Kamis, 25 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (10)

 Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Si pemuda tertawa. Kedua pengawal itu sekaligus dipanggulnya di bahu kiri kanan kemudian dimasukinya halaman Kadipaten. Pengawal-pengawal yang dipanggul kemudian dilemparkannya ke kandang kuda di belakang rumah. Lewat pintu belakang dia masuk ke dalam gedung Kadipaten yang saat itu belum dikunci. Seorang perempuan separuh umur, yang bekerja sebagat pembantu rumah tangga dan yang saat itu tengah mencuci piring terkejut melihat munculnya seorang pemuda berambut gondrong yang tak dikenalnya. Dan pemuda itu tersenyum kepadanya.

“Kau… kau siapa…?” tanyanya.

Si pemuda masih senyum. Tangan kirinya dilambaikan. Selarik angin tajam menyambar ke leher si perempuan. Perempuan ini hendak berteriak. Namun saat itu mulutnya sudah gagu, lidahnya sudah kelu sedang tubuhnya tak bisa lagi digerakkan akibat totokan jarak jauh yang lihay sekali. Si pemuda kemudian memasukkan perempuan itu ke dalam sebuah bilik kosong di bagian belakang gedung.

Saat itu Adipatit Seta Boga tengah membuang hajat kecil di kamar mandi. Ketika dia masuk kembali ke dalam gedung maka terkejutlah Adipati Linggarjati ini. Betapa tidak!

Di atas kursi goyang, di mana dia sering dudak bila melepaskan lelah, kini dilihatnya duduk enak-enakan sambil memejam-mejamkan mata seorang pemuda berbadan kekar dan berambut gondrong yang sama sekali tidak dikenalnya!

“Setan atau manusia dari mana yang kesasar ke gedungku ini…?” ujar Adipati Seta Boga di dalam hati. Dan pemuda di atas kursi terus juga menggoyang-goyangkan badannya dan kedua matanya masih dipejamkan.

“Siapa kau?!” bentak Adipati itu dengan suara menggeledek dan menggema di empat dinding ruangan.

Kursi goyang itu bergoyang-goyang juga. Pemuda yang duduk di atasnya masih terus duduk enak-enakan dan memejamkan mata. Geram sekali Adipati Seta Boga jadinya. Dengan langkah besar­besar dia maju mendekat kursi goyang dan orang yang mendudukinya. Telapak tangan kanan terkembang dan detik itu juga maka melayanglah tamparannya!

Beberapa saat lagi tangan kanan itu akan mendarat di pipi si pemuda tiba-tiba si pemuda bukakan kedua matanya. Dan seperti alas kursi itu mempunyai per yang melesatkan si pemuda ke atas demikianlah tubuh pemuda itu melayang enteng sampai dua tombak dari kursi yang didudukinya!

Dan sebagai akibatnya maka tangan kanan Adipati Seta Boga kini menghantam sandaran kursi goyang. Sandaran kursi itu pecah. Kayunya berkeping-keping berantakan. Dapat dibayangkan bagaimana jika seandainya tamparan itu mendarat di pipi si pemuda karena tamparan itu tidak boleh tidak tentu mengandung tenaga dalam yang luar biasa!

“Ah… kau rupanya Seta Boga…” kata si pemuda sambil mengusap matanya. “Aku sedang enak-enakan tidur, kau mengganggu saja…!”

“Anjing kurap kenapa kau bisa kesasar ke mari? Apa minta ditebas batang lehermu?!” radang Adipati Seta Boga. Geram sekali dia. Selama menjadi Adipati baru hari ini ada seseorang yang memanggilnya dengan “Seta Boga,” saja!

Sipemuda tertawa dan seperti tak ada hal apa-apa dia duduk kembali seenaknya di atas kursi goyang, kembali bergoyang-goyang dan memejamkan matanya.

“Setan alas betul!” damprat Seta Boga. Sekali kaki kanannya bergerak maka mental dan hancurlah kursi goyang itu. Tapi si pemuda sekejapan sebelum itu sudah melompat dan berdiri di sudut ruangan dekat sebuah meja kecil.

“Kursi bagus ditendang sampai hancur. Kau sudah sinting rupanya Seta Boga?” tanya si pemuda sambil menyengir.

Sementara itu karena suara ribut-ribut di ruang tengah maka istri Seta Boga ke luar dan disamping heran dia juga terkejut melihat apa yang terjadi.

“Kakang ada apakah? Siapa manusia ini?!” tanya perempuan itu.

“Pergi, panggil pengswal!” teriak Seta Boga pada istrinya. Perempuan itu berteriak memanggil pengawal. Namun tiada pengawal yang datang. Dua pengawal Kadipaten sebelumnya sudah dibikin “mendengkur” oleh si pemuda di kandang kuda!

Kegeraman Seta Boga tak terkirakan lagi ketika dilihatnya pemuda berambut gondrong itu mengambil sebatang serutu miliknya dan dalam kotak serutu yang terletak di atas meja kecil di sudut ruangan lalu menyalakannya sekaligus!

Rahang-rahang Seta Boga bertonjolan. Jari-jari tangan kanannya diremas-remaskannya satu sama lain. Sesaat kemudian kelihatanlah jari-jari tangan itu menjadi merah. Warna merah terus menjalar sampai sebatas siku.

“Anjing kurap yang kesasar, hari ini terima nasibmu harus mampus oleh pukulan wesi geniku!” Tangan kanan yang merah itu dipukulkan ke muka. Selarik angin yang tidak terkirakan panasnya menggebubu ke arah si pemuda.

Tubuh si pemuda berkelebat.

“Wuss!”

“Brak!”

Istri Seta Boga menjerit.

Dinding di muka mana pemuda itu tadi berdiri hancur berlubang dan menjadi hitam hangus! Orang yang diserang kelihatan disudut ruangan sebelah kanan, asyik-asyikan menyedot serutu!

Dada Seta Boga menjadi sesak oleh amarah yang meluap. “Siapa kau sebenarnya ?!” bentak Adipati Linggarjati.

Si pemuda batuk-batuk lalu cabut serutunya dari sela bibir. “Namaku…?” ujarnya. “Masakan kau tidak tahu?!”

“Setan alas…!”

Si pemuda tertawa menanggapi makian itu.

“Namaku Tapak Luwing,” katanya. “Aku datang untuk menyerahkan sebagian dari uang pungutan pajak di desa Bojongnipah. Ini terimalah…!”

Si pemuda mengeruk saku bajunya. Sesuatu dalam genggamannya kemudian dilemparkannya ke arah Adipati Seta Boga. Laki-laki ini cepat menghindar dan lambaikan tangan kanannya. Benda yang dilemparkan ternyata adalah kira-kira selusin kalajengking yang saat itu sudah mati dan bertebaran di lantai. Istri Seta Boga memekik lalu lari ke dalam kamar. Si pemuda tertawa bekakakan!

Adipati Seta Boga tak menunggu lebih lama menyambar sebuah tombak yang dipanjang di dinding. Dengan senjata ini dia kemudian menyerang si pemuda! Si pemuda tenang-tenang selipkan serutunya ke bibir, menghisapnya dengan cepat lalu menghembuskan asapnya ke arah Seta Boga. Adipati ini terpaksa melompat ke samping sekali lagi karena asap serutu itu mengandung tenaga dalam dan menyambar ke arah kedua matanya!

Dari samping kini Seta Boga melancarkan serangan. Tombak di tangannya membabat kian kemari. Tangan kiri melakukan pukulan-pukulan tangan kosong jarak jauh beberapa kali berturut­turut! Inilah jurus “kitiran dan alu sabung menyabung” Jurus ini biasanya dilaksanakan dengan memakai pedang. Tapi dengan tombakpun kehebatannya tidak olah-olah.

Tapi betapa terkejutnya Seta Boga ketika si pemuda dengan tertawa-tawa berkata: “Ah, cuma jurus kitiran dan alu sabung menyabung, siapa takut? Sambuti serangan balasan ini, Seta Boga!”

Demikianlah, meskipun diserang tapi si pemuda bukannya mengelak malahan menyambut dengan serangan pula!

“Ini jurus membuka jendela memanah rembulan Seta Boga!” kata si pemuda. Lengan kirinya dipukulkari melintang dari atas ke bawah sedang tangan kanan meluncur ke atas dalam gerakan yang cepat sekali dan sukar dilihat oleh mata!

“Ngek”

“Buk!”

Tombak di tangan Seta Boga terlepas mental karena lengannya kena dibabat oleh lengan lawan. Suara ngek yang ke luar dari tenggorokannya adalah akibat urat besar di bawah dagunya telah kena ditotok oleh sipemuda. Di saat itu pula tubuhnya tak bergerak lagi alias kaku tegang! Karena sebelum ditotok Seta Boga telah menyeringai kesakitan akibat benturan lengan lawan maka di saat tubuhnya menjadi kaku itu, mimik parasnya sungguh tak sedap untuk dipandang!

Si pemuda cabut serutu dari sela bibirnya don meniupkan asap serutu itu ke muka Seta Boga. “Sayang sekali,” katanya. “Jurus kitiran dan alu sabung menyabungmu terpaksa bertekuk lutut di bawah jurus membuka jendela memanah rembulanku…”

Ditiupkannya lagi asap serutu ke muka Seta Boga. Totokan pada urat besar di bawah dagu Seta Boga tetah melumpuhkan tubuhnya, membuat mulutnya menjadi gagu dan, perasaannya menjadi tumpul. Cuma telinganya saja saat itu yang masih sanggup mendengar. Maka berkatalah si pemuda. “Dengar Seta Boga… besok Ki Lurah Kundrawana dan penduduk Bojongnipah akan datang ke sini. Kalau nasibmu baik kau akan mereka seret ke hadapan Raja di Kotaraja. Tapi kalau nasibmu buruk, mereka akan mengeremusmu beramai­ramai! Dan sebelum aku pergi, terima hadiah kenang-kenangan ini dariku…”

Si pemuda acungkan jari telunjuk tangan kanannya. Dengan mempergunakan ujung jari itu diguratnya tiga buah angka di kening Seta Boga, 212…!

Ketika pada keesokan harinya Ki Lurah Kundrawana dan dua lusin penduduk Bojongnipah bersenjata lengkap datang ke gedung Kadipaten di Linggarjati, mereka heran menemui gedung itu dalam keadaan kosong. Tak satu manusiapun ada di dalamnya.

“Pasti Adipati keparat itu sudah melarikan diri!” Kata Kundrawana geram.

Tiba-tiba terdengar seseorang berteriak dari belakang gedung. Ketika Kundrawana dan yang lain-lainnya pergi ke belakang gedung mereka hampir tak percaya dengan penglihatan mereka. Lima orang kelihatan berdiri tak bergerak-gerak di kandang kuda. Di sebelah muka adalah Adipati Seta Boga dan istrinya. Di kiri kanan mereka pengawal­pengawal Kadipaten dan di sebelah belakang perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga! Ketika diperiksa kelimanya masih dalam keadaan bernafas dan ditotok urat darah mereka.

Ki l:urah Kundrawana memandang pada angka 212 yang tertera di kening Adipati Seta Boga. “Dua satu dua...” desisnya. Dia hanya goleng-goleng kepala lalu memerintah: “Perempuan-perempuan dan pelayan lepaskan totokannya. SetaBoga kita seret ke Kotaraja!”

***

Pendekar kapak maut naga geni 212 Wiro Sableng melangkah pelahan menuju ke tepi sungai. Di tempat yang agak kelindungan dia membuka pakaian dan mandi membersihkan diri Sambil mandi itu kadang-kadang dia tertawa sendiri bila mengingat kejadian malam tadi di Kadipaten Linggarjati. Mungkin pagi itu Kundrawana sudah sampai di Linggajati, mungkin masih dalam perjalanan. Satu manusia jahat, satu kejahatan telah berakhir. Tapi pendekar 212 tahu bahwa selama dunia terbentang, selama itu pula kejahatan tak pernah akan berakhir!

Selesai mandi badannya terasa segar. Matahari sudah mulai tinggi. Suara siulan ke luar dari sela bibirnya sedang pikirannya mengingat-ingat pertempurannya dengan Tapak Luwing dan laki-laki yang telah melarikan Tapak Luwing serta menantangnya itu.

Tantangan ini mengingatkannya pada pertempurannya di Gua Sanggreng dengan Bergola Wungu tempo hari. Kali ini untuk kedua kalinya dia ditantang. Siapa pula gerangan kali ini yang menantangnya?

“Hidup ini memang penuh tantangan? Tantangan yang timbul dari diri kita sendiri dan dari diri manusia-manusia lain… Sungguh gila kehidupan ini! Tapi kegilaan inilah yang mendatangkan kenikmatan…” Maka siulan pendekar 212 itu semakin meninggi dan melengking membawakan lagu tak menentu.

Tentang diri manusia yang telah melarikan Tapak Luwing itu hanya dua hal yang diketahui oleh Wiro Sableng. Pertama, dalam kegelapan malam dia melihat bahwa manusia itu buntung tangan kanannya. Kedua, ketika dia melancarkan pukulan kunyuk melempar buah dengan mempergunakan sepertiga bagian dari tenaga dalamnya, manusia bertangan buntung itu telah menyambuti pukulan tersebut dengan selarik sinar biru!

Dan pukulan kunyuk melempar buah telah terbendung oleh selarik sinar biru itu! Ini membawa pertanda bahwa si tangan buntung itu siapapun adanya pastilah memiliki ilmu yang tinggi. Pendekar 212 menduga manusia ini mungkin sekali guru atau kakak seperguruan Tapak Luwing.

Dikenakannya pakaiannya kembali dan diteruskannya perjalanannya.

Rawasumpang satu daerah tandus penuh rawa-rawa maut yang menghisap setiap benda apa saja yang masuk ke dalamnya. Daerah ini terletak empat kilo di sebelah timur Linggajati. Kesinilah Wiro Sableng menuju.

Angin dari utara bertiup kencang membuat pakaian dan rambutnya yang gondrong berkibar-kibar. Dia memandang ke bawah. Pedataran luas penuh rawa-rawa maut itu sunyi sepi. Tak satu manusiapun yang dilihatnya. Wiro memandang ke langit. Matahari tengah bergerak dalam gerakan yang tidak kelihatan menuju ke titik tertingginya.

Tiba-tiba dari arah timur terdengar suara bergelak yang santar sekali! Pendekar kita berpaling ke arah itu. Sesosok tubuh laksana anak panah berlari kencang sekali di pedataran luas di sela-sela tebaran rawa-rawa. Begitu suara gelaknya hilang maka tubuhnya sudah berada di bawah bukit di mana pendekar 212 berada. Bukit itu tidak berapa tinggi dan dalam jarak sejauh itu Wiro Sableng segera dapat mengenali siapa adanya manusia yang bertangan buntung itu.

“Kalau dia yang menjadi penantangku malam tadi, pastilah dia telah memiliki ilmu yang tinggi dan sangat diandalkan…,” kata Wiro Sableng dalam hati. “Tapi…” ujarnya lagi, “bagaimana mungkin dalam tempo beberapa bulan saja kepandaiannya sudah seluar biasa ini…?”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (11)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.