Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (6)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

“Tapi mengapa hanya penduduk Bojongnipah saja yang dipajaki segila ini!” kata salah seorang penduduk yang berdiri di samping Kratomlinggo: “Ya, desa-desa lain tidak!” seru yang lain dari luar halaman.

“Kamu semua tahu apa!” semprot Tapak Luwing. “Ini adalah keputusan Raja! Bojongnipah yang subur tak bisa disamakan dengan desa-desa lain. Karenanya sudah pantas kalau dibebani pajak yang agak besaran…”

“Agak besaran…” gerendeng seorang penduduk mengejek.

Kratomlinggo kemudian mengetengahi suasana panas itu. “Kami merasa sama sekali tidak menentang Raja, sama sekali tidak membangkang apalagi memberontak. Kami hanya inginkan agar pajak dikembalikan sebesar yang lama…”

Tapak Luwing meludah ke lantai langkan. “Kau memang biang racun pemberontak yang pintar omong! Terhadap Lurah kalian, kalian boleh bicara kasar dan seenaknya, tapi terhadap kami prajurit-prajurit Kadipaten jangan coba-coba! Pimpin seluruh penduduk untuk angkat kaki dari sini! Cepat!”

Maka berkatalah Kratomlinggo: “Kami penduduk Bojongnipah datang ke sini untuk menegakkan keadilan. Kalau kami harus angkat kaki dari sini maka keadilan itu musti sudah berhasil ditegakkan!”

“Hem… begitu…?” Tapak Luwing menyeringai. Gigi-giginya yang hitam kecoklatan serta besar-besar ketihatan menjijikkan. “Sebelum kau dan yang lain-lainnya menegakkan keadilan itu, coba terima tangan kananku ini!”

Sesudah berkata demikian Tapak Luwing hantamkan tangan kanannya ke dada Kratomlinggo. Yang dipukul dengan cepat melompat ke samping.

Namun... “Buukk !”

Tangan kiri Tapak Luwing bersarang di perut Kratomlinggo. Nyatanya pukulan tangan kanan Tapak Luwing tadi hanyalah satu tipuan belaka! Kratomtinggo melintir dan terjajar ke belakang. Perutnya sakit- sekali, mual seperti mau muntah, nafasnya menyesak.

Laki-laki ini rupanya bukanlah hanya sekedar seorang petani saja, namun juga seorang yang pernah mempelajari ilmu silat. Dengan cepat dia atur nafas dan jalan darah. Lalu dengan sebat rnenyerang ke muka. Enam orang penduduk ikut menyertai serangannya inir Maka dengan demikian pertempuranpun pecahlah.

Empat penduduk terjerongkang ke lantai langkan. Dua pingsan, dua lagi patah tulang iganya serta terlepas sambungan sikunya. Sedang Kratomlinggo terhempas ke tiang langkan. Dadanya kena dipukul oleh Tapak Luwing. Dia berusaha berdiri mengimbangi badan kembali dan siap melancarkan serangan balasan. Tapi apa lacur, belum lagi kakinya menindak pemandangannya sudah gelap dan dari mulutnya bermuntahan darah kental berbuku-buku! Sesaat kemudian tubuh laki-laki ini tergelimpang ke lantai!

Melihat ini sebagian penduduk menjadi kalap. Mereka menyerbu berserabutan ke atas langkan dengan berbagai macam senjata.

“Siapa yang mau mampus, majulah!” teriak Tapak Luwing seraya melintangkan golok.

Mereka yang menyerbu menjadi ragu-ragu kini namun beberapa orang diantaranya yang tetap kalap menyerang dengan membabi buta. Maka terjadilah hal yang mengerikan. Orang-orang ini bergelimpangan bermandikan darah, dibabat dan dipapas oleh senjata Tapak Luwing dan anak-anak buahnya! Yang lain-lainnya kini tak berani lagi bertindak lebih jauh meskipun jumlah mereka jauh lebih banyak!

Warih Sinten sudah sejak lama lari ke dalam rumah sambil menjerit-jerit ketakutan sedang Kundrawana menggigit bibir dan pejamkan mata melihal kengerian itu. Kalau saja tidak ingat akan keselamatan anaknya, sudah sejak tadi dia mencabut keris dan turut menyerbu!

“Siapa lagi yang mau berkenalan dengan golokku, silahkan maju!” kata Tapak Luwing tolakkan tangan kirinya ke pinggang kiri.

Tapak Luwing tertawa. “Nah, kalau kalian masih belum punya nyali untuk masuk ke liang kubur, gotong kunyuk-kunyuk yang malang melintang di langkan rumah ini kemudian angkat kaki dari sini cepat!”

Kemarahan penduduk meluap-luap. Namun apa yang terjadi di depan mata mereka membuat nyali mereka menjadi ciut dan bulu kuduk meremang. Ki Lurah Kundrawana sendiri berdiri mematung. Rahangnya terkatup rapat-rapat. Kegeramannya tiada terlukiskan. Kebenciannya terhadap Tiga Hitam dari Kali Comel tiada terkirakan lagi! Namun seperti penduduk Bojongnipah, dia juga tak dapat berbuat suatu apa!

Penduduk menggotong Kratomlinggo dan korban-koban lainnya. Sebelum mereka berlalu berserulah Tapak Luwing.

“Aku tak ingin melihat keonaran macam begini untuk kedua kalinya, kecuali kalau kalian sendiri yang sengaja minta dibereskan macam kawan-kawan kalian itu! Siapa yang mau berontak boleh saja! Golakku memang sudah sejak lama haus darah!”

Tak ada yang menyahuti ucapan Tapak Luwing itu.

Dan Tapak Luwing yang menyamar sebagai prajurit Kadipaten itu berseru lagi: “Jangan lupa, paling lambat tengah hari besok, kalian semua sudah harus melunasi pajak itu! Jika ada yang membantah untuk membayarnya, kalian cukup tahu apa akibatnya!” ketika seturuh penduduk Bojongnipah sudah meninggalkan tempat itu maka Tapak Luwing menyarungkan goloknya kembali dan berpaling pada Ki Lurah Kundrawana.

“Kau harus berterima kasih padaku yang telah selamatkan kau punya batang leher, Ki Lurah…!” Ki Lurah Kundrawana berkemik. Rahang-rahangnya bertonjolan. Tapak Luwing tertawa mengekeh. “Selambat-lambatnya senja besok uang pungutan pajak harus sudah kau antarkan ke pondok tua dipersimpangan jalan yang menuju ke Linggajati!”

Kundrawana masih diam.

“Eh, apa kau sudah tuli!” tanya Tapak Luwing.

Dan Lurah Bojongnipah itu masih juga diam. Maka membentaklah Tapak Luwing. “Kamu tuli hah?!”

“Aku tidak tuli, Tapak Luwing…”

“Lalu mengapa ditanya diam saja? Mungkin gagu?!”

Dua orang anak buah Tapak Luwing cengar cengir.

“Sesenja-senjanya hari uang itu sudah harus ku terima. Kau dengar…?!”

“Bagaimana kalau penduduk tak mau membayamya ?”

“Aku tak perlu pertanyaan itu! Bayar atau tidak bayar, pokoknya besok aku cuma tahu terima uang!”

Tapak Luwing memberi isyarat pada kedua anak buahnya. Ketiganya menuruni langkan rumah dan melangkah menuju ke kuda masing-masing.

Malam itu, dengan segala daya dan sedikit ilmu pengetahuan yang dimilikinya, Kratomlinggo berhasil menyembuhkan luka di dalam yang dideritanya akibat pukulan Tapak Luwing. Pada dasarnya bukan daya dan pengetahuan silat Kratomlinggolah yang menolong melainkan adalah karena pukulan Tapak Luwing pagi tadi tidak mempergunakan keseluruhan tenaga dalamnya.

Dendam terhadap Tapak Luwing dan kawan-kawannya, kebencian yang tak terkendalikan terhadap Ki Lurah Kundrawana serta pajak yang tetap harus dibayar esok hari, semuanya itu bertumpuk menjadi satu sehingga malam itu, rneskipun baru saja sembuh dari luka namun tekat Kratomlinggo sudah bulat untuk berangkat ke Kotaraja! Niatnya ini diberitahukannya pada beberapa kawannya. Dan malam itu bersama empat orang lainnya, dengan menunggangi kuda maka berangkatlah Kratomlinggo ke Kotaraja.

Malam gelap. Sinar bintang dan cahaya bulan sabit tak dapat mengalahkan kegelapan itu. Kratomlinggo dan empat orang kawannya memacu kuda masing-masing, melewati sebuah tikungan dan sampai di sebuah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sebuah anak sungai.

Pada saat itu pulalah Kratomlinggo dan kawan-kawannya melihat serombangan penunggang kuda di seberang jembatan. Mereka berjumlah tiga orang dan ketiganya menghentikan kuda di seberang jembatan itu. Melihat gelagat yang tidak baik ini.

Kratomlinggo segera hentikan kudanya di tengah-tengah jembatan dan memberi isyarat pada keempat kawannya. Malam memang gelap namun mata Kratomlinggo masih sanggup, mengenali penunggang kuda yang paling depan dihadapannya. Manusia itu ternyata adalah prajurit Kadipaten yang siang tadi menanganinya!

“Celaka,” bisik Kratomlinggo. “Bagaimana bangsat-bangsat Kadipaten ini bisa tahu keberangkatanku ke Kotaraja?!” Sampai saat itu baik dia mau pun kawan-kawannya sama sekali masih tidak mengetahui siapa ketiga manusia yang menghadang di ujung jembatan itu!

Penunggang kuda sebelah muka yang tiada lain dari Tapak Luwing adanya tertawa mengekeh. “Rupanya pelajaran dan peringatanku siang tadi masih belum cukup huh!” sentak Tapak Luwing. Kratomlinggo tak menjawab. Namun dia diam tangan kanannya menyelinap ke balik pinggang meraba hulu golok. Hal yang sama dilakukan juga oleh keempat kawannya. Dan di seberang jembatan kembali terdengar kekehan Tapak Luwing.

Begitu kekehannya berhenti maka terdengar bentakannya. “Kalian kunyuk-kunyuk mau ke mana?!”

“Kami tak ada permusuhan dengan kalian. Karena itu minggirlah, beri jalan…” kata Kratomlinggo pula.

“Minta jalan? Boleh… lewatlah!” kata Tapak Luwing pula sambil pinggirkan kudanya. Dipersilahkan begitu rupa malah membuat Kratomlinggo dan kawan-kawannya menjadi terpatung, tak bergerak di punggung kuda masing-masing. “Ayo, kenapa tidak mau lewat?!” tanya Tapak Luwing.

Kratomlinggo bimbang.

Dan Tapak Luwing buka suara lagi: “Kalau begttu roh busuk kalian yang akan lewat jembatan ini !”

“Sret !”

Tapak Luwing cabut goloknya. Terdengar lagi dua kali suara “sret” yaitu dari golok-golok yang dkabut oleh anak buah Tapak Luwing. Melihat ini Kratomlinggo dan kawan-kawannya segera pula menghunus golok masing-masing!

“Aku tahu kalian hendak ke Kotaraja…” berkata Tapak Luwing seraya larik tali kudanya, “Tapi ketahuilah hanya roh-roh busuk kalian yang akan menghadap Raja di istana!”

Dalam jarak dua tombak, dengan satu sentakan keras maka kuda Tapak Luwing melompat ke muka. Dua anak buahnya menyusul. Tiga golok berkelebat di bawah cahaya redup bulan sabit. Lima golok menyambutinya !

“Trang… trang… trang…!”

Bunga api memercik. Suara beradunya golok-golok itu disusul oleh seruan kesakitan. Dua kawan Kratomlinggo rebah dari atas punggung kuda. Yang satu terbabat perutnya, yang lain puntung lengan kanannya!

Dalam gebrakan kedua, Tiga Hitam dari Kali Comel yang saat itu masih mengenai pakaian, prajurit-prajurit Kadipaten, kembali mengirimkan serangan hebat tanpa memberikan kesempatan pada lawan!

Dua orang lagi menjerit dan roboh, tubuh salah satu dari padanya kemudian kecebur ke dalam sungai. Kratomlinggo sendiri dibikin terjerongkang dari atas punggung kuda, goloknya lepas. Masih untung sarripai saat itu dia belum cidera apa-apa. Dan memaklumi bahwa untuk melawan terus adalah satu kesia-siaan maka laki-laki ini segara putar tubuh ambil langkah seribu!

Tapak Luwing tertawa bergelak. “Dasar manusia kintel! Kamu mau lari ke mana?!” Dari balik sabuknya kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel ini keluarkan sebilah pisau belati. Senjata ini melesat dengan mengeluarkan suara berdesing! Kratomlinggo yang tak tahu dirinya tengah dikejar maut, terus juga lari.

Hanya satu jengkal saja lagi belati yang mengandung racun itu akan menancap di punggungnya maka pada saat itu pulalah dari jurusan semak belukar gelap di tepi sungai melesat sebuah benda berbentuk bintang berwarna putih perak !

“Tring !”

Bunga api memercik.

Bukan saja benda berbentuk bintang ini berhasil membuat pisau beracun Tapak Luwing mental, tapi juga membuat pisau itu patah dua!

Terkejutlah Tapak Luwing. Lupa dia pada niatnya hendak membunuh Kratomlinggo. Dengan serta merta diputarnya tubuhnya. Matanya yang tajam telah melihat dari arah mana datangnya sambaran benda putih perak berbentuk bintang itu. Dan memakilah kepala Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu.

“Setan alas yang ikut campur urusan orang ke luar dari persembunyianmu dan terima pisau­pisau ku ini!”

Habis bilang demikian Tapak Luwing lemparkan sekaligus tiga bilah pisau beracunnya ke arah semak belukar di kegelapan.

Terdengar suara siulan yang disusul oleh suara tertawa bergelak.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (7)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.