Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (3)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Tenggorokannya turun naik menahan keluarnya suara isakan. Beberapa tahun dia telah mendidik kedelapan muridnya itu, beberapa tahun mereka telah berjuang bersama-sama untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebathilan beberapa tahun mereka bersama-sama telah berjuang untuk menghancurkan kemaksiatan dan memusnahkan kebejatan serta kejahatan. Namun hari ini mereka semua menemui nasib semacam itu. Menemui kematian dengan cara yang mengenaskan di luar dugaan Wirasokananta.

Dalam masih pejamkm kedua matanya itu. Ketua Perguruan Teratai Putih ini coba berpikir dan menduga-duga siapakah kiranya manusia yang telah menjatuhkan malapetaka yang begini kejam terhadap anak-anak muridnya, tak bisa diduganya, tak bisa dipikirkannya karena seingatnya dia tak pernah mempunyai seorang musuhpun dalam dunia persilatan.

Wirasokananta membuka kedua matanya kembali. Pada saat inilah, di balik pandangan matanya yang masih digenangi air mata itu pandangannya membentur buku besar buah tulisannya sendiri yang dipantek dengan sebilah keris milik salah seorang muridnya! Serentetan kalimat—yang ditulis dengan darah—tertera dikulit buku itu.

Kepada Ketua 
“Perguruan Teratai Putih”

Kalau ingin menuntut balas kematian murid-muridmu, datanglah ke puncak Gunung Tangkuban perahu pada hari 13 bulan 12.

Pendekar Kapak Maut Naga Geni
______212______
WIRO SABLENG

Mata yang digenangi air mata dari Wirasokananta menyipit, membuat air mata yang tadi mengambang menjadi turun meleleh membasahi pipinya.

Ingatannya kembali pada masa puluhan tahun yang silam: Dulu, dunia persilatan memang pemah dibikin geger oleh seorang tokoh utama yang digjaya tiada tandingan. Tokoh yang telah merajai dunia persilatan selama bertahun-tahun ini adalah Eyang Sinto Gendeng, seorang pendekar perempuan yang bersenjatakan sebuah kapak sakti bernama Kapak Maut Naga Geni 212.

Namanya harum di kalangan tokoh-tokoh silat golongan putih karena Pendekar 212 adalah pembasmi kejahatan dan penolong kaum lemah. Sedang bagi golongan hitam, tokoh ini sudah barang tentu menjadi momok besar yang sangat ditakuti!

Pada masa kehidupan Pendekar 212 itu, di mana saat itu Wirasokananta masih belum mendirikan Perguruan Teratai Putih, karena sama-sama dari golongan putih yang sehaluan dalam perjuangan maka dengan sendirinya tiada permusuhan atau silang sengketa antara dia dengan Pendekar 212.

Tapi hari ini terjadi peristiwa berdarah itu, peristiwa maut yang diakhiri dengan meninggalkan pucuk surat tantangan, dan surat ini justru ditandatangani dengan nama “Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212”…! Tentu saja ini satu hal yang tidak dimengerti Wirasokananta. Kemudian apa pula arti dan hubungannya nama. “Wiro Sableng” itu?!

Ketua Perguruan Teratai Putih itu coba merenung.

Renungannya ini menyangkut pada masa puluhan tahun yang silam itu. Di masa dunia persilatan geger oleh kehebatannya Pendekar 212, tiba-tiba entah kemana perginya Pendekar 212 lenyap!

Tentang kelenyapannya ini banyak tokoh-tokoh persilatan memberikan tanggapan, Mungkin Pendekar 212 sendiri yang sengaja lenyap mengundurkan diri dari dunia persilatan, mungkin juga tokoh itu telah menemui kematiannya dengan cara yang tak bisa diduga, meski tanggapan yang kemudian ini agak diselimuti rasa keragu­raguan.

Tapi kini dengan adanya kejadian maut di Perguruan Teratai Putih itu, Wirasokananta merasa yakin bahwa sesuatu memang telah terjadi dengan diri Eyang Sinto Gendeng atas Pendekar 212.

Dia berkesimpulan bahwa Pendekar 212 dalam satu pertempuran hebat dan tak diketahui oleh dunia luar telah dikalahkan oleh seorang pendatang baru bernama Wiro Sableng. Kemungkinan sekali Pendekar 212 menemui ajalnya di tangan Wiro Sableng itu, merampas Kapak Maut Naga Geni 212 yang kemudi­annya malang melintang di dunia persilatan dengan memakai gelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212!

Dan kelanjutan renungan Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah siapa manusia Wiro Sableng ini sebenarnya. Nama itu satu nama baru baginya. Namun meski nama baru satu hal diyakini oleh Wirasokananta bahwa dengan itu manusia baik dia maupun Perguruan Teratai Putih, tak pernah mempunyai permusuhan dan menanam dendam kesumat!

Apa yang menjadi latar belakang pembunuhan besar-besaran atas murid-muridnya benar-benar sangat gelap bagi Wirasokananta. Dan bila matanya membentur lagi tulisan berdarah yang menyatakan tantangan itu, benar-benar Ketua Perguruan Teratai Putih ini merasa dibakar hatinya!

Bulan 12 masih sembilan bulan lagi! Apakah dia akan menunggu sampai sekian lama untuk kemudian baru bertemu muka dan membuat perhitungan dengan Wiro Sableng? Ataukah detik itu juga ia meninggalkan Perguruan dan mencari musuh durjana itu ?

Namun, Wirasokananta tahu, bahwa apa yang musti dilakukannya saat itu ialah menguburkan jenazah-jenazah ke delapan orang muridnya di halaman Perguruan.

~ 4 ~

ANTARA sungai Cidangkelok di sebelah timur dan sungai Cimanuk di sebelah barat, terbentanglah satu daerah yang sangat subur. Ladang-ladang menghijau oleh hasil yang menakjubkan. Sawah-sawah menguning laksana hamparan permadani emas. Lumbung-lumbung padi petani penuh, tak akan habis dimakan selama satu dua tahun. Penduduknya sendiri hidup dalam tingkat kehidupan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk daerah sekitar lainnya. Mereka sehat-sehat, ramah dan rajin bekerja.

Desa Bojongnipah adalah desa yang paling utama pada daerah yang membentang antara sungai Cidangke!ok dan sungai Cimanuk itu. Hasil ladang, hasil sawah dan hasil tebat­tebat pemeliharaan ikan penduduk tumpah ruah tiada terkirakan dan desa ini dikepalai oleh seorang Lurah yang bijaksana dan cakap bernama Ki Lurah Kundrawana. Begitu bijaksana dan pandainya Ki Lurah Kundrawana mengatur desa dan penduduknya sehingga banyak Lurah-lurah dari desa lain yang datang untuk meminta bantuan Kundrawana dalam hal yang ada hubungannya dengan kehidupan penduduk, dan pengaturan hidup agar bisa makmur serta tenteram.

Di satu malam yang mendung gelap dan berangin kencarig dingin, Ki Lurah Kundrawana masih kelihatan duduk-duduk di langkan rumahnya yang sederhana, bercakap­cakap dengan isterinya Warih Sinten. Di sela bibir Ki Lurah Kundrawana yang sudah berumur empat puluh lima tahun itu terselip sebuah pipa yang api tembakaunya hampir mati. “Dingin di luar ini, kakang…” kata Warih Sinten sambil, merapatkan kainnya yang agak me­nyingkapkan betisnya yang putih bagus.

“Ya. Tampaknya mau hujan. Kita masuk saja…” sahut Ki Lurah Kundrawana seraya berdiri.

Namun belum lagi kedua suami isteri itu melangkah ke pintu mendadak sekali tiga sosok bayangan hitam berkelebat. Tubuh mereka rata-rata tinggi kekar dan tampang-tampang mereka buruk serta angker!

Melihat ini, Ki Lurah Kundrawana yang tahu gelagat segera ulurkan tangan kanan ke pinggang di mana kerisnya tersisip. Namun dengan kecepatan yang luar biasa salah seorang dari manusia-manusia berpakaian hitam itu tahu-tahu sudah melintangkan sebatang golok di batang leher. Ki Lurah Kundrawana!

Warih Sinten yang hendak berteriak ditekap mulutnya oleh laki-laki yang laini Ki Lurah Kundrawana maklum bahwa ketiga orang itu tentulah dari satu komplotan rampok terkutuk. Tapi ini adalah untuk pertama kalinya desanya didatangi rampok-rampok macam begini pada hal sejak selama dalam pegangannya desa senantiasa aman tenteram.

Namun demikian Ki Lurah Kundrawana dengan mempertenang diri coba bicara.
“Kalian siapa, ada maksud apa datang ke sini…?!”

Orang yang melintang golok di leher Lurah Bojongnipah itu menyeringai menggidikan. Giginya yang tersungging kelihatan hitam, sehitam pakaian yang dikenakannya.

“Aha… bagus kau tanya begitu. Tapi sebelum aku berikan jawaban kau musti ingat satu hal. Jika kau banyak tingkah dan membantah segala apa yang kami perintahkan, jangan menyesal bila melihat anak laki-lakimu yang tidur di dalam sana ku pantek di tiang rumah!”

Terkejutlah Ki Lurah Kundrawana. Warih Sinten sendiri menggigil. Laki-laki berpakaian hitam menyeringai lagi.

“Sekarang tentang siapa kami. Kau pernah dengar nama Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel?”

Paras Ki Lurah Kundrawana memucat.

“Saat ini kau berhadapan dengan mereka, Kundrawana. Aku Tapak Luwing adalah pemimpin mereka!”

Ki Lurah Kundrawana tahu betul dan sering mendengar tentang Komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel itu. Mereka adalah tiga rampok jahat dan ganas yang malang melintang disepanjang Kali Comel bahkan sampai ke perbatasan. Kali Comel jauh sekali dari desa Bojongnipah, kenapa tiga manusia bejat ini bisa sampai ke sini, demikian pikir Kundrawana.

‘Tapak Luwing! Kalau kau mau merampok, lakukanlah! Bawa apa yang kalian bisa ambil dan berlalu dari sini dengan cepat!”

Kepala Komplotan Tiga Hitam itu tertawa. “Kami selama ini memang dikenal sebagai perampok. Tapi dengan Ki Lurah Kundrawana, hari ini kami datang bukan untuk melakukan perampokan!”

Tentu saja ucapan ini mengherankan Ki Lurah Kundrawana. “Jadi apa mau kalian?!” tanyanya.

“Kami datang untuk bikin perjanjian dengan kau!”

“Perjanjian apa…?”

“Mulai hari ini, kau musti tunduk kepada segala apa yang kami atur dan perintahkan, mengerti!”

Ki Lurah Kundrawana menelan ludahnya. “Aturan dan perintah macam mana maksudmu?” tanyanya.

Sementara itu diam-diam tangan kanannya kembali bergerak dan menyusup ke pinggangnya: Kepala desa Bojongnipah ini sudah bertekat bulat untuk melakukan perlawanan meski saat itu golok Tapak Luwing masih menempel di batang lehernya sedang isterinya sendiri masih disekap oleh salah seorang anak buah Tapak Luwing.

Ki Lurah Kundrawana berhasil memegang hulu kerisnya. Secepat kilat senjata itu ditusukkannya ke perut Tapak Luwing. Namun Kepala Komplotan Tiga Hitam ini tidaklah sebodoh dan selengah yang diperkirakan oleh Ki Lurah Kundrawana. Sekali tangan kanannya bergerak turun menyapu ke bawah maka terdengarlah suara beradunya senjata dan percikan bunga api. Disusul oleh jeritan tertahan dari Warih Sinten, yang mulutnya disekap.

Golok Tapak Luwing membuat mental keris di tangan Ki Lurah Kundrawana sedang ibu jari laki-laki ikut terbabat putus ujungnya sampai ke kuku. Ki Lurah Kundrawana merintih kesakitan. Darah mengucur dari ibu jarinya yang putus. Sementara itu golok Tapak Luwing telah menempel kembali pada batang lehernya !

“Agaknya kau minta batang lehermu cepat-cepat ditebas huh?” bentak Tapak Luwing.

“Tebaslah, aku tidak takut! Kalian manusia, manusia lak….”

Tamparan tangan kiri Kepala Komplotan Tiga Hitam itu menghajar pipi Kundrawana. Pandangannya berkunang, pipinya merah sekali dan sudut bibirnya pecah berdarah!

“Masih mau buka mulut?!” tanya Tapak Luwing.

Ki Lurah Kundrawana menggeram dalam hatinya. Tapi tak berkata apa-apa.

“Kau mau dengar dan turut perintahku atau pilih mati?!”

“Aku tidak takut mati! Isteriku juga tidak takut mati” jawab Ki Lurah pula.

Tapak Luwing menyeringai. “Kalian memang tak takut mati. Tapi apa kalian sanggup menyaksikan anakmu yang di dalam sana kubikin menggelinding kepalanya di lantai ini?!”

Ki Lurah Kundrawana terdiam.

Tapak Luwing kemudian mendorong, laki-laki itu ke dalam dan memerintahkan duduk di kursi. “Demi nyawamu dan nyawa keluargamu, ada bagusnya kita bicara baik­baik Ki Lurah! Dengar, mulai hari ini ke atas kau harus tunduk kepadaku. Aku tanya kapan pemungutan pajak penduduk kau lakukan setiap bulan…?”

Ki Lurah Kundrawana tak mengerti maksud pertanyaan ini tapi dia menjawab juga: “Hari Senin minggu pertama”

“Bila pajak-pajak itu sudah terkumpul, ke mana kau serahkan?” tanya Tapak Luwing lagi.

“Pada Adipati di Linggajati dan Adipati itu kemudian meneruskannya ke Kotaraja.”

“Hem… begitu… Itu satu aturan yang bagus. Tapi mulai penarikan pajak bulan yang akan datang jumlah pajak yang harus dipungut adalah sepuluh kali lebih besar dari yang sudah-sudah…!”

Ki Lurah Kundrawana terkejut.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (4)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.