Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (2)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Sampai di situ pembacaan Gagak Kumara maka di luar rumah besar terdengar suara tertawa bergelak yang disusul dengan ucapan: “Tepat… tepat… sekali! Lahir, hidup dan mati! Dibrojotkan ke duni malang melintang di dunia ini, dan akhirnya mampus! Ha… ha… ha…”

Tentu saja suara yang lantang mengumandang berisi tenaga dalam yang tinggi dan yang bernada menghina ini mengejutkan semua anak murid Perguruan Teratai Putih, termasuk Gagak Kumara sendiri! Semuanya sama memalingkan kepala ke pintu pada saat mana seorang laki-laki berpakaian lusuh, kotor, bermuka angker dan tangna kanannya buntung berdiri diambang pintu.

“Sasudara, kau siapa…?” Tanya Gagak Kumara sesudah meneliti sebentar diri tamu tak dikenal itu. Dia tetap duduk tenang di tempatnya dengan kitab masih terus di atas pangkuannya.

“Tak perlu tanya dulu!” menyahuti laki-laki diambang pintu seraya menyeringai buruk. “Bicaraku belum habis…!”

Beberapa orang diantara murid-murid Perguruan Teratai Putih kelihatan menjadi penasaran dan menggeser duduk mereka. Namun dengan membrei isyarat diam-diam Gagak Kumara memberi kisikan agar jangan bertindak dulu.

Dan orang yang diambang pintu meneruskan ucapannya. Terlebih dahulu dengan jari telunjuk tangan kirinya ditunjukkannya kitab yang ada dipangkuan Gagak Kumara. “Apa yang tertulis di sana, apa yang kau baca tadi betul sekali! Lahir, hidup, mati! Tapi apa kalian di sini tahu bahwa segala apa yang tertulis dan apa yang dibaca tadi itu hari ini akan kalian alami sendiri…?”

“Apa maksudmu saudara?” tanya Gagak Kumara. Masih tetap dengan tenang dan tidak beringasan.

Si tangan buntung tertawa mengekeh. “Percuma saja kalau kalian memiliki kitab itu, percuma saja kalian memilikinya kalau kalian tidak tahu apa mkasud kata-kataku! Kalian sudah dilahirkan, kalian sudah pernah hidup malang melintang di dunia ini, tapi kalian masih belum pernah merasakan kematian, belum pernah mencoba mampus! Nah… hari ini, untuk membuktikan kebenaran isi kitab butut itu, aku –Kalingundil – akan bersedia menolong kalian untuk mengetahui bagaimana rasanya mampus itu! Ha… ha… ha…!”

Maka kini berdirilah Gagak Kumara dari duduknya. Kitab yang dipangkuannya dilipat dan diserahkan pada salah seorang saudara seperguruannya.

“Saudara,” kata Gagak Kumara pula. “Di dunia ini memang banyak orang-orang yang berotak miring. Aku khawatir kau adalah salah seorang dari mereka dan kesasar datang ke sini!”

Kekehan Kalingundil terhenti. Mukanya membesi. Rahang-rahangnya bergemeletuk. Tangan kirinya bergerak ke pinggang dan sekejapan mata kemudian tangan itu telah memegang sebilah pedang buntung yang memancarkan sinar biru. Pedang Siluman Biru!

Sekali lihat saja, meski senjata itu buntung, namun murid-murid Perguruan Teratai Putih sama memaklumi bahwa pedang yang ditangan manusia tak dikenal dan mengaku bernama Kalingundil itu adalah sejenis senjata sakti, sekalipun puntung tapi tetap berbahaya!

Tiba-tiba Kalingundil berteriak nyaring. Tubuhnya melompat ke muka, pedang buntung bergerak, sinar biru membabat ke samping dan kini tidak sungkan-sungkan lagi melepaskan pukulan tangan kosong yang mengandung tenaga dalam yang tinggi. Namun betapa terkejutnya Gagak Kumara ketika sambaran pedang buntung di tangan lawannya membuat angin pukulan tenaga dalamnya terpental ke samping!

“Saudara-saudara!” seru salah seorang anak murid Perguruan Teratai Putih. “Manusia kesasar macam begini tak perlu dihadapi satu demi satu. Mari kita tumpas beramai-ramai!”

“Semuanya tetap ditempat!” teriak Gagak Kumara. “Walau bagaimanapun kita harus jaga naman Perguruan dan jangan mencemarkan nama guru! Pegang teguh sifat ksatria dunia per…”

Kata-kata Gagak Kumara tak dapat diteruskan karena saat itu Kalingundil kembali datang menyerang dalam satu jurus yang aneh. Bagaimanapun Gagak Kumara yang sudah berilmu tinggi ini mengelak namun tetap saja ujung yang buntung dari pedang biru di tangan lawan berhasil membabat pakaiannya dan menggores kulit dadanya! Pada detik goresan itu maka Gagak Kumara merasakan badannya menjadi panas.

Kalingundil terkekeh.

“Pedang buntung ini Pedang Siluman Biru… mengandung racun yang jahat. Dalam tiga jam nyawamu akan melayang! Ha… ha… ha…!”

Terkejutlah Gagak Kumara. Demikian juga saudara-saudara seperguruannya yang lain. Gagak Kumara cabut sebilah keris dari pingganngnya. Saudara-saudara seperguruannya yang lainpun segera cabut keris pula dan kali ini Gagak Kumara tidak berkata apa-apa lagi. Maka delapan anak murid Perguruan Teratai Putih dengan sebilah keris di tangan masing­masing mengurung Kalingundil yang bersenjatakan sebilah pedang buntung sakti itu!

Kalingundil hanya tertawa buruk melihat hal ini.

“Sebaiknya kalian bunuh diri saja dari pada mampus di ujung patahan Pedang Siluman-ku ini!”

“Pedang Siluman…” desis anak-anak murid Perguruan Teratai Putih dalam hati. Mereka pernah mendengar tentang kehebatan pedang ini dari guru mereka. Tapi dikabarkan sejak beberapa tahun yang silam pedang itu lenyap dan kini muncul dalam keadaan buntung, tapi benar-benar tidak mempengaruhi kehebatannya! Namun apapun senjata yang di tangan lawan saat itu anak-anak murid Wirasokananta tidak mempunyai rasa gentar atau kecut sedikitpun!

Kedelapannya menyerbu ke muka. Delapan keris berkiblat kearah delapan bagian dari tubuh Kalingundil! Yang diserang menyeringai lalu membentak keras. Tubuhnya berkelebat, sinar biru dari pedangnya menderu seputar badan! Tiga jeritan terdengar hampir bersamaan dan tiga saudara seperguruan Gagak Kumara roboh mandi darah, nyawanya putus di situ juga!

Gagak Kumara kertakkan geraham. Darahnya mendidih oleh amarah. Namun goresan luka telah membuat tubuhnya menjadi kehilangan tenaga. Dikerahkannya seluruh tenaga dalam yang ada di tubuhnya. Dan mengamuklah gagak Kumara dengan segala kehebatannya. Namun permainan pedang lawan benar-benar hebat, sulit dan sukar diduga jurus-jurusnya. Satu jurus dimuka, dua orang saudara seperguruannya lagi roboh tanpa nyawa. Melihat ini Gagak Kumara segera berseru pada dua orang saudara seperguruannya yang perempuan.

“Wurnimulan, Nyiratih… kalian segeralah tinggalkan tempat ini! Cepat lari selamatkan diri…!”

Tapi kedua gadis itu meski betina adalah betina yang berhati jantan! Wurnimulan menyahuti: “Hidup mati kita bersama kakak Gagak Kumara!.” Gadis itu berkelebat cepat dan kirimkan satu tusukan cepat ke leher lawan.

Kalingundil tertawa. Dielakkannya tusukan keris itu dengan miringkan badan dan di saat itu pula kaki kirinya bergerak.

“Bluk!”

Saudara seperguruan Gagak Kumara laki-laki yang terakhir terpelanting ke dinding. Tulang dadanya melesak ke dalam dihantam tendangan Kalingundil. Jantung dan paru­parunya pecah! Nyawanya lepas!

Gagak Kumara sendiri saat itu sudah kehabisan tenaga. Luka di dadanya dan racun pedang siluman sangat mempengaruhi keadaan tubuhnya ke segenap pembuluh darah! Dia tahu sebentar lagi dia pasti akan menyusul saudara-saudara seperguruannya yang lain. Karena itu sekali lagi dia berseru memberi ingat: “Wurnimulan! Nyiratih! Larilah sebelum terlambat!”

“Gadis-gadis caritik ini tak akan bisa pergi jauh! Nasib kematian kalian sudah ada di ujung Pedang Siluman-ku! Tapi sebelum mati keduanya akan kuhadiahkan dunia terlebih dahulu!”

Kalingundil tertawa mengekeh! Gagak Kumara yang tahu maksud dan arti kata-kata lawannya itu untuk kesekian kalinya berteriak memberi ingat namun kedua gadis itu tak mau ambil perduli malahan menyerang dengan hebat! Kalingundil mengelak gesit beberapa kali.

Kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, dengan mempergunakan hulu belakang senjata di tangan kirinya laki-laki itu menotok Wurnimulan dan Nyiratih! Keduanya kini kaku tak bergerak. Tahu malapetaka apa yang bakal menimpa kedua saudara seperguruannya itu, dengan sisa tenaga yang ada, dengan segala kehebatan yang masih dimilikinya Gagak Kumara menyerbu Kalingundil dari samping.

Yang diserang sambil putar badan berkata: “Ajalmu sudah di depan mata, maut sudah di depan hidung! Baiknya bunuh diri saja…!”

“Terima kerisku lebih dulu, manusia durjana! Kami tidak ada permusuhan dengan kau. Kenapa kekejamanmu lewat takaran macam begini…?!”

“Akh… sudahlah! Biar mulutmu kututup saja saat ini!” kata Kalingundil pula.

Pedang Siluman Biru membabat ke perut Gagak Kumara, dialakkan dengan melompat oleh murid Wirasokananta itu namun begitu melompat, senjata lawan kembali memburu lebih cepat, kini menderu ke muka Gagak Kumara, tak sanggup lagi dikelit oleh laki-laki ini!

~ 3 ~

USAHA terakhir yang dilakukan Gagak Kumara untuk menyelamatkan dirinya ialah melintangkan keris dimukanya. Pedang Siluman Biru buntung terus membabat, senjata masing-masing beradu keras, bunga api memercik dan keris Gagak Kumara patah dua sedang senjata lawan terus membabat mukanya!

Murid tertua dari Perguruan Teratai Putih itu terhuyung ke belakang. Mukanya banjir oleh darah dan mengerikan sekali. Perlahan-lahan lututnya tertekuk dan pinggangnya meliuk. Gagak Kumara terduduk di lantai, sebelum tergelimpang dan menghembuskan nafas penghabisan, buntungan keris yang masih tergenggam di tangannya dengan segala tenaga yang ada dilemparkannya ke arah Kalingundil. Tapi serangan yang hampir tiada artinya ini dengan mudah dielakkan oleh Kalingundil.

Kalingundil tertawa mengekeh. Noda darah yang membasahai Pedang Siluman Biru yang buntung itu disekakannya kembali ke balik pinggang. Kemudian laki-laki ini memutar tubuh. Sepasang matanya kini berkilat-kilat memandangi tubuh dan paras Wurnimulan serta Nyiratih yang saat itu berdiri kaku tak berdaya karena ditotok tadi.

“He… he… he… kalian berdua tak perlu mati buru-buru…” kata Kalingundil. Ujung lidahnya dijulurkannya untuk membasahi bibirnya. Dia melangkah mendekati Wurnimulan. Tangan kirinya bergerak dan “bret!” Robeklah baju perguruan yang dipakai oleh gadis itu. Dadanya terbuka lebar, putih dan mulus padat. Kalingundil menjadi terbakar tubuhnya oleh nafsu yang menggelegak. Tangan kirinya bergerak lagi… bergerak lagi… bergerak lagi…

***

SEMENTARA itu di puncak Gunung Galunggung…

Dalam tapanya yang sudah berjalan sembilan belas hari itu tiba-tiba saja Wirasokananta tak dapat meneruskan memusatkan segenap jalan pikirannya. Satu demi satu panca inderanya mulai terganggu. Walau bagaimanapun usahanya untuk memusatkan pikiran dan tenaga bathin serta menutup segenap pancainderanya namun sia-sia saja. Semuanya membuyar kembali. Semakin dipaksanya semakin sulit. Mau tak mau akhirnya tokoh silat yang sudah setengah abad ini umurnya terpaksa buka kedua matanya yang sejak sembilan belas hari telah dipejamkannya.

Kedua matanya itu memandang jauh ke muka, memandang ke luar pintu goa dimana dia bertapa. Segala apa yang dilihatnya saat itu, rimba belantara, bukit sunga, matahari, langit dan awan… semuanya masih seperti sebelumnya dia datang ke situ, tak ada perubahan.

Namun hatinya tidak enak, nalurinya membawanya ke satu hrasat yang mendebarkan dada dan menggelisahkan dirinya. Dan meski ujud kenyataan dari benda-benda dihadapannya yang dapat dilihatnmya dari puncak Gunung Galunggung itu tiada perubahan, namun orang tua yang sudah banyak pengalaman dan mengecap ragam kehidupan itu tahu, bahwa dibalik semua itu pasti telah terjadi apa-apa di dunia luar sana.

Diusapnya wajahnya dengan kedua tangannya. Dia merenung, sejurus kemudian perlahan-lahan turun dari batu hitam di mana dia sebelumnya duduk bertapa. Batu hitam yang diduduki orang tua ini kelihatan berbekas leguk. Ini cukup memberi pertanda bagaimana kehebatan tenaga dalan dan luar Wirasokananta.

Diusapnya lagi mukanya. “Mungkin ada apa-apa terjadi di Perguruan…” kata Wirasokananta dalam hatinya. Dengan mempergunakan ilmu lari “seribu angin” maka sekali berkelebat lenyaplah sosok tubuh orang tua itu dari mulut goa dan kemudian kelihatanlah dia berlari menuruni puncak Gunung Galunggung cepat sekali laksana angin!

Karena sangat terkejutnya, di ambang pintu rumah besar itu sampai-sampai Wirasokananta berdiri mematung untuk beberapa lamanya! Kemudian tubuh yang mematung ini sekujurnya jadi bergetar.

“Demi Tuhan… siapakah yang punya pekerjaan ini?” desisnya.”Dosa besa apakah yang telah kami perbuat sampai menerima malapetaka begini rupa…?”

Murid-muridnya bergeletakan di mana-mana. Semuanya tanpa nyawa dan bergelimang darah. Namun apa yang sangat menusuk mata Ketua Perguruan Teratai Putih itu ialah akan keadaan diri dua orang murid perempuannya, Wurnimulan dan Nyiratih. Keduanya menggeletak di lantai rumah besar tanpa tertutup selembar benangpun. Keris milik masing­masing menancap ditenggorokan dan darah mengelimangi hampir sekujur tubuh kedua gadis itu, dari leher sampai ke dada terus ke selangkangan…

Wirasokananta pejamkan kedua matanya, tak tahan memandangi lebih lama apa yang membentang dihadapannya itu. Bagaimana juga.dikuatkannya hatinya, namun air mata meleleh juga dari. sela-sela kelopak mata yang dipejamkannya itu.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (3)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.