Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 11)

The Chamber: Kamar Gas

Sesudah sidang kedua dan Juri tak mampu mengambil keputusan bulat untuk kedua kalinya, Marvin Kramer menghentikan kursi rodanya di trotoar, di depan Gedung Pengadilan Wilson County, dan dengan air mata berderai ia mengutuki Sam Cayhall, Ku Klux Klan, dan sistem peradilan Mississippi yang picik. Saat kamera berputar, suatu insiden menyedihkan muncul. Marvin tiba-tiba melihat dua anggota Klan berjubah putih tak jauh dari sana, dan ia mulai menjeriti mereka.

Salah satu di antara mereka balas berteriak, namun tenggelam dalam panasnya situasi saat itu. Adam sudah mencoba segala cara untuk menangkap ucapan anggota Klan itu, tapi tidak berhasil. Jawaban itu untuk selamanya takkan pernah diketahui.

Beberapa tahun sebelumnya, ketika masih kuliah hukum di Michigan, Adam menemukan salah satu reporter lokal yang berdiri di sana saat itu, memegang mikrofon tak jauh dari wajah Marvin. Menurut reporter itu, jawaban dari seberang lapangan menyinggung tentang keinginan meledakkan anggota badan Marvin yang masih tersisa. Ucapan yang sangat kasar dan kejam ini tampaknya benar, sebab Marvin jadi gusar. Ia meneriakkan umpatan pada orang-orang Klan tersebut, yang kemudian pergi.

Marvin memutar roda besi kursinya, memburu mereka. Ia menjerit, mengutuk, dan menangis. Istri dan beberapa kawannya mencoba menahannya, tapi ia melepaskan diri, tangannya mati-matian memutar roda. Ia meluncur sekitar enam meter, dengan istrinya mengejar di belakang. Kamera merekam semuanya, sampai trotoar itu habis dan rumput mulai tumbuh. Kursi roda itu terguling dan Marvin tersungkur di halaman rumput. Selimut di atas kakinya yang diamputasi terbuka ketika ia terguling keras ke samping sebatang pohon.

Istri dan teman-temannya segera menghampirinya, dan selama satu-dua detik ia menghilang di tengah kerumunan. Namun suaranya masih terdengar. Ketika kamera berpindah dan cepat-cepat menyorot dua anggota Klan tadi, yang satu tertawa dan yang satu membeku di tempat, meledaklah lolong tangis aneh dari tengah kerumunan kecil di atas tanah. Marvin merintih, tapi dengan lolongan tinggi menggetarkan, seperti orang gila yang terluka. Suara itu sangat menyayat, dan sesudah beberapa detik yang menyedihkan itu video terpotong ke adegan berikutnya.

Air mata menitik di mata Adam ketika pertama kali ia melihat Marvin berguling di tanah, melolong dan merintih. Tapi kini, meskipun gambar dan suara itu masih membuat kerongkongannya kaku, ia sudah lama berhenti menangis. Video itu karya ciptanya. Tak seorang pun pernah menyaksikannya kecuali ia sendiri. Dan ia sudah begitu banyak melihatnya, sehingga air mata tak mungkin lagi mengalir.

Teknologi berkembang pesat dari tahun 1968 sampai 1981, dan rekaman sidang Sam yang ketiga dan terakhir itu jauh lebih tajam dan jelas. Sidang itu diadakan pada bulan Februari 1981, di sebuah kota kecil yang indah dengan alun-alun ramai dan gedung pengadilan kuno dari bata merah. Udara dingin menggigit, dan mungkin inilah yang menyingkirkan kerumunan penonton dan demonstran.

Satu laporan berita dari hari pertama sidang itu menayangkan tiga anggota Klan berkerudung bergerombol mengelilingi sebuah pemanas portabel, menggosok-gosokkan tangan dan tampak lebih mirip pengunjung Mardi Gras yang akan berhura-hura daripada penjahat serius. Mereka diawasi satu-dua lusin polisi negara bagian, semuanya berjaket biru.

Karena gerakan hak-hak sipil pada saat itu lebih dipandang sebagai peristiwa sejarah daripada perjuangan yang masih berlanjut, sidang peradilan Sam Cayhall yang ketiga menarik perhatian media lebih banyak daripada dua yang pertama. Inilah orang yang mengaku anggota Klan, teroris hidup dari zaman Freedom Riders dan pengeboman gereja yang sudah jauh berlalu. Inilah peninggalan lama dari zaman yang terkenal keji, yang telah dilacak dan sekarang diseret menuju keadilan. Analogi yang membandingkannya dengan penjahat perang Nazi pernah disebutkan lebih dari sekali.

Selama sidangnya yang terakhir, Sam tidak ditahan. Ia orang bebas, dan kebebasan itu membuatnya makin sulit ditangkap dengan kamera. Ada beberapa rekaman pendek dirinya sedang menyelinap ke dalam pintu gedung pengadilan. Tiga belas tahun sejak pengadilan kedua, Sam menua dengan anggun. Rambutnya masih pendek dan rapi, tapi separonya sekarang sudah beruban.

Ia tampak sedikit lebih gemuk, tapi sehat. Ia bergerak tangkas menyusuri trotoar dan keluar-masuk mobil, sementara para wartawan memburunya. Satu kamera menangkapnya ketika ia melangkah keluar dari pintu samping gedung pengadilan, dan Adam menghentikan video itu tepat ketika Sam menatap langsung ke kamera.

Sebagian besar rekaman sidang pengadilan ketiga dan terakhir itu berpusat di seputar jaksa muda yang congkak bernama David McAllister, laki-laki muda berjas gelap serta senyum ramah dan gigi sempurna. Tak diragukan David McAllister menyimpan ambisi-ambisi politik besar. Ia punya wajah, rambut, dagu, suara yang memesona, kata-kata yang halus lancar, dan kemampuan menarik kamera.

Tahun 1989, delapan tahun yang pendek sesudah sidang itu, David McAllister terpilih sebagai gubernur Negara Bagian Mississippi. Tak mengejutkan bagi siapa pun bahwa iklan terbesar yang terpampang pada dirinya adalah pidana lebih banyak, vonis lebih panjang, dan keteguhannya mempertahankan hukuman mati. Adam pun tak menyukainya, tapi ia tahu bahwa hanya dalam hitungan beberapa minggu, mungkin beberapa hari, ia akan duduk dalam kantor sang Gubernur di Jackson, Mississippi, memohon-mohon pengampunan.

Video itu berakhir dengan Sam, sekali lagi diborgol, digiring dari gedung pengadilan setelah Juri menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya. Wajahnya tanpa ekspresi. Pembelanya tampak terguncang dan menggumamkan beberapa komentar tak berarti. Sang reporter berhenti dengan berita bahwa beberapa hari lagi Sam akan dipindahkan ke penjara untuk terpidana mati.

Adam menekan tombol rewind dan menatap layar kosong itu. Di belakang sofa tanpa lengan itu ada tiga kardus yang memuat sisa kisah itu: transkrip catatan dari ketiga sidang tersebut, yang dibeli Adam ketika masih kuliah di Pepperdine; copy brief, mosi, dan dokumen lain dari pertempuran di peradilan banding yang membara sejak Sam dipidana; sebuah rangkuman tebal yang diindeks cermat, berisi copy artikel surat kabar dan majalah tentang petualangan Sam sebagai anggota Klan; materi dan riset tentang hukuman mati; catatan dari sekolah hukum. Ia tahu tentang kakek lebih banyak daripada siapa pun yang masih hidup.

***

Penguburan Eddie Cayhall terjadi kurang dari sebulan setelah Sam divonis mati. Upacaranya diadakan dalam kapel kecil di Santa Monica, dan dihadiri sedikit sahabat dan lebih sedikit lagi anggota keluarga. Adam duduk di bangku depan, di antara ibu dan adik perempuannya. Mereka berpegangan tangan dan menatap peti mati tertutup yang hanya beberapa senti di depan mereka. Seperti biasa, ibunya bersikap kaku dan terkendali. Matanya sekali-sekali basah, dan ia terpaksa menyekanya dengan tisu.

Ia dan Eddie pernah berpisah dan rujuk berkali-kali, sampai anak-anak mereka tak bisa mengingat lagi pakaian siapa ada di mana. Meskipun tak pernah diwarnai kekerasan, perkawinan itu mereka jalani dalam keadaan persiapan terus-menerus untuk bercerai—ancaman cerai, rencana cerai, percakapan serius kepada anak-anak tentang perceraian, negosiasi perceraian, pengajuan perceraian, mundur, sumpah perceraian.

Pada sidang ketiga Sam Cayhall, ibu Adam diam-diam memindahkan barang-barangnya kembali ke rumah kecil mereka, dan sebanyak mungkin tinggal bersama Eddie. Eddie berhenti bekerja dan sekali lagi menarik diri ke dalam dunia kecilnya yang gelap. Adam menanyai ibunya, tapi ia menjelaskan dengan kata-kata ringkas bahwa Ayah sedang kembali mengalami "masa buruk". Tirai-tirai ditutup, kerai diturunkan, lampu dipadamkan, suara-suara ditahan, televisi dimatikan, sementara keluarga itu sekali lagi menanggung "masa buruk" yang dialami Eddie.

Tiga minggu sesudah vonis, Eddie tewas. Ia menembak diri di kamar tidur Adam. Ia meninggalkan catatan di lantai dengan instruksi agar Adam bergegas membereskan semua yang berantakan sebelum saudara perempuan dan ibunya pulang. Satu catatan lain ditemukan di dapur.

Carmen berusia empat belas tahun saat itu, tiga tahun lebih muda dari Adam. Ia dikandung di Mississippi, tapi dilahirkan di California sesudah kepindahan orangtuanya yang tergesa-gesa ke Barat. Saat ia dilahirkan, Eddie sudah resmi mengubah keluarga kecilnya dari Cayhall menjadi Hall. Alan jadi Adam. Mereka tinggal di L.A. Timur, dalam apartemen tiga kamar dengan tirai-tirai kotor pada jendela. Adam ingat tirai-tirai yang berlubang itu. Tempat itu adalah rumah pertama di antara banyak tempat tinggal sementara lainnya.

***

Di sebelah Carmen pada bangku depan itu duduk seorang wanita misterius yang dikenal sebagai Bibi Lee. Ia baru saja diperkenalkan kepada Adam dan Carmen sebagai saudara perempuan Eddie, satu-satunya saudara kandung Eddie. Ketika masih kanak-kanak, mereka diajari tidak mengajukan pertanyaan tentang keluarga mereka, namun sekali-sekali nama Lee muncul. Ia tinggal di Memphis, pernah menikah dengan seorang anggota keluarga kaya di Memphis, punya satu anak, dan tak pernah berhubungan dengan Eddie karena suatu perselisihan lama.

Anak-anak, terutama Adam, rindu berjumpa dengan sanak saudara, dan karena Bibi Lee satu-satunya sanak yang pernah disebutkan, mereka banyak berangan-angan tentang dirinya. Mereka ingin berjumpa dengannya, tapi Eddie selalu menolak, sebab sang bibi bukan orang yang menyenangkan, demikian katanya. Namun ibu mereka membisikkan bahwa Lee benar-benar orang yang baik, dan suatu hari kelak ia akan membawa mereka ke Memphis menemui Lee.

Namun sebaliknya Lee malah pergi ke California, dan mereka bersama-sama menguburkan Eddie Hall. Dua minggu ia tinggal di sana sesudah penguburan, dan bersahabat dengan kemenakannya. Mereka mencintainya, sebab ia cantik dan menarik, memakai blue jeans dan T-shirt, serta berjalan di pantai dengan kaki telanjang. Ia membawa mereka berbelanja dan ke bioskop, mereka berjalan-jalan lama menyusuri pantai. Ia mengajukan berbagai dalih mengapa tidak datang berkunjung lebih awal. Ia ingin datang, katanya, tapi Eddie takkan mengizinkan. Eddie tak ingin melihatnya, sebab mereka dulu pernah bertengkar.

Dan Bibi Lee pula yang duduk bersama Adam di ujung dermaga, menyaksikan matahari tenggelam di Samudra Pasifik, dan akhirnya bicara tentang ayahnya, Sam Cayhall. Sementara gelombang laut beriak tenang di bawah, Lee menjelaskan kepada Adam muda bahwa dulu, semasa balita, Adam pernah tinggal sebentar di sebuah kota kecil di Mississippi.

Ia memegang tangan Adam dan sekali-sekali membelai lututnya ketika mengungkapkan sejarah menyedihkan keluarga mereka. Ia terus terang menguraikan perincian kegiatan Sam sebagai anggota Klan, tentang pengeboman Kramer, dan sidang pengadilan yang akhirnya mengirim Sam ke penjara di Mississippi untuk menunggu hukuman mati. Ada beberapa kesenjangan yang cukup besar dalam kisah lisan tersebut untuk mengisi perpustakaan, namun ia menceritakan peristiwa-peristiwa terpenting dengan cara yang indah.

Bagi seorang remaja enam belas tahun yang belum matang dan baru saja kehilangan ayah, Adam menerima seluruh kisah itu dengan cukup baik. Ia mengajukan beberapa pertanyaan, sementara angin sejuk mengembus ke pantai dan mereka berimpit merapatkan tubuh, tapi kebanyakan ia cuma mendengarkan, tanpa perasaan terguncang atau marah, tapi dengan perasaan terpesona luar biasa. Kisah mengerikan ini secara aneh terasa memuaskan.

Ada keluarga di tempat jauh! Mungkin pada akhirnya ia sama sekali tidak abnormal. Mungkin ada bibi, paman, dan sepupu dengan kehidupan untuk dibagi dan kisah untuk diceritakan. Mungkin ada rumah tua yang dibangun moyangnya yang sejati, serta tanah dan pertanian tempat mereka tinggal. Akhirnya ia punya sejarah.

Akan tetapi Lee bijaksana dan cukup cepat menangkap perasaan tertarik ini. Ia menjelaskan keluarga Cayhall adalah keluarga aneh dan penuh rahasia, senang menyendiri dan tak mau bergaul dengan orang luar. Mereka bukan orang ramah dan hangat yang berkumpul bersama pada Hari Natal dan bereuni pada tanggal 4 Juli. Ia tinggal hanya satu jam dari Clanton, namun tak pernah melihat mereka.

Kunjungan senja ke dermaga itu menjadi sebuah ritual sepanjang minggu berikutnya. Mereka biasa berhenti di pasar dan membeli sekantong anggur merah, lalu memakannya dan meludahkan bijinya ke lautan sampai hari gelap. Lee menceritakan kisah masa kecilnya di Mississippi dengan adiknya, Eddie.

Mereka tinggal di sebuah tanah pertanian kecil lima belas menit dari Clanton, dengan kolam-kolam ikan dan kuda poni untuk ditunggangi. Sam ayah yang baik; tidak terlalu keras, tapi yang jelas tidak penyayang. Ibunya wanita lemah yang tidak menyukai Sam, tapi menyayangi anak-anak mereka. Ia kehilangan seorang bayi yang baru saja dilahirkan ketika Lee berumur enam tahun dan Eddie hampir empat tahun, dan ia tinggal di kamarnya selama hampir setahun.

Sam menggaji seorang wanita kulit hitam untuk merawat Eddie dan Lee. Ibunya meninggal karena kanker, dan itulah kesempatan terakhir bagi keluarga Cayhall untuk berkumpul. Eddie menyelinap ke kota untuk menghadiri pemakaman, tapi berusaha menghindari semua orang. Tiga tahun kemudian Sam ditahan untuk terakhir kali dan dipidana.

Lee tak banyak bicara tentang kehidupannya sendiri. Ia meninggalkan rumah dengan terburu-buru pada umur delapan belas tahun, seminggu sesudah lulus SMA, dan langsung menuju Nashville dengan cita-cita jadi tenar sebagai artis rekaman. Entah bagaimana ia berjumpa dengan Phelps Booth, mahasiswa pasca sarjana di Vanderbilt yang keluarganya pemilik sejumlah bank. Mereka akhirnya menikah dan membangun rumah tangga yang tampaknya menyedihkan di Memphis. Mereka punya seorang putra, Walt, yang jelas bersifat pemberontak dan sekarang tinggal di Amsterdam. Inilah informasi satu-satunya.

Adam tak tahu apakah Lee telah mengubah dirinya menjadi sesuatu yang bukan Cayhall, tapi ia curiga Lee memang berubah. Siapa yang bisa mempersalahkannya?

Lee berlalu diam-diam seperti saat ia datang. Tanpa pelukan atau perpisahan, ia keluar dari rumah mereka sebelum fajar, dan menghilang. Dua hari kemudian ia menelepon, bicara dengan Adam dan Carmen. Ia mendorong mereka menulis surat, yang mereka tanggapi dengan bersemangat, namun telepon dan surat darinya jadi makin jarang. Janji untuk suatu hubungan baru perlahan-lahan memudar. Ibu mereka memberikan berbagai dalih. Ia mengatakan Lee orang baik, tapi bagaimanapun juga ia seorang Cayhall, dan dengan demikian punya kesuraman dan keganjilan. Hati Adam hancur.

Musim panas sesudah wisudanya dari Pepperdine, Adam dan seorang teman bermobil melintasi negeri, menuju Key West. Mereka mampir di Memphis dan melewatkan dua malam bersama Bibi Lee. Ia tinggal sendirian di sebuah kondominium modern yang luas di atas tebing yang menghadap ke sungai, dan selama berjam-jam mereka duduk di teras, hanya mereka bertiga, makan pizza buatan sendiri, minum bir, menyaksikan kapal tongkang, dan bercakap-cakap hampir tentang segala hal.

Keluarga tak pernah disebutkan. Adam sangat bergairah dengan sekolah hukum, dan Lee banyak bertanya tentang masa depan Adam. Ia ceria, lucu, dan banyak bicara—nyonya rumah dan bibi yang sempurna. Ketika mereka berpelukan mengucapkan selamat tinggal, matanya basah dan ia meminta Adam agar datang kembali.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.