Jumat, 26 Mei 2017

The Chamber: Kamar Gas (Bagian 1)

The Chamber: Kamar Gas

~ 1 ~ 

Keputusan untuk mengebom kantor pengacara Yahudi radikal itu dicapai dengan relatif mudah. Hanya tiga orang terlibat dalam prosesnya. Yang pertama, seorang laki-laki berduit. Yang kedua, pelaksana lokal yang mengenal daerahnya. Dan yang ketiga, seorang patriot dan fanatik muda dengan keahlian dalam pemakaian bahan peledak dan keterampilan mencengangkan untuk menghilang tanpa jejak. Sesudah pengeboman, ia melarikan diri ke luar negeri dan bersembunyi di Irlandia Utara selama enam tahun.

Nama pengacara itu Marvin Kramer, seorang Yahudi Mississippi generasi keempat yang keluarganya jadi kaya raya sebagai pedagang di daerah Delta. Ia tinggal di sebuah rumah kuno zaman sebelum Perang Saudara di Greenville, sebuah kota di tepi sungai dengan komunitas Yahudi yang kecil tapi kuat, sebuah tempat dengan sedikit sejarah keributan rasial. Ia menjalankan praktek hukum, sebab berdagang membuatnya bosan.

Seperti kebanyakan orang Yahudi keturunan Jerman, keluarganya berasimilasi dengan baik dalam kebudayaan Selatan, dan memandang diri mereka sebagai orang Selatan biasa yang kebetulan berbeda agama. Gerakan anti-Semitisme jarang muncul ke permukaan. Secara umum, mereka berbaur dengan masyarakat mapan dan memedulikan urusan mereka sendiri.

Marvin berbeda. Ayahnya mengirimnya ke Brandeis di Utara pada akhir dasawarsa lima puluhan. Ia melewatkan empat tahun di sana, lalu tiga tahun di fakultas hukum Columbia. Ketika ia kembali ke Greenville pada tahun 1964 gerakan perjuangan hak sipil sedang mendapat sorotan utama di Mississippi. Marvin melibatkan diri di dalamnya. Kurang dari sebulan sesudah membuka kantor hukumnya yang kecil, ia ditahan bersama dua rekan kuliahnya di Brandeis karena berusaha memperjuangkan hak orang kulit hitam sebagai pemilih.

Ayahnya gusar. Keluarganya malu, namun Marvin tak peduli. Ia menerima ancaman pembunuhan pertama pada umur 25, dan mulai membawa-bawa senapan. Ia membelikan sepucuk pistol untuk istrinya, seorang wanita Memphis, dan memerintahkan pembantu mereka yang berkulit hitam untuk membawa satu dalam dompet. Keluarga Kramer punya putra kembar berumur dua tahun.

Perkara gugatan hak sipil pertama diajukan pada tahun 1965 oleh kantor hukum Marvin B. Kramer and Associates (saat itu belum ada associate) dengan tuduhan bertumpuknya diskriminasi dalam praktek pemilihan umum yang dilakukan petugas setempat. Gugatan itu menjadi berita utama di seluruh negara bagian tersebut, dan Marvin membuat fotonya terpampang di surat kabar.

Namanya pun jadi tercantum dalam daftar Ku Klux Klan, sebagai orang Yahudi yang akan diancam. Inilah dia, seorang pengacara Yahudi radikal dengan jenggot dan hati yang baik, dididik oleh orang-orang Yahudi di Utara, dan sekarang berbaris bersama orang-orang negro, serta mewakili mereka di Delta Mississippi. Itu tak bisa dibiarkan.

Sesudahnya, ada desas-desus bahwa Kramer memakai uangnya sendiri untuk membayar jaminan pembebasan bagi para aktivis gerakan hak sipil dan Freedom Riders. Ia mengajukan gugatan hukum menentang fasilitas-fasilitas yang hanya boleh digunakan kaum kulit putih. Ia membayar pembangunan kembali sebuah gereja kulit hitam yang dibom Klan.

Ia bahkan terlihat menyambut orang negro ke dalam rumahnya. Ia berpidato di hadapan kelompok-kelompok Yahudi Utara dan mendesak mereka untuk melibatkan diri dalam perjuangan tersebut. Ia menulis banyak surat ke surat kabar, namun hanya sedikit yang dicetak. Kramer berbaris gagah berani, menuju kehancuran.

***

Kehadiran penjaga malam yang berpatroli santai di sekitar rumpun bunga rumah keluarga Kramer telah mencegah serangan terhadap rumah tersebut. Sudah dua tahun Marvin menggaji penjaga itu.

Seorang mantan polisi dan bersenjata lengkap, dan keluarga Kramer membiarkan seluruh Greenville tahu bahwa mereka dilindungi penembak ulung. Tentu saja Klan tahu tentang penjaga itu, dan Klan tahu diri untuk tidak mengusiknya. Dengan demikian, diambil keputusan untuk mengebom kantor Marvin Kramer, dan bukan rumahnya.

Perencanaan operasi itu hanya makan waktu sangat singkat. Ini terutama karena orang yang terlibat di dalamnya sangat sedikit. Laki-laki berduit itu, tokoh panutan kaum redneck yang flamboyan bernama Jeremiah Dogan, saat itu menjabat sebagai imperial wizard, pemimpin utama Ku Klux Klan di Mississippi. Pendahulunya sudah diciduk dan dipenjara, dan Jerry Dogan asyik mengatur pengeboman-pengeboman. Ia tidak tolol.

Bahkan kelak FBI mengakui Dogan sebagai teroris yang efektif, sebab ia mendelegasikan pekerjaan kotornya pada kelompok-kelompok kecil beranggotakan pembunuh-pembunuh otonom yang sepenuhnya tidak tergantung satu sama lain. FBI sudah ahli dalam menyusupkan informan ke tubuh Klan, dan Dogan tak mempercayai siapa pun, kecuali keluarga dan sekelompok kecil pembantunya. Ia punya usaha jual-beli mobil bekas terbesar di Meridian, Mississippi, dan mengeruk banyak uang dari berbagai perdagangan gelap.

Anggota kedua dalam tim itu seorang anggota Klan bernama Sam Cayhall dari Clanton, Ford County, Mississippi, tiga jam perjalanan sebelah utara Meridian, dan satu jam perjalanan dari selatan Memphis. Cayhall sudah dikenal FBI, tapi hubungannya dengan Dogan tidak diketahui.

FBI menganggap ia tak berbahaya, sebab ia tinggal di suatu daerah yang nyaris tanpa kegiatan Klan. Beberapa salib pernah dibakar di Ford County baru-baru ini, tapi tak ada pengeboman. FBI tahu ayah Cayhall anggota Klan, tapi secara keseluruhan keluarga itu tampak pasif. Perekrutan Sam Cayhall oleh Dogan merupakan langkah cemerlang.

Pengeboman kantor Kramer dimulai dengan sebuah telepon pada malam 17 April 1967. Karena kecurigaannya yang beralasan kuat bahwa teleponnya disadap, Jeremiah Dogan menunggu sampai tengah malam dan bermobil ke sebuah telepon umum di stasiun pompa bensin di selatan Meridian. Ia juga curiga dirinya dikuntit FBI, dan ia benar. Mereka mengawasinya, tapi tak tahu ke mana telepon itu ditujukan.

Sam Cayhall mendengarkan diam-diam di ujung seberang, mengajukan satu-dua pertanyaan, lalu memutuskan hubungan. Ia kembali ke ranjang dan tidak menceritakan apa pun kepada istrinya. Sang istri tahu diri untuk tidak bertanya. Esok harinya ia meninggalkan rumah pagi-pagi dan mengendarai mobil memasuki Clanton. Ia makan pagi di The Coffee Shop, lalu menelepon dari telepon umum di dalam Gedung Pengadilan Ford County.

Dua hari kemudian, 20 April, Cayhall meninggalkan Clanton menjelang malam dan bermobil selama dua jam menuju Cleveland, Mississippi, sebuah kota perguruan tinggi di Delta, satu jam dari Greenville. Empat puluh menit ia menunggu di halaman parkir sebuah pusat perbelanjaan yang sibuk, tapi tidak melihat tanda-tanda adanya mobil Pontiac hijau. Ia makan ayam goreng di sebuah kedai murahan, lalu bermobil ke Greenville untuk mengamati kantor pengacara Marvin B. Kramer and Associates.

Dua minggu sebelumnya, Cayhall sudah menghabiskan waktu dua hari di Greenville, dan mengenal kota itu dengan cukup baik. Ia menemukan kantor Kramer, lalu melaju melewati rumahnya yang megah, lalu sampai ke sinagoga itu lagi. Dogan mengatakan sinagoga itu mungkin akan jadi sasaran berikut, tapi pertama mereka perlu menghajar pengacara Yahudi itu.

Pukul 23.00, Cayhall kembali ke Cleveland, dan Pontiac hijau itu diparkir bukan di pusat perbelanjaan, tapi di pangkalan truk di Highway 61, sebuah lokasi cadangan, ia menemukan kunci kontak di bawah karpet lantai pengemudi, dan mengendarai mobil itu melintasi ladang-ladang Delta yang subur. Ia berbelok ke jalan kecil dan membuka bagasi. Di dalam kardus terbungkus koran, ia menemukan lima belas batang dinamit, tiga tutup peledak, dan sebuah sumbu. Ia mengemudikan mobil itu memasuki kota, dan menunggu di dalam kafetaria yang buka sepanjang malam.

Tepat pukul 02.00, anggota ketiga dalam tim itu berjalan ke pangkalan truk yang penuh sesak itu dan duduk di hadapan Sam Cayhall. Namanya Rollie Wedge, seorang laki-laki muda tak lebih dari 22 tahun, tapi sudah menjadi veteran andal dalam perang menghadapi perjuangan hak sipil.

Ia mengaku berasal dari Louisiana, sekarang tinggal di suatu tempat di pegunungan yang tak bisa ditemukan siapa pun, dan meskipun tak pernah membual, ia pernah beberapa kali mengatakan kepada Sam Cayhall bahwa ia siap mati terbunuh dalam perjuangan mempertahankan supremasi kulit putih. Ayahnya anggota Klan dan kontraktor penghancur bangunan. Darinya Rollie belajar bagaimana menggunakan bahan peledak.

Sam tak banyak tahu tentang Rollie Wedge, dan tidak terlalu mempercayai apa yang dikatakannya. Ia tak pernah menanyai Dogan di mana ia menemukan bocah itu.

Mereka menghirup kopi dan bercakap-cakap ringan selama setengah jam. Cangkir Cayhall kadang-kadang gemetar karena gelisah, tapi cangkir Rollie tenang dan mantap. Sekarang sudah beberapa kali mereka melakukan pekerjaan ini bersama-sama, dan Cayhall terkagum-kagum pada ketenangan pemuda ini. Ia pernah melaporkan kepada Jeremiah Dogan bahwa bocah itu tak pernah tegang, sekalipun saat mereka mendekati sasaran dan ia menangani dinamit.

Mobil Wedge adalah mobil sewaan dari bandara Memphis. Ia mengambil tas kecil dari jok belakang, mengunci pintunya, dan meninggalkan pangkalan truk tersebut. Pontiac hijau dengan Cayhall di belakang kemudi meninggalkan Cleveland dan melaju ke selatan di Highway 61.

Saat itu hampir pukul 03.00, dan jalanan lengang. Beberapa mil sebelah selatan dusun Shaw, Cayhall berbelok ke jalan batu yang gelap dan berhenti. Rollie memerintahkannya tetap tinggal di mobil, sementara ia memeriksa bahan peledak. Sam melakukan apa yang diperintahkan. Rollie membawa tas ke bagasi tempat ia menginventarisasi dinamit, tatap peledak, dan sumbu. Ia meninggalkan tasnya dalam bagasi, menutupnya, dan menyuruh Sam berangkat ke Greenville.

Mereka melewati kantor Kramer untuk pertama kalinya sekitar pukul 04.00. Jalan itu lengang dan gelap, dan Rollie mengucapkan sesuatu yang intinya mengatakan ini akan menjadi pekerjaan mereka yang paling mudah.

"Sayang kita tak bisa meledakkan rumahnya," Rollie berkata pelan ketika mereka melewati rumah Kramer.

"Yeah, sayang sakali," jawab Sam gugup. "Tapi dia punya penjaga, kau tahu."

"Yeah, aku tahu. Tapi penjaga itu mudah ditangani."

"Yeah, kurasa begitu. Tapi ada anak-anak di sana, kau tahu."

"Bunuh saja mereka selagi masih kecil," kata Rollie. "Bangsat Yahudi kecil akan tumbuh jadi bangsat Yahudi besar."

Cayhall memarkir mobil di lorong di belakang kantor Kramer. Ia mematikan mesin; lalu kedua laki-laki itu membuka bagasi tanpa suara, mengambil kardus dan tas, dan menyelinap sepanjang pagar hijau, menuju pintu belakang. Sam Cayhall mencongkel pintu belakang kantor itu dengan linggis kecil, dalam beberapa detik mereka sudah berada di dalam.

Dua minggu sebelumnya, Sam pernah muncul menemui resepsionis di situ, pura-pura menanyakan alamat, lalu minta izin untuk memakai kamar kecil. Di lorong utama, antara kamar kecil dan ruangan yang tampak seperti kantor Kramer, ada lemari sempit penuh dengan tumpukan berkas lama dan sampah urusan hukum lainnya.

"Tinggallah di samping pintu dan awasi lorong itu," Wedge berbisik tenang. Sam berbuat tepat seperti yang diperintahkan. Ia lebih suka menjalankan tugas sebagai penjaga dan mengelak ikut menangani bahan peledak.

Rollie cepat-cepat meletakkan kardus di lantai dalam lemari itu, dan memasang kabel-kabel dinamit. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan hati-hati, dan jantung Sam berdebar cepat tiap kali ia menunggu. Punggungnya selalu menghadap ke arah peledak tersebut, berjaga-jaga kalau-kalau ada yang tidak beres.

Mereka berada di dalam kantor itu tak lebih dari lima menit. Kemudian mereka kembali ke lorong tadi dan berjalan santai ke Pontiac hijau itu. Mereka tak terkalahkan. Semua begitu mudah.

Mereka pernah mengebom sebuah kantor real estate di Jackson, sebab sang pengusaha telah menjual sebuah rumah kepada pasangan kulit hitam. Pengusaha real estate itu berdarah Yahudi. Mereka pernah mengebom kantor penerbit surat kabar kecil, sebab sang editor pernah mengungkapkan sesuatu yang netral tentang gagasan pemisahan menurut warna kulit. Mereka pernah meruntuhkan sinagoga Jackson, sinagoga terbesar di negara bagian itu.

Mereka mengemudikan mobil menembus lorong, dalam kegelapan. Saat Pontiac hijau tersebut memasuki jalan kecil, lampu depannya menyala.

Pada setiap pengeboman terdahulu, Wedge memakai sumbu lima belas menit, yang dinyalakan begitu saja dengan korek api, sangat mirip petasan. Dan sebagai bagian dari pekerjaan tersebut, tim pengebom itu menikmati perjalanan dengan jendela terbuka di perbatasan kota, tepat ketika ledakan mencabik-cabik sasaran. Mereka telah mendengarkan dan merasakan setiap ledakan terdahulu, pada jarak yang aman, saat mereka meloloskan diri dengan santai.

Tapi malam ini lain. Sam salah berbelok di suatu tempat, dan mendadak mereka harus berhenti di persimpangan kereta api, menatap lampu yang berkedip-kedip saat serangkaian kereta barang berdetak-detak lewat di depan mereka. Rangkaian gerbongnya cukup panjang. Lebih dari satu kali Sam memeriksa jam tangannya. Rollie tidak mengucapkan apa-apa.

Kereta api itu lewat, dan Sam lagi-lagi salah belok. Mereka berada dekat sungai, dengan sebuah jembatan di kejauhan, dan rumah-rumah kumuh berjajar di kiri-kanan jalan. Sam memeriksa jam tangannya lagi. Lima menit lagi bumi akan bergetar, dan ia lebih suka meluncur dalam kegelapan jalan raya bebas hambatan yang sepi saat itu terjadi. Satu kali Rollie memainkan tangan dengan resah, seolah-olah kesal dengan sopirnya, tapi tak mengucapkan apa pun.

Satu tikungan lagi, satu jalan baru lagi. Greenville bukan kota besar, dan kalau terus berbelok, Sam memperhitungkan ia bisa kembali ke jalan yang sudah dikenalnya. Kekeliruan berikutnya terbukti menjadi kekeliruan terakhir. Sam menginjak rem begitu menyadari telah keliru berbelok masuk ke jalan satu arah. Ketika ia menginjak rem, mesin mobilnya mati. Ia mengentakkan persneling ke posisi netral dan memutar kunci kontak. Mesin berputar sempurna, tapi tak mau menyala. Kemudian tercium bau bensin.

"Sialan!" kata Sam dengan gigi dikertakkan. "Sialan!"

Rollie duduk rendah di kursinya, menatap ke luar jendela.

"Sialan! Mesinnya kebanjiran bensin!" Ia kembali memutar kunci. Hasilnya sama.

"Jangan sampai akinya habis," kata Rollie perlahan-lahan, tenang.

Baca lanjutannya: 
The Chamber: Kamar Gas (Bagian 2)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.