Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (4)

  Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Dia tambah terkejut lagi ketika Tapak Luwing menyambung kalimatnya tadi: “Pajak itu harus kau pungut tiga kali dalam satu bulan! Mengerti…?!”

“Aturan macam mana ini?!”

“Tak usah tanya aturan macam mana, yang penting lakukan perintahku!” sahut Tapak Luwing, “Kau tak bisa berbuat seenaknya, Tapak Luwing! Salah-salah kau bisa berurusan dengan Adipati Linggajati, bisa berurusan dengan Kerajaan!”

“Urusan dengan Adipati, itu urusanmu, juga urusan dengan Kerajaan. Tapi jika kau berani mengadukan hal ini kepada siapa saja, kulabrak seluruh keluargamu! Mengerti?!”

“Kalian bisa melabrak keluargaku. Tapak Luwing, tapi kalian tak bisa melabrak Adipati dan Kerajaan!”

“Aku sudah bilang urusan dengan Adipati adalah urusanmu, juga dengan Kerajaan! Aku hanya tahu bahwa tiga kali dalam satu bulan aku harus terima sejumlah uang yang besarnya sepuluh kali besar pajak yang kau pungut selama ini dari penduduk desa!”

“Keterlaluan! Keterlaluan kau Tapak Luwing! Tak satu pendudukpun yang sanggup membayar pajak sekian besarnya itu!”

“Penduduk di sini kaya-kaya! Punya sawah, punya ladang, punya kerbau, sapi, kambing dan ayam serta itik!”

“Tapi sepuluh kali, mana mereka…”

Tapak Luwing memotong dengan cepat: “Apa aku musti paksa kau memungut lima belas kali lebih banyak, atau dua puluh kali?!”

“Aku tak akan lakukan perintahmu ini Tapak Luwing! Aku tak sanggup memeras rakyat!”

“Perduli amat! Kalau tak saggup memeras rakyat apa kau sanggup menyaksikan kematian anak laki-laki mu?”

Kalau Kepala Komplotan Tiga Hitam itu sudah mengancam demikian rupa, mau tak mau Ki Lurah Kundrawana terdiam bungkam.

Tapak Luwing menggoyangkan kepalanya pada anak buahnya yang berdiri dekat pintu. Melihat isyarat ini laki-laki itu segera masuk ke dalam kamar tidur Ki Lurah Kundrawana. Kundrawana berdiri dari kursinya. “Kau mau buat apa…!” bentaknya.

Tapak Luwing mendorong laki-laki itu hingga Kundrawana terduduk kembali ke kursi. Tak lama kemudian anak buah Tapak Luwing yang masuk kamar muncul di ruangan itu kembali dengan mendukung anak laki-laki Ki Lurah Kundrawana. Anak laki-laki ini baru berumur empat tahun. Dalam di dukung itu dia masih tertidur nyenyak, tak tahu apa yang terjadi atas dirinya. Kecemasan segera terbayang diparas Warih Sinten dan Kundrawana.

“Kalian mau bikin apa dengan anakku?!” tanya Kundrawana.

“Selama kau mengikuti perintahku, anakmu akan selamat tak kurang suatu apa.

Dia kubawa untuk sementara sebagai jaminan bahwa kau tidak akan mengadukan persoalan ini pada siapa pun! Kau dengar Ki Lurah Kundrawana!”

Laki-laki itu tak menjawab.

“Dengar?!” ulang Tapak Luwing membentak. Ki Lurah Kundrawana mau tak mau terpaksa mengangguk pelahan.

“Hasil-hasil pungutan pajak itu selambat-lambatnya harus kau serahkan kepadaku satu hari sesudah terkumpulnya. Antarkan ke satu pondok tua di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati. Aku sendiri yang akan menunggu kau di sana pada tengah hari tepat!”
“Aku tak akan mengantarkannya!” kata Ki Lurah Kundrawana. “Silahkan datang sendiri kesini!”

Tapak Luwing tertawa dingin. “Jangan lupa keselamatan anakmu, Ki Lurah,” katanya. Kemudian Kepala Komplotan Tiga Hitam dari. Kali Comel ini berikan isyarat dan bersama kedua anak buahnya segera meninggalkan rumah Ki Lurah Kundrawana.

~ 5 ~

SEMALAM-MALAMAN itu Warih Sinten tiada hentinya menangis. Matanya sudah merah dan bengkak. Ki Lurah. Kundrawana sendiri yang juga tak bisa tidur, melangkah mundar mandir tak berketentuan. Hatinya gelisah dan cemas, memikirkan diri anaknya yang telah dibawa oleh komplotan Tapak Luwing. Tapi hatinya juga gemas dan geram tiada terperikan!

Baginya keselamatan diri dan isterinya tidak begitu penting jika dia ingat nasib anak laki­lakinya itu, anak satu-satunya yang mereka miliki. Dan soal pajak itu, benar-benar membuat Ki Lurah Kundrawana seperti mau gila memikirkannya. Dia tak akan bisa mengadukan persoalan ini pada Adipati di Linggajati atau kepada Raja demi keselamatan anaknya.

Satu-satunya jalan hanyalah mengikuti aturan dan perintah gila Tapak Luwing. Tapi bagaimana nanti sikap rakyat terhadapnya? Bukan saja pajak itu sangat berat bagi mereka, tapi penduduk .pasti akan mencapnya sebagai tukang peras dan mungkin akan timbul kemarahan di kalangan penduduk!

Kalau dia musti memungut sepuluh kali jumlah pajak yang harus diserahkan pada Tapak Luwing, maka ditambah dengan yang harus diserahkan pada Adipati di Linggajati akan menjadi sebelas kali dari yang sudah-sudah! Kalau tidak ingat-ingat kepada Tuhan maulah Lurah Bojongnipah itu ambil kerisnya dan menusuk diri dengan senjata itu! Namun dia tahu ini bukanlah penyelesaian yang baik.

Keesokan paginya terpaksa juga dia melalui seorang pembantunya mengirimkan kabar berkeliling penduduk desa bahwa mulai bulan depan pemungutan pajak besarnya sebelas kali dari yang sudah-sudah. Ini adalah sesuai dengan garis kebijaksanaan Raja demi untuk, pembangunan dan memelihara balatentara yang kuat, demikian alasan yang dibuat-buat oleh Ki Lurah Kundrawana untuk menutupi apa yang sebenarnya.

Bila berita itu sudah sampai ke seluruh pelosok maka dalam sikap penduduk Bojongnipah mulai kelihatan pertentangan-pertentangan. Rata-rata mereka mengatakan bahwa ini adalah satu penindasan. satu pemerasan terang-terangan. Demi pembangunan dan demi balatentara yang kuat apakah rakyat harus dkekik lehernya dengan pajak yang besar tiada terkirakan lihat gandanya itu?!

Beberapa orang tua-tua desa menemui Ki Lurah Kundrawana tapi Ki Lurah tak bersedia berhadapan dengan mereka. Orang tua-tua desa tentu saja heran kali melihat sikap Lurah mereka yang dulunya itu begitu baik bijaksana dan ramah tapi kini, jangankan untuk bicara tentang persoalan kenaikan pajak itu, bahkan untuk bertemu sajapun dia tidak mau!

Disamping itu ketika mereka berada di rumah Ki Lurah, telinga mereka mendengar terus-terusan suara tangis Warih Sinten, isteri Lurah. Ada apa pula dengan diri perempuan itu? Betul-betul banyak hal yang tidak mengerti orang tua-tua desa saat itu! Dan ketika tiba saat pemungutan pajak yang pertama, banyak di antara.penduduk yang tak mau membayar. Dengan menekan pertentangan yang senantiasa melekat dihatinya Ki Lurah terpaksa mengancam orang-orang itu. Siapa-siapa penduduk yang tak mau membayar pajak dalam jumlah yang telah ditentukan, akan ditangkap dan dibawa ke Kotaraja! Akhirnya terpaksa juga penduduk membayar.

Dalam pemungutan pajak-yang kedua terjadi kekacauan namun masih sanggup diatasi oleh Ki Lurah Kundrawana. Menjelang pemungutan pajak yang ketiga Ki Lurah Kundrawana mendengar kabar bahwa penduduk akan mengadakan pemberontakan! Laki­laki ini tak bisa menyalahkan penduduk. Suatu malam dengan diam-diam pergilah Ki Lurah Kundrawana ke Linggajati untuk menemui Adipati Boga Seta.

Kepada Adipati ini dilaporkannya segala apa yang terjadi. Boga Seta kelihatan terkejut sekali. Ketika Ki Lurah Kundrawana minta diri, Boga Seta berjanji akan mengirimkan serombongan pasukan Kadipaten selekas mungkin. Namun menjelang semakin dekatnya hari pemungutan pajak yang ketiga itu tak satu prajurit Kadipatenpun yang muncul!

Ki Lurah Kundrawana kehabisan akal, betul-betul bingung. Sementara itu tanda­tancia bakal terjadinya pemberontakan semakin jelas dan santar. Dalam kebingungannya di waktu yang sempit itu Ki Lurah Kundrawana akhimya berhasil menemui Tapak Luwing di luar desa.

“Ada keperluan apa, kau menemui aku, Ki Lurah ?” bertanya Tapak Luwing sambil menggerogoti daging panggang yang barusan dipanggang oleh anak-anak buahnya. Saat itu Tiga Hitam dari kali Comel berada di pinggiran hutan.

“Ada kesulitan katamu ? Hem… Apa kau tahu bahwa besok adalah hari pemungutan uang pajak itu dan lusanya menyerahkan pada kami di persimpangan jalan yang menuju ke Linggajati?”

“Aku tahu Tapak Luwing. Justru kesulitan ini ada sangkut pautnya dengan pemerasanmu!” jawab Ki Lurah Kundrawana pula.

Tapak Luwing tertawa dan melemparkan tulang daging yang dimakannya ke dekat kaki kepala desa Bojongnipah itu.

“Tentang kesulitan ini, apakah kau sudah pergi kepada Adipati Boga Seta di Linggajati?,” Tanya Tapak Luwing seraya tertawa dan berdiri dari duduknya di batang kayu tumbang.

Ki Lurah Kundrawana terkejut dan berubah parasnya. Dalam hati dia bertanya-tanya apakah kepala perampok ini mengetahui kepergiannya ke Linggajati menemui Adipati Boga Seta itu?

Suara tertawa Tapak Luwing semakin keras. Tampangnya kelihatan tambah angker dan tiba-tiba, tak terduga oleh Ki Lurah Kundrawana, tamparan tangan kanan kepala rampok itu mendarat di pipinya.

“Tapak Luwing kau…”

“Plak!”

Untuk kedua kalinya tamparan Tapak Luwing menghajar muka Kundrawana. “Berbacot lagi,” bentaknya, “Kurobek mulutmu!”

“Tapi Tapak Luwing…”

“Aku sudah bilang agar jangan mengadukan persoalan ini kepada siapapun! Dan kau telah pergi kepada Adipati Boga Seta! Apa kau lupa hukuman yang bakal diterima anakmu?!”

Maka pucatlah muka Ki Lurah Kundrawana!

“Kau… kau apakan anakku, Tapak Luwing…?

“Sekarang kau ketakutan sendiri ya? Sialan! Adipati Boga Seta telah rnengirimkan lima orang prajuritnya ke Bojongnipah, tapi aku telah mencegatnya ditengah jalan dan kelimanya telah menemui ajal akibat kebodohanmu!”

“Anakku… anakku bagaimana…?” tanya Ki Lurah Kundrawana setengah menangis setengah merengek!

“Aku masih berbaik hati untuk kasih ampun kesalahanmu kali ini! Di lain hari, jangan harap aku bakal mau memaafkan kau…”

Legalah dada Ki Lurah Kundrawana. Tapi jika dia mau berpikir panjang sedikit dan tidak keliwat gelisah maka dia akan melihat adanya keganjilan dengan ucapan Tapak Luwing hari ini dengan tiga minggu yang lalu.

Dulu Tapak Luwing mengancam akan membunuh anaknya bila dia mengadu kepada Adipati atau Raja. Dan dia telah mengadukan hal itu kepada Adipati Boga Seta dan anehnya Tapak Luwing mau memberikan ampun kepadanya, padahal dengan demikian persoalan kejahatannya bukan saja telah sampai ke tangan Adipati tapi pasti akan diteruskan ke Kotaraja, apalagi sesudah pembunuhan atas lima prajurit Kadipaten itu!

“Sekarang terangkan mengenai kesulitan yang kau katakan itu, Ki Lurah!” kata Tapak Luwing pula.

“Penduduk desa akan melakukan pemberontakan besok kalau aku masih juga memungut pajak gila itu!” kata Ki Lurah Kundrawana pula.

“Begitu? Dulu kau bilang tidak takut mampus! Kini ada bahaya yang mengancam jiwamu kenapa terbirit mencari aku…?!”

Ki Lurah Kundrawana mengatupkan rahangnya rapat-rapat.

“Kembalilah ke Bojongnipah. Ki Lurah, Besok kami akan datang ke sana…” berkata Tapak Luwing.

“Kuharap jangan sampai terjadi kekerasan.”

“Soal itu urusan kami. Kau tak perlu ikut campur,” kata Tapak Luwing pula.

“Bisa aku ketemu anakku, Tapak Luwing ?” tanya Ki Lurah Kundrawana.

“Kali ini tidak dulu,” jawab kepala rampok itu. Kepala desa Bojongnipah itu termenung sejurus. Kemudian dengan langkah gontai dia berjalan ke kudanya dan naik ke atas punggung binatang itu.

Sebelum berlalu Ki Lurah Kundrawana bertanya, “Tapak Luwing, sampai kapan kebejatanmu ini kau timpakan padaku…?”

Tapak Luwing tertawa. “Tak usah banyak tanya ! Lebih baik pikirkan.nasibmu besok hari. Mungkin penduduk desa sudah mencincang tubuhmu sebelum kami datang…!”

***

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (5)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.