Rabu, 24 Mei 2017

Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (1)

 Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti

Wiro Sableng Episode #3: 
Dendam Orang-orang Sakti
Karya: Bastian Tito

~ 1 ~

LUKA besar di bekas kutungan tangan kanannya itu membuat tenaganya semakin lama semakin mengendur. Kalau tadi dengan segala tenaga yang ada macam manusia dikejar setan dia melarikan diri dari pekuburan Djatiwalu itu, maka kini jangankan lari, berjalan melangkahpun dia sudah tidak sanggup. Tubuhnya terhuyung-huyung. Nafasnya megap­megap seperti mau sekarat!

Saat itu dia berada di tepi sebuah jurang. Dalam larinya tadi dia tak memperhatikan lagi ke mana tujuannya sehingga di mana dia berada saat itu adalah satu tempat yang jarang didatangi manuisia. Sunyi senyap mencengkam menegakkan bulu roma.

Matanya yang berkunang-kunang, pemandangannya yang semakin mengelam dan daya tenaga yang sudah habis sampai ke batasnya membuat tubuhnya tak ampun lagi jatuh terperosok ke dalam jurang ketika salah satu kakinya terserandung di bebatuan yang menonjol di tepi jurang.

Masih untun jurang itu bukanlah jurang batu, tapi jurang yang penuh ditumbuhi semak belukar. Tubuhnya menggelinding ke bawah membentur semak belukar mengait ranting-ranting pepohonan rendah. Sakit tubuhnya bukan main, apalagi bekas luka kutungan di tangan kanannya. Ketika dia terhampar di dasar jurang, dia tiada sadarkan diri lagi!

Bila dia sadarkan diri maka saat itu matahari sudah hamper tenggelam. Keadaan di dasar jurang sunyi itu gelap dan dingin karena pantulan sinar matahari yang terakhir tidak sampai menyaputi dasar jurang di mana dia berada. Dia berpikir-pikir di mana dia terbujur saat itu. Kemudian denyutan rasa sakit yang amat sangat pada bahu kanannya yang bunting dan masih melelehkan darah itu, membuat dia ingat segala sesuatunya apa yang telah terjadi.

Dia, Kalingundil, beberapa jam yang lalu telah bertempur melawan seorang pemuda sakti bernama Wiro Sableng. Dalam pertempuran itu bukan saja dia terpaksa melarikan diri tapi juga terpaksa kehilangan tangan kanannya karena telah dibetot puntung oleh lawannya!

Dan mengingat ini, diantara rasa sakit yang tiada terkirakan, memerih pula rasa dendam kesumat yang amat sangat. Walau bagaimanapun dia musti dapat meneruskan hidupnya, meski cuma bertangan sebelah. Meski bagaimanapun dia harus dapat membalaskan dendam kesumat akibat perbuatan pemuda Wiro Sableng yang telah membuat dia cacat seumur hidup itu.

Ketika kedua matanya melihat bintang-bintang yang bermunculan di langit di atasnya barulah disadarinya bahwa hari sudah menjadi malam. Kalingundil tahu bahwa semalam­malaman itu dia tak akan bisa terus terbujur di situ. Dipalingkannya kepalanya ke kanan. Hanya semak belukar dan pohon-pohon berdaun lebar yang dilihatnya dalam kegelapan. Kemudian dipalingkannya pula kepalanya ke samping kiri.

Mula-mula juga hanya kegelapan yang dilihat lelaki itu. Namun samar-samar kemudian diantara semak belukar dalam kegelapan itu matanya masih dapat melihat satu legukan batu di dasar jurang. Jaraknya dengan tempat dia terbujur saat itu kira-kira sepuluh tombak. Dari pada terbujur di tempat terbuka begitu, Kalingundil berpikir lebih baik pindah tempat ke cegukan batu itu.

Tapi dengan keadaan dan kekuatan badan seperti itu tidak mudah bagi Kalingundil untuk berpindah tempat. Jangankan untuk berdiri, merangkakpun tidak bisa. Jangankan utnuk beringsut, bergerak sedikitpun sekujur tubuhnya terasa sakit bukan main, tulang-tulang anggotanya serasa bertanggalan!

Namun dengan keyakinan penuh untuk bisa menyelamatkan diri, dengan mengumpulkan segala sisa tenaga yang masih ada, seingsut demi seingsut akhirnya berhasil juga Kalingundil mencapai legukan batu itu. Ternyata legukan ini adalah mulut sebuah goa. Dan pada saat itu dia berhasil mencapai mulut goa itu, untuk kedua kalinya Kalingundil jatuh pingsan kembali.

Kalingundil sadarkan diri pada keesokan paginya. Beberapa jam sesudah matahari terbit. Anehnya tubuhnya terasa lebih mendingan dibandingkan dengan keadaan hari kemarin. Kalingundil tak habis pikir, kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan ketika dia coba menggerakkan badan dirasakannya kekuatannya yang malam tadi sudah habis sampai ke batas terakhir kini mulai berangsur kembali.

Dia duduk bersandar ke dinding goa. Pada saat itulah dirasakannya bahwa dari dalam goa keluar semacam hawa yang lembab ngilu-ngilu kuku. Hawa inilah agaknya yang telah mempengaruhi keadaan diri Kalingundil yang telah memberikan kepulihan kekuatan kepadanya.

Kemudian sewaktu dia memandang meneliti ke dinding goa di sekelilingnya, samar­samar, tertutup oleh debu yang menebal, tergugus oleh ketuaan zaman, Kalingundil melihat banyak sekali tulisan-tulisan. Tulisan-tulisan ini kacau balau tak teratur, tapi bila dibaca dan disambung satu persatu, akan merupakan rentetan kalimat yang memberi pengertian pelajaran ilmu silat!

Semakin lebar Kalingundil membuka kedua matanya. Apa yang dibaca olehnya itu memang sulit dimengerti mula-mula, ini lain tidak karena tulisan itu menerangkan tentang pelajaran silat yang memang mempunyai dasar-dasar aneh serta tak diketahui dari cabang aliran mana. Semakin naik matahari, semakin baikan terasa oleh Kalingundil keadaan badannya.

Dengan mebungkuk-bungkuk dan tertatih-tatih, setelah habis dibacanya sekalian apa yang tertulis dibagian goa sebelah luar itu maka Kalingundil memasuki goa lebih jauh. Semakin ke dalam semakin terasa hawa lembab yang hangat-hangat ngilu-ngilu kuku tadi. Menghirup udara itu Kalingundil merasakan tubuhnya segar, dadanya lega. Dan semakin ke dalam semakin banyak banyak dilihat Kalingundil tulisan-tulisan.

Apa yang tertulis kini adalah mengenai pelajaran ilmu pedang yang aneh dan tak pernah didengar oleh Kalingundil sebelumnya. Tapi sayang sebagian besar tulisan-tulisan yang bersifat pelajaran itu sudah tidak kelihatan atau kabur tak dapat dibaca lagi.

Hawa hangat ngilu-ngilu kuku semakin santar terasa. Kalingundil terus juga masuk ke dalam goa itu sampai akhirnya langkahnya terhenti pada satu pemandangan yang hampir tak dapat dipercayainya.

Goa itu berakhir pada sebuah telaga kecil. Telaga ini lebih tepat disebut kolam karena tepinya dikelilingi oleh batu-batu. Air telaga berwarna biru gelap dan mengepulkan asap kebiruan. Asap inilah yang berhawa hangat ngilu-ngilu kuku dam mempunyai kekuatan ajaib yang menyegarkan tubuh Kalingundil!

Di tengah kolam itu terdapat sebuah batu licin yang juga berwarna biru dan diatas batu ini terletak sebuah pedang yang telah buntung, yang panjangnya cuma dua jengkal. Seperti air kolam dan batu licin, senjata ini juga berwarna dan memancarkan sinar biru. Mengapa pedang itu tinggal buntung sedemikian rupa, kemana bagian yang lancip lainnya? Dan mengapa sampai benda itu berada di situ?

Berdiri beberapa lama di tepi kolam itu Kalingundil merasakan badannya semakin segar. Sedang ketika diteliti luka di bahu kanannya yang buntung itu, luka itupun kelihatannya lebih sembuhan dari saat-saat sebelumnya.

“Air kolam ini mengandung khasiat yang hebat...” pikir Kalingundil.

Dia membungkuk untuk menyiduknya dan sekaligus untuk melihat lebih dekat pedang buntung yang di atas batu. Namun setengah membungkuk, gerakannya terhenti. Di dinding goa di sebelah belakang kolam, di balik kepulan asap samar-samar terlihat barisan huruf-huruf yang sudah agak sukar untuk dibaca tapi masih dapat dikira-kirakan oleh Kalingundil.

Di situ tertulis:

GOA INI “GOA SILUMAN BIRU”
KOLAM INI “KOLAM SILUMAN BIRU,”
PEDANG DI ATAS BATU “PEDANG SILUMAN BIRU,”
CUMA SAYANG KINI HANYA TINGGAL HULU DAN BUNTUNG,
SIAPA BISA MENDAPATKAN UJUNG PEDANG YANG HILANG 
DAN MENYAMBUNGNYA,
SIAPA YANG MEMPELAJARI ILMU PEDANG DALAM GOA INI, 
AKAN MENJADI “RAJA PEDANG” SEUMUR HIDUPNYA.

Membaca rangkaian kalimat itu, Kalingundil kemudian memandang berkeliling. Apa­apa yang telah dibacanya tadi sejak dari mulut goa sampai ke tepi kolam yaitu tulisan-tulisan di dinding goa semuanya memang merupakan suatu ilmu silat dan ilmu pedang yang aneh.

Segala sesuatu yang ditemuinya di dalam goa itu memberikan kenyataan kepada Kalingundil bahwa dulunya goa itu adalah tempat kediaman seorang sakti yang bersenjatakan pedang bernama “Pedang Siluman Biru” itu. Tapi kenapa pedang itu kini hanya tinggal begitu rupa, dan ke mana buntungnya yang lain?

Untuk keda kalinya Kalingundil membungkuk. Dengan tangan kirinya dijangkaunya pedang Siluman Biru. Pada detik jari-jari tangannya memegang hulu senjata itu maka aneh sekali mengalirlah suatu aliran yang membuat kekuatan Kalingundil dan keadaan tubuhnya benar-benar pulih seperti sediakala! Bahkan bukan itu saja, kini tubuhnya juga terasa lebih enteng. Dan ketika dicobanya menyiduk air kolam, lebih banyak kekuatan-kekuatan dan keanehan-keanehan baru yang dialaminya!

Kalingundil gembira sekali.

Tanpa menunggu lebih lama dia berlutut di tepi kolam dan berkata: “Pemilik Goa Siluman Biru, dimanapun kau berada, siapapun kau adanya, aku Kalingundil mengucapkan terima kasih karena apa yang ada dalam goamu ini telah menyembuhkan aku dari sakit dan luka yang aku alami. Hari ini aku – Kalingundil – mengharapkan segala kerelaanmu untuk sudi mengangkat kau sebagai guru. Apa-apa yang tertulis di goamu ini akan kupelajari dengan tekun…”

Demikianlah mulai hari itu dengan seorang diri dia menekuni setiap apa yang tertulis di dinding goa. Ilmu silat dan ilmu pedang yang coba dipelajarinya seorang diri itu yang hilang dan tak terbaca sehingga dari keseluruhan Ilmu Pedang Siluman yang dipelajari Kalingundil, hanya sepertiganya saja yang berhasil didapat dan difahami oleh Kalingundil.

Namun demikian itupun sudah luar biasa sekali. Sehingga empat bulan kemudian ketika dia keluar dari Goa Siluman itu, maka Kalingundil yang kini sudah berobah seratus delapan puluh derajat dalam ilmu persilatan! Dan ini menambah keyakinan Kalingundil bahwa dia akan berhasil menuntutkan sakit hatinya terhadap pendekar 212, Wiro Sableng!

~ 2 ~

MENCARI seorang musuh di daratan pulau Jawa yang luas bukan suatu pekerjaan mudah. Ratusan kilometer harus dijalani, puluhan bukit harus didaki dan dituruni, belasan sungai musti diarungi, diseberangi belasan rimba belantara harus dimasuki dan diantara semua itu puluhan halangan harus dihadapi.

Halangan atau bahaya yang ditimbulkan alam sendiri serta yang ditimbulkan oleh manusia-manusia yang hidup dalam itu, terutama sekali dalam rimba dunia persilatan! Mungkin berbulan-bulan, mungkin pula bertahun-tahun baru musuh besar itu berhasil dicari. Tapi sebaliknya mungkin pula itu tak pernah berhasil, mungkin si pencari musuh besar itu akan tertimpa bahaya lebih dahulu dalam perjalanan dan meregang nyawa sebelum dendam kesumat terbalaskan.

Kalingundil tahu semua itu. Tapi dia tidak khawatir. Dengan ilmu baru yang kini dimilikinya, meski tidak sempurna, dia yakin akan sanggup untuk menghadapi segala sesuatu dalam perjalanannya mencari Wiro Sableng pendekar 212, musuh besar yang telah membuat tangannya buntung, yang telah membuat dia cacat seumur hidup!

Disamping itu Kalingundil memang sudah punya rencana tersendiri untuk menjelaskan persoalan dendamnya dengan pendekar 212. Dia yakin akan dapat menemui pemuda sakti itu dan dia yakin pula bahwa rencana besarnya untuk menuntut balas akan berhasil!

Pertama sekali ditemuinya Mahesa Birawa atau Suranyali di Pajajaran karena terakhir sekali diketahuinya bekas pemimpin dan guru silatnya itu tengah berada di kerajaan itu. Namun sampai di sana Kalingundil kecewa besar. Bahkan juga dendam yang ada di dalam hatinya jadi tiada terkirakan bahwa Mahesa Birawa telah menemui ajalnya, mati ditangan Wiro Sableng, sewaktu terjadi pemberontakan besar-besaran tempo hari.

Dengan segala dendam kesumat yang semakin dalam berurat berakarnya itu Kalingundil meninggalkan Pajajaran. Diseberanginya sungai Kendang, diteruskannya perjalanan ke bukit Siharuharu yang terletak tak berapa jauh dari kaki gunung.

Pada masa itu di puncak bukit Siharuharu terdapat sebuah perguruan silat yang bernama Perguruan Teratai Putih. Perguruan ini baru tiga tahun berdiri tapi sudah mendapat nama tenar di di sapanjang daerah perbatasan Jawa barat dan Jawa Timur.

Bukan saja karena Perguruan Teratai Putih ini didirikan untuk menolong kaum yang lemah dan menghancurkan golongan hitam penimbul segala kebejatan dan malapetaka serta kemaksiatan tapi juga adalah karena perguruan silat ini dipimpin oleh seorang tokoh yang sejak sepuluh tahun belakangan ini mendapat nama tenar dalam dunia persilatan. Tokoh ini ialah Wirasokananta, seorang tokoh silat yang berumur lebih dari setengah abad.

Pada saat itu Wirasokananta berada di puncak Gunung Galunggung tengah bertapa memperdalam ilmu bathin dan dan mempersuci diri dari segala kekhilafan-kekhilafan dan dosa-dosa yang pernah dibuatnya selama hidupnya. Pimpinan perguruan diserahkannya pada murid tertua, terpandai dan yang paling dipercayainya yaitu Gagak Kumara.

Perguruan Teratai Putih saat itu kelihatan diselimuti suasana ketenangan. Di dalam rumah besar murid-murid perguruan yang berjumlah delapan orang, enam laki-laki dan dua perempuan duduk bersila dengan khidmat mendengarkan apa uyang tengah dibacakan oleh Gagak Kumara yaitu sebuah kitab yang ditulis oleh guru mereka, mengenai sastra hidup, kerohanian, kebathinan dan keduniaan.

Suara Gagak Kumara terang dan jelas, sedap didengarnya sehinga setiap nasihat dan pelajaran yang dibacakannya dapat segera dimengerti oleh saudara-saudara seperguruannya yang tujuh orang itu.

“Dalam hidup ini…” membaca Gagak Kumara, “setiap manusia akan dan musti melalui tiga tahap kehidupan. Pertama saat atau dimana dia dilahirkan dari rahim ibunya ke atas dunia ini. Kedua tahap selama umur kehidupannya di dunia dan ketiga tahap dia meninggalkan dunia ini, kembali pada asalnya atau mati…”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Dendam Orang-orang Sakti (2)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.