Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (13)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

“Di luar langit ada langit lagi Begawan! Kesaktian pemuda tandingannya melebihi kesaktiannya…”

Begawan Sitaraga kerutkan kening.

Dan Kalingundil teruskan ucapannya. “Aku sendiri pernah menghadapinya. Masih untung cuma tanganku yang dimintanya, bukan nyawaku!”

“Ho-o… jadi maksudmu datang ke sini untuk mengadu dan merengek macam anak kecil agar aku turun tangan…?”

Merah muka Kalingundil. “Itu adalah terserah padamu Begawan. Sebagai sobat dan bekas pemimpinku, aku telah cari pemuda yang membunuh Mahesa Birawa. Namun dia lebih tinggi ilmu silatnya dan lebih tinggi…”

“Siapa nama bangsat itu?!” tanya Sitaraga pula.

“Wiro Sableng. Tapi dia lebih dikenal dengan julukan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…”

Mendengar ini maka terkejutlah Begawan Sitaraga. “Kau bilang dia bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212…?”

“Ya…”

“Kalau begitu dia adalah nenek-nenek keriput si Sinto Gendeng!”

“Tidak… dia adalah seorang pemuda. Masih sangat muda, bahkan tampangnya macam anak­anak, berambut gondrong dan berotak miring sinting!”

Sitaraga merenung lagi. Kemudian desisnya: “Kalau begitu mungkin sekali dia adalah murid nenek-nenek itu yang diam di puncak Gunung Gede. Tapi setahuku Sinto Gendeng tidak punya murid sejak puluhan tahun berselang…”

Sitaraga tarik nafas dalam. “Kalau betul dia murid Sinto Gendeng, tidak salah Mahesa Birawa dipecundangi…” Sitaraga memandang jauh ke muka seperti pandangannya itu mau menembus dinding putih di belakang Kalingundil.

Melihat ini maka Kalingundil mulai masukkan jarum hasutannya. “Sewaktu aku bertempur dengan dia di Rawasumpang aku beri peringatan bahwa kelak sobat-sobat Mahesa Birawa yang terdiri dari tokoh-tokoh silat utama akan turun tangan untuk menuntut balas. Dan Wiro Sableng mengumbar bahwa terhadap siapapun dia tidak takut! Bahkan dia menantang untuk bikin perhitungan di puncak Gunung Tangkuban Perahu pada hari tigabelas bulan duabelas nanti!”

Mata Begawan Sitaraga menyipit lagi. “Pongah betul,” desisnya. “Rupanya sudah kepingin cepat-cepat merasakan gelapnya liang kubur! Sudah cepat-cepat ingin minggat ke neraka!”

“Betul Begawan. Bukan saja kepongahannya itu yang menyakitkan hati, tapi tantangannya itu adalah juga sangat menghina dan tiada memandang sebelah matapun terhadap tokoh-tokoh silat utama macam Begawan…”

Sitaraga manggut-manggut. “Manusia-manusia macam begitu musti dilenyapkan dengan lekas. Kalau tidak akan menjadi biang runyam golongan dan aliran kita…”

Hati Kalingundil menjadi gembira karena tahu hasutannya sudah menyamaki dan mengobari dendam serta amarah Begawan itu.

“Tantangan itu…” kata Kalingundil pula meneruskan hasutannya, “sekaligus menghina terhadap guru Mahesa Birawa yang diam di Gunung Lawu… Aku bermaksud untuk menemuinya dan meminta langkah-langkah yang segera akan kita laksanakan.”

“Kalau cuma untuk memecahkan batok kepala pemuda sedeng itu, aku sendiripun menyanggupinya!”

“Betul Begawan. Tapi untuk tidak mengecewa kan guru Mahesa Birawa di kemudian hari, ada baiknya kematian muridnya itu diberi tahu…”

“ltu urusanmu,” jawab Sitaraga. Matanya. memandang tepat-tepat ke pinggang Kalingundil. Sesungguhnya sejak tadi matanya itu memperhatikan secara diam-diam ke pinggang Kalingundil. “Coba aku mau lihat apa yang kau simpan di balik pinggangmu,” katanya tiba-tiba.

Kalingundil kaget sekali. Dia melirik ke pinggangnya. Dia telah menyimpan senjatanya baik­baik namun mata Sitaraga yang tajam masih sanggup mengetahuinya.

“Ah, tidak apa-apa Begawan. Cuma…”

“Cuma apa?!” Sitaraga pelototkan mata.

“Cuma sebilah pedang buruk…” sahut Kalingundil.

“Keluarkan!”

“Begawan…”

“Jangan banyak bicara. Keluarkan!”

Kalau bukan berhadapan dengan Begawan Sitaraga dan kalau tidak mengingat kepada rencana besarnya, maka pastilah saat itu Kalingundil akan beset mulut manusia yang dihadapannya itu. Dia memang mengharapkan bantuan Sitaraga tapi kalau dirinya dianggap remeh terus menerus dan dihina dimaki serta dibentak, siapa yang bisa sabarkan diri?!

“Kau membangkang Kalingundil?!”

Penasaran sekali Kalingundil cabut Pedang Siluman buntungnya. Maka sinar birupun memancarlah di ruangan putih itu. Begawan Sitaraga terkejut.

“Pedang Siluman Biru...” desisnya. Dia di samping terkejut juga heran melihat pedang sakti itu kini hanya merupakan sebuah puntungan belaka. “Dari mana kau dapat senjata itu? Bagaimana bisa buntung? Apakah kau muridnya Siluman Biru?!”

Kalingundil menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan menyerocos itu. “Itu semua adalah urusanku Begawan. Yang penting hari ini kita telah berjumpa dan kau telah mengetahui nasib Mahesa Birawa. Sampai bertemu di puncak Gunung Tangkuban Perahu!” Kalingundil berkelebat ke arah tangga.

“Tunggu!” teriak Sitaraga.

Tapi Kalingundil tak mau ambil perduli.

Maka marahlah Begawan Sitaraga. “Kalau tidak memikir kau bekas anak buah Mahesa Birawa, sudah terlalu pantas aku minta nyawamu, Kalingundil! Tapi saat ini cukup kau tinggalkan saja salah satu dari daun telingamu!”

Sebuah senjata rahasia melesat ke arah telinga kanan Kalingundil. Laki-laki ini segera lambaikan tangan kirinya. Tapi celaka senjata rahasia itu tak sanggup dibuat mental dengan pukulan tenaga dalam! Terpaksa Kalingundil cabut pedang saktinya kembali. Namun gerakan ini tentu saja sudah terlambat!

Kalingundil mengeluh kesakitan. Darah membasahi pipi dan bahu pakaiannya. Daun telinganya sebelah kanan terbabat buntung oleh senjata rahasia Sitaraga! Kalau tidak mengingat-ingat akan rencana pembalasan dendamnya, maulah Kalingundil menyerang Begawan itu dengan kalap, lebih-lebih ketika didengarnya kekehandak Sitaraga yang menusuk liang telinganya!

Dalam waktu yang singkat Kalingundil sudah berada di luar Kawah Gunung Halimun. Dibersihkannya darah yang membasahi pipi kemudian dengan sehelai kain dibalutnya kepalanya tepat pada batasan telinga yang buntung. Kemudian diambilnya sebuah pil lalu ditelan untuk menolak racun senjata rahasia Sitaraga itu.

Di dasar kawah Gunung Halimun, tak lama sesudah Kalingundil lenyap, kembali Sitaraga merenung.

Siapa Kalingundil sebenarnya masih agak samar baginya. Tapi itu tidak begitu penting. Yang menjadi tanda tanya besar ialah siapa itu pemuda yang bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212? Apa betul murid Sinto Gendeng?

Kalau Kalingundil telah menghadapinya dengan Pedang Siluman dan berhasil dikalahkan oleh si pemuda, maka sudah dapat dijajaki oleh Sitaraga sampai di mana ketinggian ilmu pendekar 212 itu! Ini membuat dia ingin lekas-lekas berhadapan dengan sang pendekar muda. Namun dia musti menunggu beberapa bulan di muka sampai saat yang ditentukan yaitu hari tigabelas bulan duabelas!

***

SIAPA penduduk desa bukit tunggul yang tidak tahu dengan Asih Permani. Tanyakan pada yang tua-tua, mereka akan tahu, tanyakan pada yang muda-muda mereka akan lebih dari tahu. Tanyakan pada anak-anak kecil yang mengangon bebek atau menggembala kerbau, mereka juga akan tahu.

Jika ditanyakan bagaimana paras Asih Permani maka semua mulut akan memuji. Semua mulut akan mengatakan: Asih Permani gadis yang tercantik se-Bukit Tunggul. Mukanya bujur telur. Hidungnya kecil mancung bak daun tunggal. Bibirnya seperti delima merekah, merah dan segar. Matanya bening bercahaya laksana bintang di angkasa raya. Dagunya seperti lebah bergantung, leher jenjang dan suaranya halus merdu, serasa digelitik liang telinga jika kita mendengar suara Asih Permani. Dan keseluruhan tubuhnya yang montok padat itu dibungkus oleh kulit yang halus mulus.

Asih Permani memang cantik seperti perbandingan di atas. Kawannya sesama gadis di desa Bukit Tunggul banyak yang merasa iri dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu. Pemuda-pemuda banyak yang tergila. Tapi semua mereka bertepuk sebelah tangan. Karena pada bulan di muka, tepat di waktu bulan rembulan empat belas hari.

Asih Permani akan dinikahkan dengan Ranggasastra, anak lurah Bukit Tunggul. Memang di samping kaya raya, banyak harta dan sawah berlimpah kerbau berkandang, maka Ranggasastra cocok dan pantas menjadi suami Asih Permani. Pemuda ini gagah. Badannya tegap, hatinya polos dan ramah kepada setiap orang. Sehingga kalau bersanding dengan Asih Permani di pelaminan nanti tentulah tak ubahnya seperti pinang dibelah dua!

Semakin lama, semakin dekat juga hari pernikahan itu. Tentu sama dapat dibayangkan bagaimana perasaan kedua calon pengantin itu menjelang hari perkawinan mereka. Hari yang bersejarah dan tak dilupakan seumur hidup mereka. Hari di mana mereka akan sama-sama membuka suatu “rahasia kebahagiaan hidup”

Saat itu Ranggasastra tengah duduk-duduk di depan rumahnya memandangi bintang-bintang yang bertaburan. Entah mengapa malam itu hatinya gelisah saja. Dan dia tak tahu apa sebenarnya yang digelisahkannya itu. Larut matam baru dia dapat tertidur. Tapi menjelang fajar dia tersentak. Ranggasastra adalah seorang yang pernah menuntut ilmu silat dan kesaktian pada seorang guru di pantai utara.

Nalurinya menyatakan bahwa ada seseorang lain di dalam kamarnya saat itu. Dibukanya kedua kelopak matanya. Dia terkejut melihat sesosok tubuh manusia sangat kate berdiri dekat tempat tidur. Manusia ini berkepala botak sudah licin berkilat ditimpa kelap-kelip sinar lampu pelita dalam kamar.

Manusia kate ini memiliki hidung yang sangat besar. Hidungnya yang besar itu seperti mau menutupi mukanya yang kecil. Ketika dia menyeringai dan mengeluarkan suara mendesau, maka kelihatanlah giginya yang cuma satu di sebelah atas.

Ranggasastra segera melompat dari tempat tidur.

“Manusia kate! Siapa kau?!” bentak si pemuda. Matanya meneliti manusia dihadapannya dengan tajam. Dan meskipun cahaya lampu minyak di dalam kamar tidak begitu terang, namun Ranggasastra dapat melihat bahwa manusia kate itu mempunyai telapak kaki yang lebar dan besar sekali. Tapak kaki itu sampai sebatas mata kaki sama sekali tidak merupakan tapak kaki manusia, tapi seperti kaki seekor gajah!

“He… he… he…” Manusia kate berkaki besar tertawa berkemik. “Kau manusianya yang bernama Ranggasastra, yang bakal jadi penganten minggu depan…?!”

Tentu saja apa yang ditanyakan manusia itu, mengejutkan Ranggasastra. “Itu bukan urusanmu! Jawab dulu siapa kau!”

“He… he… he…” Tamu tak diundang itu mengekeh lagi. “Maksudmu untuk menjadi penganten, untuk menjadi suami Asih Permani tidak akan kesampaian Ranggasastra…!”

“Manusia kate, jangan ngaco pagi-pagi buta!” bentak Ranggasastra dengan marah. “Keluar dari kamarku!” Pemuda itu kepalkan tinjunya.

“Kau tak akan pernah menjamah tubuh Asih Permani, anak muda. Karena mulai detik ini ke atas, dia adalah milikku dan akan kubawa ke mana aku suka, akan kuperbuat apa aku senang!” Manusia kate ini mengekeh lagi.

“Kalau kau mau mengigau, pergilah mengigau di liang kubur!” Habis berkata demikian Ranggasastra menerjang ke muka. Tinju kanannya menderu! Tapi dia hanya memukul tempat kosong. Hampir tak terlihat oleh matanya, manusia kate itu telah berkelebat dan lenyap dari pemandangannya!

Tinggal seorang diri di dalam kamar Ranggasastra merasa seperti orang yang tertidur dan tersentak oleh mimpi. Digosok-gosoknya kedua matanya dengan telapak tangan berulang kali. Tidak, dia tidak mimpi! Dia yakin betul bahwa dia tidak mimpi! Dan ketika dia memandang ke lantai kamar yang terbuat dari papan, maka pada lantai itu jelas dilihatnya bekas-bekas telapak kaki manusia kate tadi.

Ketika ingat akan ucapan-ucapan orang kate berkepala sulah tadi maka khawatirlah Ranggasastra. Segera dijangkaunya tongkat besi berujung runcing yang tersisip di dinding. Senjata ini adalah pemberian gurunya. Tanpa menunggu lebih lama, pemuda ini segera tinggalkan rumahnya menuju ke desa sebelah timur di mana terletak rumah orang tua Asih Permani.

Sepuluh tombak akan sampai ke halaman muka rumah gadis calon isterinya, mendadak Ranggasastra melihat sesosok tubuh melompat keluar dari jendela samping rumah! Sosok tubuh ini tak lain dari manusia kate yang telah mendatanginya tadi. Dan pada bahu manusia itu kelihatan sosok tubuh seorang perempuan. Meskipun halaman samping gelap tapi Ranggasastra tahu betul, perempuan yang dipanggul itu adalah calon isterinya. Asih Permani!

“Bangsat rendah! Pencuri busak! Lepaskan perempuan itu!” bentak Ranggasastra.
Si kate kepala sulah tertawa dingin. “Sekali aku bilang bahwa gadis ini jadi milikku, tak satu manusia lainpun yang bisa menghalanginya!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (14)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.