok dari sini."

"Ya," jawab Adam perlahan-lahan.

"Lantai teratas adalah lantai lima belas, oke? Sekarang, dari sebelah kanan, hitung enam tingkat. Kau mengikuti?"

"Ya." Adam mengangguk dan menghitung dengan patuh. Gedung itu tinggi dan mengesankan.

"Sekarang, hitung empat jendela ke kiri. Yang ada lampu menyala. Kau melihatnya?"

"Ya."

Terka siapa yang tinggal di sana."

"Bagaimana aku tahu?"

"Ruth Kramer."

"Ruth Kramer! Sang ibu?"

“Itu dia."

"Kau mengenalnya?"

"Kami pernah sekali berjumpa, secara kebetulan. Dia mengenalku sebagai Lee Booth, istri Phelps Booth yang terkenal brengsek, tapi cuma sebegitu saja. Itu terjadi dalam acara pengumpulan dana untuk balet atau entah apa. Aku selalu menghindarinya bilamana mungkin."

"Ini pasti kota kecil."

"Bisa sangat kecil. Kalau kau bisa bertanya padanya tentang Sam, apa yang bakal dikatakannya?"

Adam menatap lampu-lampu di kejauhan. "Entahlah, aku tak tahu. Aku pernah baca bahwa dia masih merasa getir."

"Getir? Dia kehilangan seluruh keluarganya. Dia tak pernah menikah lagi. Kaupikir dia peduli apakah ayahku berniat membunuh anak-anaknya atau tidak? Tentu saja tidak. Dia cuma tahu mereka mati, Adam, mati selama 23 tahun sekarang. Dia tahu mereka terbunuh bom yang ditanam ayahku. Seandainya ayahku berada di rumah bersama keluarga dan bukannya berkeliaran di waktu malam bersama sobat-sobatnya yang idiot, Josh dan John kecil takkan mati. Mereka akan berumur 28 tahun, mungkin berpendidikan tinggi dan menikah, dengan satu atau dua bayi yang bisa diajak bermain Ruth dan Marvin. Dia tak peduli untuk siapa bom itu dimaksudkan, Adam. Dia cuma tahu bom itu ditempatkan di sana dan meledak. Anak-anaknya tewas. Itu saja yang masuk hitungan."

Lee melangkah mundur dan duduk di kursi anyamnya. Ia kembali menggoyang-goyangkan gelas dan meneguknya. "Jangan salah paham, Adam. Aku menentang hukuman mati. Mungkin aku satu-satunya wanita kulit putih berusia lima puluh tahun di negara ini yang ayahnya dipenjarakan untuk menantikan eksekusi. Hukuman mati itu biadab, tak bermoral, mendiskriminasikan, kejam, tak beradat—aku menentang semua itu. Tapi jangan lupakan korbannya, oke? Mereka punya hak untuk menginginkan pembalasan. Mereka patut mendapatkannya."

"Apakah Ruth Kramer menginginkan pembalasan?"

"Dari segala segi, ya. Dia tak lagi bicara banyak kepada pers, namun dia aktif dalam kelompok korban kejahatan. Beberapa tahun yang lalu dia dikutip mengatakan akan berada di kamar saksi ketika Sam Cayhall dieksekusi."

"Sama sekali bukan jiwa pemaaf."

"Aku tak ingat ayahku minta pengampunan."

Adam berbalik dan duduk pada langkan dengan punggung menghadap sungai. Ia melirik gedung-gedung di pusat kota, kemudian mengamati kakinya. Lee kembali meneguk minumannya panjang-panjang.

"Nah, Bibi Lee, apa yang akan kita lakukan?"

"Jangan pakai panggilan Bibi."

"Oke, Lee. Aku di sini. Aku takkan pergi. Aku akan mengunjungi Sam besok, dan bila aku berlalu, aku berniat jadi pengacaranya."

"Apa kau berniat membungkam hal ini?"

"Kenyataan bahwa aku benar-benar seorang Cayhall? Aku tak punya rencana untuk memberitahu siapa pun, tapi aku akan terkejut kalau hal ini masih rahasia. Bila menyangkut penghuni penjara terpidana mati, Sam penghuni yang terkenal. Pers akan segera mulai menggali dengan serius."

Lee melipat kaki ke bawahnya dan menatap ke sungai. "Apakah itu akan merugikanmu?" tanyanya lembut.

"Tentu saja tidak. Aku pengacara. Pengacara membela penganiaya anak, pembunuh, pengedar obat bius, pemerkosa, dan teroris. Kami bukan orang populer. Bagaimana aku bisa dirugikan dengan fakta dia kakekku?"

"Kantormu tahu?"

"Kuceritakan pada mereka kemarin. Mereka tidak begitu senang, tapi mereka mendukung. Sebenarnya aku menyembunyikan hal ini ketika mereka mempekerjakanku, dan aku keliru berbuat demikian. Tapi kurasa segalanya beres."

"Bagaimana kalau dia bilang tidak?"

"Kalau begitu, kita akan aman, bukan? Tak seorang pun akan tahu, dan kau akan terlindung. Aku akan kembali ke Chicago dan menunggu CNN meliput karnaval eskekusi itu. Aku akan datang pada suatu hari yang sejuk di musim gugur, dan meletakkan bunga di atas makamnya, barangkali melihat nisannya dan sekali lagi bertanya pada diri sendiri, mengapa dia melakukannya dan bagaimana dia jadi begitu rendah dan mengapa aku terlahir dalam keluarga yang berantakan. Kau tahu, pertanyaan-pertanyaan yang sudah kita ajukan selama bertahun-tahun, Carmen akan kuundang ikut denganku. Itu akan jadi & macam reuni keluarga, kau tahu, cuma kita keluarga Cayhall, merayap-rayap di kuburan dengan karangan bunga murahan dan kacamata hitam tebal sehingga tak seorang pun mengenali kita."

"Hentikan," kata Lee, dan Adam melihat air mata. Air mata itu mengalir dan hampir sampai ke dagu ketika ia menyekanya dengan jari.

"Maaf," kata Adam, lalu berbalik-melihat kapal tongkang lain beringsut ke utara, menembus bayang-bayang sungai. "Maaf, Lee."

~ 8 ~

Sesudah 23 tahun, akhirnya ia kembali ke negara bagian kelahirannya. Ia tidak merasa disambut, dan meski tidak takut terhadap apa pun, ia mengemudi dengan hati-hati dengan kecepatan 55 mil per jam dan tak mau melewati siapa pun. Jalan menyempit dan tenggelam ke dataran Delta Mississippi yang rata, dan sejauh satu mil Adam menyaksikan tanggul yang berkelok-kelok seperti ular, menuju ke kanan dan akhirnya menghilang. Ia masuk melewati dusun Walls, kota pertama di sepanjang Highway 61, dan mengikuti lalu lintas menuju selatan.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.