Jumat, 26 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (17)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Satu tubuh angsrok terpelanting di tanah mandi darah, kepala terbelah dua! Korban Maut Naga Geni 212 yang pertama itu ialah Tapak Luwing!

“Kurung biar rapat!” teriak Tapak Gajah. Dia melompat tinggi. Kedua kakinya menendang susul menyusul. Dua senjata lainnya menderu pula ke arah Wiro Sableng.

“Ketua Perguruan Teratai Putih!” berseru pendekar 212. “Antara kau dan aku tak ada permusuhan. Sebaiknya undurkan diri saja!”

“Jangan bicara melangit pemuda sedeng! Delapan arwah muridku minta roh busukmu!” Wirasokananta percepat tusukan kerisnya. Maka keris emas, Pedang Siluman Biru dan Kapak Naga Geni 212 beradu dengan mengeluarkan suara nyaring.

Wirasokananta berseru kaget. Tangannya tergetar hebat dan pedas panas. Keris saktinya terlepas mental. Cepat-cepat Ketua Perguruan Teratai Putih ini melompat mundur. Kalingundil sendiri tak kalah kagetnya. Bagian yang tajam dari pedang buntungnya gompal sedang tangannya menjadi seperti kaku. Kalau tidak sinar cermin Sitaraga menyambar ke arah lawan pastilah Kapak Maut Naga Geni 212 membabat perutnya. Kalingundil keluarkan keringat dingin!

Suara siulan Pendekar 212 kini sekali-sekali diselingi oleh suara tawa mengekeh! Tubuhnya hampir tak kelihatan lagi. Kapak Naga Geni mengaung mencari maut. Keempat lawan menjadi sibuk. Merasa mulai terdesak, Tapak Gadjah segera keruk saku pakaiannya.

Tanpa memberi peringatan lagi tokoh silat ini segera lepaskan seratus senjata rahasia yang berupa jarum-jarum hitam ke arah Wiro Sableng. Tapi angin putaran Kapak Naga Geni yang ampuh sekaligus meluruhkan jarum-jarum beracun itu. Malahan Tapak Gajah dan kawan­kawan menjadi sibuk karena harus mengelakkan jarum-jarum hitam yang terdorong berbalik menyerang mereka sendiri!

“He... he... he...” Pendekar 212 tertawa mengekeh. “Wirasokananta, untuk penghabisan kali aku kasih peringatan padamu. Mundur atau mampus dengan percuma!”

Ketua Perguruan Teratai Putih menjadi bimbang. Dia membatin “Adakah seorang musuh yang sehebat ini sampai memberi dua kali peringatan kepadaku?”

“Wirasokananta jangan bodoh!” teriak Kalingundil. “Manusia yang telah membunuh delapan muridmu, apa hendak kau lepaskan begitu sa… akh…”

Kata-kata Kalingundil tak sampai pada ujungnya. Salah satu dari mata kapak di tangan Wiro Sableng membabat putus lengan kirinya. Tangan dan pedang buntung mental masuk kawah. Darah muncrat. Laki-laki ini terhuyung ke belakang kesakitan. Akhirnya ketika dia kehabisan darah nafasnya megap-megap dan dia jatuh menelentang di tanah tapi belum mati!

Tapak Gajah dan Begawan Sitaraga tertegun seketika. Namun sesaat kemudian serentak pula keduanya menyerang sebat. Serangan ini disambut dengan siutan dan tawa mengejek oleh Wiro Sabteng. “Kalian berdua adalah tokoh-tokoh silat dari golongan hitam! Manusia-manusia macam kalian pantas menjadi umpan cacing di liang neraka!”

Pendekar 212 putar kapaknya.

“Buyar!”

Cermin di tangan Sitaraga pecah berhamburan. Begawan itu keluarkan seruan tertahan dan memandang senjatanya yang hancur dengan rasa tak percaya.

“Begawan awas!” teriak Tapak Gajah. Tapi terlambat!

Kapak Maut Naga Geni 212 datangnya tiada sanggup lagi untuk dielakkan.

“Crras”!

Putuslah leher Begawan Sitaraga. Darah seperti air mancur muncrat ke udara. Kepala yang buntung mengelinding seperti bola terus masuk ke dalam kawah Gunung Tangkuban Perahu!

Melihat kematian sobatnya ini, si kate kepala sulah Tapak Gajah menciut nyalinya! Tanpa buang waktu dia segera putar tubuh.

“Eit orang kate, mau minggat ke mana?!” Wiro Sableng berseru. “Ayo berhenti!”

Tapi mana Tapak Gajah mau berhenti. Malahan ini manusia tancap gas dan lari lintang pukang. Wiro menyeringai. Tangan kanannya bergerak menekan bagian dekat hulu kapak yang berbentuk kepala naga-nagaan. Maka mengaunglah 212 batang jarum putih beracun ke arah Tapak Gajah. Tapak Gajah coba melompat ke samping namun dia kurang cepat. Hampir keseluruhan jarum-jarum putih itu menembus daging tubuhnya. Tapak Gajah meraung setinggi langit! Begitu racun jarum merembas jantungnya maka tubuhnya kelojotan seketika lalu menggeletak di tanah tanpa bergerak lagi!

Wirasokananta leletkan lidah melihat kehebatan pendekar; tapi diam-diam bulu tengkuknya merinding karena ngeri! Sedang ketika dia berpaling pada pendekar itu, dilihatnya Wiro Sableng berdiri sambil garuk-garuk rambutnya yang gondrong! Wiro tarik nafas dalam lalu putar tubuh dan memandang pada Wirasokananta.

“Ketua Perguruan Teratai Putih,” katanya. “Kenyataan yang kita tidak saksikan dengan mata kepala sendiri adalah terlalu sukar untuk dipercaya. Demikian juga dengan peristiwa di perguruanmu. Sama sekali tak ada sangkut pautnya denganku! Aku yakin manusia inilah yang jadi biang racun!”

Wiro mendekati Kalingundil yang tengah megap-megap. Dari dalam sakunya dikeluarkannya sebuah pil. Dia senyum-senyum dan menimang-nimang obat itu. “Kau masih inginkan hidup Kalingundil?” tanyanya.

Kalingundil diam saja.

“Obat ini bisa menyembuhkan lukamu dan memunahkan racun Kapak Naga Geni yang mengalir di darahmu. Aku akan berikan kepadamu jika kau menerangkan dan mengaku bahwa kaulah yang telah membunuh delapan anak murid Perguruan Teratai Putih…”

Kalingundil masih diam.

“Kau tak mau hidup…?”

Kalingundil memandang dengan matanya yang berbinar-binar pada pil di tangan Wiro. Dalam diri setiap manusia yang tengah meregang nyawa akan selalu datang harapan untuk dapat terus hidup. Demikian juga dengan Kalingundil.

“Masukkan dulu pil itu ke dalam mulutku,” katanya.

Wiro memasukkan obat itu ke dalam mulut Kalingundil dan Kalingundil cepat-cepat menelannya. “Sekarang terangkan cepat!”

Kalingundil buka mulut mengakui apa-apa yang telah diperbuatnya terhadap Perguruan Teratai Putih. Akan Wirasokananta begitu mendengar penuturan tersebut, tak dapat lagi menahan luapan amarahnya. Tanpa banyak cerita dengan kaki kanan ditendangnya Kalingundil.

Demikian kerasnya sehingga tak ampun lagi tubuh Kalingundil mencelat beberapa tombak ke udara dan malang baginya tubuhnya terlempar tepat ke kawah. Masih terdengar jeritan laki-laki itu menggaung ketika tubuhnya melayang ke bawah sebelum amblas di dalam kawah belerang!

Sekali lagi pendekar 212 hela nafas dalam dan berpaling pada Wirasokananta. Satu senyum terlukis di bibir pendekar muda itu. Ketua Teratai Putih belas tersenyum.
“Orang muda, apakah kau betul-betul muridnya Sinto Gendeng?”

“Ah… murid siapapun aku butan menjadi soal, Ketua Perguruan Teratai Purih” menyahuti Pendekar 212. “Orang-orang mencap aku pemuda edan, sinting, gila, geblek… Kurasa memang suatu ketika kegilaan itu ada perlunya. Hanya manusia-rnanusia gila semacam kita inilah yang sanggup membunuh manusia-manusia bejat dan menghancurkan kebejatan. Coba saja kau pikir mana ada manusia waras mau membunuh sesama manusia…?”

Wirasokananta tertawa. “Ucapanmu benar juga, pendekar,” katanya.

Wiro mendongak ke langit. “Ah, matahari sudah tinggi. Banyak urusan baru yang menunggu kita. Ketua Perguruan Teratai Putih, pertemuan kita hanya sampai di sini. Aku senang bisa berkenalan dengan kau. Semoga kita bisa jumpa lagi…”

“Pendekar 212, tunggu dulu…!” seru Wirasokananta. Tapi percuma saja. Sang pendekar saat itu sudah berkelebat dan lenyap! Wirasokananta goleng-goleng kepala. “Pemuda hebat sikapnya seperti betul-betul gila tapi hatinya polos, ilmunya… ah, aku yang sudah tua ini mungkin tak pernah bisa mencapai ilmu setinggi yang dimilikinya. Belum lagi sempat mengucapkan terima kasih, dia sudah lenyap…”

Wirasokananta memandang ke dasar kawah lalu mengikuti jejak Wiro Sableng meninggalkan tempat itu.

TAMAT

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.