Sabtu, 27 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 12)

  The Chamber: Kamar Gas

Adam dan temannya menghindari Mississippi. Sebaliknya mereka bermobil ke timur, melewati Tennessee dan Smoky Mountains. Pada suatu titik, menurut perhitungan Adam, mereka berada dalam jarak seratus mil dari Parchman, penjara untuk terpidana mati, Sam Cayhall. Itu kejadian empat tahun yang lalu, musim panas tahun 1986, dan ia sudah mengumpulkan satu kardus besar penuh bahan-bahan tentang kakeknya. Videonya sudah hampir selesai.

Percakapan mereka di telepon kemarin malam berlangsung singkat. Adam mengatakan akan tinggal di Memphis selama beberapa bulan dan ingin bertemu dengan Lee. Lee mengundangnya datang ke tempat tinggalnya, kondominium yang sama di atas tebing. Ia punya empat kamar tidur dan seorang pembantu paro waktu. Adam harus tinggal bersamanya, desaknya. Kemudian Adam mengatakan akan bekerja di kantor Memphis, menggarap kasus Sam. Tak ada suara di ujung seberang, kemudian tawaran lemah untuk mampir dan mereka akan bicara tentang hal ini.

***

Adam memencet bel pintu beberapa menit lewat pukul 21.00 dan melirik ke arah Saab convertible hitamnya. Pembangunan daerah itu tak lebih dari satu deret tunggal terdiri atas dua puluh unit rumah, semuanya rapat satu sama lain dengan atap genting merah. Sebuah dinding bata lebar dengan kisi-kisi baja kasar di atasnya melindungi orang-orang di dalamnya dari bahaya pusat kota Memphis. Seorang satpam bersenjata menjaga gerbang satu-satunya Seandainya tidak ada pemandangan ke arah sungai pada sisi lainnya, kondominium-kondominium itu sebenarnya tidak berharga.

Lee membuka pintu dan mereka saling mencium pipi. "Selamat datang," katanya, memandang halaman parkir, lalu mengunci pintu di belakang Adam. "Kau lelah?"

"Tidak. Jarak perjalanannya sepuluh jam, tapi aku menempuhnya dalam dua belas jam. Aku tidak tergesa-gesa."

"Kau lapar?"

"Tidak. Beberapa jam yang lalu aku mampir makan." Ia mengikuti Lee ke ruang duduk. Mereka duduk berhadapan dan mencoba memikirkan sesuatu yang pantas untuk diucapkan. Lee hampir lima puluh tahun, dan menua dengan cepat dalam empat tahun terakhir. Rambutnya sekarang campuran seimbang antara abu-abu dan cokelat, dan jauh lebih panjang. Ia mengikatnya erat jadi ekor kuda. Matanya yang biru lembut tampak merah dan cemas, dan dikelilingi lebih banyak keriput. Ia memakai kemeja button-down dan jeans pudar. Lee masih menarik.

"Senang bertemu denganmu," katanya dengan senyum hangat.

"Benarkah?"

"Sudah tentu. Mari kita duduk di teras." Ia menggandeng tangan Adam dan membimbingnya melewati pintu kaca, menuju dek kayu dengan keranjang-keranjang berisi pakis dan bugenfil bergantung dari tiang-tiangnya. Sungai di bawah mereka. Mereka duduk di kursi goyang anyaman. "Bagaimana keadaan Carmen?" ia bertanya sambil menuang es teh dari pitcher.

"Baik. Masih kuliah di Berkeley. Kami bicara sekali seminggu. Dia berpacaran cukup serius dengan seseorang."

"Belajar apa dia sekarang? Aku lupa."

"Psikologi. Ingin mengambil gelar doktor, lalu mungkin mengajar." Teh itu sedikit bergula, tapi banyak mengandung jeruk nipis. Adam meneguknya perlahan-lahan. Udara masih gerah dan panas. "Sudah hampir pukul sepuluh," katanya. "Mengapa masih begini panas?"

"Selamat datang di Memphis, Sayang. Kita akan terpanggang sepanjang bulan September."

"Aku tidak tahan."

"Kau akan terbiasa. Kurang-lebih. Kita minum teh banyak-banyak dan tinggal di dalam rumah. Bagaimana ibumu?"

"Masih di Portland. Sekarang menikah dengan laki-laki yang kaya raya dalam usaha perkayuan. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Umurnya mungkin 65 tahun, tapi bisa dikira 70. Ibu umur 47 tahun, tapi kelihatan seperti 40. Pasangan yang serasi. Mereka terbang ke sana kemari. St. Baits. Selatan Prancis, Milan, semua tempat orang-orang kaya perlu dilihat. Dia sangat bahagia. Anak-anaknya sudah dewasa. Eddie sudah tiada. Masa lalunya sudah tersimpan rapi, dan dia punya banyak uang. Hidupnya sangat teratur."

"Kau terlalu kasar."

"Aku terlalu gampang. Dia sama sekali tak menginginkanku dekat-dekat dengannya, sebab aku mata rantai menyakitkan yang menghubungkannya dengan ayahku dan keluarganya yang menyedihkan."

"Ibumu mencintaimu, Adam."

"Aduh, menyenangkan mendengarnya. Bagaimana kau tahu begitu banyak?"

"Pokoknya aku tahu."

"Tak pernah kukira kau dan Mom begitu dekat."

"Tidak. Tenanglah, Adam. Tenanglah."

"Maaf. Aku tegang, itu saja. Aku perlu minuman yang lebih keras."

"Santai. Mari kita bersenang-senang sementara kau di sini."

"Ini bukan kunjungan untuk bersenang-senang, Bibi Lee."

"Panggil aku Lee saja, oke?"

"Oke. Aku akan menemui Sam besok."

Lee perlahan-lahan meletakkan gelasnya di meja, lalu berdiri dan meninggalkan teras. Ia kembali dengan sebotol Jack Daniel's dan menuangkan cukup banyak ke dalam kedua gelas. Ia meneguk panjang-panjang dan menatap sungai di kejauhan. "Kenapa?" akhirnya ia bertanya.

"Kenapa tidak? Sebab dia kakekku. Sebab dia akan mati. Sebab aku pengacara dan dia butuh bantuan."

"Dia bahkan tidak mengenalmu."

"Dia akan kenal besok."

"Jadi kau akan cerita padanya?"

"Ya. tentu saja aku akan cerita kepadanya. Bisakah kau percaya ini? Aku benar-benar akan menceritakan rahasia keluarga Cayhall yang dalam, gelap, dan mengerikan. Bagaimana?"

Lee memegang gelasnya dengan dua tangan dan perlahan-lahan menggelengkan kepala. "Dia akan mati," gumamnya tanpa memandang Adam.

"Belum. Tapi senang rasanya mengetahui kau prihatin."

"Aku prihatin."

"Oh, benarkah? Kapan terakhir kali kau melihatnya?"

"Jangan memulai ini, Adam. Kau tak mengerti."

"Baiklah. Boleh saja. Kalau begitu, jelaskan padaku. Aku mendengarkan. Aku ingin mengerti.”

"Tidak bisakah kita bicarakan hal lain, Sayang? Aku tidak siap untuk ini."

"Tidak."

"Kita bisa bicara tentang hal ini kelak, aku janji. Sekarang ini aku tidak siap. Tadinya kusangka kita cuma bertukar gosip dan tertawa sejenak."

"Maaf, Lee. Aku muak dengan gosip dan rahasia. Aku tak punya masa lalu, sebab ayahku menghapusnya seenaknya. Aku ingin mengetahuinya, Lee. Aku ingin tahu, seburuk apa sebenarnya masa lalu itu."

"Mengerikan," ia berbisik, nyaris untuk diri sendiri.

"Oke. Aku sudah dewasa sekarang. Aku sanggup menerimanya. Ayahku meninggalkanku sebelum dia terpaksa menghadapi hal ini, jadi aku khawatir tak ada orang lain selain kau."

"Beri aku waktu."

"Tak ada waktu lagi. Aku akan berhadapan langsung dengannya besok." Adam meneguk minumannya panjang-panjang dan menyeka bibir dengan lengan kemeja. "Dua puluh tiga tahun yang lalu, Newsweek mengatakan ayah Sam juga anggota Klan. Benarkah?"

"Ya. Kakekku."

"Dan juga beberapa paman dan sepupu."

"Seluruhnya."

"Newsweek juga mengatakan sudah diketahui umum di Ford County bahwa Sam Cayhall menembak dan membunuh seorang laki-laki kulit hitam pada awal tahun lima puluhan, dan tak pernah ditahan karena tindakan ini. Tak pernah sehari pun masuk penjara. Apakah ini benar?"

"Apa pentingnya sekarang, Adam? Itu terjadi bertahun-tahun sebelum kau lahir."

"Jadi, itu benar terjadi?"

"Ya. Itu terjadi."

"Dan kau mengetahuinya?"

"Aku menyaksikannya."

"Kau menyaksikannya!" Adam memejamkan mata dengan perasaan tak percaya. Napasnya tersengal-sengal dan ia merosot rendah di kursi goyangnya. Bunyi terompet dari sebuah perahu tambang menarik perhatiannya, dan ia mengikutinya melaju ke hilir, sampai lewat di bawah sebuah jembatan. Bourbon itu mulai menenangkan saraf.

"Mari kita bicara tentang hal lain," kata Lee pelan.

"Bahkan ketika aku masih kecil," kata Adam, masih memandang sungai, "aku suka sejarah. Aku terpesona dengan cara orang hidup bertahun-tahun yang lalu—para pionir, kereta api, demam emas, koboi dan Indian, penaklukan daerah Barat. Ada seorang bocah di kelas empat yang mengatakan kakek buyutnya pernah merampok kereta api dan menguburkan uangnya di Meksiko. Dia ingin membentuk suatu geng dan kabur mencari uang itu. Kami tahu dia bohong, tapi bermain sungguh menggembirakan. Aku sering bertanya dalam hati tentang nenek moyangku, dan aku ingat betapa heran hatiku, sebab rasanya aku tak punya."

"Apa kata Eddie?"

"Dia mengatakan mereka semua sudah mati. Katanya lebih banyak waktu dihamburkan untuk sejarah keluarga daripada apa pun lainnya Tiap kali aku mengajukan pertanyaan tentang keluarga kita, Ibu akan menarikku ke samping dan menyuruhku berhenti, sebab itu mungkin akan membuatnya kacau dan Ayah bisa tenggelam dalam kemurungannya yang kelam dan mengurang diri di kamar selama sebulan. Masa kanak-kanakku kuhabiskan dengan berjalan di atas kulit telur bila aku berada di dekat ayahku. Ketika beranjak dewasa, aku mulai menyadari dia laki-laki yang sangat aneh, sangat tidak bahagia, tapi aku tak pernah mimpi dia akan bunuh diri."

Lee menggoyang-goyang gelasnya dan menghirup tegukan terakhir. "Ada banyak hal dalam persoalan ini, Adam."

"Jadi, kapan kau akan menceritakannya padaku?"

Lee pelan-pelan mengambil pitcher dan mengisi kembali gelas mereka. Adam menuangkan bourbon ke dalam dua gelas tersebut. Beberapa menit berlalu sementara mereka meneguk minuman dan mengawasi lalu lintas di Riverside Drive.

"Sudah pernahkah kau ke penjara untuk terpidana mati?" akhirnya ia bertanya, masih menatap lampu-lampu di sepanjang sungai.

"Belum," kata Lee, nyaris tak terdengar.

"Dia sudah hampir sepuluh tahun di sana, dan kau tak pernah pergi menjenguknya?"

"Sekali aku pernah menulis surat untuknya, tak lama sesudah sidangnya yang terakhir. Enam bulan kemudian dia balas menulisiku dan menyuruhku agar tidak datang. Katanya dia tak ingin aku melihatnya dalam penjara itu. Aku mengirim dua surat lagi, tapi tak satu pun dibalasnya."

"Maaf."

"Tak perlu minta maaf. Aku menanggung banyak perasaan bersalah, Adam, dan tidaklah mudah membicarakannya. Beri aku sedikit waktu."

"Aku mungkin akan tinggal di Memphis beberapa lama."

"Aku ingin kau tinggal di sini. Kita akan saling membutuhkan." Ia tampak sangsi dan mengaduk minuman dengan telunjuk. "Maksudku, dia akan mati, bukan?"

"Kemungkinan besar."

"Kapan?"

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.