Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 10)

 The Chamber: Kamar Gas

"Mana aku tahu? Kuduga dia akan sangat terperanjat dan tak bisa bicara banyak. Dia sangat cerdas. Walau tidak terdidik di sekolah, dia banyak membaca dan pandai mengutarakan pemikirannya. Dia pasti punya sesuatu untuk diucapkan. Mungkin perlu beberapa menit."

"Sepertinya Anda menyukainya."

"Tidak. Dia rasis dan fanatik yang mengerikan, dan tidak memperlihatkan penyesalan sedikit pun atas tindakannya."

"Anda yakin dia bersalah?"

Goodman mendengus dan tersenyum sendiri, kemudian memikirkan suatu jawaban. Tiga sidang pengadilan telah dilaksanakan untuk menentukan apakah Sam Cayhall bersalah atau tidak. Sekarang sudah sembilan tahun kasus itu diperbincangkan di pengadilan banding dan diteliti banyak hakim. Tak terhitung artikel surat kabar dan majalah menyelidiki pengeboman itu dan orang-orang di belakangnya.  "Begitulah pendapat Juri. Kurasa itulah yang penting."

"Tapi bagaimana dengan Anda? Bagaimana pendapat Anda?"

"Kau sudah baca berkasnya, Adam. Kau sudah lama meneliti kasus ini. Tak ada keraguan Sam ikut berperan dalam pengeboman itu."

"Tapi?"

"Ada banyak tetapi. Selalu ada."

"Dia tak punya sejarah dalam menangani bahan peledak."

"Benar. Tapi dia teroris Ku Klux Klan, dan mereka melakukan pengeboman di mana-mana. Sam ditahan dan pengeboman itu berhenti."

"Tapi dalam salah satu pengeboman sebelum Kramer, seorang saksi mengatakan melihat dua orang dalam Pontiac hijau itu."

"Benar. Tapi saksi itu tidak diizinkan memberikan kesaksian dalam sidang. Dan saksi itu baru saja meninggalkan bar pada pukul tiga dini hari."

"Tapi saksi lainnya, seorang sopir truk, menyatakan melihat Sam dan seorang laki-laki lain berbicara di sebuah kedai di Cleveland, beberapa jam sebelum pengeboman Kramer."

"Benar. Tapi tiga tahun sopir truk itu tidak mengatakan apa pun, dan tidak diizinkan memberikan kesaksian pada sidang terakhir. Terlalu jauh."

"Jadi, siapa kaki tangan Sam?"

"Aku sangsi kita akan pernah tahu. Ingat, Adam, orang ini sudah tiga kali diadili, tapi tak pernah memberikan kesaksian. Dia sama sekali tidak mengatakan apa-apa pada polisi, bicara sedikit dengan pengacara pembelanya, tak sepatah kata pun kepada Juri, dan dalam tujuh tahun terakhir ini dia tidak memberitahukan apa pun yang baru pada kami."

"Anda pikir dia bertindak seorang diri?"

"Tidak. Dia dibantu. Sam membawa rahasia-rahasia gelap, Adam. Dia takkan pernah bercerita. Dia mengangkat sumpah sebagai anggota Klan, dia punya pandangan sesat dan romantis tentang sumpah suci yang tak boleh dilanggarnya. Kakeknya juga anggota Klan, kau tahu?"

"Yeah, saya tahu. Tak perlu mengingatkan saya."

"Maaf. Lagi pula, sekarang sudah terlambat memancing-mancing mencari bukti baru. Kalau benar dia punya pembantu, mestinya sudah sejak dulu dia bicara. Mungkin dia seharusnya bicara pada FBI. Mungkin dia seharusnya membuat kesepakatan dengan Jaksa. Entahlah, tapi bila kau didakwa melakukan dua pembunuhan berencana dan menghadapi kematian, kau mulai bicara. Kau akan bicara, Adam. Kauselamatkan nyawamu dan kaubiarkan rekanmu mengkhawatirkan nyawanya sendiri."

"Dan kalau tidak ada pembantu?"

"Ada." Goodman mengambil pena dan menuliskan sebuah nama pada secarik kertas. Ia menggesernya ke seberang meja.

Adam melihat dan berkata, "Wyn Lettner. Nama ini rasanya sudah pernah saya dengar."

"Lettner agen FBI yang bertanggung jawab atas kasus Kramer. Dia sekarang sudah pensiun dan tinggal di tepi sungai di Ozarks. Dia suka menceritakan kisah perang tentang Klan dan perjuangan hak sipil waktu itu di Mississippi."

"Dan dia akan bicara pada saya?"

"Oh, tentu. Dia peminum bir, dan kalau sudah setengah mabuk, dia akan menceritakan kisah-kisah luar biasa ini. Dia takkan mengungkapkan apa pun yang rahasia, tapi dia tahu lebih banyak tentang pengeboman Kramer daripada siapa pun. Aku sudah lama curiga dia tahu lebih banyak daripada yang diceritakannya."

Adam melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku. Ia melirik jam tangan. Sudah hampir pukul 18.00. "Saya harus bergegas. Saya harus berkemas dan bersiap."

"Akan kukirimkan berkas itu ke sana besok. Kau harus meneleponku begitu kau bicara dengan Sam."

"Oke. Boleh saya katakan sesuatu?"

"Tentu."

"Atas nama keluarga saya—ibu saya, yang menolak bicara tentang Sam; adik perempuan saya, yang hanya membisikkan namanya; bibi saya di Memphis, yang melepaskan nama Cayhall; dan ayah saya almarhum, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda dan biro hukum ini atas apa yang Anda lakukan. Saya sangat mengagumi Anda.”

"Terima kasih kembali. Sekarang berangkatlah ke Mississippi."

***

Apartemen itu berupa sangkar dengan satu kamar tidur, di lantai tiga sebuah gudang awal abad ini, tepat di Jalan Loop, pada bagian pusat kota yang terkenal dengan berbagai tindak kejahatannya, tapi katanya cukup aman sebelum hari gelap. Gudang tersebut dibeli pada pertengahan tahun delapan puluhan oleh seorang agen sewa-beli swinger yang menghabiskan banyak uang untuk menyanitasi dan memodernkannya.

Ia menyekat-nyekatnya menjadi enam puluh unit, menyewa seorang makelar rumah yang licin, dan memasarkannya sebagai kondominium untuk yuppie pemula. Ia mendapat banyak uang ketika dalam semalam tempat itu penuh dengan para bankir dan broker muda yang sangat bernafsu mendapatkannya.

Adam benci tempat itu. Masih ada tiga minggu tersisa sebelum sewa enam bulan itu habis, tapi tak ada tempat lain baginya untuk pindah. Ia akan terpaksa memperbaharui sewanya untuk enam bulan lagi, sebab Kravitz & Bane mengharapkan delapan belas jam kerja sehari, dan tak ada waktu untuk mencari apartemen lain.

Dan jelas tak banyak pula waktu untuk membeli perabot. Sebuah sofa kulit halus tanpa lengan bertengger sendirian di lantai kayu, menghadap dinding bata kuno. Dua kantong kacang—kuning dan biru—ada di dekatnya, bila sewaktu-waktu ada tamu muncul. Di sebelah kiri ada dapur sempit dengan snack bar dan tiga bangku anyam, dan di sebelah kanan sofa ada kamar tidur dengan ranjang berantakan dan pakaian di lantainya. Dua ratus sepuluh meter persegi, untuk 1.300 dolar sebulan.

Gaji Adam, sebagai calon bermasa depan cerah sembilan bulan lalu, mulai dengan 60.000 dolar setahun, dan sekarang 62.000 dolar. Dari gaji kotornya yang secara kasar sekitar 5.000 per bulan, 1.500 dolar disetorkan kepada pemerintah negara bagian dan pemerintah federal sebagai pajak pendapatan. Enam ratus dolar lagi tak pernah sampai ke tangannya, melainkan masuk ke dana pensiun Kravitz & Bane yang menjamin kehidupan bebas dari tekanan pada usia 55 tahun, kalau mereka tidak lebih dulu membunuhnya.

Sesudah uang sewa, listrik, dan air, 400 dolar sebulan dipakai untuk menyewa sebuah Saab dan keperluan-keperluan insidental seperti makanan beku dan pakaian bagus. Maka Adam mengantongi 700 dolar untuk bersenang-senang. Sebagian dari uang yang tersisa ini dibelanjakan untuk wanita-wanita, tapi wanita-wanita yang dikenalnya juga baru lulus.

“Ambil uangnya dan hidup seperti yang kuinginkan."

~ 7 ~

Berkat keyakinan ayahnya pada asuransi jiwa, ia tak punya pinjaman mahasiswa. Meskipun banyak yang ingin dibelinya, dengan tabah ia menyisihkan 500 dolar sebulan untuk disimpan. Tanpa prospek untuk menikah dan berkeluarga dalam waktu dekat ini, sasarannya adalah bekerja keras, menabung keras, dan pensiun pada umur empat puluh tahun.

Pada dinding bata itu ada sebuah meja dengan televisi di atasnya. Adam duduk di sofa, tanpa pakaian kecuali sebuah boxer short, memegang remote control. Kecuali radiasi tanpa warna dari layar televisi, sangkar itu gelap. Saat itu sudah lewat tengah malam. Video itu adalah potongan-potongan yang ia sambung selama bertahun-tahun —The Adventures of a Klan Bomber, demikian ia menyebutnya.

Video itu mulai dengan laporan berita singkat yang disampaikan kru lokal di Jackson, Mississippi, pada tanggal 3 Maret 1967, pagi sesudah sebuah sinagoga diruntuhkan ledakan bom. Itu serangan keempat yang diketahui diarahkan pada sasaran Yahudi dalam dua bulan terakhir, kata reporter itu, sementara sebuah buldoser meraung di belakangnya dengan garu yang penuh puing. FBI tidak punya banyak petunjuk, katanya, dan lebih sedikit lagi komentar untuk pers. Serangan teror Klan terus berlanjut, katanya muram dan mengundurkan diri.

Pengeboman Kramer adalah yang berikutnya. Berita itu dimulai dengan raungan sirene dan polisi mendorong orang-orang menyisih dari tempat kejadian. Seorang reporter lokal dan juru kameranya tiba di tempat cukup cepat untuk merekam kegemparan sebelumnya.

Orang-orang terlihat berlarian ke reruntuhan kantor Marvin. Awan debu kelabu tebal bergantung di atas pohon ek kecil di halaman depan. Pepohonan compang-camping dan tak berdaun, tapi masih tegak. Awan itu bergantung diam, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menipis. Tidak tersorot kamera, ada suara-suara yang menjeritkan kebakaran, kamera berguncang dan berhenti di depan bangunan sebelah, tempat asap tebal tertumpah dari dinding yang rusak.

Sang reporter, kehabisan napas dan terengah-engah ke mikrofon, berceloteh tak keruan tentang seluruh pemandangan yang mengguncangkan itu. Ia menunjuk ke sini, lalu ke sana, sementara melonjak terlambat menanggapi. Polisi mendorongnya menyingkir, tapi ia terlalu asyik dan tidak memedulikannya. Kehebohan besar meledak di kota kecil Greenville yang masih mengantuk, dan ini saat paling hebat baginya.

Tiga puluh menit kemudian, dari sudut yang berbeda, suaranya sudah agak lebih tenang ketika ia menguraikan penyelamatan Marvin Kramer dari reruntuhan puing yang penuh kepanikan. Polisi memperluas barikade dan menggeser mundur kerumunan orang banyak, sementara regu penyelamat dan pemadam kebakaran mengangkat tubuh Marvin dan menggotong usungan di antara reruntuhan.

Kamera mengikuti ambulans berlalu dengan kecepatan tinggi. Lalu, satu jam sesudahnya dan dari sudut yang lain lagi, reporter itu tampil tenang dan sadar ketika dua usungan dengan tubuh-tubuh kecil yang tertutup diangkat hati-hati oleh regu pemadam kebakaran.

Video itu terputus dari tempat pengeboman menuju bagian depan penjara, dan untuk pertama kalinya Sam terlihat sepintas. Ia diborgol dan digiring cepat ke dalam mobil yang sudah menunggu.

Seperti biasa, Adam menekan sebuah tombol dan memainkan kembali adegan pendek yang memperlihatkan Sam. Walau itu tahun 1967, 23 tahun yang lalu. Sam berumur 46 tahun. Rambutnya hitam dan dipotong pendek, gaya pada masa itu. Di bawah mata kirinya ada balutan kecil, di balik sorotan kamera.

Ia berjalan cepat, melangkah lebar bersanding dengan para deputy, sebab orang-orang menonton, memotret, dan meneriakkan pertanyaan. Ia hanya satu kali menoleh ke suara mereka, dan seperti biasa Adam menghentikan pita video itu serta menatap wajah kakeknya untuk kesejuta kali. Gambar itu hitam-putih dan tidak jelas, tapi mata mereka selalu bertemu.

1967. Kalau saat itu Sam 46 tahun, Eddie 24 tahun, dan Adam hampir 3 tahun. Ia dikenal sebagai Alan waktu itu. Alan Cayhall, tak lama kemudian jadi penduduk sebuah negara bagian yang jauh, tempat seorang hakim menandatangani surat keputusan memberikan nama baru kepadanya. Ia sering melihat video ini dan bertanya-tanya dalam hati, di manakah ia pada saat bocah-bocah Kramer itu terbunuh: 07.46, 21 April 1967. Waktu itu keluarganya tinggal di sebuah rumah kecil di kota Clanton, dan mungkin ia sedang tidur tak jauh dari pengawasan ibunya. Ia hampir tiga tahun, dan si kembar Kramer baru lima tahun.

Video itu berlanjut dengan lebih banyak kilasan gambar Sam digiring keluar-masuk berbagai mobil, penjara, dan gedung pengadilan. Ia selalu diborgol dan mengembangkan kebiasaan menatap tanah beberapa meter di depannya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia tak pernah memandang pada reporter, tak pernah memedulikan pertanyaan mereka, tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Ia bergerak cepat, meluncur keluar dari pintu, menuju mobil yang sudah menunggu.

Dua sidang peradilannya yang pertama direkam panjang-lebar oleh laporan berita harian televisi. Selama bertahun-tahun Adam bisa mendapatkan kembali sebagian besar rekaman itu, dan dengan hati-hati mengedit bahan tersebut. Ada wajah Clovis Brazelton, pengacara Sam, yang berteriak-teriak keras, bergaya di depan pers pada setiap kesempatan. Namun, bersama lewatnya waktu, potongan rekaman tentang Brazelton diedit cukup banyak. Adam muak pada laki-laki ini.

Ada tayangan gambar berwarna menyapu halaman gedung pengadilan, dengan kerumunan penonton yang diam tak bersuara, polisi negara bagian bersenjata lengkap, dan para anggota Klan dengan jubah, kerudung kerucut, dan topeng menyeramkan. Sosok Sam terlihat sepintas-sepintas, selalu bergegas, selalu menyembunyikan diri dari kamera dengan merunduk di balik seorang deputy bertubuh besar.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.