Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (14)

 Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

“Kalau begitu terpaksa kukermus kepalamu!” Maka tongkat besi di tangan Ranggasastra menderu ke kepala si kate. Gesit sekali yang diserang melompat ke samping. Ranggasastra susul dengan satu tusukan ke dada kiri. Namun dengan kecepatan yang luar biasa orang kate itu gerakkan kaki kanannya!

Tendangan yang keras menghajar tangan kanan si pemuda. Besi panjangnya lepas. Tangannya hancur dan jeritan kesakitan keluar dari mulut Ranggasastra. Pemuda ini terhuyung sebentar lalu mental sampai beberapa tombak ketika tendangan lawan terus menyerempet perutnya! Perut si pemuda robek besar. Tubuhnya menggeletak tanpa nyawa. Si kate tertawa buruk.

“Maling hina dina!! Nyawamu di ujung golokku!” teriak seseorang yang melompat dari dalam rumah lewat jendela.

Si kate berkepala botak cepat putar badan pada saat sebuah golok berkiblat memapasi batok kepalanya!

“He… he… Kau juga inginkan mampus Ki Lurah!” ujar si kate. Manusia yang menyerangnya itu adalah Tanuwira, ayah Asih Permani.

“Kau yang akan mampus lebih dahulu manusia laknat!” Golok Tanuwira berkelebat lagi. Tapi si kate sungguh luar biasa. Serangan itu dihadapinya dengan tertawa tawar. Sekali dia gerakkan kaki kanannya maka hancurlah dada Ki Lurah Tanuwira.

Si kate tertawa mengekeh.

“Calon mantu dan calon mertua sama-sama bernasib sial! Kasihan…” Dihirupnya udara segar menjelang pagi itu sejurus lenyaplah dia dari tempat itu.

***

KETIKA dia sampai kepertapaannya di puncak Gunung Lawu maka terkejutlah manusia kate berkepala botak itu sewaktu melihat ada seorang bertangan buntung yang tak dikenalnya berdiri dekat pintu. Orang yang bertangan buntung agaknya juga terkejut melihat kedatangan si kepala botak yang membawa seorang gadis cantik di pundak kirinya. Tapi dia cepat-cepat menjura.

“Pastilah saat ini aku berhadapan dengan tokoh silat terkemuka yang bernama Tapak Gajah…”

Laki-laki kate yang memang bernama Tapak Gajah turunkan tubuh Asih Permani dari pundaknya. Matanya meneliti tajam orang di hadapannya lalu bertanya: “Kau sendiri siapa? Apakah datang kesini membawa maksud baik atau buruk?” Sambil bertanya demikian Tapak Gajah memperhatikan telinga kanan tamunya yang juga buntung tiada berdaun.

“Namaku Kalingundil. Aku datang dengan maksud baik, tapi membawa berita buruk.”

“Aku tidak kenal padamu sebelumnya. Berita buruk apakah yang kau bawa…?” tanya Tapak Gajah.

Maka Kalingundil segera mulai pasang jarum penghasutnya. “Pembunuhan atas diri seorang murid adalah satu hal yang pahit bagi gurunya! Begitu pahit sehingga menanamkan dendam kesumat…”

“Jangan bicara berbelit!” potong Tapak Gajah. “Katakan langsung berita buruk itu!”
“Muridmu dibunuh orang, Tapak Gajah…”

Berubahlah paras si tubuh kate kepala sulah. Sedang Kalingundil saat itu melirik memperhatikan Asih Permani yang berdiri tak bergerak, “Pastilah tubuhnya ditotok,” pikir Kalingundil dan dalam hatinya dia bertanya-tanya: “Siapa gerangan gadis cantik ini…” Sesak nafas Kalingundil melihat kejelitaan Asih Permani.

“Aku mempunyai beberapa orang murid yang telah turun ke dalam rimba persilatan. Murid yang mana yang kau maksudkan?!” tanya Tapak Gajah.

Kalingundil memalingkan mukanya kepada laki-laki itu kembali. “Mahesa Birawa…”

“Aku tak punya murid bernama Mahesa Birawa!” berkata Tapak Gajah.

Kalingundil kaget. Dia berpikir-pikir seketika. Kemudian dia ingat. “Maksudku muridmu Suranyali…”

Sekali lagi berubah paras Tapak Gajah. Di hatinya timbul kesyakwasangkaan. “Apakah kau bicara, ngelantur atau bagaimana…?”

“Demi setan dan iblis aku tidak bicara dusta, Tapak Gajah!”

“Suranyali bukan manusia sembarangan. Ilmu kesaktiannya tinggi!”

“Tapi manusia yang membunuhnya lebih sakti lagi!”

“Siapa ?!”

“Pendekar 212…”

Tapak Gajah merenung. Kedua tangannya terkepal. “Kau dusta Pendekar 212 Sinto Gendeng sudah sejak puluhan tahun lenyapkan diri dari dunia persilatan!”

“Tapi…”

“Tutup mulut! Terima hukuman dariku bangsat bermulut bohong!”

Tapak Gadjah hantamkan kaki tangannya ke muka.

“Wutt !”

Angin sedahsyat badai yang ke luar dari tendangan itu lebih dahulu menyerang ke arah Kalingudil sebelum tendangannya sendiri sampai!

Kalingundil tak mau ambil risiko. Dia berteriak nyaring dan lompat delapan tombak ke udara.

“Byur!”

Kaligundil palingkan kepala ke belakang. Tersekat rasanya tenggorokannya sewaktu melihat bagaimana angin tendangan Tapak Gadjah menghancurkan batu besar di belakangnya!

Sewaktu manusia kate itu hendak lancarkan serangan kedua Kalingundi cepat berseru: “Tahan! Kita berada di pihak yang sama!”

Tapak Gadjah tarik serangannya.

“Apa maksudmu kita di pihak yang sama huh?”

“Aku adalah bekas anak buah Suranyali sewaktu kami masih sama-sama di Jatiwalu!”
“Jangan coba kelabui aku!” membentak Tapak Gadjah.

“Perlu dan untung apa aku mengelabuimu!” balas membentak Kalingundil dengan beringas.

“Berikan bukti bahwa muridku yang satu itu benar-benar dibunuh orang!”

Kalingundil tertawa dingin. “Tidak mau percaya pada orang sepihak akan merugikan diri sendiri Tapak Luwing…” Lalu Kalingundil memberikan keterangan selengkapnya.

Kini mulai kelihatan bayangan rasa percaya di paras Tapak Gadjah. Namun apa yang meragukannya ialah keterangan Kalingundil mengenai Pendekar 212 Wiro Sableng. Satu­satunya kesimpulan bagi Tapak Gadjah ialah bahwa pemuda bernama Wiro Sableng itu adalah murid Sinto Gendeng.

“Golongan hitam memang sejak dulu menaruh dendam pada itu nenek-nenek sialan…” ujar Tapak Gadjah pula. “Tapi sebelum kami bersepakat untuk menghabiskan jiwanya, dia sudah lenyapkan diri! Kini muridnya muncul dan membunuh muridku! Benar­benar laknat!”

“Aku sendiri telah tantang dia di Rawasumpang demi untuk menuntut balas kematian Suranyali atau Mahesa Birawa. Tapi… itu pemuda keparat memang luar biasa tinggi ilmunya. Kalau aku kalah dalam pertempuran di Rawasumpang itu bukan suatu apa tapi ada satu hal yang benar-benar menyakiti hatiku Tapak Gadjah…”

Kalingundil menunjukkan paras yang mengandung dendam. Sepasang matanya memandang lurus-lurus jauh ke muka.

“Katakan apa yang menyakiti hatimu itu!” kepingin tahu Tapak Gadjah.

“Sebelum mengundurkan diri dari Rawasumpang aku bilang pada itu pemuda keparat bahwa kelak pembalasan dari guru Sunranyali akan tiba! Pemuda itu ketawa bekakakan dan berkata bahwa sekalipun ada seribu guru Suranyali, akan diterabasnya sama rata dengan tanah!”

Rahang-rahang TapakGadjah mengembung. “Begitu keparat itu bilang…?”
Kalingundil manggut.

“Meski dia murid si Sinto Gendeng, tapi jangan merasa sudah setinggi langit kepandaiannya! Katakan di mana bangsat itu berada! Aku Tapak Gadjah akan pecahkan kepalanya!”

“Kau tak perlu susah-susah mencarinya Tapak Gadjah,” menjawab Kaligundil. “Bukankah tadi aku sudah katakan bahwa dia sudah umbar mulut menentangmu? Katanya dia tunggu kau pada hari tigabelas bulan duabelas di puncak Gunung Tangkuban Perahu!”

“Anjing kurap betul itu manusia!” Tapak Gadjah meludah ke tanah.

Dan Kalingundil berkata lagi: “Beberapa tokoh silat utama yang ditantang pendekar 212 itu juga telah kuberi tahu! Mereka sudah memastikan untuk datang ke Tangkuban Perahu guna mengkeremus si pemuda!”

“Seribu tokoh utama boleh datang ke sana. Namun kematian anjing kurap itu aku yang tentukan!” Kaligundil manggut-manggut. Hatinya gembira. Memang itulah yang diharapkannya. Sudah terbayang bagaimana akan berhasilnya dia purrya rencana nanti. Seorang diri dia memang tak sanggup untuk menghadapi Wiro Sableng. Tapi kalau Tapak Gadjah, Begawan Sitaraga, Wirasokananta. dan Tapak Luwing yang berkumpul jadi satu untuk membuat perhitungan, tiga Pendekar 212-pun tak bakal sanggup!

“Aku gembira mendengar keputusanmu itu. Tapak Gadjah. Akupun pasti pula akan datang ke puncak Tangkuban Perahu…”

Tapak Gadjah tertawa dingin. “Kalau kau punya nyali tapi punya sedikit ilmu untuk diandalkan sebaiknya tak usah datang ke sana!”

Merah padam paras Kalingundil.

“Sekarang aku tak ada urusan lagi dengan kau! Silakan angkat kaki dari sini!” bentak Tapak Gadjah.

Kelingundil melirik pada Asih Permani. Kemudian katanya pada Tapak Gadjah: “Jangan terlalu memandang rendah terhadap sesama kawan Tapak Gadjah. Aku memang tidak dikenal dalam dunia persilatan tapi untuk menghancurkan batu besar sepertimu tadi, aku masih sanggup!” Kalingundil gerakkan tangan kanannya ke pingaang. Kemudian selarik sinar biru melesat ke arah batu besar yang terletak sekira sembilan tombak dari hadapannya.

“Byur!”

Batu itu hancur berkeping-keping dan bayangan Kalingundil sendiri sesudah itu lenyap dari pemandangan!

Terkejutlah Tapak Gadjah! Tiada disangkanya kalau manusia bertangan buntung bertelinga sumpung itu memiliki kehebatan demikian rupa! Tapi manusia kate ini tidak berpikir lebih lama. Begitu matanya membentur paras dan tubuh Asih Permani maka lupalah dia pada Kalingundil. Segera diboyongnya gadis itu ke dalam pertapaan. Apa yang kemudian dilakukannya terhadap gadis suci itu tak seorang manusiapun yang tahu. Namun pada hari itu satu kesucian telah lenyap dirampas oleh kebejatan!

~ 10 ~

PUNCAK gunung tangkuban perahu. Hari tigabelas bulan duabelas…

Angin dari utara bertiup kencang, mengalahkan tiupan angin barat yang menghembus sepoi-sepoi basah. Puncak Gunung Tangkuban Perahu diselimuti kesunyian abadi. Tapi hari itu agaknya kesunyian abadi itu akan sirna oleh kedatangan manusia-manusia pembuat per­hitungan. Akan pupus di landa dendam kesumat orang sakti!

Kawah gunung yang lebar mengepulkan tiada henti asap tipis berbau belerang.

Beberapa puluh kaki dari tepi kawah berderet pohpn-pohon cemara berdaun lebat subur, menjulang tinggi dan lurus! Saat itu matahari pagi sudah naik tepat antara titik tertinggi dan titik permulaan terbitnya.

Angin utara bertiup lagi dengan kencang, Daun-daun pohon cemara melambai-lambai. Dan diantara kerisikan-kerisikan geseran daun pohon-pohon cemara itu maka terdengarlah suara siulan yang mengumandangi seluruh puncak Gunung Tangkubanperahu. Suara siulan itu juga seperti mau menggelegaki kawah belerang dan menampar-nampar kabut belerang yang meliuk-liuk kepermukaan kawah. Suara siulan itu tidak teratur, tidak membawakan sebuah lagu atau tembang, nadanya tak menentu.

Namun ketidakteraturan dan ketidakmenentuan itu anehnya bila didengar dengan seksama akan merupakan suatu lagu aneh bernada ajaib! Suara siulan itu membuat pendengarnya akan terkatung-katung ke dalam satu dunia khayal. Tapi di pagi yang menjelang siang itu di puncak Gunung Tangkuban Perahu itu tak satu orang pun yang ada selain manusia yang mengeluarkan suara siulan tadi. Dan siapakah manusia ini adanya?

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (15)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.