Jumat, 26 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (15)

 Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Suara siulan itu datang dari pohon cemara yang paling tinggi tanda bahwa manusianyapun berada di sana. Dan manusia ini tiada lain dari pada Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212! Mengapa dia sampai berada di puncak gunung itu adalah sehubungan dengan tantangan musuh lamanya Kalingundil. Namun pendekar muda itu sampai saat itu tak pernah menyangka bahwa yang bakal ditemuinya di puncak gunung itu kelak bukan hanya Kalingundil seorang tapi juga beberapa tokoh dunia persilatan yang terkenal serta sakti!

Wiro terus juga bersiul-siul sambil sekali-sekali layangkan pandangannya ke seantero puncak gunung. Sepi dan suasana tenang-tenang saja. Dilayangkannya pandangan ke kaki dan lereng gunung. Juga segala sesuatunya masih diselimuti kesunyian dan ketenangan. Dua kali sepeminuman teh lewat. Telinga pendekar 212 yang tajam dan terlatih baik itu sayup-sayup mendengar suara sesuatu.

Segera pemuda ini hentikan siulannya. Kepalanya diputar ke arah timur puncak gunung dari mana datangnya suara itu. Masih belum kelihatan apa-apa tapi suara yang didengarnya tambah nyaring. Beberapa ketika kemudian dari balik gundukan tanah keras tepi kawah sebelah timur kelihatan muncul kepala seseorang, menyusul dada dan badannya. Sosok tubuh manusia ini ternyata bukanlah Kalingundil karena tangannya tidak buntung!

“Lain yang ditunggu, lain yang datang !” desis Wiro Sableng dalam hati. Kedua matanya terus memandang tak berkesip pada manusia yang baru datang ini. Orang ini dilihatnya memandang berkeliling agaknya mencari-cari sesuatu, mungkin mencari seseorang. Umurnya sudah lanjut.

Menurut taksiran Wiro paling rendah lima puluh tahun. Meskipun tua tapi tubuhnya kekar. Pada pinggangnya kelihatan tersisip sebilah keris emas. Dari gerak geriknya yang enteng dan tenang Wiro tahu bahwa orang tua ini pastilah seorang yang menguasai ilmu silat dari tingkat tinggi.

“Mungkin sekali dia diam di sekitar puncak gunung Tangkuban Perahu atau mungkin pula kedatangannya ke situ hanya satu kebetulan saja dengan hari di mana aku akan membuat perhitungan dengan Kalingundil…” demikianlah Pendekar 212 berpikir-pikir di dalam hatinya. Sementara itu si orang tua tak dikenal dilihatnya berdiri di tepi kawah memandang ke bawah lalu memutar tubuh dan menjelajahi seluruh permukaan gunung dengan sepasang matanya yang kecil tetapi tajam.

Kemudian orang tua ini pada akhirnya melangkah ke arah deretan pohon-pohon cemara dan di sini duduk melepaskan lelah. Wiro maklum kini bahwa orang tua ini datang ke situ adalah mencari seseorang dan ketika orang itu tak ditemuinya dia memutuskan untuk menunggu. Karena merasa tak punya urusan dengan si orang tua. Wiro tetap saja berada di tempatnya, di atas pohon cemara tinggi.

Matahari bergerak juga menuju ke puncak tertingginya. Wiro masih terus memperhatikan si orang tua. Mendadak diputarnya kepalanya ke arah selatan. Sesosok tubuh kelihatan berkelebat. Kedatangan manusia ini boleh dikatakan tidak terdengar atau tak tertangkap oleh telinga Wiro Sableng. Nyatanya kehebatan ilmu lari dan ilmu mengentengkan tubuhnya. Apa yang menarik pendekar 212 ialah bahwa manusia ini bukanlah Kalingundil yang tengah ditunggunya!

Orang ini berbadan kate. Kepalanya sulah licin dan berkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Kedua telapak kakinya bukan saja lebar tapi juga tebal seperti kaki gajah. Tiba-tiba pendekar 212 ingat akan keterangan gurunya Eyang Sinto Gendeng.

Menurut gurunya itu di puncak Gunung Lawu berdiam seorang tokoh silat utama bernama Tapak Gadjah. Kehebatan Tapak Gadjah ialah telapak pada sepasang kakinya yang berbentuk kaki gajah. Jangankan manusia, batupun kalau ditendang akan hancur lebur. Dan memang pada saat itu Wiro menyaksikan sendiri bagaimana tanah gunung yang diinjak kedua kaki laki-laki itu meninggalkan bekas amblas sampai setengah dim!

“Mungkin sekali manusia ini adalah Tapak Gadjah,” membatin Wiro Sableng. “Tapi kenapa pula dia jauh-jauh bisa muncul di sini…?”

Selagi dia membatin begitu rupa Wiro Sableng terkejut pula melihat bagaimana si orang tua yang duduk di bawah pohon cemara tiba-tiba berdiri tegak menyambuti kedatangan simanusia kate! kedua orang itu saling pandang seketika. Sekali melompat maka si kate sudah berada dua tombak di hadapan si orang tua berkeris emas! Kembali keduanya saling pandang dan meneliti. Kemudian terdengar suara si kate membentak.

“Jadi kau sudah datang duluan pendekar gila Wiro sableng?! Rupanya memang kau betul­betul ingin mati lekas-lekas!” Kemarahan yang meluap membuat Tapak Gadjah lupa akan keterangan Kalingundil bahwa Wiro Sableng adalah seorang muda! Bukan saja si orang tua nampak terkejut dan heran, tapi Pendekar 212 di atas puncak pohon cemara jedi kernyitkan kulit kening waktu mendengar bentakan si manusia kate itu!

Sebelum si orang tua sempat bicara maka si kate sudah bertanya dengan membentak: “Mampus cara mana yang kau kehendaki Pendekar 212! Aku Tapak Gadjah segera melaksanakannya!”

“Kalau betul aku berhadapan dengan Tapak Gadjah, tokoh silat terkenal dari Gunung Lawu saat ini…,” menyahuti si orang tua, “maka dugaanmu meleset sekali!”

Tapak Gadjah pelototkan mata. “Meleset bagaimana maksudmu?” Dan Tapak Gadjah ingat akan keterangan Kalingundil. Lalu diajukan pertanyaan: “Apakah kau bukannya Wiro Sableng si manusia geblek bergelar Pendekar 212 itu…?!”

Si orang tua gelengkan kepata. “Aku adadalah Wirasokananta, Ketua Perguruan Teratai Putih di bukit Siharuharu…”

“Ah… tak disangka datang dari jauh kiranya akan berjumpa dengan tokoh silat ternama,” Tapak Gadjah pula ramah. Mengingat Wiasokananta adalah tokoh silat dari golongan putih dating dia sendiri dari golongan hitam maka bertanyalah Tapak Gadjah: “Gerangan apakah yang membuat Ketua Perguruan Teratai Putih sampai datang ke sini…”

“Panjang ceritanya Tapak Gadjah,” menyahuti si orang tua berkeris emas. “Ringkasnya adalah untuk mencari den memenuhi undangan seorang manusia bejat bernama Wiro Sableng bergelar Pendekar 212!”

“’Ah… ah… ah…! Kalau begitu kita sama-sama datang untuk maksud yang serupa. Dan pastilah mempunyai tujuan terakhir yang serupa-pula yaitu menamatkan riwayat manusia terkutuk itu. Bukankah demikin?”

Meskipun heran bagaimana Tapak Gadjah bias tahu hal itu namun Wirasokananta mengangguk juga.

“Maksud sama, tujuan terakhir sama tapi latar belakang tentu lain. Kalau aku boleh tanya, apakah sebabnya Ketua Perguruan Teratai Putih sampai turun tangan dan bukan menyuruh anak-anak murid Perguruan…?”

“Semua murid-muridku musnah di tangan manusia laknat itu! Dua diantaranya diperkosa!” jawab Wirasokananta. Suaranya bergetar. Kemudian dituturkannyalah apa yang telah menimpa Perguruan dan murid-muridnya.

Di atas pohon cemara Pendekar 212 Wiro Sableng pentang telinga buka mata tak berkesip. Penuturan Wirasokananta tentu saja sangat mengejutkannya.

Semenjak turun gunung bukan saja dia tidak pernah mendengar nama Perguruan Teratai Putih, bahkan bertemu muka dengan Wirasokanantapun baru hari ini. Dan hari ini pula Ketua Perguruan itu menuturkan bahwa dia –Wiro Sableng– telah melakukan pembunuhan besar-besaran atas diri murid-murid Perguruan Teratai Putih! Ini adalah satu hal yang sama sekali tidak benar! Kalau ini bukan satu kekeliruan tentu ini adalah fitnah. Dan bila ini juga bukan fitnah, apakah yang telah menyebabkan Wirasokananta merasa yakin bahwa Pendekar 212 lah yang telah memusnahkan Perguruannya?

“Nasibmu dan nasibku rupanya tidak banyak beda Ketua Teratai Putih,” terdengar suara Tapak Gadjah. “Muridku Suranyali juga kunyuk sedeng itu yang membunuh!”

Kini tahulah Wiro Sableng. Tapak Gadjah rupanya adalah guru Suranyali alias Mahesa Birawa!

“Tapi muridmu cuma seorang yang mati di tangannya sedang aku keseluruhannya,” menyahuti Wirasokananta.

“Yang penting bukan soal jumlah. Ketua Teratai Putih. Yang penting ialah bahwa kunyuk sedeng itu seorang manusia bejat yang musti kita lenyapkan dari muka bumi ini!”

Wirasokananta mengangguk.

Tapak Gadjah hendak buka mulutnya kembali. Tapi batal karena saat itu sudut matanya melihat sesosok tubuh berkelebat dan tahu-tahu sudah berada di hadapan mereka.

“Siapa lagi yang datang ini…?” membatin Wiro Sableng.

Sedang sesat kemudian didengarnya suara Tapak Gadjah berkata sambil menjura: “Sungguh pertemuan yang tak terduga. Tokoh silat dari Gunung Halimun kenapa bisa muncul di sini…?”

Orang yang baru datang tertawa lebar. Dia berpakaian kain putih. Rambutnya panjang diriap seperti perempuan, janggutnya menjela sampai ke perut. Rambut dan janggut itu berwarna putih dan melambai-lambai tertiup angin.

“Kau sendiri mengapa bisa nongkrong di sini…?” balik menanya si janggut putih, dia melirik pada Wirasokananta.

Tapak Gadjah mula-mula perkenalkan si janggut putih pada Wirasokananta. Ternyata si janggut putih itu adalah Begawan Sitaraga, seorang sakti dari Gunung Halimun.

Setelah mendengar penuturan Tapak Gadjah yang juga sekalian menuturkan tentang Wirasokananta maka Sitaraga tarik nafas dalam dan berkata, “Betul-betul tak bisa diduga kalau kedatangan kita ke sini tiga-tiganya adalah membawa maksud yang sama! Aku kenal baik dengan Mahesa Birawa. Aku telah berjanji untuk membantu perjuangannya menghancurkan Pajajaran karena memang aku tejak lama punya permusuhan dengan itu Kerajaan! Tapi nyatanya Mahesa mendahului aku! Ini kuketahui dari seorarg anak buahnya yang datang ke tempatku! Rupanya sebelum pecah perang Mahesa ada mengirim kurir. Kurir itu tertangkap peronda Pajajaran!”

Kesunyian menyeling seketika. Di atas pohon camera Wiro Sableng masih tak bergerak di tempatnya. Dengan munculnya ketiga orang itu dan dengan penuturan masing­masing mereka Wiro kini bisa menjajaki bahwa ada sesuatu yang tak bares. Dan ketidak beresan ini ditimpakan kepadanya.

Siapa yang menjadi dalang ketidakberesan ini tak susah untuk diterka yaitu Kalingundil! Tapi Kalingundil sendiri ke mana mana? Yakin bahwa bukan hanya tiga orang itu saja yang bakal muncul maka Wiro memutuskan untuk menunggu. Dugaannya memang betul. Lewat sepeminum teh maka dari jurusan barat kelihatanlah dua soaok tubuh berlari cepat laksana angina!

Yang satu bertangan buntung dan segera dikenali oleh Wiro Sableng sebagai Kalingundil adanya. Yang seorang lagi pendekar 212 lupa-lupa ingat. Tapi metihat angka 212 pada keningnya Wiro baru ingat bahwa manusia ini adalah Tapak Luwing, kepala komplotan Tiga Hitam dari Kali Comel yang tempo hari bertempur melawannya tapi kemudian dilarikan oleh Kalingundil!

Begitu sampai dihadapan Tapak Gadjah, Wirasokananta dan Begawan Sitaraga keduanya segera menjura. Kalingundil memandang berkeliling. “Harap maafkan kalau kami datang agak terlambat.” Dia memandang lagi berkeliling. Orang-orang yang diundangnya sudah lengkap. “Pendekar gila itu masih belum muncul!”

Tapak Luwing berdehem. “Aku mempunyai firasat bahwa itu manusia tak bernyali untuk datang antarkan nyawa kemari!”

“Kalau dia berani menantang, dia berani datang,” menyahuti Kalingundil.

“Kita tunggu saja,” buka suara Begawan Sitaraga.

“Dan kalaupun nanti ternyata silaknat itu tidak muncul, ke pintu nerakapun aku akan cari dia!” berkata Ketua Perguruan Teratai Putih.

Gembira sekali Kalingundil mendengar katakata Wirasokananta itu. Nyatalah bagaimana dendam kesumat si orang tua terhadap Wiro Sableng.

Sementara itu dari atas pohon cemara pendekar 212 Wiro Sableng memperhatikan ke bawah dengan seksama. Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa segala sesuatunya sampai tiga tokoh silat utama itu berada di sana adalah Kalingundil yang punya rencana. Lima orang yang akan dihadapinya.

Kalingundil dan Tapak Luwing sudah bisa dijajakinya ketinggian ilmu kedua orang itu, tapi bagaimana dengan tiga orang lainnya? Sanggupkah dia menghadapi mereka berlima sekaligus? Pendekar 212 diam-diam tarik nafas dalam. Dia memandang ke langit. Matahari sudah sampai ke puncak tertingginya. Apakah dia segera unjukkan diri atau menunggu sampai saat yang dirasakannya tepat?

Di saat itu di bawah didengamya suara Tapak Gadjah berkata: “Aku masih belum yakin kalau kunyuk ingusan itu benar-benar murid Sinto Gendeng. Itu nenek-nenek keriput sudah sejak lama minggat dari dunia persilatan…!”

Panaslah hati Wiro Sableng mendenger gurunya, disebut demikian rupa. Tiada terasakan lagi, didorong oleh naluri yang telah membuat dia menjadi bisa maka keluarlah suara siulan dari sela bibirnya.

Lima manusia di bawah pohon terkejut dan.menengadah ke atas.

“Kurang ajar, rupanya kunyuk sedeng itu sudah lama mendekam di atas!” maki Kalingundil.

“Pendekar gila turunlah untuk terima mampus!” teriak Wirasokananta.

Pendekar 212 tertawa bergelak. “Ketua Perguruan Teratai Putih, aku kasihan pada kau! Tidak tahu bahwa kau telah kena dikelabui oleh manusia tangan buntung itu!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (16)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.