Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (9)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Kini pendekar 212 yang buka suara: “Saudara-saudara apapun yang kalian lakukan terhadap dua kunyuk ini, itu bukan urusanku lagi. Tapi sedapat­dapatnya jangan diapa-apakan dulu dia sebelum anak Ki Lurah ketemu dalam keadaan selamat. Soal Adipati Seta Boga di Linggajati, serahkan padaku. Besok kalian bisa mengambil sosok tubuhnya di Kadipaten Linggajati. Cuma aku tak dapat memastikan apakah dalam keadaan masih bernafas atau tidak. Itu tergantung pada sikapnya sendiri! Sekiranya dia masih hidup, ada baiknya kalian giring saja ke Kotaraja… Nah, selamat tinggal!”

“Saudara tunggu dulu!” seru Kratomlinggo dan Kundrawana hampir berbarengan. Namun Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 sudah berkelebat lewat langkan, lewat kepala-kepala penduduk Bojongnipah lalu lenyap ditelan kegelapan malam.

***

HANYA sebentar suasana sepi menyeling. Bila bayangan sosok tubuh pendekar 212 sudah lenyap ditelan kegelapan malam maka lupalah penduduk Bojongnipah akan pesan pendekar itu. Beramai-ramai mereka menyerbu kedua anak buah Tapak Luwing yang berada dalam keadaan tak berdaya, terikat ketiang langkan dan tertotok.

Puluhan senjata laksana hujan bertubi-tubi mampir ke kepala dan tubuh kedua orang itu. Tiada terdengar suara jeritan kedua orang ini, rintihanpun tidak! Mereka telah menemui nasib pembalasan atas kejahatan mereka. Keduanya menghembuskan nafas dengan tubuh mandi darah dan muka hancur tak bisa dikenali lagi.

Ki Lurah Kundrawana tidak menyaksikan lagi apa yang diperbuat penduduk Bojongnipah itu. Bersama Kratomlinggo dan tiga orang lainnya, dengan menunggangi kuda, dia meninggalkan Bojongnipah menuju Parit Kulon, sebuah pesawangan yang jarang didatangi manusia, terletak kira-kira ernpat kilometer dari desa. Satu-satunya bangunan di Parit Kulon adalah kuil tua yang diterangkan anak buah Tapak Luwing. Karenanya meskipun malam tak sukar untuk mencarinya.

Ki Lurah Kundrawana menyalakan obor yang dibawa. Diiringi oleh keempat orang lainnya dia masuk ke dalam kuil tua itu. Meski dia menemui anaknya dalam keadaan menyedihkan namun Kundrawana merasa. Lega dan gembira karena anak satu-satunya itu ternyata masih bernafas.

Anaknya tidur di ubin kotor dengan pakaian yang juga kotor. Tubuhnya kurus dari parasnya pucat karena tak terurus. Tangan dan kakinya diikat. Kundrawana bertutut lalu memeluk anaknya itu. Kratomlinggo membuka tali yang mengikat tangan serta kaki si anak yang saat itu sudah bangun. Tetesan air mata mengalir di pipi Ki Lurah Kundrawana. Tapi air mata kali ini adalah air mata gembira.

Sementara itu di tempat lain…

Tapak Luwing merasa tubuhnya yang kaku karena ditotok itu dibawa lari dalam kegelapan malam oleh seseorang. Bila sinar bulan yang tidak begitu terang menyeruaki pohon-pohon sepanjang jalan yang mereka lalui dan menyinari paras laki-laki itu samar-samar. Tapak Luwing terheran dan berpikir-pikir.

Laki-laki yang membawanya berlari itu tidak dikenalnya sama sekali. Siapa dia dan ke mana manusia ini mau membawanya! Kemudian apakah dia seorang yang akan menolongnya atau bukan? Tapi melihat gelagat dan ucapannya terhadap pemuda berambut gondrong tadi Tapak Luwing bisa sedikit memastikan bahwa laki-laki ini tidak bermaksud jahat terhadapnya. Diam-diam hatinya merasa lega. Maka bertanyalah dia: “Sobat, kau siapakah?”

“Jangan banyak tanya dulu!” menjawab orang yang memanggulnya. Suaranya besar dan parau, larinya laksana angin.

“Kita ini kemanakah?” tanya Tapak Luwing lagi.

“Aku bilang jangan bertanya apa-apa dulu. Apa tidak mengerti?!”

Tapak Luwing penasaran sekali. Namun dia menurut dan menutup mulutnya. Sepanjang perjalanan itu, satu hal saja yang diketahui oleh Tapak Luwing tentang orang yang memanggul dan membawa larinya yaitu laki-laki itu puntung tangan kanannya sampai sebatas bahu!

Ketika sampai di sebuah telaga kecil akhirnya laki-laki bertangan buntung itu menghentikan larinya. Tapak Luwing diturunkan dan disandarkan ke sebatang pohon di tepi telaga. Kemudian dilepaskannya totokan di tubuh Tapak Luwing.

“Atur nafas dan jalan darahmu. Kerahkan tenaga dalam!” berkata si tangan buntung.

Tapak Luwing segera melakukan hal itu. Tidak disuruhpun memang semustinya dia sudah bermaksud demikian, sesuai dangan setiap ajaran ilmu silat dari aliran dan golongan manapun.

Kemudian dengan tangannya yang cuma satu laki-laki itu dangan cekatan mengobati lengan Tapak Luwing yang patah dan membalutnya dangan secarik kain.

“Aku berhutang budi dan nyawa padamu sobat,” kata Tapak Luwing.

Laki-laki yang menolongnya tertawa. “Ada hutang ada piutang…” katanya di antara tertawanya, “ada budi ada balas”

“Maksudmu sobat?” tanya Tapak Luwing. “Di satu hari kelak pertolongan yang kuberikan padamu ini akan kutagih…”

Tapak Luwing kerenyitkan kening. “Tidak kau tagihpun, jika ada kesempatan aku pasti akan membalasnya. Bahkan jika aku sudah sembuh dan kau bersedia ikut ke Kali Comel, aku akan hadiahkan kepadamu harta benda, perhiasan dan uang seberapa saja kau suka.”

Si tangan buntung menyeringai. Gigi-giginya hitam kecoklatan. “Aku tidak butuh semua itu,” desisnya. Dipegangnya balutan di lengan Tapak Luwing. Sesaat kemudian Tapak Luwing merasakan aliran tenaga dalam yang ampuh merembas ke dalam tubuhnya. Tubuhnya menjadi segar kini dan rasa sakit pada lengannya yang patah itu berkurang.

“Terima kasih,” kata Tapak Luwing. “Apa sudah boleh aku kenal padamu. Aku Tapak Luwing…”

“Aku tahu siapa kau. Aku sudah lama dengar tentang komplotanmu yang malang melintang di sepanjang Kali Comel. Dan ketika tahu bahwa kau berada di sekitar sini, timbul satu maksud untuk menemuimu.”

“Apakah maksud itu?” bertanya Tapak Luwing. “Tadi aku sudah bilang, ada hutang ada piutang, ada budi ada balas. Satu hari kelak aku membutuhkan tenagamu…!”

“Jangan kawatir, aku pasti bersedia. Tapi untuk keperluan apakah?”

“Kau tak usah tahu untuk keperluan apa. Kau nanti akan tahu juga. Dengar, nanti pada hari tigabelas bulan dua belas kau harus dating ke Gunung Tangkuban Perahu…”

“Gunung Tangkuban Perahu…?”

“Ya. Masih kira-kira delapan bulan dari sekarang. Dan satu hal harus kau ingat. Jangan sekali-kali coba kembali ke desa Bojongnipah untuk buat perhitungan dengan Ki Lurah Kundrawana, salah-salah kau bisa ketemu dangan bangsat yang telah mencelakaimu tadi! Walau bagaimanapun untuk saat ini kau tak akan mampu menghadapinya! Ada saat untuk menyelesaikan urusan dangan dia. Karena itu kau musti datang ke Tangkuban Perahu pada hari tiga belas bulan dua belas nanti. Dengar?”

Tapak Luwing mengangguk. “Kau tahu siapa bangsat itu agaknya?” dia bertanya.

“Angka pengenalnya telah dituliskannya di keningmu.”

Terkejutlah Tapak Luwing. Dirabanya keningnya. Tak ada rasa sakit tapi memang kulit kening itu agak kesat dari sebelumnya.

“Berkacalah ke telaga itu.”

Tapak Luwing merangkak ke tepi telaga. Dia membungkuk dekat-dekat ke air telaga yang jernih itu dan di bawah penerangan sinar bintang-bintang serta bulan sabit samar-samar dilihatnya tertera tiga buah angka. Angka 2 1 2 ! Tapak Luwing memandang keheran-heranan pada si tangan buntung lalu memperhatikan lagi mukanya di air telaga. Diusapnya keningnya.

Diusapnya lagi sampai beberapa kali tapi angka 212 itu tidak mau hilang. Dibasahinya keningnya dangan air telaga lalu diusapnya lagi berulang kali. Tetap saja angka 212 itu tidak mau hilang!

“Dengan apa pun dan cara bagaimanapun angka itu tak akan bisa pupus dari keningmu Tapak Luwing! Angka itu ditera dengan telapak tangan yang mengandung tenaga dalam dan kesaktian yang luar biasa. Sekalipun kulit keningmu dikelupas sampai ke batok kepalamu maka pada tulang batok kepalamupun angka itu sudah meresap!”

“Siapa sesungguhnya manusia muda berambut gondrong dengan angka pengenal 212 itu…” tanya Tapak Luwing pula.

“Namanya Wiro Sableng. Dia sakti sekali…” jawab si tangan buntung. “Tapi,” katanya kemudian menambahkan, “di hari tiga belas bulan dua belas nanti, kelak ajalnya akan sampai!”

Diam-diam, meskipun si tangan buntung tidak menerangkan tapi Tapak Luwing tahu, kini bahwa antara si tangan buntung dan pemuda rambut gondrong yang telah mencelakainya itu terdapat sangkut paut dendam kesumat.

“Selama waktu delapan bulan mendatang,” berkata lagi si tangan buntung, “kuanjurkan kepadamu untuk berlatih ilmu silat yang telah kau miliki agar lebih hebat.”

Tapak Luwing mengangguk.

Si tangan buntung berkata: “Sekarang kita berpisah. Jangan lupa hari tiga belas bulan dua belas itu. Dan jangan coba-coba untuk tidak memenuhi perintahku ini…”

“Kau mau kemana sobat?”

“Urusanku masih banyak…”

“Tapi kau masih belum menerangkan namamu.”

“Namaku Kalingundil!”

~ 8 ~

LINGGARJATI sudah agak sepi ketika dia sampai ke sana karena hari sudah menjelang larut malam dan udara dingin mencucuki kulit tubuh sampai ke tulang-tulang. Di sebuah kedai dia berhenti untuk membasahi tenggorokan dan menghangatkan tubuhnya dengan segelas bandrek. Di kedai ini juga dia telah menanyakan di mana letak tempat kediaman Adipati Seta Boga.

Tak sukar mencari tempat kediaman Adipati Seta Boga. Rumahnya adalah sebuah gedung yang paling bagus dan paling besar di Linggarjati. Saat itu gedung tersebut berada dalam suasana tenang tenteram. Dua orang pengawal berdiri di pintu masuk dan di ruang tamu kelihatan beberapa orang laki-laki. Rupanya Adipati Seta Boga tengah menerima beberapa orang tamu.

Laki-laki itu melangkah seenaknya di depan kedua pengawal Kadipaten. “Di sini rumahnya Adipati Seta Boga ?” tanyanya pada salah seorang pengawal.

“Betul. Ada apa…?” balik menanya si pengawal.

“Ah tidak apa-apa. Aku cuma tanya…” jawab si pemuda. Digaruknya rambutnya yang gondrong.

“Adipatinya ada…?”

“Ada sedang merierima tamu. Kau siapa? Perlu apa tanya-tanya…?”

“Cuma tanya,” jawab si pemuda. Digaruknya lagi rambutnya lalu tanpa bilang apa­apa dia melanjutkan langkahnya.

“Sialan...” maki pengawal itu.

Yang dimaki jalan terus.

Pengawal yang satu berkata “orang gendeng…” Keduanya memandang sampai pemuda tadi lenyap di tikungan jalan yang gelap.

Setengah jam kemudian, ketika pemuda itu kembali maka tamu-tamu di Kadipaten sudah tak kelihatan lagi. Lampu besar di ruang depan sudah diganti dengan lampu kecil. Melihat kedatangan si pemuda dan yang seperti tadi berhenti di depan mereka maka membentaklah salah seorang dari pengawal.

“Orang sinting! Ada apa kau datang lagi ke sini?!”

“Pergi sebelum kepalamu kupentung dengan gagang tombak ini!” menghardik yang seorang lagi.

Si pemuda menyeringai.

“Dengar sobat-sobatku,” katanya. Kedua tangannya diacungkan ke muka. Jari-jari telunjuk dan jari jari tengah diluruskan. “Kalian lihat jari-jari tanganku ini…?” tanyanya.

“Kunyuk gendeng! Berlalulah atau kuremukkan kepalamu!” bentak pengawal sambil acungkan tombaknya.

“Ah… jangan buru-buru marah tak karuan. Bicaraku masih belum habis!” menyahuti si pemuda tanpa acuhkan ancaman pengawal. Jari jari tangannya masih diluruskan. “Coba kalian hitung jari-jari tangan yang kuacungkan ini,” katanya.

Tentu saja kedua pengawal jadi tambah mengkal melihat tingkah dan mendengar ucapan si pemuda. Maka dua gagang tombakpun meluncur deras ke kepala pemuda itu. Namun lebih cepat lagi dari luncuran kedua tombak itu, maka kedua tangan si pemuda tahu­tahu sudah menotok urat di pangkal leher pengawal-pengawal. Kontan keduanya menjadi gagu dan kaku menegang.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.