Jumat, 26 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (16)

 Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Kalingundil cepat membentak. “Agaknya kau memilih kematian di atas pohon itu. Wiro Sableng?! Memang pohon itu cukup tinggi untuk mempercepat roh busukmu terbang ke neraka!”

Wiro tertawa lagi seperti tadi.

“Biar aku paksakan dia turun!” buka mulut Tapak Luwing. Tangan kanannya bergerak. Maka tiga pisau terbang beracun melesat ke puncak pohon cemara di mana pendekar 212 berada!

***

TAPAK Luwing! Kalau merasa sudah berilmu tinggi, biar kukembalikan pisaumu!” teriak Wiro dari atas pohon.

Sesaat sesudah dia berkata begitu maka menderulah angin deras. Tiga pisau terbang kembali ke bawah menyerang pemiliknya sendiri!

Dua buah masih sanggup dielakkan oleh Tapak Luwing tapi yang ketiga sangat cepat sekali meleset ke arah batok kepalanya.

“Awas!” seru Begawan Sitaraga. Sekali dia lambaikan tangan maka mentallah pisau itu dan Tapak Luwing yang diam-diam keluarkan. keringat dingin terlepaslah dari bahaya kematian!

Wiro Sableng kini tertawa membahak. “Kau terlalu bodoh untuk ikut-ikutan datang ke mari Tapak Luwing ! Seharusnya saat ini kau cuci kaki dan pergi tidur!”

Saat itu Wirasokananta tak dapat lagi menahan kesabarannya. Dengan tangan kanan dipukulnya batang pohon cemara.

“Kraaak!”

Pohon itu tumbang.

Wiro melompat ke samping dan melayang ke bawah dengan gerakan enteng. Sambil melayang itu dia berkata: “Musuh penantang cuma satu, mengapa sekarang bisa jadi lima? Apakah kau bisa beranak, Kalingundil?”

Lalu pada tiga tokoh silat utama itu Wiro berseru: “Kalian sudah tua bangka masih saja mau derigan urusan dunia dan nafsu membunuh! Apa tidak malu kena dihasut oleh kunyuk tangan buntung itu?”

“Jangan banyak bacot manusia gelo! Ajalmu hanya tinggal sekejapan mata saja!” bentak Tapak Gadjah. Dia maju ke muka dan kirimkan tendangan kaki kanan di saat Pendekar 212 masih juga belum menjejakkan kaki di tanah!

Angin tendangan kerasnya bukan main. Debu beterbangan. Untuk menjajaki sampai kemana kehebatan tenaga dalam lawan Wiro sengaja tidak mengelak tapi memapasi serangan tersebut dengan lancarkan pukulan “kunyuk melernpar buah” Ketika dua angin pukulan itu beradu terkejutlah Tapak Gadjah! Kedua kakinya melesak sampai tiga senti ke tanah sedang angin tendangannya yang sanggup menghancurkan batu itu buyar! Ternyata tenaga dalam Pendekar 212 tidak berada di bawahnya!

Dengan membuat dua kali jungkir balik di udara, pada jungkiran yang ketiga Wiro sudah berdiri di atas kedua kakinya. Lima manusia dihadapannya segera mengurung.
“Kalian kunyuk-kunyuk tua bangka apa tidak malu main keroyok begini rupa?!” Pendekar 212 masih sanggup bertanya sambil sunggingkan senyum mengejek.

“Seekor anjing kurap macam kau sudah terlalu pantas untuk dijagal bersama-sama!” menyahuti Wirasokananta.

“Ah, kau orang tua… Rupanya masih belum tahu kalau dikelabui orang lain! Demi kebenaran aku sama sekali tak pernah mendatangi Perguruanmu. Apa yang terjadi di Perguruanmu aku tidak tahu menahu. Itu semua adalah fitnah. Seseorang lain yang bertanggung jawab. Kurasa manusianya adalah si tangan buntung ini!” Wiro menuding ke arah Kalingundil.

“Ha… ha! Bukan saatnya untuk cuci tangan pendekar gila!” seru kalingundil seraya main-mainkan pedang buntung di tangan kirinya. “Tak perlu kambing hitamkan orang lain! Tak perlu lempar batu sembunyi tangan…!”

“Aku memsng tak mengambinghitamkan kau orang buntung. Tapi eoba berkaca di cermin Begawan Sitaraga, kau akan melihat bagaimana tampangmu memang persis seperti kambing!”

Merah padam muka Kalingundil.

Wiro tertawa mengekeh.

Begawan Sitaraga yang merasa dihina segera maju ke muka. “Sobat-sobat, tak perlu bicara panjang lebar dengan orang sedeng ini! Mari kita kermus dia!” Habis berkata begitu Sitaraga gerakkan tangannya. Sinar putih yang panas dan menyilaukan menyambar ke arah muka Wiro Sableng. Begitu matanya tersambar sinar tersebut gelaplah pemandangan pendekar 212.

“Celaka!” kata Wiro dalam hati. Tenaga dalamnya dialirkan ke kepala dan dia melompat cepat ke salah satu pohon cemara untuk berlindung dari serangan lawan.

Tapak Gajah juga tidak berdiam diri. Tendangannya menggebubu. Pohon cemara patah dah disaat itu Wiro sudah berpindah ke tempat lain. Dengan mata masih terpejam dia putar kedua tangannya di udara. Maka menderulah angin pukulan “benteng topan melanda samudera.”

Meski pukulan ini hanya mempergunakan sebagian tenaga dalam karena yang sebagian masih tetap dialirkan ke muka tapi kehebatannya cukup membuat lima penyerang hindarkan diri ke samping. Ketika matanya dibuka kembali maka pemandangannya sudah terang seperti semula.

Begawan Sitaraga terkejut ketika melihat kedua mata lawannya tidak menjadi buta oleh kilapan sinar cerminnya. Di lain pihak Wiro menganggap bahwa senjata yang paling berbahaya di antara penyerang-penyerangnya ialah cermin di tangan Sitaraga itu. Maka dia memutuskan untuk menghancurkan senjata itu terlebih dahulu.

Namun dikurung lima begitu rupa tidak mudah bagi Wiro Sableng untuk melaksanakan niatnya. Serangan lima tawan bertubi-tubi. Setiap dia coba untuk menghancurkan senjata di tangan Sitaraga maka pedang Kalingundil atau golok Tapak Luwing atau keris emas ataupun tendangan Tapak Gajah datang pula menyerangnya, kadangkala berbarengan sekaligus!

Dengan bergerak gesit, dengan lancarkan serangan­serangan balasan, dengan hanya bertangan kosong itu, pendekar 212 cuma sanggup bertahan sampai duabelas jurus. Jurus-jurus selanjutnya dia didesak hebat Golok besar empat peregi berkali-kali membabat ke arah dada dan perutnya.

Sinar biru Pedang Siluman di tangan Kalingundil tiada henti berkiblat ke sekujur tubuhnya sedang keris emas Wirosokananta laksana hujan mengirimkan tusukan-tusukan mematikan. Dan di antara itu tendangan­tendangan Tapak Gajah tiada terkirakan ditambah yang paling berbahaya cermin di tangan Sitaraga berkata-kali menyambar kemukanya, masih untung sanggup dialakkannya!

Jurus kelima belas murid Eyang Sinto Gendeng itu terdesak ke tepi kawah. Sinar cermin menyambar kemukanya. Di saat itu pula tendangan Tapak Gajah menyeruak ke arah selangkangan. Dari atas menderu Pedang Siluman Biru, keris emas menikam ke dada dan golok besar Tapak Luwing menggebubu ke perut!

“Tamatlah riwayatmu pemuda gila!” teriak Kalingundil.

“Jangan lupa sampaikan salamku pada setan-setan neraka!” menimpali Wirasokananta.

“Bret”!

Ujung Pedang Siluman Biru menyambar lewat dada, merobek pakaian pendekar 212!

“Sialan!” maki Wiro Sableng.

“Memakilah sekenyangmu setan alas! Setan-setan neraka memang paling suka pada manusia-manusia tukang maki macammu!” teriak Kalingundil.

Wiro Sableng kertakkan geraham. Kedua pipinya menggembung. Sedetik kemudian meledaklah bentakan yang keras, demikian kerasnya sehingga menggema sampai ke dasar kawah Gunung Tangkuban Perahu! Tubuh pendekar 212 lenyap! Serentak dengan itu terdengarlah suara siulan yang melengking-lengking. Dan di antara lengkingan siulan itu menderu suara laksana ratusan tawon, mendengung menyamaki liang telinga! Sinar putih bergulung-gulung! Lima penyerang tersurut mundur.

“Kapak Naga Geni!” seru Begawan Sitaraga ketiga melihat senjata di tangan Wiro Sableng. Belum lagi habis gaung seruannya itu sudah menyusul suara jeritan setinggi langit.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (17)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.