Selasa, 23 Mei 2017

Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 9)

 Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran

Sementara itu di atas kereta Rara Murni berusaha melawan dan meronta-ronta, menerjang dan meninju laki-laki yang hendak menyeretnya turun secara paksa. Namun apalah kekuatan seorang perempuan. Dalam waktu sebentar saja segera laki-laki berkerudung itu dapat membekuknya. Rara Murni dinaikkan ke atas kuda.

“Lemparkan ketlga mayat itu ke dalam kali!” perintah laki-laki berkerudung yang sudah naik ke atas punggung kudanya.

“Juga kereta itu!” Tiga mayat pengawal dilemparkan ke dalam kali. Kuda penarik kereta melonjak-lonjak dan meringkik keras ketika tiga manusia berkerudung itu mendorong kereta ke dalam kali!

Dalam waktu yang singkat keempat orang itu segera berlalu. Yang tinggal kini di tempat itu hanya bekas-bekas pertempuran, darah, mayat, kereta dan kuda yang masih terus meringkikringkik sementara tubuhnya dengan perlahan tapi pasti tenggelam ke dalam kali!

~ 11 ~ 

Lembah Limanaluk satu daerah yang jarang didatangi manusia. Daerah ini sunyi sepi, ditumbuhi pohon-pohon raksasa dan semak belukar lebat. Ke sinilah keempat manusia berkerudung itu membawa Rara Murni. Di hadapan sebuah kuil tua mereka berhenti dan menurunkan gadis itu yang sampai saat itu masih terus juga melawan dengan segala daya yang ada.

“Rara Murni, kalau kau tak banyak cingcong aku tak akan perlakukan kau dengan kekerasan…”

“Lepaskan aku!” teriak Rara Murni.

“Masuklah ke dalam kuil sana!”

“Tidak!” dan Rara Murni berusaha hendak lari namun tangannya segera kena dicekat.

Laki-laki berkerudung yang bertindak sebagai pemimpin tiga orang lainnya berpaling, lalu katanya pada ketiga orang itu: “Kalian kembalilah. Beritahukan bahwa tugas kita berhasil baik!”

Tiga laki-laki berkerudung segera lompat kembali ke atas punggung kuda masing-masing dan meninggalkan tempat itu. Yang seorang tadi menyeret Rara Murni ke dalam kuil. Kuil itu sebuah kuil tua yang sudah tak dipakai lagi. Batu dindingnya sudah pada luruh dimakan umur. Sebuah arca besar yang terdapat di pojok kuil sebagian mukanya rusak dan tangan serta kakinya sudah buntung.

“Lepaskan aku dari sini!” teriak Rara Murni untuk kesekian kalinya. Suaranya mulai parau.

“Kau terlalu banyak cerewet, Rara Murni.” kata laki-laki berkerudung. Kedua bola matanya berkilat-kilat memandangi paras dan tubuh gadis itu.

“Tapi…” kata orang ini kemudian.

“Kau mungkin tak akan banyak ulah bila mengetahui siapa aku.” Habis berkata begitu laki-laki ini membuka kerudung penutup mukanya.

Kaget Rara Murni bukan kepalang. Seperti tak percaya dia akan pandangan kedua matanya. Betapakah tidak! Laki-laki berkerudung itu ternyata adalah salah seorang kepala pasukan kerajaan yang cukup dikenalnya.

“Kalasrenggi!” Kalasrenggi tertawa mengekeh.

“Kau sudah lihat mukaku dan tahu siapa aku. Apa kau juga masih mau cerewet?”

“Apa maksudmu dengan semua ini, Kalasrenggi?!’

“Apa maksudku? Kau akan lihat saja nanti!”

“Pengkhianat! Pengkhianat terkutuk kau Kalasrenggi! Kau sadar apa akibatnya kalau kakakku mengetahui perbuatanmu ini?!”

“Kakakmu tak akan pernah mengetahuinya!”

“Aku akan adukan dan kau akan dibuang ke pulau Neraka! Tempat pengkhianat-pengkhianat kerajaan!” Kalasrenggi tertawa lagi. Matanya semakin berkilat-kilat memandangi paras Rara Murni. Memang sesungguhnya sudah sejak lama laki-laki ini secara diam-diam merasa tertarik dan jatuh hati terhadap Rara Murni. Kini berada berdua-dua di tempat sunyi itu, hasrat yang terpendam itu menjadi berkobar-kobar memanasi darah dan tubuhnya.

“Mungkin kau tak akan pernah punya kesempatan untuk mengadu Rara Murni. Kepalamu cukup bagus untuk jadi benda persembahan kepada kakakmu sendiri!” Rara Murni terkejut.

“Apa maksudmu?” Kalasrenggi tertawa. Tawa yang menjijikkan Rara Murni. Katanya: “Kalau kau mau menuruti apa yang aku katakan, mungkin aku masih bisa menyelamatkan kau dari kematian…”

“Kau benar-benar pengkhianat terkutuk! Terkutuk!”

Masih dengan tertawa yang menjijikkan itu Kalasrenggi melangkah maju mendekati Rara Murni. Matanya berkilat-kilat, cuping hidung kembang kempis dan dadanya bergejoiak. Melihat ini Rara Murni segera melangkah mundur. Mundur sampai punggungnya membentur dinding kuil. Sebelum dia sempat lari ke pintu jari-jari tangan Kalasrenggi yang besar-besar dan panas digelorai nafsu telah mencekal lengannya.

“Kenapa musti takut…?” ujar laki-laki itu. Nafasnya yang keras dan panas menghembushembus ke muka Rara Murni.

“Keparat! Lepaskan tanganku! Lepaskan!” teriak Rara Murni. Tiba-tiba Kalasrenggi menyentakkan tangan itu. Rara Murni tenggelam ke dalam pelukannya yang beringas dan ganas. Ciumannya bertubi-tubi di paras jelita gadis itu. Rara Murni memekik. Meronta dan memekik!

Badannya ditekan erat-erat ke dinding kuil oleh Kalasrenggi, membuatnya hampir tak bisa meronta dan menghindarkan kepalanya dan ciuman-ciuman laki-laki itu. Bahkan Rara Murni tak bisa berbuat sesuatu apa ketika Kalasrenggi dengan beringasnya menarik kain yang menutupi dadanya! Rara Murni memekik lagi ketika badannya digulingkan ke lantai kuil. Kedua kakinya dilejang-lejangkannya.

Namun lejangan-lejangan ini hanya membuat kain yang dipakainya menjadi turun sampai ke paha. Pemandangan ini membuat nafsu yang sudah menggejolak dalam diri Kalasrenggi jadi mengamuk dengan dahsyat. Rara Mumi menjerit tiada henti-hentinya. Menjerit meski dia tahu bahwa jeritan itu tak ada artinya bagi Kalasrenggi, menjerit meskipun tahu bahwa dia dalam keadaan begitu rupa tak akan mungkin lagi menyelamatkan diri dan kehormatannya!

Dalam nafsu yang mengamuk itu mendadak Kalasrenggi merasakan sesuatu menyambar di atas punggungnya. Belum lagi dia sempat palingkan kepala untuk melihat benda apa yang menyambar itu maka terdengarlah suara bergedebukan di lantai kuil! Dan sesaat bila Kalasrenggi memalingkan kepala maka terkejutlah dia, terkejut seperti melihat setan berkepala tujuh! Tiga sosok tubuh bergeletakkan di lantai kuil!

Bukan saja tiga sosok tubuh yang bergeletakkan itu yang mengejutkan Kalasrenggi tapi terlebih lagi ialah ketika mengenali bahwa ketiga manusia ini adalah anak buahnya sendiri, yang tadi disuruhnya kembali ke Kotaraja untuk memberikan laporan pada Raden Werku Alit bahwa tugas penculikan atas diri Rara Mutni telah dilaksanakan. Nafsu yang membara di tubuh Kalasrenggi dengan serta merta mengendur dan lenyap sama sekali.

Perlahan-lahan laki-laki ini berdiri dan meninggalkan Rara Murni yang tadi hampir saja menjadi mangsa kebejatannya.

Ketika diperhatikannya ketiga anak buahnya itu ternyata tidak bernafas lagi alias sudah menjadi mayat! Muka-muka mereka membiru sedang pada kening masing-masing dilihatnya tiga deretan angka-angka 212. Muka yang biru itu diketahuinya adalah akibat pukulan atau tamparan yang ampuh sekali. Tapi adanya angka-angka 212 pada kening ketiga orang ini adalah tidak dimengerti sama sekali oleh Kalasrenggi!

Pada saat dirinya dilepaskan oleh Kalasrenggi maka pada saat itu pula dengan serta merta Rara Murni bangkit berdiri dan hendak lari ke pintu kuil. Namun baru tiga langkah kedua kakinya bergerak, gadis ini hentikan langkah, darahnya tersirap dan mukanya memucat. Pada pintu kuil sesosok tubuh yang memakai kerudung hitam berdiri dengan bertolak pinggang.

Tak bisa tidak pastilah manusia ini anak buah Kalasrenggi juga, pikir Rara Murni… Kalasrenggi sendiri ketika melihat bayangan seseorang di pintu kuil cepat menoleh dan kembali mukanya dilanda rasa terkejut! Dia tidak kenal dengan manusia berkerudung di pintu itu, tapi dia pasti betul bahwa laki-laki ini bukanlah orangnya, tapi kerudung hitam yang dikenakannya adalah kerudung salah seorang anak buahnya yang telah menemui ajal dengan cara yang aneh itu!

Bukan tidak mustahil manusia ini pulalah yang telah menamatkan riwayat tiga anak buahnya itu! Meski amarahnya tidak terkirakan namun Kalasrenggi tidak mau bertindak gegabah. Sepasang matanya memandang tajam-tajam seperti mau menembus kerudung yang menutupi kepala sosok tubuh manusia yang berdiri di pintu kuil itu!

“Tamu tak diundang, silahkan buka kerudung!” kata Kalasrenggi. Orang yang di pintu menyeringai di balik kerudung hitamnya. Lalu terdengarlah suara tertawanya, mula-mula mengekeh perlahan, tapi kemudian menjadi tawa bergelak yang menggetarkan gendang-gendang telinga serta menggetarkan dinding-dinding kuil tua itu!

Kalasrenggi bersiap-siap dengan tenaga dalamnya dan berlaku waspada. Kalau suara tertawa manusia ini dapat menggetarkan gendang-gendang telinga bahkan menggetarkan dinding kuil, maka ini suatu pertanda bahwa siapa pun adanya manusia ini, dia bukanlah orang sembarangan! Dan semakin yakin Kalasrenggi bahwa orang inilah yang telah menewaskan ketiga anak buahnya.

Akan Rara Murni, kalau tadi hatinya kecut dan takut melihat munculnya manusia berkerudung ini, maka setelah mengetahui bahwa dia bukanlah di pihaknya Kalasrenggi, diamdiam Rara Murni menjadi sedikit lega hatinya. Tapi dia tak tahu apakah manusia yang baru datang ini adalah tuan penolongnya ataukah seseorang yang lebih bejat dan terkutuk dari Kalasrenggi!

Dalam pada itu dia sendiri masih belum dapat melihat tampang orang ini. Hati Kalasrenggi serasa dibakar karena ucapannya disahuti dengan suara tertawa macam begitu oleh si kerudung hitam. Maka berkatalah dia dengan menunjukkan nyali besar: “Kalau kau tak mau buka kerudung, terpaksa aku turun tangan…”

Orang berkerudung hentikan tertawanya. Dan dia buka mulut menyahuti:
“Diri manusia tidak diukur dari tampangnya, tapi dari hatinya! Bila dia seorang prajurit, maka kejujuran hati, kesetiaan dan baktinya pada kerajaanlah yang menjadi ukuran!”

Merah paras Kalasrenggi mendengar kata-kata ini. Si kerudung hitam tertawa bergumam dan berpaling pada Rara Murni dan berkata: “Bukan begitu Tuan Puteri Rara Murni…?”

Rara Mumi tak menyahuti. Tapi dia menjadi terkejut karena tak menyangka kalau lakilaki itu tahu namanya. Dan beratlah dugaannya bahwa laki-lakl ini adalah orang dalam juga. Orang kerajaan juga, entah pengkhianat entah seorang penolong. Tapi kalau dia bermaksud menolong, mengapa musti pakai kerudung hitam segala?

“Tapi…” kata laki-laki yang di pintu pula melanjutkan bicaranya, “Kalau kau memang kepingin melihat tampangku, baiklah! Aku tak keberatan untuk membuka kerudung hitam ini. Tampangku memang buruk. Namun jika dibandingkan dengan tampangmu, masih mendingan aku ke mana-mana!”

Sambil tertawa-tawa laki-laki ini membuka kerudung hitam yang menutupi kepalanya.

~ 12 ~ 

Bila Rara Murni memandang ke muka maka di balik kerudung yang telah dibuka itu ternyata laki-iaki yang berdiri di pintu adalah seorang pemuda gagah berambut gondrong. Meski tertawanya tadi mengekeh dan bergelak namun parasnya yang gagah itu condong kepada paras anak-anak. Sebaliknya begitu menyaksikan tampang manusia di depannya, kedua mata Kalasrenggi menyipit, kulit mukanya mengerenyit.

Otaknya berputar dengan cepat, mengingat-ingat di mana dia pernah melihat pemuda ini sebelumnya. Dan secepat dia ingat maka menggeramlah Kalasrenggi. Pemuda yang ada di hadapannya saat itu tak lain daripada pemuda yang malam tadi telah berteduh di teratak di luar Kotaraja sewaktu hari hujan lebat dan sewaktu dia tengah bicara dengan Werku Alit! Juga pemuda inilah yang kemudian ditotok Werku Alit! Dan dia sendiri menghadiahkan satu tendangan!

“Ingat siapa aku…?”

“Saudara, apa urusanmu dalam hal ini?!” bentak Kalasrenggi garang. Tangan kirinya menyelinap ke balik pinggang di mana tersisip sebilah keris.

“Ah… tentu ada saja, Saudara. Pertama, kau telah menghadiahkan tendangan padaku malam tadi. Enak juga tendangan itu. He... he… he… Lalu, aku tidak begitu suka pada manusiamanusia yang bersifat ular kepala dua, pengkhianat besar serta tukang rusak kehormatan perempuan… Apa itu kurang cukup untuk bikin urusan denganmu?!”

“Hem…” Kalasrenggi menggumam.

“Jadi hari ini aku berhadapan dengan seorang pendekar budiman huh?! Satu hal yang menyenangkan sekali!” Habis berkata begini Kalasrenggi keluarkan suara berdengus dari hidungnya.

“Terangkan dulu siapa kau punya nama!” katanya kemudian.

“Ah, kau keliwat ramah tanya-tanya segala nama. Namaku sudah kutuliskan pada kening ketiga anak buahmu!” jawab si pemuda pula. Kalasrenggi tertawa mengejek.

“Baru kali ini aku bertemu manusia yang namanya adalah tiga buah angka. Angka-angka gila!” Si pemuda tertawa.

“Angka-angka itu mungkin gila! Tapi tidak segila pengkhianat macam kau Kalasrenggi!”

“Kau sudah tahu namaku. Kenapa tidak lekas kabur tinggalkan tempat ini?!”

“Apa kabur dari sini? L.alu kau teruskan maksud busukmu terhadap Tuan Puteri Rara Murni? Aku tidak sebodoh dan sepengecut yang kau sangka, Kalasrenggi!”

Baca lanjutannya: 
Wiro Sableng: Maut Bernyanyi Di Pajajaran (Bagian 10)

Mari membaca, mari belajar, mari menjadi pintar.