Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (12)

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Kalingundil dengan gerakan yang enteng melompat ke salah satu batu besar. Seseorang yang tidak memiliki ilmu meringani tubuh yang ampuh pasti tak akan sanggup mernbuat lompatan lihay itu, kalaupun dapat mungkin begitu menginjak batu, kakinya akan terpeleset karena lincinnya lumut! Kalingundil memandang keseantero puncak gunung yang telah mati itu. Di antara unggukan­unggukan batu-batu rnaka di tengah-tengah kelihatanlah kawah yang besar yang sudah padam.

Kawah ini berbentuk kerucut dan dalarn sekali. Kalingundil melompat lagi ke batu besar yang lebih tinggi. Sekali lagi dilayangkannya pandangannya ke seantero puncak gunung. Bila dia sudah yakin betul bahwa tempat kediaman orang yang hendak ditemuinya itu bukalah di permukaan puncak gunung maka segeralah dia melompat ke tepi kawah. Dari sini dia terus turun ke dalam kawah.

Selain dalam, kawah Gunung Halimun sukar sekali untuk dituruni. Tapi Kalingundil dengan cekatannya lompat sana lompat sini sehingga dalam waktu yang singkat dia sudah berada di dasar kawah.

Udara di dalam dasar kawah gunung ini pengap dan menyesakkan pernafasan. Karenanya Kalingundil segera atur jalan nafasnya. Begitu dirinya dapat menguasai kepengapan, itu maka dia segera meneliti keadaan dasar kawah di mana dia berada. Luas dasar kawah yang merupakan pusat kerucut itu hanya beberapa kali lebih besar dari sebuah sumur. Seluruh dasar kawah merupakan pasir campur tanah yang sudah membeku den mengeras selama berabad-abad sesudah gunung itu meletus. Putaran bola mata Kalingundil terhenti pada sebuah lobang yang besarnya selebar bahu manusia.

Laki-laki ini segera mendekati lobang itu. Menelitinya sesaat lalu tanpa ragu-ragu segera memasukinya. Mula-mula dia hanya bisa merangkak. Tapi semakin ke dalam lobang itu semakin besar sehingga dari merangkak kini dia dapat membungkuk-bungkuk dan akhirnya berjalan seperti biasa.

Kalingundil sampai ke sebuah ruang empat persegi berdindingkan batu-batu hitam yang kasar. Dari keempat sudut ruangan ini keluar empat liukan asap tipis yang berwarna hitam. Begitu, hidungnya mencium bau yang disebar oleh asap ini mendadak sontak kepala Kalingundil menjadi pusing. Cepat-cepat Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan tutup jalan nafasnya.

Kalingundil tahu bahwa ruangan batu itu bukanlah ruangan buntu. Tapi matanya tiada melihat adanya pintu atau sebuah celahpun. Laki-laki ini menengadah ke atas. Maka kelihatanlah di langit­langit ruangan sebuah liang tangga batu. Dia memandang berkeliling lalu enjot kedua kaki dan melompat ke tepi liang, terus menaiki tangga batu. Anehnya, bagaimanapun tingginya ilmu mengentengi tubuh yang dimilikinya namun setiap iangkah yang dibuatnya di tangga batu itu berbunyi dan bergema keras!

Begitu sampai di anak tangga yang teratas maka sampailah Kalingundil ke satu ruangan putih yang sangat bersih. Demikian bersih dan berkilatan putihnya dinding-dinding serta lantai dan langit­langit ruangan itu, sehingga tak ubahnya seperti berada di satu ruangan kaca.

Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah batu besar dan di atas batu besar ini sesosok tubuh laksana patung tengah bersemedi jungkir balik, kaki ke atas kepala ke bawah di atas batu. Sosok tubuh ini mengenakan sehelai kain putih yang dibalutkart sekujur badan mulai dari betis sampai ke dada. Kepala dan paras orang yang bersemedi tiada kelihatan karena tertutup oleh janggut putih yang panjang, hampir menyamai panjangnya rambut yang menjulai di lantai dan juga berwarna putih! Sungguh hebat cara manusia ini bersemedi!

Namun pandangan Kalingundil segera terbagi pada seekor harimau besar belang tiga yang berbaring di samping laki-laki yang tengah bersemedi. Begitu melihat kemunculan Kalingundil, makhluk ini berdiri dan menggereng. Mututnya membuka lebar. Gigi dan taringnya kelihatan besar­besar serta runcing mengerikan. Didahului dengan auman yang dahsyat dan menggetarkan ruangan putih itu maka melompatlah binatang itu. Kedua kaki terpentang ke muka, kuku-kuku yang tajam dan panjang siap merobek tubuh Kalingundil!

Kalingundil yang maklum bahwa harimau itu bukan binatang biasa tapi peliharaan seorang sakti dengan cepat segera melompat ke samping hindarkan diri. Namun meskipun demikian cepatnya, sang harimau lebih cepat lagi! Laksana seorang jago silat kawakan, masih melayang di udara binatang itu putar tubuh, ekornya berkelebat!

Ekor yang panjang laksana cambuk itu menghantam bahu Kalingundil yang buntung. Pakaiannya robek. Bahunya sakit tiada terkirakan. Kalingundil kerahkan tenaga dalam dan disaat itu terpaksa segera melompat pula ke samping karena si belang sudah menyerangnya kembali!

Hanya dengan berkelabat-kelabat cepat dan sigaplah maka Kalingundil berhasil mengelakkan setiap serangan. Dia menghitung-hitung, sampai saat itu telah dua puluh jurus dia bertempur menghadapi sang harimau. Dan selama itu Kalingundil terus-terusan bersikap mengelak, sama sekali tak mau menyerang!

Kalau dia mengelak terus, di satu ketika mungkin sekali harirmau itu berhasil juga mengoyak daging tubuhnya! Kalau dia melawan, sedangkan binatang itu adalah peliharaan orang sakti dengan siapa dia ingin bertemu dan bicara! Inilah yang menyulitkan Kalingundil! Dan sementara dia bertempur demikian rupa, orang yang bersemedi masih juga terus bersemedi, seperti tiada terganggu, seperti tak mengetahui adanya pertempuran yang dahsyat itu!

Satu-satunya jalan bagi Kalingundil untuk tidak mendapat celaka dan tidak mencelakai ialah meninggalkan ruangan putih itu, menghindar keluar untuk sementara, menunggu sampai orang yang bersemedi menyelesaikan semedinya.

Maka ketika harimau itu mengaum dan menyerang, Kalingundil jatuhkan diri ke lantai lalu bergulingan ke arah tangga. Pada saat harimau itu hendak menubruknya sekali lagi. Kalingundil sudah lenyap ke bawah tangga…

Telah tiga hari Kalingundil menunggu di dasar kawah itu. Telah tiga kali pula dia masuk ke dalam ruang putih dan mengintai dari balik anak tangga teratas, namun sampai saat itu orang yang bersemedi masih juga belum meninggalkan batu persemediannya.

Menunggu sampai satu minggupun bagi Kalingundil bukan suatu apa, tapi yang menyusahkannya ialah untuk mendapatkan bahan makanan selama hari-hari penungguan itu.

Empat hari kemudian, pada kali yang ke tujuh Kalingundil mengintai dari balik anak tangga, orang itu dilihatnya masih juga bersemedi. Dengan hati kesal Kalingundil menuruni tangga kembali. Tapi begitu dia keluar dari liang tangga dan sampai di ruang bawah maka mendadak terdengar suara menggema dari ruang putih.

“Manusia yang berani-beranian menginjakkan kaki kotor di tempatku cepat datang menghadap untuk terima hukuman!”

Terkesiap Kalingundil mendengar ini.

“Ayo cepat! Tunggu apa lagi?!” kata suara dari ruang putih.

Kalingundil memutar langkahnya kembali. Dalam melangkah kembali ke liang tangga, terdengar lagi suara tadi.

“Hemm… seorang bertangan buntung macammu sungguh tak pantas masuk ke tempatku! Hukumanmu lipat ganda hai manusia!”

Tentu saja Kalingundil terkejut mendengar ini. Bagaimana orang di dalam ruangan putih itu bisa mengetahui bahwa tubuhnya cacat? Meski dia sakti luar biasa tapi mereka belum pernah bertemu muka dan tak mungkin menurut pikiran Kalingundil orang itu mengetahui hal keadaan dirinya! Kalingundil lupa bahwa dinding dan langit-langit ruangan putih di atas sana tak ubahnya seperti kaca sehingga orang yang ada di ruangan putih akan mudah melihat siapa saja yang ada di ruang bawah!

Kalingundil melompat ke atas dengan gerakan enteng lalu menaiki tangga. Ketika dia muncul di ruangan putih anehnya harimau yang berbaring tidak lagi menyerangnya. Sedang manusia berselempang kain putih masih tetap berdiri dengan kepala di atas batu kaki ke atas! Seperti hari-hari sebelumnya parasnya masih tertutup oleh julaian janggut putihnya yang panjang menjela-jela.

Meski harimau belang tiga itu tidak rnenyerangnya, namun Kalingundil berdiri dengan waspada. “Kau siapa?!” membentak si kepala ke bawah kaki ke atas.

“Namaku Kalingundil. Apakah saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga?” tanyaKalingundil setelah terangkan dia punya nama.

Yang ditanya tak menjawab melainkan ajukan pertanyaan: “Perlu apa kau datang mengotori tempatku ini, manusia tangan buntung?!”

“Harap dimaafkan kalau kedatanganku mengotori tempatmu. Tapi sesungguhnya aku tiada maksud demikian,” kata Kalingundil pula. “Aku…”

“Sudah! Jangan berbacot juga! Melangkahlah lebih dekat untuk terima hukumanmu!”

Sebaliknya justru Kalingundil hentikan langkah. Diperhatikannya manusia yang berdiri jungkir balik di atas batu itu.

“Melangkah lebih dekat!” bentak orang itu. Suaranya menggaung di ruangan putih sedang harimau di sampingnya menggeram tak kalah hebat. “Begawan…”

Kalingundil putuskan kalimatnya. Kaki kiri manusia dihadapannya dilihatnya bergerak. Serangkum angin yang sangat deras melanda ke arah Kalingundil. Ruangan itu bergetar. Dengan jungkir balik secepat yang bisa dilakukannya Kalingundil berhasil elakkan serangan dahsyat itu!

Terdengar suara gelak mengekeh. “Pantas… pantas kau berani petatang peteteng datang ke sini untuk bikin kotor tempatku. Rupanya kau memiliki ilmu yang diandalkan juga! Aku mau lihat apakah kau juga sanggup mempertahankan diri dengan jurus kaki selaksa baja ini?!”

Kepala yang di atas batu itu berputar. Kedua kaki bergerak. Tahu kalau dirinya hendak diserang lagi dengan tendangan jarak jauh yang lebih dahsyat dari tadi, Kalingundil cepat mendahului berseru.

“Begawan! Tahan! Aku datang membawa kabar untukmu!”

Oleh ucapan yang lantang ini maka orang. itu hentikan maksudnya untuk kirimkan serangan: “Aku tidak kenal padamu! Kabar apa yang kau bawa?! Cepat katakan!” hardiknya. Dia masih juga berdiri, dengan kepala ke bawah kaki ke atas seperti tadi.

“Kabar ini kabar buruk Begawan…”

“Sialan! Buruk atau baik cepat katakan! Jangan habiskan, kesabaranku monyet alas!”
Kalingundil pada dasarnya sangat tidak senang mendengar kata-kata makian seperti itu. Namun dia menjawab juga. “Sobat kentalmu Mahesa Birawa menemui kematiannya di tangan seorang manusia keparat…”

Tubuh di atas batu kelihatan bergerak dan tahu-tahu manusia itu kini sudah tegak dengan kedua kakinya di atas batu. Maka kini kelihatannya parasnya yang sejak tadi tertutup oleh geraian janggut putih panjang. Kulit mukanya sangat pucat seperti tiada berdarah. Pipinya cekung dan rongga matanya lebih cekung lagi membuat wajahnya angker sekali untuk dipandang. Rambutnya putih panjang sampai ke bahu sedang janggutnya menjulai sampai ke perut.

Kalingundil menjura memberi hormat. “Jadi betul saat ini aku berhadapan dengan Begawan Sitaraga..?” tanyanya.

Si muka pucat tidak ambil perduli pertanyaan itu.

“Siapa yang bunuh dia dan dari mana kau bisa tahu?!”

Kalingundil segera buka mulut berikan keterangan. “Mahesa Birawa dan beberapa orang Adipati memimpin sejumlah batatentara untuk memerangi Pajajaran. Tapi mereka kalah. Semua Adipati menemui ajalnya. Mahesa Birawa sendiri tewas di tangan seorang pemuda sakti.”

Maka kelihatanlah kerutan-kerutan muncul di paras Begawan Sitaraga yang membuat parasnya menjadi tambah angker. Kedua matanya menyipit, pandangannya setajam mata pedang! Rencana untuk memerangi Pajajaran memang dia sudah tahu lama bahkan sebagaimana perundingannya dengan Mahesa Birawa, dia sendiri telah menjanjikan akan turun tangan membantu pemberontakan Mahesa Birawa karena memang sejak lama dia mempunyai dendam kesumat dengan keluarga istana Pajajaran!

Di puncak Gunung Halimun dia hanya menunggu kabar dari Mahesa Birawa kapan penyerangan dilakukan. Tapi hari ini datang seseorang yang membawa kabar bahwa pemberontakan gagal dan Mahesa Birawa sendiri menemui kematian! Tehtu saja ini tak bisa dipercayainya.

“Aku tidak percaya pada kau punya bicara, manusia tangan buntung!” bentak Begawan Sitaraga.

“Demi apapun aku berani sumpah bahwa aku tidak dusta, Begawan” jawab Kalingundil dengan suara merendah meskipun hatinya gusar karena dipanggil dengan nama “manusia tangan buntung” itu.

“Namamu siapa…”

“Kalingundil.”

“Punya hubungan apa kau dengan Mahesa Birawa?”

“Dia adalah pemimpin dan sobat kentalku sejak tahunan, Begawan…”

“Baik! Tapi aku tidak tahu apa itu betul atau tidak. Jawab pertanyaanku untuk membuktikan kebenaran keteranganmu! Siapa nama Mahesa Birawa sebenarnya…?”

Kalingundil tertawa. “Kau keliwat tidak percaya pada pihak sendiri, Begawan…”

“Siapa akui kau pihakku…? Tampangmu yang jelek inipun baru kali ini aku lihat!”

Kalingundil menggerutu dalam hati.

“Ayo jawab pertanyaanku! Siapa nama asli Mahesa Birawa?!”

“Suranyali!” jawab Kalingundil.

“Hem…” Sitaraga merenung, “Mahesa Birawa seorang berkepandaian tinggi. Tidak semudah itu untuk merenggut nyawanya…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (13)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.