Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (8)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Sebagai jawaban, terdengar suara tertawa bekakakan dari orang yang melarikan Tapak Luwing itu.

“Wiro Sableng, pemuda gendeng! Jangan sangka cuma kau sendiri yang jago dan sakti di jagat ini! Aku tunggu kau besok siang di Rawasumpang! Kuharap kau punya nyali unhuk menerima undangan kematianmu ini! Ha… ha… ha …!”

“Sompret betul! Siapa kau! Berhenti!”

“Besok siang, Wiro!”

Dengan, geram pendekar 212 lepaskan pukulan “kunyuk melempar buah”! ke arah manusia tak dikenal itu! Deru angin yang tiada terkirakan dahsyatnya menyerang si orang asing. Pada saat itu pula terlihat selarik sinar biru. Dan angin pukulan Wiro Sableng terbendung laksana membentur dinding baja!

Terkejutlah pendekar 212. Pukulan yang dilancarkannya tadi disertai hampir sepertiga dari tenaga dalamnya. Namun manusia yang tak dikenal itu berhasil meruntuhkan pukulan tersebut!

Besarlah dugaan Wiro Sableng bahwa orang yang memboyong Tapak Luwing itu adalah guru Tapak Luwing., setidak-tidaknya kakak seperguruannya. Atau mungkin juga seorang sakti dari golongan hitam yang berkawan dengan Tapak Luwing.

~ 7 ~

HALAMAN rumah lurah bojongnipah penuh oleh penduduk. Suasana malam terang benderang oleh puluhan obor. Agaknya penduduk Bojongnipah sudah tak dapat menahan ke­sabarannya lagi untuk mencincang dengan segala senjata yang mereka bawa, kedua manusia yang saat itu terikat ke tiang langkan rumah. Mereka tiada lain daripada anak-anak buah Tapak Luwing yang telah dirobohkan oleh Pendekar 212. Keduanya telah siuman. Di samping terikat ke tiang, keduanya juga berada dalam pengaruh totokan Wiro Sableng.

Kratomlinggo berdiri di samping Ki Lurah Kundrawana. Beberapa tombak dari mereka berdiri tenang-tenang Wiro Sableng. Kratomlinggo barusan saja menerangkan apa yang diketahuinya tentang kedua orang itu kepada Ki Lurah dan juga apa yang telah terjadi di tepi sungai dekat jembatan.

Bola mata Ki Lurah Kundrawaana pulang balik memandangi Wiro Sableng dan kedua anak buah Tapak Luwing. Saat itu Lurah Bojongnipah ini tak dapat lagi menahan hati dan mengendalikan amarahnya. Untuk sesaat lupa dia bahwa anaknya masih berada di dalam tawanan Tapak Luwing dan Tapak Luwing sendiri saat itu tidak berhasil ditangkap!

“Saudara-saudaraku se-Bojongnipah…” kata Kundrawana seraya maju beberapa langkah ke hadapan penduduk yang berdesak-desakan. “Sekarang kurasa sudah waktunya untuk menerangkan kepada kalian apa sesungguhnya latar belakang timbulnya pajak gila itu! Aku dengan hati hancur dan seribu satu kepahitan telah terpaksa menerima segala kata-kata dan cap yang kalian lemparkan padaku! Kalian mencap aku sebagai tukang peras, aku telah terima. Kalian cap aku sebagai lintah darat, sebagai tukang tindas… sebagai ini, sebagai itu, semuanya aku terima!

“Namun hari ini, malam ini kalian terimalah juga satu penuturan dariku, satu kenyataan yang menyebabkan terjadinya pemungutan pajak berat itu. Dulu aku pernah berkata bahwa pajak itu dipungut atas perintah Raja! Untuk pembangunan dan pemeliharaan balatentara Kerajaan. Kini kuakui itu semua hanya alasan belaka, hanya dusta besar yang aku karang-karang demi untuk menyelamatkan keluargaku dan juga menyelamatkan kalian semua dari keganasan dan kejahatan yang kalian tidak ketahui…”

PendudukBojongnipah saling pandang memandang satu sama lain penuh ketidak mengertian. Ki Lurah Kundrawana menyapu wajah mereka seketika lalu meneruskan bicaranya.

“Tadi kalian sudah dengar semua keterangan Kratomlinggo. Ini satu kenyataan bagus yang dengan sendirinya telah mencuci diriku. Tapi biar aku beri penjelasan lebih lengkap. Dua manusia yang terikat itu adalah anak buah Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel, komplotan rampok-rampok bejat yang dikepalai oleh Tapak Luwing yang berhasil melarikan diri ditolong oleh seorang tak dikenal. Jadi ketiganya sama sekali bukanlah prajurit-prajurit Kadipaten seperti yang mereka sengaja menyamar pagi tadi!

“Tiga minggu yang lewat, di satu malam mereka telah datang ke rumahku dan memaksaku untuk menarik pajak sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah. Jadi berarti aku harus menarik pajak sebanyak sebelas kali terhadap kalian. Yang sepuluh bagian harus kuserahkan pada mereka sedang yang satu bagian sebagaimana biasa diserahkan ke Linggajati di mana Adipati Linggajati kemudian meneruskan ke Kotaraja…

“Aku coba untuk melawan. Tapi di samping mereka bertiga berilrnu tinggi aku tak bisa berbuat apa-apa karena anakku satu-satunya mereka bawa! Anakku akan mereka bunuh kalau pajak itu tidak aku pungut dari penduduk di sini! Kalian bisa merasakan dan mengetahui sendiri kini. Tak ada jalan lain bagiku untuk membantah, kecuali kalau ingin putera tunggalku rnenemui kematiannya…!”

Suasana malam sesepi dipekuburan kini! Penduduk sama menganga dan terlongong-longong. Tentu saja hal ini tiada diduga sama sekali oleh mereka. Dan serentak pula dengan itu maka menggelegaklah kemarahan penduduk. Ketika seseorang di antara mereka berseru: “Cincang dua bangsat ini!” maka menyerbulah penduduk Bojongnipah dengan senjata masing-masing. Namun disaat itu pendekar 212 maju ke muka danberseru nyaring. Sengaja seruannya itu disertaitenaga dalam untuk mempengaruhi. penduduk yang tengah marah itu.

“Saudara-saudara, jangan ceroboh! Kunyuk-kunyuk ini akan dapat bagiannya juga! Tapi kalian harus ingat pada nasib anak Lurah kalian! Karena itu biarkan aku bicara sebentar dengan salah satu dari mereka… !”

Kalau saja penduduk tidak mendapat keterangan dari Kratomlinggo siapa adanya pemuda berambut gondrong itu, pastilah penduduk tak akan mau ambil perduli akan ucapan Wiro Sableng, lagi pula tenaga dalam si pemuda diam-diam sudah meresap mempengaruhi mereka!

Wiro mendekati anak buah Tapak Luwing yang terikat di tiang langkan sebelah kanan.

“Namamu siapa, sobat?” tanyanya.

Laki-laki itu diam saja. Hanya kedua bola matanya berputar menyorot melontarkan pandangan sangat membenci dan mendendam.

“Eeeh rupanya bekas tanganku membuat kau jadi tuli, huh!”

“Keparat! Tak usah banyak bicara… Kelak hari pembalasan dari pemimpinku Tapak Luwing akan tiba! Kalian semua di sini akan dikirim ke neraka!”

Wiro Sableng menyeringai.

“Mungkin kau dan kawanmu yang akan lebih dahulu dkincang penduduk sampai lumat!” kata Wiro Sableng pula. “Tak usah banggakan pemimpinmu! Dia sudah kabur bersama seorang kawannya!”

Keterangan ini mengejutkan kedua anak buah Tapak Luwing. Memang sejak mereka siuman tadi mereka tidak melihat pemimpin mereka dan tak tahu berada di mana.

Dan Wiro berkata lagi: “Aku mempunyai dugaan bahwa kau ada sangkut pautnya dengan Adipati di Linggajati. Katakan saja terus terang… Anak buah Tapak Luwing diam.

“Katakan!” bentak Wiro.

Sebaliknya laki-laki itu meludah ke lantai. “Beset saja mulutnya!” teriak Kratomlinggo yang sudah tak sabaran.

“Kau tak mau kasih keterangan?” tanya pendekar 212.

Anak buah Tapak Luwing itu meludah sekali lagi ke lantai langkan!

Wiro tertawa.

Dijangkaunya sebuah obor yang dipegang oleh seorang penduduk.

“Pernah rasa panasnya api?” tanya pendekar ini dengan tertawa-tawa. “Tampang­tampang macammu ini akan lebih keren bila disundut begini rupa!”

Wiro Sableng lantas menyorongkan api obor ke muka laki-laki itu. Anak buah Tapak Luwing tak sanggup gerakkan kepalanya karena tertotok. Keluhan kesakitan terdengar tiada henti. Udara malam kini berbau hangusnya bulu mata, alis dan sebagian rambut laki-laki itu. Kulit mukanya kelihatan merah terbakar.

“Mau sekali lagi?!” tanya Wiro dengan tertawa-tawa.

“Aku bersumpah kalau lepas akan membunuhmu dan tujuh keturunanmu!” kata anak buah Tapak Luwing penuh penasaran.

“Jangan ngaco! Kau tak akan lepas dari sini. Kalaupun lepas mungkin cuma rohmu saja! Dan aku belum punya keturunan…!” Pendekar muda itu tertawa mengekeh. Mau tak mau orang banyak yang menyaksikan itu jadi ikut-ikutan geli.

“Ayo, katakan apa hubunganmu dengan Adipati Linggajati,” bentak Wiro seraya mendekatkan api obor ke muka laki-laki itu.

“Tak ada hubungan apa-apa…!” jawab anak buah Tapak Luwing.

“Ah… ini satu kebohongan atau kedustaan?!”

“Aku tidak dusta. Tidak bohong!”

“Lantas apa perlumu pagi tadi menyamar bertiga-tiga menjadi prajurit-prajurit Kadipaten…?”

“Itu bukan urusanmu!”

“Oh begitu? Memang bukan urusanku. Tapi urusan api obor ini!” Dan sekali lagi api obor menjilati muka laki-laki itu. Dia menjerit-jerit. Wiro rnenunggu sampai beberapa detik di muka. “Mau kasih keterangan apa tidak?” tanyanya.

“Aku akan terangkan…!” berkata juga laki-laki itu pada akhirnya.

Wiro tersenyum. Dilariknya obor kembali. “Nah bicaralah. Biar kerasan agar semua orang dengar!”

Maka anak buah Tapak Luwing itupun memberikan penuturan: “Adipati Seta Boga dari Linggajati mengirimkan seorang utusan pada kami. Dia telah membuat rencana untuk melakukan pemerasan di sini. Kami ditawarkannya pekerjaan untuk menarik pajak itu dengan perjanjian hasilnya dibagi dua. Pemimpin kami menerimanya dan… dan…”

“Sudah. Itu sudah cukup terang!” kata Wiro Sableng pula.

Ki Lurah Kundrawana maju ke muka. “Jadi ini semua dibiangi oleh Adipati Seta Boga …?”

“Ya…”

“Kita harus tangkap Adipati itu!” teriak penduduk.

“Gantung saja bersama kunyuk-kunyuk yang dua ini!” teriak yang lain.

Pendekar 212 angkat tangan kirinya. “Soal Adipati itu serahkan padaku,” katanya. “Yang penting kini ialah menyelamatkan anak laki-laki Ki Lurah…”

Tersiraplah darah Ki Lurah Kundrawana bila dia ingat kembali akan anaknya. Dijambaknya rambut anak buah Tapak Luwing. “Anakku di mana kalian sekap?!” tanyanya.

Laki-laki itu tertawa buruk. Sangat buruk, apalagi melihat mukanya yang hangus dan merah mengelupas. “Jangan harap anakmu akan selamat Kundrawana!”

Kundrawana menyentakkan kepala laki-laki itu. “Dimana?!”

“Mungkin sudah mampus di tangan pemimpinku!”

Kundrawana mengambil obor dari tangan Wiro Sableng. Anak buah Tapak Luwing menjerit keras ketika obor itu disodokkan ke mata kanannya, Mata itu pecah dan darah meleleh di kulit mukanya yang mengelupas hangus!

“Kedua matanya akan kubikin buta keparat! Kecuali, kalau kau segera menerangkan di mana anakku kalian sekap!”

Laki-laki itu sebenarnya menyadari bahwa kalau sudah tertangkap demikian rupa dirinya tak akan mungkin lagi bisa selamat. Adalah percuma saja baginya untuk memberikan keterangan. Namun dalam diri manusia yang berkeadaan seperti anak buah Tapak Luwing saat itu, walau bagaimanapun senantiasa selalu terdapat sekelumit harapan untuk bisa menyelamatkan diri sehingga ancaman matanya akan dibutakan kedua-duanya itu mau tak mau mengerikannya juga!

Maka diapun memberikan keterangan: “Anak itu disekap di satu kuil tua di Parit Kulon…”

Lega sedikit hati Kundrawana. “Tapi,” katanya, “bila aku datang ke sana anakku tidak ada atau kutemui dia dalam keadaan sudah mati jangan harap kau bisa melihat dunia ini sampai esok lusa!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (9)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.