Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (11)

 Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

“Manusia yang merasa bernama Wiro Sableng, merasa bergelar Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, turunlah! Atau aku yang musti naik ke atas bukit itu?!” Terdengar suara laki-laki di bawah bukit.

Pendekar kita keluarkan suara bersiul.

“Tikus buduk cacingan kalau sudah jadi kucing dapur memang berabe!” katanya. “Ada kabar apa kau mengundang aku ke sini kucing dapur…?”

Paras Kalingundil kelam membesi. Dengan suara keras dia menyahuti: “Tadinya aku kira kau tak punya nyali untuk datang ke sini pendekar edan! Hitungan kita tempo hari masih belum selesai…”

“Oho, jadi untuk maksud itukah kau kehendaki pertemuan ini? Bagus sekali Kalingundil. Memang urusan yang belum selesai harus diselesaikan. Benang kusut harus diurai baik-baik kembali!”

“Tepat sekali,” jawab Kalingundil. “Cuma satu hal pendekar gila. Kalingundil yang dulu tidak sama dengan yang kau lihat hari ini!”

Wiro Sableng tertawa bergelak. “Tentu saja. Tadipun aku sudah bilang bahwa dari tikus buduk cacingan kau sudah berubah menjadi kucing dapur. Tapi kau tak banyak berbeda Kalingundil! Tanganmu yang dulu buntung sekarang masih tetap buntung! Seharusnya kau cari tukang kayu yang pandai untuk membuat tangan palsu…!”

Mendidih darah di kepala Kalingundil. Tangan kirinya bergerak, memukul ke atas. Setiup angin biru deras menyambar ke arah Wiro Sableng. Pendekar itu lompat ke samping dengan sebat dan menyaksikan bagaimana tanah bukit tempatnya berdiri tadi terpupus berhamburan laksana longsor dihantam angin pukulan Kalingundil! Diam-diam Wiro Sableng menjadi kagum juga terhadap lawannya itu. Kepada siapakah Kalingundil telah menuntut ilmu selama beberapa bulan ini?

“Pendekar gila, jangan petatang peteteng juga! Turunlah ke pedataran rawa-rawa ini!” teriak Kalingundil. “Turun untuk terima kematianmu!”

“Setiap undangan baik dan buruk pantang kuelakkan, Kalingundil,” sahut Wiro Sableng. Laksana seekor burung garuda dia melompat ke bawah.

Dalam keadaan tubuh melayang di udara itu, Kalingundil kirimkan tiga pukulan tangan kosong sekaligus, beruntun hebat sekali. Pendekar 212 sambut pukulan ini dengan pukulan “benteng topan melanda samudera”!

Maka beradulah pukulan-pukulan dahsyat yang mengandung tenaga dalam yang tinggi itu sehingga menimbulkan suara meletus hebat. Untuk sesaat pendekar 212 merasakan tubuhnya yang melayang di udara laksana tertahan oleh sebuah dinding yang tak kelihatan sedang di bawah sana Kalingundil melesak kedua kakinya sampai dua dim ke dalam tanah!

Sungguh pendekar 212 tidak menyangka kehebatan tenaga dalam Kalingundil berlipat ganda banyak sekali dari beberapa bulan yang lalu! Di lain pihak Kalingundil sendiri mengeluh dalam hati. Waktu melancarkan tiga pukulan beruntun tadi dia telah mengerahkan tiga perempat bagian tenaga dalamnya: Meski dia telah memiliki ilmu silat, yang aneh dan tinggi mutunya namun nyatanya lawan itu masih lebih tangguh!

Kalingundil kertakkan geraham.

“Pemuda gila, terima pukulan jotos siluman biru ini!” bentak Kalingundil. Tangan kanannya dipukulkan ke muka. Sinar biru berkiblat menyambar ke arah pendekar 212 yang saat itu baru saja injakkan kaki kanannya di tanah dekat tepian rawa!

Pendekar kita lompat setinggi empat tombak dan dari atas ganti mengirimkan pukulan balasan yang tak kalah hebatnya.

Pukulan angin menimbulkan suara seperti ratusan seruling yang ditiup secara bersamaan. Debu berputar-putar ke udara, lumpur rawa-rawa seperti mendidih. Kalingundil kerahkan tenaga dalamnya ke kaki untuk mempertahankan diri. Tubuhnya bergetar dilanda angin pukulan lawan namun sepasang kakinya laksana baja tetap bertahan ditempatnya. Penasaran sekali, dengan membentak. Pendekar 212 lipat gandakan tenaga dalamnya dalam pukulan itu!

Kini Kalingundil tak dapat lagi bertahan dengan segala kehebatan yang dimilikinya itu. Kedua kakinya laksana akar pohon berserabutan dari dalam tanah, terlepas dari pertahanannya. Tubuhnya terhuyung keras ke belakang ke arah rawa-rawa maut. Dihantamkannya tangannya ke muka untuk membendung angjn pukulan lawan dan serentak dengan itu dia jungkir balik di udara melompati sebuah rawa kecil dan berdiri di bagian lain dari pedataran! Dengan demikian kedua manusia itu berhadapan satu sama lain. terpisah oleh sebuah rawa-rawa!

Laki-laki bertangan buntung itu tertawa dingin. Tangan kirinya bergerak ke balik pakaian.. Sesaat kemudian di tangan kiri itu tergenggam sebuah pedang buntung yang berwarna biru. Meskipun buntung, melihat kepada kilauan sinar biru dari senjata itu Wiro Sableng maklum bahwa pedang di tangan lawannya adalah sebuah pedang mustika.

“Kau lihat pedang ini, pemuda edan?!” bentak Kalingundil. “Nyawamu ada diujung senjata ini!” Pendekar 212 tertawa mengekeh.

“Orang dan. senjatanya sama saja! Sama-saama buntung!” mengejek murid Eyang Sinto Gendang itu.

Merah padam muka Kalingundil.

“Mengejek memang mudah. Tapi ketahuilah, membunuhmu dengan senjata ini jauh lebih mudah lagi!” kata Kalingundil pula. “Buka matamu lebar-lebar orang gila dan lihat ini!”

Kalingundil menyapukan pedang buntungnya ke arah rawa-rawa di hadapannya. Lumpur rawa itu muncrat ke atas sampai tujuh tombak. Sebagian besar menyibak laksana terbelah sehingga dasar rawa yang hitam legam terlihat jelas beberapa detik lamanya!

“Senjata hebat,” ujar Wiro Sableng dalam hati. “Dalam keadaan buntung demikian luar biasanya. Apalagi kalau dalarn keadaan. Sempurna. Bagaimana ini kucing dapur dapatkan senjata itu…?”

“Kau sudah lihat pendekar gila?!” terdengar bentakan Kalingundil.

“Senjatamu boleh juga, Kalingundil. Tapi dari pada dipakai buat kejahatan lebih baik ditempa untuk membikin sambungan tangan palsumu!”

Marahlah Kalingundil. Disapukannya senjata itu ke arah pendekar 212. Maka berkiblatlah sinar biru yang menyilaukan!

Pendekar 212 tidak bodoh. Dengan cepat dialirkannya tenaga dalamnya ke kedua telapak tangan. Dia melompat ke udara.

“Ciat!”

Didahului oleh bentakan yang menggeledek itu maka Wiro Sableng lepaskan pukulan dinding angin berhembus tindih menindih. Begitu pukulan ini melesat memapasi serangan lawan maka Wiro susul dengan pukulan kunyuk melempar buah yang perbawanya disertai aliran tenaga dalam sampai setengah bagian dari yang dimilikinya!

Pukukan yang pertama membuat serangan Kalingundil tertahan laksana menumbuk dinding karang yang atos. Pukulan yang kedua bukan saja membuat buyar sinar biru dari pukulan Kalingundil, tapi sekaligus melabrak pukulan tersebut sehingga kini Kalingundil yang berada dalam keadaan diserang! Ini memaksa Kalingundil menyingkir dua tombak ke samping. Kemudian tanpa membuang waktu lebih lama laki-laki ini menerjang ke muka. Pedangnya membabat deras, sinar biru yang menghamburkan hawa dingin serta tajam menyambar ke arah pendekar 212!

Wiro Sableng membentak nyaring! Suara bentakannya ini membuat gendang-gendang telinga Kalingundil tergetar. Pedangnya melabrak ke arah perut lawan tapi dalam kejapan itu pula lawannya berkelabat dan lenyap dari pemandangan! Penasaran sekali Kalingundil putar pedang buntungnya demikian rupa. Maka sinar birupun bergulung-gulung mengurung Wiro Sableng!

Sebagaimana kebiasaan pendekar 212, dalam setiap pertempuran yang mulai menghebat maka disaat itu pula mulai terdengar suara siulannya melengking-lengking membawakan lagu tak menentu! Tubuhnya hanya merupakan bayang-bayang kini.

Karena sukar untuk menentukan mana tubuh yang sebenarnya dan mana yang hanya baying-bayang, maka hampir keseluruhan serangan-serangan Kalingundil menghantam tempat kosong. Namun demikian memang permainan silat siluman yang didapat Kalingundil di Gua Siluman tempo hari meskipun cuma sepertiganya saja yang dikuasainya, benar-benar patut dikagumi.

Pendekar 212 tahu bahwa lawannya sampai dua puluh jurus dimukapun tak akan dapat mendesaknya, apalagi melukainya. Tapi di samping itu, pihaknya sendiri sukar pula melakukan serangan balasan karena setiap serangan yang dilancarkan Kalingundil merupakan jurus pertahanan! Demikianlah kehebatan ilmu silat siluman yang dimiliki oleh manusia bertangan buntung itu!

Tapi adalah percuma saja Wiro Sableng menjadi murid dan digembleng selama tujuh belas tahun oleh nenek-nenek sakti Eyang Sinto Gendeng kalau dia tak bisa menghadapi lawan begitu rupa satu lawan satu!

Maka Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 segera robah permainan silatnya. Jurus-jurus yang tak terduga dari Kalingundil dihadapinya dengan jurus-jurus tak teratur yang gerabak gerubuk kian kemari. Kedua tangannya terkembang di kedua sisi laksana sayap burung garuda sedang dari mulutnya senantiasa terdengar suara siulan melengking yang menyamaki liang telinga Kalingundil!

Saat itu kedua orang ini sudah bertempur sampai tiga puluh jurus! Sungguh hebat! Tiga puluh jurus seperti tidak terasa! Dan kini kentara sekali bagaimana Kalingundil terdesak hebat.

Bagaimanapun Kalingundil mempercepat jurus-jurus permainan silatnya, bagaimanapun dia merobah gerakan-gerakannya dan mengamuk laksana banteng terluka, namun tetap saja dia berada dibawah angin, malahan kini terdesak ke arah rawa-rawa maut!

“Ha… ha… rupanya jalan ke nerakamu harus melalui rawa-rawa maut ini, Kalingundil!”

“Budak hina dina jangan ngaco! Sambut bintang silumanku ini!”

Sambil melompat jauh, dengan masih memegang pedang buntung, Kalingundil gunakan tangan kirinya untuk mengirimkan selusin benda berbentuk bintang yang berwarna biru ke arah lawannya.

“Ah… mainan anak-anak ini kenapa musti dipertontonkan?!” ejek pendekar 212. Tangan kanannya diputar ke udara. Serangkum angin puyuh menggebubu dan bintang­bintang siluman itupun berhamburanlah kian ke mari tiada mengenai sasarannya.

Pada detik Wiro Sableng gunakan tangannya untuk menyambuti senjata rahasia lawan maka kesempatan ini dipergunakan oleh Kalingundil untuk melompat ke seberang rawa-rawa kecil.

“Kucing dapur! Kau mau lari ke mana…?!” teriak Wiro Sableng.

Sebagai jawaban Kalingundil lemparkan segulung benda putih ke arah pendekar 212. Mulanya Wiro menyangka benda itu sebuah senjata rahasia, tapi ketika diketahuinya hanya secarik kertas putih yang digulung maka segera ditangkapnya dan di saat itu pula Kalingundil pergunakan kesempatan sekali lagi untuk melompat jauh lalu dengan ilmu larinya yang lihay ditinggalkannya tempat itu.

Wiro tidak punya maksud untuk mengejar laki-laki bertangan buntung itu. Dengan penuh tanda tanya dibukanya gulungan kertas di tangannya. Ternyata selembar surat yang ditujukan oleh Kalingundil kepadanya.

Cacat di tubuhku tak akan terlupa seumur hidup. Kematian kawan-kawanku dan kematian Mahesa Birawa tak akan terlupa selama hayat. Semua itu kau yang menjadi biang sebab.

Hari pembalasan akan tiba! Berani berbuat berani tanggung jawab! Hari tiga belas bulan dua belas kutunggu kau di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Kalau kau tak punya nyali untuk datang lebih baik bunuh diri sekarang juga!

Pendekar 212 penasaran sekali. Diremasnya surat itu. “Sialan betul kucing dapur itu!” gerendang Wiro Sableng. Dia lari ke bukit. Namun bayangan Kalingundil sudah tak kelihatan lagi.

Tantangan yang dibuat Kalingundil di Rawasumpang itu hanyalah sekedar untuk menjajaki sampai di mana kehebatan ilmu silat silumannya bisa menghadapi musuh besarnya itu. Nyatanya Wiro Sableng masih tetap jauh lebih digjaya dari dia. Namun dia tidak kecewa. Pada hari yang telah direncanakannya itu, kelak dendam kesumatnya akan kesampaian. Dan sekaligus di Rawasumpang itu dia telah menyampaikan surat undangan kematian bagi musuh besamya itu. Dia yakin pendekar 212 akan datang ke puncak Gunung Tangkuban Perahu!

~ 9 ~

PUNCAK Gunung Halimun…

Puncak gunung ini kelihatan diselimuti awan putih. Bila angin barat bertiup maka beraraklah awan itu kejurusan timur dan Puncak Gunang Halimun kembali kelihatan dengan jelas dan megah.

Selewatnya tengahari, sesosok tubuh berlari laksana angin, menuju ke puncak gunung. Semakin ke puncak udara semakin sejuk serta segar. Laki-laki itu mempercepat larinya seakan-akan tak sabar untuk lekas-lekas sampai ke tempat yang ditujunya. Maka lewat sepeminuman teh sarnpailah dia ke puncak tertinggi dari gunung itu.

Dia memandang berkeliling. Kernana mata memandang hanya bebatuan saja yang kelihatan. Mulai dari kerikil-kerikil kecil sampai kepada unggukan-unggukan batu besar sebesar­besar rumah! Di kaki-kaki batu-batu besar yang rata-rata licin berlumut itu tumbuh rumput-rumput liar. Laki-laki itu bertangan bunting. Dia tak lain adalah Kalingundil. Mengapa dia berada di puncak gunung ini ialah dalam meneruskan rencana besarnya yaitu membalaskan dendam kesumat terhadap pendekar 212 Wiro Sableng.

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (12)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.