Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (7)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

“Aku di sini bung! Kenapa serang tempat kosong?!” kata manusia yang munculkan diri itu dengan nada mengejek.

“Bangsat betul!” maki Tapak Luwing. Di lemparkannya lagi dengan tangan kiri sepasang pisau belati ke arah laki-laki yang berdiri sekira enam tombak di tepi sungai.

~ 6 ~

ORANG yang berdiri di tepi sungai sambuti serangan itu dengan melambaikan tangan kirinya. Sekali lambai saja maka kedua pisau beracun itupun mentallah.

Kaget Tapak Luwing membuat-laki-laki ini keluarkan seruan tertahan.

“Manusia yang sengaja cari penyakit, siapa kau!” tanyanya membentak dan diam-diam memberikan isyarat pada kedua anak buahnya untuk bersiap-siap dan mengambil posisi mengurung.

Yang ditanya. “Ada ribut-ribut apa di sini?!”

“Ee kunyuk gondrong!” maki salah seorang, anak buah Tapak Luwing. “Kau berani. bicara edan sama prajurit-prajurit Kadipaten?!”

“Oh... jadi kalian prajurit-prajurit Kadipaten…” Laki-laki di tepi sungai, keluarkan suara mendengus. “Setahuku prajurit-prajurit Kadipaten tidak suka urusan kekerasan, apalagi membunuh manusia begini rupa…!”

Sementara itu. Kratomlinggo yang tadi hendak larikan diri, mendengar ada keributan baru di belakangnya perlahan-lahan palingkan kepala lalu putar tubuh dan berhenti di belakang sebuah pohon. Apa yang disaksikannya kemudian sungguh tidak diduganya.

“Kita tak perlu sembunyikan siapa kita terhadap monyet bermuka manusia ini!” kata Tapak Luwing.

“Nah, terus terang lebih bagus!” menimpali laki-laki di tepi sungai. “Katakan saja siapa kalian!”

“Sebelum tahu siapa kami sebaiknya lekas-lekaslah berlutut minta ampun!” kata Tapak Luwing pongah.

“Eh, kenapa begitu?”

Karena menyangka bahwa Kratomlinggo sudah larikan diri dan tak ada lagi di tempat itu, maka berkatalah Tapak Luwing;”Ketahuitah. Tiga Hitam dari Kali Comel tidak pernah membiarkanterusbernafasnya seorangbiangrunyamyang ikut campururusan!”

“Ooo… jadi kalian Tiga Hitam dari Kali Comel, rampok-rampok ganas tiada kernanusiaan itu? Pantas… pantas tampang-tampang kalian hitam macam arang…”

“Haram jadah! Terima golokku!” teriak anak buah Tapak. Luwing yang di samping kanan. Dengan gerakan enteng dia melompat dari punggung kuda, derngan sebat goloknya berkelebat ke arah batok kepala laki-laki muda yang berdiri tetap tenang malahan dengan tertawa-tawa!

Tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa laki-laki muda itu melompat ke belakang. Serangan anak buah Tapak Luwing mengenai tempat kosong. Karena begitu kesusu dan sebatnya maka laki-laki itu jadi terhuyung-huyung sendiri. Sebelum dia sempat mengimbangi badan, satu tendangan menghantam pantatnya!

“Manusia tidak tahu peradatan! Orang bicara dipotong seenaknya! Rasakan sendiri olehmu!”

Melihat kawan dan anak buahnya dipermainkan begitu rupa sampai tersungkur di tanah. Tapak Luwing dan anak buahnya yang satu lagi segera loncat dari kuda.

“Beri tahu namamu lebih dulu, kunyuk!” bentak Tapak Luwing. “Kalau tidak rohmu akan minggat percuma!”

“Bicaramu terlalu tinggi! Kalau mau tahu namaku majulah…!”

Dengan tertawa bergelak Tapak Luwing menyerbu ke muka. Sambaran goloknya deras sedang tangan kirinya laksana palu godam membabat ke arah ulu hati lawan. Inilah jurus “angin mengamuk pohon tumbang” yang memang bukan olah-olah dahsyatnya.

“Ah, rupanya kau punya ilmu yang diandalkan juga eh?” ejek lawan yang diserang. Dia merunduk untuk elakkan sambaran golok lalu lompat ke samping guna hindarkan sodokan tinju lawan dan dengan secepat kilat kemudian tangan kanannya yang terbuka menyeruak di antara kedua serangan lawan tadi, menderas ke arah kening Tapak Luwing.

Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel itu bukan orang yang berilmu rendah. Kalau tidak percuma saja dia menjadi kepala komplotan yang ditakuti selama bertahun-tahun disepanjang Kali Comel dan perbatasan.

Dengan sebat, dengan keluarkan bentakan dahsyat Tapak Luwing membuat satu gerakan yang luar biasa. Tubuhnya mencelat satu tombak ke atas dan dalam lompatan itu kaki kanannya menderu muka lawan dan disaat yang sama pula dari sebelah belakang menderu golok anak buah Tapak Luwing ke arah punggung laki-laki muda itu.

Yang diserang bersiul. “Akh… kalian rupanya betul-betul maui jiwaku! Tapi kurasa saat ini belum waktunya!” Pemuda ini berkelebat. Lututnya menekuk kedua tangannya berputar seperti kitir dan: “bluk... buk”!

Anak buah Tapak Luwing terjerongkang ke belakang, muntah darah dan menggeletak, di tanah. Tapak Luwing sendiri merintih kesakitan sewaktu lengan lawan menghantam tepat tulang keringnya!

Di saat itu anak buah Tapak Luwing yang tadi ditendang pantatnya sudah bangun kembali- dan dengan ganas lancarkan serangan dahsyat. Namun nasibnya juga sial. Sekali lawannya berkelebat maka goloknya kena dihantam sikut lawan! Yang satu inipun roboh pula menyusul kawannya.

Merasakan sakit pada kakinya, melihat kedua anak buahnya dibuat begitu rupa, benar-benar Tapak Luwing hampir-hampir merasa seperti orang mimpi. Apakah agaknya kali, ini komplotan yang dipimpinnya menemui “batunya”?

Selama bertahun-tahun bertualang dan menjadi Pemimpin Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel baru hari itu dia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua anak buahnya dibikin menggeletak hanya dalam satu gebrakan saja! Bahkan dia sendiri merasakan pula bekas tangan lawannya. Lawan yang masih muda belia dan sama sekali tidak dikenalnya.

Dengan penuh geram_Tapak Luwing salurkan tenaga dalamnya lewat lengan kanan terus kegolok sedang tangan kirinya saat itu sudah memegang tiga pisau beracun. Kedua kakinya terpentang, pinggangnya sedikit membungkuk ke muka. Tangan yang memegang pisau dinaikkan ke atas agak ke belakang sedang tangan kanan memegang golok lurus-lurus ke muka.

“Kenalkah kau jurus ini, pemuda keparat?!”

“Ah… hanya jurus –menyebar bunga menusuk buah– nenek-nenek keriput pun bisa mengenalnya!” sahut si pemuda.

Bukan saja Tapak Luwing menjadi geram diajek demikian rupa namun dia juga kaget melihat bahwa lawannya bisa menerka jurus yang bakal dikeluarkannya itu!

Untuk menutupi keterkejutannya Tapak Luwing berkata: “Kau sudah tahu nama jurus ini, baik sekali! Tapi juga ketahuilah ini adalah jurus kematianmu! Bagusnya kasih tahu namamu sekarang juga agar kau mampus tidak dengan penasaran!”

“Sudahlah… jangan banyak bacot! Buktikanlah kehebatan jurus yang kau andalkan itu!”

Tapak Luwing tertawa dingin. Tubuhnya semakin membungkuk. Hampir tak kelihatan dia menggerakkan tangan kirinya maka tiga pisau yang dipegangnya tahu-tahu sudah meluncur sebat sekali ke arah si pemuda. Yang pertama menjurus batang leher, yang kedua mencuit ke dada dan yang terakhir menggebubu ke bawah perut!

Bukan saja daya lesat pisau itu hebat sekali mengingat hanya di lemparkan dengan tangan kiri, namun juga tempat-tempat yang diserangnya juga adalah tempat-tempat yang berbahaya mematikan.

Pada detik pisau-pisau beracun itu melesat ke muka, pada saat itu pulaTapak Luwing menerjang dan putar goloknya dengan sebat. Dorongan angin golok yang. menderu menambah kencangnya daya lesat tiga pisau itu. Maka itulah jurus “menyebar bunga rnenusuk buah” Pisau dan golok datang susul menyusul!

“Akh jurusmu ini boleh juga!” kata si pemuda. “Tapi coba terima dulu telapak tanganku!”

Si pemuda pukulkan tangan kirinya ke muka. Angin dahsyat melanda dan mementalkan ketiga pisau. Tapak Luwing berseru kaget karena dua dari pisau itu akibat dorongan angin pukulan lawan berbalik menyerang ke arahnya. Mau tak mau Tapak Luwing terpaksa pergunakan goloknya untuk meruntuhkan dua pisau itu.

“Tring… tring!”

Dua pisau beracun patah-patah dan terlempar jauh. Gerakan untuk menangkis dua pisau ini membuat Tapak L.uwing melupakan pertahanan dirinya seketika. Ketika dia memasang kuda-kuda baru maka telapak tangan kanan lawan sudah berada dekat sekali ke kepalanya. Kepala Tiga Hitam dari Kali Comel ini pergunakan goloknya untuk membabat lengan lawan namun kurang cepat karena lengan kiri si pemuda lebih cepat menyusup membentur sambungan sikunya.

“Krak”!

“Plak”!

Tapak Luwing mengeluh dan huyung kebelakang.

Lengannya patah.

Keningnya yang kena dihantam telapak tangan lawan sakit dan panas bukan main. Pada kulit kening itu kini kelihatan tertera angka 212! Tapak Luwing coba alirkan tenaga dalam dan atur jalan darahnya. Namun kekuatannya seperti punah. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Keningnya panas, sakit dan pemandangannya berkunang, lututnya gontai!

“Keparat…” desis Tapak Luwing.

“Ee… masih bisa memaki?”

“Kalau hari ini aku kena kau celakai jangan anggap kau sudah mempecundangi aku, orang muda. Suatu hari kelak aku akan mencarimu dan mematahkan batang lehermu!”

Tapak Luwing ambil tiga pisau terbang dengan tangan kirinya. Cepat sekali senjata itu dilemparkannya ke arah si pemuda lalu secepat itu pula dia putar tubuh untuk larikan diri. Si pemuda melompat ke samping. Dua pisau lewat di kiri kanannya. Pisau ketiga diluruhkannya dengan lambaian tangan kiri! Kemudian sambil totokkan dua jari tangan kanannya mengirimkan totokan jarak jauh berserulah si pemuda: “Kenapa pergi buru-buru?! Bicaraku tadi padamu belum habis!”

Kontan saat itu juga tubuh Tapak Luwing menjadi kaku tegang tak bisa bergerak lagi! Si pemuda tertawa dan berpaling pada pohon besar di tepi sungai.

“Saudara yang sembunyi di belakang pohon. keluarlah. Aku mau bicara juga dengan kau!”

Kratomlinggo, yang berdiri di belakang pohon itu terkejut. Namun karena tahu bahwa itu pemuda bukanlah dari golongan jahat maka tanpa ragu-ragu dia segera keluar. Lagi pula penuturan Tapak Luwing tadi yang mengaku bahwa dia dan kawan-kawannya adalah Komplotan Tiga Hitam dari Kalkomel membuat dia merasa perlu melakukan pe­nyelidikan lebih jauh.

“Saudara, apakah yang telah terjadi di sini sebelumnya dengan kau dan kawan­kawan…?”

“Panjang ceritanya, saudara. Tapi sebelumnya kalau aku boleh tahu siapa namamu…?”

“Aku Wiro…” jawab si pemuda.

“Aku Kratomlinggo. Aku dan kawan-kawanku yang malang itu sama-sama dari desa Bojongnipah. Kami bermaksud pergi ke Kotaraja…”

Maka Kratomlinggopun menuturkan segala sesuatunya, mulai dari soal pajak gila yang dilarik oleh Ki Lurah Kundrawana sampai dengan kematian keempat kawannya itu.

Wiro atau Wiro Sableng alias Pendekar 212 geleng-gelengkan kepalanya. “Aku memang sudah lama dengar nama Komplotan bejat mereka. Yang satu ini kalau tak salah bernama Tapak Luwing. Pantas saja selama beberapa waktu terakhir ini tak kelihatan mereka malang melintang di sepanjang Kali Comel. Rupanya tengah bikin kejahatan di sini…”

“Dan pastilah penjahat-penjahat ini bekerjasama atau jadi-kaki tangan Ki Lurah Kundrawana…”

“Boleh jadi,” sahut pendekar 212. “Tapi mungkin juga merekalah biang runyam yang melakukan pemerasan terhadap Ki Lurah!”

Kratomlinggo mengangguk.

“Supaya jelas biar bangsat yang satu ini kita tanyai,” kata Wiro Sableng pula. Dia melangkah mendekati Tapak Luwing untuk melepasakan totokan di tubuh kepala Komplotan Tiga Hitam itu. Namun baru saja satu tindak dia melangkah tiba-tiba sekali berkelebatlah satu sosok tubuh dari kegelapan. Makhluk ini langsung meraih pinggang Tapak Luwing dan membopong melarikannya!

Kratomlinggo terkejut.

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 berteriak: “Maling tengik! Berhenti!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (8)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.